Love hanya makan alpukat dan minum wedang jahe, menemani Akasa yang sarapan seporsi biasanya, seperti dirinya juga saat sehat, “Akasa,” tersenyum saat sosok itu mendongak dari piringnya, dan tersenyum ke arahnya, “bolehkah aku memegang ponselmu? Di ponselku kan ada kontak Gusti dan juga beberapa nomor penting, bahkan isinya hampir sama, apakah boleh?” tanyanya dan segera menyuap alpukat di mangkuk itu lagi. “Ya, kenapa tidak. Aku akan di kantor nanti, semoga Gusti pulang hari ini.” Love tersenyum. Love hanya berpikir, kalau Akasa tak mau menghentikan perasaan itu, dirinya harus melakukan sesuatu agar perasaan itu putus. Tak akan dia biarkan siap pun ada di antara dirinya dan juga Akasa. “Sudah waktunya, Love.” Akasa berdiri, mendekat ke Love dan mengecup kening, pipi, serta bibir itu si

