"……"
Felix hanya melirik Felly sekilas dengan dingin, lalu mengabaikannya dan berbalik menuju meja kerjanya, kembali tenggelam dalam tumpukan dokumen.
Felly menatap kesal ke arah pria kaku itu, menggertakkan gigi dalam hati.
Suatu hari nanti, aku pasti akan membuatnya bertekuk lutut dan mengaku kalah!
Dengan cepat, ia mengenakan pakaiannya, membuka pintu kantor, dan bersiap untuk pergi.
Tapi tepat saat itu, teman lamanya, Hengky, berdiri di depan pintu sambil membawa beberapa dokumen.
Melihat Felly, alis Hengky langsung terangkat tinggi, menyiratkan keheranan.
"Barusan nggak boleh masuk... kalian berdua habis ngapain, hah?"
Felly membalas dengan wajah serius dan tegas, sambil merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.
"Menurutmu?"
Hengky menggoda sambil tertawa kecil, "Cepat amat, sudah tidur bareng lagi? Tapi kan harus ada bukti dulu baru dapet duit!"
Felly sengaja menjawab dengan santai, "Gara-gara kamu ganggu, dia udah berusaha keras tapi tetap gagal. Lain kali jangan asal ketok pintu!"
Setelah menjatuhkan kalimat itu, Felly langsung melangkah pergi.
Sementara itu, Felix hanya menatap punggungnya dengan wajah gelap...
---
Sore harinya, di kantor Felly.
Baru saja ia mengamankan satu klien besar lagi. Fee tahunan yang ditawarkan benar-benar menggiurkan.
Begitu klien itu pergi, Andi — yang sudah menunggu lama di luar — segera masuk ke dalam.
"Jujur deh, dengan begitu banyak orang datang bawa duit ke kamu, setahun ini penghasilanmu berapa sih?" tanyanya penasaran.
Felly tetap santai sambil menyirami anggrek di mejanya. Ia tidak langsung menjawab. Harta itu jangan diumbar, bukan?
Andi bergumam, "Masalah CCTV udah kelar. Cuma si cowok b******k itu dua hari ini nggak kelihatan di vila. Kayaknya Felix udah kasih peringatan ke Sintia."
"Tenang aja," kata Felly santai.
Andi terlihat ragu, "Terus soal kasus suap itu, kamu ada cara nggak?"
Felly terdiam sejenak. Di tangan Felix memang ada bukti soal suap pria itu, tapi sampai sekarang dia belum melaporkannya. Apa sebenarnya maksud dia?
Mau main-main denganku?
Kalau mau main, ya kita lihat siapa yang menang!
"Aku akan tahan dia dulu," kata Felly kalem.
"Ngomong-ngomong, kemarin kamu bilang istrimu juga main belakang?"
"Pastilah! Aku pernah beberapa kali lihat dia makan malam mesra sama beberapa bos tua. Kalau tahu dari dulu dia kayak gitu, mana mungkin aku mau nikah sama dia!" gerutu Andi.
"Kalau gitu, cari detektif yang handal. Cari bukti perselingkuhan istrimu dengan pria lain," Felly memerintah santai.
Nantinya, cukup tunjukkan salah satu bukti perselingkuhan itu untuk menekan pria itu — tukar dengan bukti suap. Kalau dia tetap ngotot?
Ya, berarti kita siap bawa dia ke meja hijau soal kasus suap itu.
---
Malam hari.
Di sebuah bar, Felix dan Hengky duduk di depan bar, minum sambil ngobrol santai.
Tiba-tiba, seorang wanita dengan gaun putih bertali tipis masuk lewat pintu. Riasannya natural, rambut panjang tergerai santai, tubuhnya tinggi semampai, tampak begitu anggun dan memikat.
Begitu Felly berjalan mendekat, Felix langsung menyadarinya.
"Eh, kebetulan banget, kalian juga minum di sini?" Felly menghampiri.
Di sebelah Felix jelas ada kursi kosong, tapi Felly malah memilih duduk di samping Hengky.
"Malam ini kamu dandan cantik banget... lagi mau godain Pengacara Felix ya?" goda Hengky sambil tertawa.
Felly memesan sebotol wiski, menuang setengah gelas, meneguk sedikit, lalu santai menyandarkan satu tangan di pundak Hengky sambil tersenyum menggoda.
"Aku rasa kamu juga nggak kalah ganteng. Lucu, humoris, karakternya juga oke."
Felix sekilas melirik, lalu sambil minum, bertanya datar,
"Hengky, kamu tahu hewan apa yang paling suka kawin?"
Felly hampir tersedak minumannya.
Anjing! Lagi-lagi dia ngatain aku!
Dasar b******n!
Hengky malah bengong, "Bukannya semua hewan emang doyan kawin? Mereka kan beda sama manusia."
Dia benar-benar bingung kenapa tiba-tiba Felix nanya begitu.
Felix tetap serius dan kalem,
"Betul, hewan memang tidak bisa dibandingkan dengan manusia."
Di mata Felly, sikap lelaki ini cuma topeng saja — kelihatan seolah-olah serius dan bermoral, padahal diam-diam licik luar biasa!
"Ah, wajar saja kalau ada orang yang bahkan kalah sama hewan. Lemah, kurang gizi, jadi cuma bisa iri sama mereka," Felly bersandar santai di kursi, dengan tatapan sinis ke arah Felix.
Tapi Felix malah membalas santai,
"Malam itu, siapa yang merengek seharian? Siapa yang terus-terusan minta ampun?"
"Puuhh—!"
Hengky langsung menyemburkan minuman dari mulutnya.
Wajah Felly seketika merah padam —Gawat! Apa aku beneran sebegitunya waktu mabuk?!
Wajah Felly kini rasanya bukan cuma jatuh ke laut Pasifik — mungkin sudah tenggelam ke dasar samudra!
"Aku pernah lihat dia di toilet bareng cowok itu, pemandangannya... luar biasa! Masa gitu masih kurang memuaskan kamu?" Hengky menggoda sambil cekikikan.
Kesal, Felly langsung menghujamkan ujung high heels-nya ke betis Hengky, lalu menarik pria itu ke samping, membuka jalan.
Dia mendekat ke arah Felix, membungkuk sedikit, lalu dengan satu tangan mengangkat dagunya — dan langsung menggigit bibir tipis dan dingin itu!
Posenya saat itu sungguh mendominasi, mirip CEO wanita yang sedang "menjinakkan" anak anjing mungilnya.
Wajah Felix langsung menggelap. Baru saja ia hendak mendorong Felly pergi, tapi perempuan itu sudah dengan santainya menarik diri.
Melihat bibirnya yang berdarah akibat gigitan itu, Felly malah bersedekap sambil tersenyum puas.
"Pengacara Felix, lain kali kalau bicara harus ada bukti ya. Asal bacot, hati-hati aku—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Felix tiba-tiba berdiri. Tubuh tingginya menjulang, membuat cahaya di sekeliling Felly seakan lenyap.
Tanpa aba-aba, dia melingkarkan lengannya di pinggang ramping Felly, menekannya ke atas meja bar, dan membalas gigitan di bibir Felly!
"Ugh—" Felly mengerang pelan karena sakit.
Baru saja ia hendak meronta, kedua tangannya malah dipelintir ke belakang.
Dengan satu tangan menyangga pinggang yang nyeri, Felly menyentuh perlahan bibir yang terluka dan berdarah itu. Dasar anjing!
Marah bercampur geli, Felly akhirnya tertawa kecil.
"Felix! Suatu hari, aku akan buat kamu berlutut dan menyanyikan lagu kemenagan untukku!"
"Oh, ya?" Dia hanya tersenyum tipis.
Felly mendengus keras.
"Kalau aku nggak bisa menaklukkanmu, aku nggak pantas pakai marga Ardiana!"
Felix menatapnya tanpa berkata apa-apa, tapi sudut bibirnya terangkat samar-samar, seolah menantikan sesuatu.
Hengky, yang dari tadi jadi penonton seru, hampir ngakak sampai rahangnya lepas.
"Astaga, Pengacara Felly! Suruh Pengacara Felix berlutut dan nyanyi kemenangan untuk mu? Berani banget! Tapi... gue suka! Gue taruhan satu juta!"
Melihat reaksi itu, Hengky langsung ambil ponsel dan menyebarkan ucapan Felly ke grup chat alumni universitas.
Sekejap saja, grup itu langsung heboh. Semua orang sibuk bertaruh dan ramai membahas taruhan "konser berlutut" Felix.
Notifikasi di ponsel Felly berbunyi tiada henti.
Melirik sekilas, Felly hanya bisa melotot ke arah Hengky, "Makasih banget, ya!"
Hengky malah mengangkat bahu sambil tertawa kecil,
"Ah, jangan begitu. Bersenang-senang itu harus bareng-bareng, baru seru!"
Kesal, Felly langsung menenggak satu gelas penuh whiskey, menahan amarahnya dengan alkohol. Begitu habis, ia meletakkan gelas keras-keras di meja, lalu berjalan menuju toilet.
Namun, ia tidak sadar, beberapa pria mencurigakan ikut berjalan mengikutinya diam-diam.
Di lorong menuju toilet, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil:
"Kamu Felly, pengacara dari Hadara, kan?"
Felly berbalik, dan melihat lima-enam pria berpenampilan berandal menghadangnya.
Dengan nada dingin, ia bertanya,
"Siapa yang nyuruh kalian?"
Salah satu dari mereka, seorang pria berambut merah, terkekeh jahat,
"Urusan siapa yang nyuruh kami bukan urusanmu. Yang jelas, ada orang yang mau lihat kamu cacat — biar seumur hidup nggak bisa lagi menginjakkan kaki di pengadilan!"
Sambil berkata begitu, si rambut merah mengeluarkan besi pemukul yang disembunyikan di balik bajunya. Dengan sebuah isyarat tangan, anak buahnya yang lain pun ikut mengeluarkan senjata mereka dan serempak menyerang Felly.
"Anak anjing! Kalian pikir gue ini sayuran, hah?!"