BAB 3

1129 Kata
"Kamu datang karena soal suap dari Andi, kan?" Felix menarik dasinya dengan santai, lalu tersenyum tipis. "Tentu saja bukan," jawab Felly sambil tersenyum manis. "Aku datang... untuk membicarakan soal perasaan, tidak ada hubungannya dengan kerjaan." Dia menarik dasi pria itu lagi, memainkannya di tangan sambil tersenyum, meski senyumannya tampak sedikit dipaksakan. "Masih mau tidur sekali lagi? Biar kamu bisa pamer di grup dan dapat untung besar?" Felix mendorong tangan Felly dengan dingin, lalu bersandar di kursi bosnya dengan kedua tangan menyilang di d**a, memandangnya dengan alis terangkat. Dengan gerakan luwes, Felly turun dari meja kerja dan langsung duduk di pangkuannya. Ia mendekat ke telinganya, menghembuskan napas hangat dan berbisik menggoda: "Sejujurnya, malam itu aku mabuk berat... ada beberapa bagian yang agak kabur. Rasanya, aku ingin mengulangnya sekali lagi." Wajah Felix mulai memerah, tapi tetap berusaha menjaga ekspresi dinginnya. Ia menatap wanita di depannya — seorang wanita yang jelas-jelas tidak tahu arti kata 'malu' — lalu mendorongnya menjauh. "Felly, kamu tahu arti 'punya muka' itu apa?" "Mukaku lagi berenang di Samudra Pasifik, mau bantu aku cari?" balasnya malas sambil menyandarkan diri di dadanya. Jari-jarinya yang ramping dan halus meluncur lembut dari garis lehernya yang sempurna, turun ke dagu, lalu perlahan menggambar kontur bibir tipis pria itu. "Pengacara Felix memang ahli akting," bisiknya genit. "Malam itu kamu seharian jungkir balik di badanku, aku sampai mengira kamu belum pernah ketemu perempuan seumur hidupmu. Sekarang setelah puas, malah sok suci?" Sentuhan ujung jarinya seakan mengalirkan listrik, membuat Felix langsung menepis tangannya dan mengalihkan pandangan. "Siapa kemarin yang bilang, ‘cuma buat main-main’? Sekarang maunya apa?" tanya Felix dingin. Felly hampir saja menampar dirinya sendiri —Ah tidak, lebih tepatnya, menampar Andi si i***t itu! Semua ini salah dia! Kalau bukan gara-gara dia, mana mungkin aku harus rendahan begini? "Yang ngomong main-main itu anjing. Tapi aku kan manusia, Pengacara Felix," Felly menjawab tanpa rasa malu sedikit pun. "Kamu lihat sendiri, kita udah tidur bareng. Gimana kalau sekalian pacaran?" "Maaf, aku nggak pacaran sama anjing. Aku juga nggak punya fetish suka binatang," balasnya dingin sambil tanpa ampun mendorong Felly dari pangkuannya. Dia... baru saja... memanggilku... Anjing??? Felly mengepalkan giginya kuat-kuat. Tadinya dia sudah bisa sedikit mengangkat kepalanya dengan angkuh di hadapan pria ini, tapi kenapa malah berakhir jadi kayak anjing yang minta perhatian? Dasar pria berdarah dingin! Keras kepala kayak batu di kakus — bau lagi! Padahal wajahnya ini, bisa imut bisa seksi, tubuhnya tinggi semampai dengan lekuk yang menggoda, pekerjaan dan latar belakangnya pun kelas atas. Pria-pria hebat yang mau mengejarnya, antri dari dalam negeri sampai luar negeri! Tapi sekarang malah harus nempel sama ‘batu busuk’ ini! Felly menarik napas panjang, merapikan rambut, lalu berbalik dengan elegan, menyilangkan tangan di d**a, dan tersenyum sinis: "Anjing kecil, kamu yakin mau begini?" Felix tak menjawab. Dia menekan tombol di telepon meja, lalu berkata dingin, "Sekretaris Dina, tolong antar Pengacara Felly ke bagian pembayaran." "Harga jasa saya, seratus ribu per jam. Silakan bayar sebelum keluar," katanya sambil melirik ke arah pintu. Felly mengangguk manis. Dia tiba-tiba melepas jas hitamnya, melemparkannya ke atas meja, lalu melangkah santai ke pintu. Sambil berjalan, dia mulai membuka satu per satu kancing kemeja putihnya. Tangannya terangkat, mengacak-acak rambutnya sendiri hingga berantakan dengan gaya menggoda. "Hanya seratus ribu, santai aja. Nanti sekalian suruh sekretarismu beliin dua kotak kondom juga ya!" Felix yang biasanya tenang seperti batu karang, mendadak wajahnya berubah. Dia langsung berdiri dan mengejar Felly dengan langkah cepat. Felix menahan pintu yang baru saja ditarik Felly, lalu dengan kedua tangan, ia menekannya ke dinding di samping pintu. Matanya terhenti pada kulit putih pucat yang hanya terbungkus tipis renda hitam. Tanpa bisa dikendalikan, kenangan akan sentuhan menggoda malam itu kembali muncul di pikirannya — sensasi meremas lembut kulit itu... Ia buru-buru mengalihkan pandangan, suaranya rendah dan berat: "Ayo, katakan. Tujuanmu datang ke sini sebenarnya apa?" Felly melirik sekilas ke arah dia dan seluruh ruangan ini, diam-diam waspada — takut kalau si 'anjing' ini memasang alat perekam. Orang ini punya delapan ribu cara untuk menjebak orang lain. Apalagi sekarang, saat Sintia jelas sedang terdesak, dia pasti sedang menggali lubang untuk Andi jatuh. Kalau dia ikut-ikutan masuk ke dalam perangkap Felix, bukan cuma kalah di pengadilan — bisa-bisa masuk penjara, habis reputasi, habis semuanya! Pikirannya berputar cepat. Akhirnya, dia tersenyum dan berkata manis, "Aku kan bilang, cuma mau ngobrol soal perasaan." Klak—Tiba-tiba pintu kantor didorong terbuka. Sekretaris yang masuk langsung membelalak melihat pemandangan di depan mata — Felly dan Felix dalam posisi nyaris 'wall slam' yang sangat ambigu! Padahal semua orang tahu, Pengacara Felix ini adalah sosok yang menguasai dunia politik dan bisnis — pria berdarah dingin, tanpa belas kasihan, tajam, kejam, dan dalam hidupnya hanya ada satu kata: karier. Perasaan? Romantisme? Dia bahkan tidak mengerti konsepnya! Tapi sekarang... "Keluar." Suara Felix dalam dan dingin. "Ya-ya, Pengacara Felix, saya tidak melihat apa-apa," jawab sekretaris itu gugup sambil buru-buru membalikkan badan, hendak menutup pintu. Namun Felly sengaja menambahkan, "Eh, jangan lupa, sekalian beliin dua kotak kondom ya!" "Ah?" Sekretaris itu tercengang, matanya tanpa sadar kembali melirik mereka, lalu segera mengangguk kikuk: "Baik, baik... saya segera beli!" Pintu langsung ditutup rapat. "Pfft... sekretarismu lucu juga," Felly terkekeh. Felix mengambil jasnya, lalu bertanya dengan nada dingin: "Udah puas main-main? Mau keluar pakai baju, atau telanjang sekalian?" Dia mengangkat jasnya di satu tangan, lalu menambahkan, "Kalau mau, aku juga nggak keberatan melucuti kamu sampai bersih." Felly mengangkat alis, menantangnya: "Coba aja kalau berani?" Baru saja kata-kata itu jatuh, Felix melempar jas di tangannya, lalu langsung merobek kancing kemeja Felly tanpa ampun! Dengan satu gerakan cepat, dia menarik lengan Felly, membuat tubuh perempuan itu menabrak dadanya yang keras. Tangannya yang terampil dengan cekatan menggesekkan jari di punggung Felly —klik, kancing bra-nya terbuka! Saat dia hendak melepasnya sepenuhnya, Felly yang kaget setengah mati langsung refleks memegang erat bra-nya. "Dasar b******n! Berani-beraninya ngerobek beneran!" "Emang cuma kamu yang bisa ngerobek?" balas Felix tajam. Tak mau kalah, Felly meraih gesper sabuk kulitnya, menariknya kuat-kuat —srakkk, sabuk itu terlepas dan berayun di udara. Felix menunduk sekilas melihat sabuknya yang terlepas, lalu mengangkat mata, menatap Felly dengan sorot mata tajam penuh gairah yang tersembunyi di balik dinginnya. Tok tok! Tiba-tiba, pintu kantor diketuk dari luar. Gagang pintu sempat bergeser, hampir terbuka. Felix langsung mengangkat tangan, mendorong pintu agar tetap tertutup, lalu dengan suara keras memerintah: "Jangan masuk!" Setelah itu dia menarik kembali tangannya dan dengan cepat mengancingkan kembali sabuknya. "Masih belum mau pakai baju?" tanyanya ketus. Felly bersandar malas di dinding, kedua tangan menyilang di depan d**a, tersenyum menggoda: "Barusan kamu sendiri yang mau aku keluar tanpa busana, kenapa sekarang malah larang? Nggak tega ya?" Di balik renda hitam yang longgar itu, kulit putih mulusnya tampak nyaris keluar dari semua sisi — pemandangan yang sungguh membuat siapa pun tergoda untuk langsung merobek semua lapisan itu dan menikmati semuanya tanpa halangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN