BAB 1
Felly Audiana baru saja memenangkan satu lagi perkara. Malam itu, ia merayakannya dengan rekan-rekan firma hukumnya di sebuah bar.
Setelah mabuk, tanpa sengaja ia melihat musuh bebuyutannya duduk di sofa sebelah—Felix Hardiansyah.
Seorang pengacara ternama, dikenal luas di dalam dan luar negeri, sosok “dewa hukum” yang membuat lawan-lawannya gemetar ketakutan. Sepanjang kariernya di persidangan, ia belum pernah kalah satu pun.
Dan lelaki b******k itu, dulu pernah jadi orang yang dikejar Felly dari masa SMA sampai lulus kuliah.
Selama tujuh tahun penuh, ia berusaha keras, tapi lelaki itu tetap saja bersikap dingin dan tak berperasaan.
Tiba-tiba, Felly bangkit dari tempat duduknya. Dengan langkah sempoyongan, ia mendekati Felix dan langsung duduk di pangkuannya!
Satu tangan menarik dasinya, satu tangan lain mencengkeram pinggangnya.
“Felix... apa kamu sudah nggak bisa lagi?”
Pria itu hanya bersandar santai di sofa, menatapnya tenang tanpa mengucapkan sepatah kata.
“Diam saja... berarti memang sudah nggak mampu, ya?” Felly semakin mengeratkan tarikannya.
Mata Felix sempat memercikkan emosi aneh, lalu ia menangkap pergelangan tangan Felly dan menjauhkan tangannya, suaranya berat dan dalam:
“Sudah nggak peduli citra diri lagi? Teman-teman kantormu ada di sini.”
Rekan-rekan dari kedua firma hukum yang melihat kejadian itu, sudah menatap mereka dengan mata terbelalak, bahkan sempat menelan ludah.
Pengacara Felly... luar biasa!
“Muka gue udah kebuang ke Samudra Pasifik gara-gara lu, masih mikirin citra apaan!”
Felly yang mabuk berat itu mengeluh sambil menggigit lehernya dengan keras.
Teman-teman SMA, teman-teman kampus, semuanya tahu betapa dulu Felly habis-habisan mengejar Felix, bahkan rela keluar uang banyak, tapi tetap saja nihil.
Setelah lulus kuliah, patah hati membuatnya pergi ke luar negeri. Ia bersumpah akan mengalahkan pria itu di bidang yang sama: hukum.
Setengah tahun lalu, ia pulang ke tanah air. Saat itu, ia juga sudah menjadi pengacara kenamaan yang tak pernah kalah di pengadilan.
“Ugh...”
Felix mengernyit, tangannya mencengkeram tengkuk Felly untuk menjauhkan dirinya, tatapannya dalam dan penuh kendali.
“Felly, kamu mabuk. Biar temanmu antar pulang.”
“Gak mau! Harus kamu yang antar!”
Felly menarik dasinya sambil merajuk, nadanya penuh perintah.
Tanpa banyak bicara, Felix melepaskan tangan Felly, melonggarkan dasinya, lalu langsung menarik lengannya dan membawanya keluar.
Rekan-rekan mereka melongo makin lebar.
Semua orang di dunia hukum tahu hubungan keduanya buruk, tapi malam ini... ada apa?
Begitu sampai di parkiran, Felly langsung melingkarkan lengannya di leher Felix dan mencium bibirnya, sambil mengacak-ngacak baju pria itu—
Punggung Felix bergetar halus.
Ia memegang pinggang ramping Felly, mendorongnya perlahan, suaranya mengeras:
“Felly, mau aku tuntut kamu karena pelecehan seksual?”
“Kalau memang kamu udah gak bisa, ya udah. Gue cari cowok lain aja deh buat gantiin.”
Felly malah mengabaikan ancamannya, menoleh ke pria lain yang kebetulan lewat:
“Mas, mau nginep bareng nggak?”
Wajah Felix langsung gelap. Ia menahan tangan Felly, membuka pintu mobil, dan tanpa belas kasihan melemparkannya ke dalam.
Langsung tancap gas pulang ke rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, mereka pun saling merobek baju. Felly membuka sabuk Felix, Felix mengoyak kemeja Felly, mereka berciuman panas sampai masuk ke kamar mandi...
---
Keesokan paginya.
Begitu membuka mata, Felly kaku memutar kepala.
Di sebelahnya duduk seorang pria dengan sebatang rokok di antara jari-jarinya, tampak santai.
Tatapan matanya dalam, hidungnya tinggi, lekuk bibirnya sempurna—wajahnya sungguh memesona, namun entah kenapa, memancarkan aura mengintimidasi yang membuat orang susah bernapas.
Kepalanya langsung jernih.
Setelah sepuluh tahun... akhirnya semalam ia berhasil tidur dengan 'dewa' ini?
—Mantap!
“Pagi, Tuan Pengacara Felix.”
Felly menarik selimut, duduk dengan ekspresi santai bak seorang profesional.
“Cepat bersihkan diri. Sarapan sebentar lagi diantar.”
Felix mematikan rokok dan meletakkannya di asbak.
“Gak usah. Gue ada janji ketemu klien pagi ini.”
Dengan nada acuh tak acuh, Felly membuka selimut, bersiap turun dari ranjang. Namun matanya melirik, lalu mengambil ponsel di nakas, senyumnya licik.
“Kita foto buat kenang-kenangan, yuk?”
Tanpa menunggu persetujuan, Felly cepat-cepat membuka kamera, bersandar ke d**a bidang Felix, mengangkat ponsel tinggi-tinggi, dan "klik"—mengabadikan momen itu.
Dibawah selimut abu-abu muda, dua tubuh tanpa busana hanya sedikit tertutupi, membuat orang tak berani membayangkan lebih jauh.
Segera, ia mengirimkan foto itu ke sahabatnya, dan menambahkan pesan suara:
[Girls, suruh semua yang dulu taruhan sama gue cepetan transfer duitnya! Jangan lupa tambahin bunga sepuluh tahun ya!]
Muka gue udah dibuang ke Samudra Pasifik, masa gak mau ambil kompensasi?
Mendengar itu, mata Felix memancarkan kilatan tajam. Ia tersenyum tipis.
“Aku cuma taruhan buat kamu?”
Felly berbalik, memeluk tubuh kekarnya, jemarinya menggambar lingkaran nakal di perut berotot itu. Dengan mata berkilat, ia menggoda lagi:
“Dari dulu kamu udah tahu, kan? Masih pura-pura kaget?”
“Oh iya, semalam itu... kita sama-sama mau. Gak usah repot-repot mikirin tanggung jawab segala.”
Sepuluh tahun...
Ia sudah berkali-kali patah hati karenanya.
Kalau masih mau ngejar dia lagi, itu namanya otaknya rusak.
Misi Felly sederhana: tidur dengannya, lalu buang dia. Sesimpel itu.
“Pengacara Felly... ternyata kamu mainnya lumayan liar juga ya.”
Felix melirik sambil tertawa kecil, lalu mendorong tubuhnya menjauh.
Bahkan sekilas pandang dari pria ini saja sudah cukup membuat seluruh tubuh Felly bergetar kesetrum.
Lelaki b******k ini, benar-benar ahli dalam menggoda orang!
Dengan satu dorongan darinya, Felly hampir terjatuh ke belakang, tapi ia cepat menahan tubuh dengan kedua tangan di atas ranjang.
Rambut panjang hitamnya terurai berantakan, tubuhnya yang telanjang tanpa sehelai benang memamerkan lekuk tubuh yang aduhai, memesona sampai batas maksimal.
Mata pria itu meliriknya dari atas ke bawah, jantungnya tanpa sadar berdegup lebih cepat beberapa kali. Ia mengerutkan kening.
"Pengacara Felix, bukankah tadi malam kamu juga ikut bermain? Jangan-jangan... kamu tidur sama aku karena suka?"
Felly bertanya santai, sambil mengibaskan rambut panjangnya yang sedikit bergelombang, lalu membungkuk mengambil kemeja dan pakaian dalam yang tergeletak di lantai.
Dengan tenang dan perlahan, ia mulai mengenakannya kembali—setiap gerakan kecil, tanpa ragu, sengaja dibuat menggoda.
"Aku... suka sama kamu?"
Felix menoleh sekilas dengan tatapan sedingin es.
Jawaban itu sudah sesuai dugaan Felly. Ia hanya tersenyum tipis—tak masalah, kali ini, justru ia yang sudah lebih dulu melepaskannya!
Di saat yang sama, ponsel Felly berbunyi bertubi-tubi. Ia mengambilnya, sekilas melihat layar—serangan bertubi-tubi dari sahabatnya.
[Seriusan kamu tidur sama Pengacara Felix?!]
[Sepuluh tahun nggak dapat-dapat, kok tiba-tiba bisa?]
[Cepet cerita, gimana skill-nya?! Pose apa aja?!] —lengkap dengan emoji nakal di akhir.
Felly dengan cepat membalas beberapa kata:
[Nanti gue ceritain.]
Di sisi lain, ponsel Felix juga berbunyi tak berhenti. Ia mengambilnya, membuka aplikasi w******p, dan melihat grup SMA dan grup kuliah yang meledak penuh pesan.
Semua orang terkejut:
[Gila, Felly akhirnya berhasil tidur sama Pengacara Felix?!]
Felly ikut mengintip notifikasi itu, sejenak membeku.
Ia tak menyangka kehebohannya akan sebesar ini.
Untung saja, kedua grup itu hanya berisi teman-teman terdekat, masing-masing cuma dua puluhan orang.
Ia cepat-cepat mengetik balasan:
[Cuma iseng doang kok, santai. Yang pernah taruhan sama gue, cepat transfer duitnya.]
Felix membaca balasan santainya, matanya yang panjang menyipit sedikit, seolah tersenyum.
Namun di balik pupil matanya yang berwarna amber, tersembunyi kilatan dingin yang mengerikan.
Melihat tatapannya, Felly mendadak merasa punggungnya dingin...
Tak lama, pesan baru bermunculan:
[Aku taruhan kamu nggak bakal bisa tidur sama Pengacara Felix untuk kedua kalinya. Kali ini taruhan dobel!]
Grup kuliah langsung ramai, semua orang copy-paste kalimat itu sambil spam +1!
Felly membalas dengan nada sombong:
[Bukan cuma kedua kali, ketiga kali pun bisa! Yang mau taruhan, siapin duitnya!]
Dalam momen-momen membanggakan begini, tentu saja ia tidak mungkin mundur!
Felix diam memandangi perempuan itu, senyum di wajahnya makin dalam, tapi ada rasa seolah hendak menelan orang hidup-hidup dari dalam matanya.
Tiba-tiba, sahabat Felix muncul di grup:
[Buat info aja, Pengacara Felix baru aja ngejerat satu pengacara masuk penjara dua puluh tahun. Felly, good luck ya.]
Felly membaca pesan itu, lalu melirik sekilas ke pria di ranjang yang dengan santainya menghisap rokok, wajahnya tenggelam dalam kabut asap—sama sekali tak bisa ditebak perasaannya.
Ia menaikkan alis, lalu mengetik balasan dengan santai tapi penuh kepercayaan diri:
[Oh ya? Gue justru gak sabar satu tim sama Pengacara Felix di pengadilan.]
Setelah mengetik itu, Felly tidak lagi mempedulikan ponselnya.
Ia berbalik menatap pria di ranjang sambil melambaikan tangan kecilnya dan tersenyum:
"Pengacara Felix, gue pamit duluan. Thanks ya buat semalam. Istirahat yang baik."
Felix tersenyum tipis—saking kerasnya menekan emosi, batang rokok di antara jari-jarinya bahkan terjepit sampai penyok.