BAB 2

1348 Kata
Pagi hari, di sebuah kafe. Begitu membuka pintu ruang VIP, pandangan Felly langsung tertumbuk pada sosok pria dingin yang duduk di dalam. Ia tertegun selama dua detik. Lalu, dengan cepat mengulas senyum profesional. "Pengacara Felix, kebetulan sekali?" "Tidak kebetulan," pria itu tersenyum tipis sambil menaruh cangkir kopinya di atas meja, dua kakinya bersilang santai, bersandar sekenanya di sofa, "Ini hanya memenuhi keinginanmu saja." Felly duduk di hadapannya, tersenyum samar, "Kalau begitu, apa aku harus berterima kasih atas kemurahan hatimu?" Klien Felly kali ini adalah teman kuliahnya, berasal dari salah satu keluarga konglomerat terkenal di kota ini—yang kini bangkrut karena perebutan kekuasaan internal. Felix sama sekali tidak mengubah ekspresinya, bahkan tidak merasa perlu membalas perkataan Felly. Saat itu, suara tinggi seorang wanita memecah suasana. "Andi, kamu tidak tahu malu! Kita sudah bercerai tiga tahun lalu, dan sekarang kamu masih berani menuntut separuh hartaku?!" Wanita itu—Sintia—berbalut gaun merah ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya, melotot marah pada Andi. "Kalau dulu aku nggak habiskan uang untukmu, kamu pikir bisa hidup senyaman sekarang?" Andi balas membentak, "Apa kamu nggak punya hati nurani?" Dia butuh uang itu untuk bangkit kembali. "Aku sama sekali tidak—" Sintia baru akan melanjutkan ucapannya ketika Felly, yang tengah menyilangkan kaki, tiba-tiba memotong, suaranya santai namun mengandung peringatan: "Kalau berdebat bisa menyelesaikan masalah, buat apa memanggil pengacara?" Seketika, suasana hening. Felly menoleh pada pria di hadapannya, suaranya tenang. "Pengacara Felix pasti tahu, hanya menandatangani perjanjian cerai tanpa melengkapi prosedur hukum resmi, itu sama saja tidak sah. Sesuai hukum pernikahan negara kita, harta bersama dalam pernikahan tetap harus dibagi dua, dan begitu juga dengan hutang." Felix sekilas meliriknya, tidak langsung menjawab. Ia malah berbalik bertanya: "Tuan Andi, setelah menikah dengan klien saya, Anda memiliki hubungan dengan wanita lain dan melakukan hubungan badan berkali-kali. Apakah Anda mengakui hal ini?" Andi bersandar santai sambil menggoyangkan kaki, seolah-olah tidak peduli. Senyum kecil bermain di sudut bibirnya. Felly sedikit terkejut dan menoleh menatapnya. Kenapa dia tidak pernah menceritakan ini padanya? "Ah, mana ada lelaki…" Belum sempat Andi menyelesaikan kalimat bodohnya, Felly dengan cepat menyikutnya, lalu tersenyum pada Felix dan balik bertanya: "Pengacara Felix, Anda punya bukti?" Sebelumnya dia sudah memperingatkan Andi: dalam pertemuan seperti ini, percakapan akan direkam. Apa dia sudah lupa? "Dengan mataku sendiri aku lihat dia masuk hotel bareng model itu!" Sintia membantah dengan emosi. Felly tersenyum tipis, bertanya dengan nada menggoda, "Nona Sintia, bukankah Pengacara Felix sudah mengajarkan Anda apa yang disebut 'bukti'?" Untunglah, sejauh ini tidak ada bukti yang sah. Andi mendengus, membalas dengan suara dingin: "Ngomong aku punya wanita di luar, lihat diri kamu sendiri! Selama ini berapa banyak bos yang sudah kamu tidurkan?!" "Aku baru mulai setelah kita tanda tangan surat cerai—" Sintia baru mau membela diri, namun Felix langsung memotong tajam: "Tolong, bicaralah dengan bukti." Mereka sudah tahu perjanjian cerai itu tidak sah. Kalau sekarang Sintia malah mengaku berselingkuh selama masa pernikahan, bukankah dia malah menggali kubur sendiri? Benar-benar bodoh. Felly mengerling ke arah pria di sebelahnya. Kalau benar dia tahu istrinya berselingkuh, kenapa tidak menyimpan bukti? Ia memijat pelipisnya pelan, merasa sedikit pusing. Sepertinya, urusan ini bakal jadi panjang. Felix kemudian bertanya dengan nada berat: "Tuan Andi, Anda telah berpisah tempat tinggal dari klien saya selama tiga tahun, dan selama itu pula Anda tidak menjalankan kewajiban sebagai suami. Bisa dijelaskan, apa saja yang Anda lakukan selama ini?" "Sa... saya..." Belum sempat Andi bicara, Felly langsung menyela dengan suara tajam: "Dia selama ini bekerja keras demi memberi kehidupan yang lebih baik untuk Nona Sintia. Namun saat dia berada di titik terendah, istrinya yang sah justru menguasai harta bersama mereka, membuatnya kekurangan modal hingga akhirnya usahanya bangkrut. Kalau masalah ini dibawa ke pengadilan, jangan harap Nona Sintia bisa mendapatkan sepeser pun dari harta itu!" "Hmm... Apakah Pengacara Felly sedang mengancam?" Felix menatap kliennya sejenak, lalu berkata dingin, "Bagaimana sebenarnya dia bangkrut dan apakah itu berkaitan dengan klien saya, cukup dengan penyelidikan sederhana pasti akan terungkap." Ini pertama kalinya Felix menangani kasus yang melibatkan Felly secara langsung. Dia sedikit terkejut dengan kecerdikannya. "Silakan saja diselidiki," Felly menjawab santai, "Klien saya selama ini telah membelikan istri sahnya rumah mewah, mobil sport, dan aset lainnya dengan total nilai lebih dari miliaran. Tapi saat perusahaannya ambruk, Nona Sintia bahkan tidak mengeluarkan sepeser pun untuk membantu." "Kalau masih menguasai harta bersama, menolak membayar utang bersama, dan ditambah lagi dengan memelihara pria simpanan... Pengacara Felix, kalian pikirkan baik-baik. Mau menyelesaikan secara damai dan membagi aset, atau mau kita adu di pengadilan?" Tubuh Felly sedikit condong ke depan, menatap Felix dengan senyum tajam. --- Di dalam mobil. Sambil mengemudi, Felly terus memberi instruksi pada Andi: "Sebelum proses cerai selesai, jauhi semua perempuan. Jangan sampai mereka dapat bukti. Lalu, bersihkan semua jejak: catatan hotel, foto, SMS, semuanya." "Aku tahu," Andi mengangguk penuh semangat. Sekarang dia benar-benar kagum pada Felly. Awalnya dia merasa malu harus merebut harta Sintia, tapi setelah mendengar analisa Felly, dia malah merasa lebih percaya diri. Bahkan cara duduknya pun kini jauh lebih tegap. "Eh, istrimu itu sudah tinggal serumah sama si cowok peliharaan itu?" Felly bertanya lagi. "Sudah tiga tahun mereka tinggal bareng." Andi mendengus sambil menyilangkan tangan di d**a. "Bagus," Felly tersenyum puas. Tiba-tiba, dia menepikan mobil ke bahu jalan dan memandang Andi serius: "Sekarang, langsung pulang. Pasang kamera pengawas di rumah istrimu... bilang saja buat 'mengantisipasi maling'." "Tapi... dia mana mungkin biarin aku masuk? Kita udah pisah rumah tiga tahun, dan rumah itu atas nama dia," Andi mengeluh. "Bodoh! Kamu masih sah suaminya. Itu rumah tangga kalian. Masuk ke rumah sendiri kok takut? Lagi pula, sekarang dia pasti masih sibuk dengan Pengacara Felix." "Oke! Aku jalan sekarang!" Dulu dia rela mati-matian buat perempuan itu. Sekarang, kalau dia yang jahat duluan, jangan salahkan dia membalas! --- Malam hari. Baru saja selesai mandi, Felly menerima telepon dari Andi. Suara paniknya langsung terdengar: "Felly! Felix mau nuntut aku... katanya aku nyuap dia!" "APA?!" Felly hampir tertawa kesal. "Kamu beneran nyuap dia?!" "Aku... aku panik tadi! Dia bilang udah ketemu si model itu. Aku takut, jadi inget kita dulunya teman kuliah, makanya aku kasih dia cek seratus juta..." Andi hampir menangis. Felly menghela napas panjang. "Astaga... dia cuma ngetes kamu! Ini kayak ada perempuan random nuduh kamu tidur bareng, tapi nggak ada bukti — siapa yang percaya? Kalau kamu kayak gini, belum sampai ke pengadilan, udah kalah duluan!" Dia menggeleng sambil tertawa kecil. "Benar kata orang, musuh secerdik apapun masih bisa dilawan. Tapi kalau punya teman sekonyol ini, tamat sudah!" "Aku bodoh, aku emang bodoh! Tapi Felly, kamu harus tolong aku! Felix itu tega banget, sama sekali nggak ada rasa kawan!" Andi meratap. "Suap pengacara seratus juta? Minimal lima tahun penjara! Sekali tuntut, langsung masuk. Gimana aku mau tolong kamu?" Felly mengomel. "Aku masuk penjara nggak apa-apa! Tapi kamu... bayangin, kalau pertama kali kamu kalah lawan Felix, apa kata orang? Dunia hukum, teman seangkatan, semua bakal ngetawain kamu!" Andi dengan dramatis berpura-pura memelas. Felly menahan tawa, berjalan mondar-mandir di kamar tidur, berpikir keras. Akhirnya dia berhenti dan mengingatkan dengan suara tegas: "Denger ya, mulai sekarang, tanpa aku, kamu dilarang ketemu Pengacara Felix sendirian. Juga, hati-hati kalau ngomong sama istrimu, jangan sampai dijebak lagi. Paham?" "PAHAM! Kali ini beneran aku inget! Terus kamu mau gimana...?" Dia belum sempat selesai bertanya, teleponnya sudah diputus Felly. --- Keesokan paginya, di Firma Hukum Adil Jaya. "Pengacara Felly, Anda..." Resepsionis yang baru mau bertanya dibuat ternganga saat Felly lewat begitu saja sambil menjawab enteng: "Aku pacarnya Pengacara Felix." Semua karyawan di sana langsung membeku. Beberapa hari ini, rumor soal hubungan mereka memang sedang heboh dibicarakan. Felly melangkah santai menuju kantor Felix, mengetuk sekali, lalu langsung membuka pintu. Di dalam, Felix tengah serius membaca berkas kasus. Mendengar suara pintu, dia menoleh tanpa ekspresi, suaranya dingin dan formal: "Pengacara Felly, ada perlu apa?" Felly mengenakan setelan rok hitam ketat dengan rambut panjang bergelombang yang tergerai santai di bahunya. Dengan sepatu hak tinggi delapan sentimeter, dia tampak profesional tapi juga memancarkan aura menggoda. Dia berjalan santai ke arahnya, duduk dengan gaya santai di atas meja kerjanya. Sambil bermain-main dengan dasi Felix, dia berkata manja: "Baru semalam tidur bareng, sekarang udah cuek gini sama aku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN