BAB 5

1166 Kata
Amarah di d**a Felly sedang membara, kebetulan belum ada tempat untuk meluapkannya. Ia menggerakkan pergelangan kakinya sebentar, lalu tiba-tiba mengangkat kaki dan menendang pria berambut merah yang menerjang paling depan. "Bam!" Tubuh pria itu melayang di udara, membentuk garis parabola, lalu menimpa tiga rekannya yang berada di belakang, membuat mereka semua jatuh bergelimpangan di tanah. Beberapa menit kemudian—Saat Felix hendak ke kamar mandi, ia melihat seorang wanita sedang dikepung oleh sekelompok pria. Namun wanita itu memancarkan aura dingin yang tajam. Dengan beberapa pukulan dan tendangan, ia berhasil membuat semua pria itu tersungkur, mengerang kesakitan di lantai. Sikapnya benar-benar kejam dan tajam. Felix, yang biasanya tampak tenang, serius, dan sangat kalem, begitu bertindak pun tampak begitu mengintimidasi. Dengan suara dingin, ia menginjak wajah salah satu preman dan bertanya: "Siapa yang menyuruh kalian kemari?" Mata si preman berputar cepat, lalu berbohong: "I-itu... Nyonya Hantoro dari Hantoro Grup! Katanya Pengacara Felly telah menjebloskan suaminya ke penjara, jadi dia menyuruh kami untuk memberi pelajaran." "Hengky, panggil polisi ke sini," kata Felix. Ia menendang preman itu sekali lagi sebelum menarik kakinya dan berjalan ke arah wanita tersebut. Ia bertanya dengan suara serius: "Kau terluka?" Felly langsung memutar otaknya cepat, lalu memegangi perut dan berpura-pura meringis kesakitan: "Aduh... barusan perutku dipukul pakai tongkat... sakit sekali..." Tanpa banyak bicara, Felix langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi. Felly tertegun. Dia... khawatir padaku? Padahal tadi siapa yang di luar memakinya habis-habisan? Apa pria ini mengidap kepribadian ganda? Dari belakang, Hengky berteriak: "Hei! Kalian berdua mau pergi begitu saja? Lagi-lagi ninggalin berantakan buat aku bersihin?!" Dua manusia tak tahu diri itu bahkan tidak menoleh sedikit pun. --- Di dalam mobil. "Mau ke rumah sakit?" tanya Felix. Felly merangkul lehernya, bersandar manja di pundaknya sambil menahan tawa, tetap berpura-pura lemah: "Nggak perlu... Kamu ada obat di rumah nggak? Kamu olesin aja, pasti sembuh." Mendengarnya, Felix melepas tangan Felly dari lehernya dan menyuruhnya duduk dengan benar: "Kalau begitu, aku antar kau pulang saja." "Nggak mau! Aku mau ke rumahmu," Felly merengek manja, menempel lagi ke tubuhnya. Felix mendorongnya menjauh, lalu mencubit pipinya sambil berkata: "Bukannya kamu bilang, hubungan ini cuma buat main-main? Rumahku bukan tempat yang bisa kamu seenaknya datangi." "Justru karena itu, aku mau ke rumahmu," Felly mendengus kecil, mengibaskan tangannya. Lihat saja, aku pasti bisa menaklukkanmu, dasar keras kepala! --- Keesokan paginya, di kantor Felix. "Polisi sudah memastikan? Benar Nyonya Hantoro yang menyuruh mereka?" tanyanya pada Hengky, sahabatnya yang baru saja pulang dari kantor polisi. Hengky, dengan santai memasukkan kedua tangan ke saku celana, tertawa kecil: "Sudah jelas. Tapi bukan Nyonya Hantoro... yang menyuruh itu ternyata klienmu sendiri, Sintia." Mendengarnya, wajah Felix langsung menggelap. "Kalau Felly tahu soal ini, dia pasti akan langsung menggugat klienmu ke pengadilan. Jadi, aku sudah meneleponnya dan tetap bilang bahwa Nyonya Hantoro yang menyuruh." Felix tidak banyak komentar. Ia hanya mengambil ponselnya dan menelepon Sintia, memintanya segera datang ke kantor. Setelah menutup telepon, Hengky bertanya lagi: "Kamu masih belum mau mengajukan gugatan? Menyuap pengacara itu kejahatan berat, sekali gugat pasti menang. Lagipula, kamu nggak perlu lagi berurusan dengan Felly di pengadilan." Dengan tenang, Felix mengambil secangkir kopi dan menyesapnya sedikit: "Urusan ini, nggak perlu kau pikirkan." Hengky mengangkat alis, menggodanya: "Ini bukan gaya kerjamu biasanya. Jangan-jangan setelah tidur dengannya, kamu malah jatuh cinta, ya?" Felix balas bertanya dengan datar: "Dari mana kau lihat aku jatuh cinta padanya?" Hengky tertawa: "Kalau begitu, kenapa kamu nggak segera mengakhiri kasus perceraian ini?" Mata Felix menajam: "Karena dia begitu sombong... Bukankah lebih seru kalau dibuat main-main dulu?" Bukankah Felly sendiri pernah bilang di grup kalau dia juga cuma mau 'main-main'? Kalau begitu, ia akan temani dia bermain. Hengky memperingatkan sambil tertawa: "Jangan sampai kamu malah kalah di pengadilan. Aku pernah nonton beberapa persidangan Felly, gaya bicaranya cepat, tajam, dan auranya mengintimidasi. Sebelum lawan bicara sadar, dia sudah memenangkan argumen." Felix tersenyum tipis, mengangkat alisnya dengan percaya diri: "Menurutmu, aku akan kalah darinya?" "Bagaimana kalau suatu saat kau benar-benar dibutakan oleh nafsu?" --- Sementara itu... Sintia mengenakan gaun ketat hitam berpotongan V rendah yang super seksi, lalu melenggang masuk ke Kantor Hukum Adil Jaya dengan gaya yang penuh rayuan. "Pengacara Felix, ada urusan apa memanggil saya ke sini?" Sambil meliuk-liukkan pinggangnya, ia berjalan ke balik meja kerja Felix. Tanpa malu, satu tangannya bertumpu di bahunya, lalu perlahan mengelus ke arah dadanya—Tak bisa dipungkiri, Sintia memang cantik menggoda, dan ia selalu merasa tidak ada pria yang tak bisa ia taklukkan. Namun di detik berikutnya— "Ah—!" Dengan gerakan tiba-tiba, Felix berdiri dan langsung mencengkeram lehernya! Ia menyeret Sintia ke arah jendela besar setinggi lantai, menekan tubuhnya ke arah kaca! Suaranya dingin seperti es: "Pertama, kalau kau berani menyentuhku lagi, aku pastikan kau tak akan bisa pakai tangan itu lagi." "Kedua, kalau kau berani sekali lagi mengirim orang mengganggu Felly, aku yang akan menyeretmu ke penjara. Dan kau tak akan dapat sepeser pun dari kasus ini!" "Ugh... kh... kh..." Sintia tersedak, kedua tangannya meronta-ronta berusaha melepas cengkeraman itu. Tubuh bagian atasnya hampir tergantung di udara. Melihat wajah Felix yang sedingin es dari jarak begitu dekat, dan kemudian melirik ke bawah—Ia melihat ketinggian menakutkan itu. Ini lantai 118! Sekujur tubuhnya seketika lemas ketakutan. "A-aku... aku nggak berani lagi..." katanya terputus-putus. Akhirnya Felix menariknya kembali dan melemparkan tubuhnya ke lantai. "Lebih baik kau ingat baik-baik apa yang baru saja kuucapkan." Sintia, yang mengenakan sepatu hak tinggi, terjatuh keras di lantai. Menahan sakit, ia mengepalkan tangan erat-erat, tapi tidak berani menunjukkan kemarahan. Dengan suara gemetar, ia bertanya: "Kenapa Pengacara Felix begitu membelanya?" Felix, sambil mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap tangannya seakan jijik, berbalik memandangnya dengan sorot tajam: "Kau pikir, nama baikku bisa kau ganti dengan uang?" Barulah saat itu Sintia sadar. Jadi yang ia khawatirkan bukan Felly, tapi reputasinya sendiri. Dia bahkan sempat salah kira, mengira pria ini punya perasaan pada Felly! Sintia buru-buru berkata: "Kalau begitu, Pengacara Felix, Anda pasti yakin bisa menang, kan? Saya tidak mau sampai kehilangan separuh aset saya!" Beberapa hari terakhir, Sintia sudah menyelidiki tentang Felly. Wanita itu pernah menangani banyak kasus besar, bahkan baru-baru ini membela seorang terdakwa hukuman mati dan berhasil membebaskannya di persidangan. Sedangkan Felix, meski bergelar pengacara papan atas, lebih sering membuat kliennya menyerah sebelum bertanding. "Dia bisa menghidupkan yang mati," pikir Sintia getir. Karena itulah, dia sangat khawatir. Namun Felix hanya menatapnya dengan dingin dan berkata: "Di tanganku, tak ada soal bisa atau tidak bisa menang. Yang ada hanya mau atau tidak mau menang. Sekarang, keluar." Tak berani membantah lagi, Sintia hanya bisa menunduk patuh dan berjalan keluar dengan langkah kecil. --- Di dalam mobil, dalam perjalanan menuju pengadilan. "Pengacara Felly..." Asistennya membuka suara, sedikit ragu. "Menurut saya, sebenarnya kasihan juga ya. Pihak penggugat, anak perempuannya masih dirawat di rumah sakit dan butuh biaya operasi. Kalau hari ini kalah dan tidak dapat ganti rugi dari asuransi, anak itu... mungkin tidak tertolong." Felly duduk santai, menyilangkan kaki, menatap dokumen bukti di tangannya. Ia mengangkat pandangan sekilas, lalu berkata dingin: "Meyakini klienmu sepenuhnya, dan memperjuangkan kepentingannya sampai maksimal—itu prinsip dasar seorang pengacara."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN