BAB 6

1184 Kata
Kali ini, dia membela pihak perusahaan asuransi. Penggugatnya adalah seorang pemilik pabrik pakaian yang gudangnya terbakar, lalu menuntut ganti rugi, tetapi klaimnya ditolak oleh perusahaan asuransi. "Tapi..." Asisten itu merasa dia terlalu tidak berperasaan. "Kalau setiap orang yang kasihan menggunakan cara ilegal untuk mencari keuntungan, apa kamu akan selalu bersimpati? Diam saja, jangan ganggu aku membaca berkas." Felly tidak mau berdebat lagi. Anak baru yang baru lulus, memang keras kepala. --- Siang hari, di sebuah restoran Seafood. Sepulang dari pengadilan, Felly menelepon teman lamanya, Hengky, lalu langsung menuju restoran ini — tempat Felix sedang makan. Dia harus sesekali ‘menggoda’ pria itu, supaya tetap tertarik padanya, biar jangan diam-diam langsung pergi melaporkan kasus. Begitu masuk ke ruang VIP, dia langsung menghampiri Felix, lalu tanpa sungkan duduk di pangkuannya dan melingkarkan tangan di lehernya. "Pengacara Felix, selamat siang. Hari ini kangen aku nggak?" "Bangun." Felix mengernyit. Dia baru saja menarik tangan ramping Felly dari lehernya, tapi gadis itu malah makin erat memeluknya. Satu meja penuh orang menatap mereka berdua dengan mata membelalak! "Sudah bicara seharian, aku haus banget." Felly cuek saja, mengabaikan tatapan semua orang. Dia mengambil minuman di depan Felix dan meneguknya sampai habis. "Kenapa bukan jus segar sih? Lain kali pesen jus segar, ya. Buat tambahan vitamin, biar kulit tetap bagus." Sambil bicara, tangannya dengan iseng mencubit bagian bawah tubuh pria itu, lalu mengedipkan mata dengan tatapan penuh godaan. Sentuhan nakal itu membuat punggung Felix seketika menegang. Ia segera mencengkeram pergelangan tangan Felly dengan kuat, memperingatkan dengan tatapan tajam. Felly hanya tersenyum santai pada seisi ruangan, lalu mendekat ke telinga Felix, berbisik dengan suara hangat menggoda: "Sayang, kamu nyakitin aku... pelan-pelan dong..." Telinga Felix sedikit memerah, namun wajahnya tetap tenang. Cengkeramannya justru makin erat, suaranya dalam dan menahan amarah: "Mau kamu yang pindah sendiri, atau mau aku patahkan tanganmu?" "Aku pindah! Aku pindah!" Felly langsung mengeluh kesakitan. Felix akhirnya melepaskan tangannya, dan Felly buru-buru duduk di kursi sebelahnya. Tapi, begitu duduk, dia malah dengan keras menendang betis pria itu di bawah meja! Felix hanya meliriknya sekilas, tidak membalas, juga tidak berkata apa-apa. Orang-orang di sekitar mereka hanya bisa saling melirik — apa ini namanya pamer kemesraan? "Felly, itu gaya kamu menyapa? Aku juga mau dong," canda Hengky. "Tanya saja ke Pengacara Felix. Sekarang aku ini miliknya. Tapi kalau dia rela menyerahkan aku ke pria lain..." "Sejak kapan kamu jadi milikku?" Felix memotong dengan suara dingin. "Hah? Siapa yang di kantor waktu itu copot bajuku? Apa kamu pikir tubuhku cuma buat dilihat gratisan?" Felly menaikkan alisnya sambil balas bertanya. Felix terdiam sejenak, ekspresinya kaku. "Wah, Pengacara Felix, nggak nyangka kamu bisa melakukan hal kayak gitu. Beneran?" "Katanya Pengacara Felix selama ini cuek banget sama cewek. Ternyata berubah juga ya?" Felix mengabaikan semua ejekan itu. Ia tetap tenang, mengambil botol minuman dan menuang ke dalam gelas, seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak menyangkal, juga tidak membenarkan. Lalu dia minum dengan santai. Ia memang harus menjaga kondisi, karena sore ini akan sidang, jadi tidak bisa minum alkohol. Semua orang di meja hanya bisa terpana — bagaimana bisa dia tetap setenang itu, padahal semua mata menatapnya tajam? Hengky kembali mengarahkan pembicaraan ke Felly, bertanya dengan penasaran, "Hari ini kamu menang kasus lagi, ya? Dapat berapa, Pengacara Felly?" Felly mengambil sumpit, menyuap sesuap makanan, lalu dengan santai menjawab rasa ingin tahunya: "Nggak banyak, cuma beberapa unit vila saja." Alis Felix terangkat sedikit. Orang-orang di meja itu — selain Felix — langsung melihat ke arahnya... Selama ini, mereka belum pernah mendapat kasus besar seperti itu. Bisa menangani perkara dengan nilai miliaran saja sudah luar biasa, apalagi sampai mendapatkan bayaran berupa vila! Mereka hampir saja iri sampai gila! "Kamu ini benar-benar mesin pencetak uang tanpa perasaan! Gimana, malam ini traktir teman-teman lama pesta, dong?" Hengky menggoda lagi. "Nggak enak lah," Felly menjawab sambil tetap santai menyuap makanan, alisnya terangkat, "Aku ini orang dari kantor Hadara, kalian dari Adil Jaya. Dua kantor kita saingannya berat, kalau aku heboh traktir kalian, nanti bosku bilang aku mata-mata lagi." "Kalau begitu, pindah saja ke Adil Jaya." Hengky, yang juga partner di Adil Jaya, langsung menawarkan. "Kalau aku pindah, kalian bisa-bisa cuma makan angin!" Felly mengangkat kaki, menyilangkan dengan gaya santai dan sombong, melirik mereka semua dengan tatapan menggoda. Saat ini dia sudah jadi partner senior di Hadara, posisinya kokoh dan bosnya sangat menghargai dia. Tidak ada alasan baginya untuk pindah. Lagipula, dia juga tidak ingin terlalu dekat dengan Felix. Tidak mau lagi jatuh ke dalam urusan perasaan dan kehilangan akal. Sekadar saling main-main seperti ini, bukankah lebih seru? Hengky langsung diam. Benar juga — di kantor saja sudah harus rebutan proyek melawan ‘iblis’ Felix, kalau ditambah satu ‘monster’ Felly, nasib mereka bisa benar-benar sengsara. --- Malam hari. Felix baru saja keluar dari kamar mandi ketika melihat ponselnya berbunyi. Sebuah video singkat dikirimkan oleh temannya. Ia membukanya. Dalam video itu, terlihat Felly sedang duduk di ruang VIP bersama seorang pria, tertawa-tawa akrab. Tangannya bahkan mengelus-elus punggung pria itu dan dengan manis menyuapi buah ke mulutnya. Video itu sepertinya diambil secara diam-diam dari luar ruangan, jadi suara percakapan mereka tidak terdengar. Pria itu, Felix mengenalnya — Arga Diraga, bos besar dari Hadara. Felix melangkah ke nakas, mengambil sekotak rokok. Dia menyalakan sebatang, mengisap dalam-dalam, lalu meniupkan asap tipis ke udara. Setelah hening sejenak, ia akhirnya menelepon temannya. Begitu tersambung, dia langsung bertanya, "Alamat." "Apa kamu cemburu?" Hengky yang sedang duduk santai di ruang VIP itu tertawa. "Jangan banyak omong. Alamat." Siang digoda dia, malam sudah menggoda pria lain. Apa dia kira Felix ini cuma mainan? "Lavender, ruang VIP nomor 615." Felix memutuskan sambungan telepon, lalu dengan satu tarikan tangan melepaskan handuk putih di pinggangnya, memperlihatkan otot-otot perutnya yang sempurna. Dia berjalan ke lemari pakaian dengan langkah panjang dan mantap... --- Saat itu, Felly dan Arga baru saja keluar dari klub malam dan berjalan-jalan santai di trotoar. "Kamu sudah merasa lebih baik?" Arga bertanya dengan nada perhatian. "Kena angin dingin rasanya lumayan mendingan. Bos Arga, kamu pulang saja dulu, aku juga mau balik." Felly menjawab sambil sedikit oleng. Tadi dia dipaksa minum cukup banyak oleh rekan-rekannya. Arga tidak buru-buru pergi. "Oh ya, ada satu hal lagi—" katanya, "Gimana perkembangan kasus perceraian yang kamu tangani? Kabarnya, pengacara lawan itu Felix. Kalau perlu, kenapa tidak ganti saja pengacaranya untuk klienmu?" "Kamu takut aku kalah dari dia?" Felly bertanya sambil tersenyum. "Selama kamu tetap menang terus, kantor kita akan terus dapat proyek besar. Kamu sekarang wajah dari Hadara. Banyak mata yang memperhatikan duelmu dengan Felix." "Kalau begitu, aku justru makin nggak boleh mundur dong. Tenang saja, Boss. Aku akan berusaha semaksimal mungkin." Dia menepuk bahu Arga dengan santai. Dari kejauhan, sebuah mobil hitam mewah perlahan melaju mendekat. Dari balik kemudi, seseorang mengamati mereka berjalan berdua dengan akrab, melihat tangan Felly menepuk bahu pria itu dengan sikap yang terlalu intim. Wajah Felix yang biasanya tenang, perlahan terlihat mengeras. "Ciiiiittt—" Mobil itu berhenti mendadak tepat di samping mereka! Felly kaget dan menoleh —Itu... mobil Felix? Jendela kursi belakang perlahan diturunkan, memperlihatkan separuh wajah tampan dan dinginnya. Dari dalam mobil, udara dingin AC mengalir keluar, membawa hawa sejuk menusuk. "Naik." Suara Felix terdengar pelan tapi penuh tekanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN