Sindiran halus

2150 Kata

“Kamu mau ke mana setelah ini?” tanya ayah Lintang. Nasi goreng di piringnya hampir saja habis, mungkin dua atau tiga suap lagi. “Di rumah saja, Ayah. Novelku sudah terlalu lama tidak kukerjakan. Aku tidak rela membiarkan pembaca setiaku pergi karena kugantung terlalu lama, Ayah.” “Baiklah. Ayah mau ke luar,” ucapnya sambil melahap suapan terakhir. Minum dan berdiri setelahnya menghabiskan semuanya, “Ah!” puasnya setelah perutnya kenyang, “Ayah berangkat. Ayah membawa kunci, kalau kamu mau ke luar, jangan terlalu memikirkan Ayah.” Berbalik dan melangkah pergi. Ponsel dan dompet sudah dikantongi sejak tadi, tak perlu membuang waktu hanya untuk pergi selama beberapa waktu saja. Lintang hanya mencebikkan bibirnya. Meski ayahnya terlihat santai, tetap saja yakin kalau ayahnya akan pergi sel

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN