Hari berlalu dengan cepat. Sekarang pun tak terasa sudah waktunya untuk menerima anak Jalu dan juga Kusuma. Ke duanya duduk di ruang tunggu dengan Kusuma yang mengenakan pakaian steril. Bukan pasien lain yang mereka tunggu, hanya saja dokter yang menangani ke duanya sengaja memberi jeda lima belas menit sebelum Kusuma masuk ruang operasi. Jalu tahu istrinya gugup, terus memeluk tubuh istrinya yang kini menyadar di dadanya. Mengusap lengan dan sesekali mengecup puncak kepala Kusuma juga, hanya itu yang bisa Jalu lakukan untuk menenangkan istrinya itu. “Jalu.” panggil Kusuma yang sedari tadi meremas telapak tangan Jalu yang lebih besar dari telapak tangannya sendiri. Jalu bergumam, bibirnya tetap sibuk menciumi puncak kepala istrinya itu. “Aku sangat gugup. Sepertinya—“ “Ssstttt!” Jalu

