Hari cepat berlalu, masa sulit dan juga sibuk saling mendekatkan dua insan untuk lebih mengerti dan membawa asa. Hari ini adalah hari di mana kehidupan baru akan dijaga dengan segenap jiwa. Jalu, sudah mulai mengambil cuti. Menggandeng tangan Kusuma, mengajaknya masuk ke rumah sakit yang dikunjunginya minggu lalu, berjalan beriringan dan santai, ke duanya saling melemparkan senyum karena begitu bahagia menyambut hari ini. Kusuma pun sama, meski gugup karena suaminya sengaja membayar mahal agar segera dipanggil sesaat setelah kedatangannya, semua malah membuatnya takut dan takjub secara bersamaan. “Nyonya Kusuma.” Kusuma meremas tangan Jalu lebih erat. Semakin sesak rasanya. Jalu menoleh, tersenyum dan mengusap punggung tangan Kusuma dengan tangan yang lainnya. “Ada aku.” ucapnya yang

