BAB 7

1192 Kata
Suara Felix terdengar dingin, serak samar, seperti lonceng kematian yang berdentang di telinga Felly. Apakah dia baru saja menyinggungnya? Kenapa rasanya pria itu tampak marah? Felly, yang tak ingin dianggap sebagai mata-mata oleh bos Hadara, spontan berbohong kecil, "Bos Arga, aku sudah janjian dengan Pengacara Felix malam ini untuk membicarakan kasus. Aku yang lupa. Jadi aku ikut dia dulu, ya." Selesai bicara, dia langsung naik ke mobil Felix. Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu. "Pengacara Felix, Anda sengaja mencari saya atau kebetulan lewat? Ada urusan apa memanggil saya ke mobil?" tanya Felly, menoleh ke arahnya. Felix menatapnya dingin, lalu berkata, "Besok aku akan melaporkan klienmu atas tuduhan menyuapku. Suruh dia siap-siap naik ke persidangan." Begitu mendadak? Saat makan siang tadi dia tidak bilang apa-apa soal ini. Felly yakin, pria ini pasti sedang marah! Bukti perselingkuhan Sintia belum terkumpul sepenuhnya. Kalau sampai Felix besok benar-benar melapor, tamat sudah! Felly mendekat, tubuhnya hampir bersandar ke d**a pria itu, tangan mengusap ringan dadanya sambil tersenyum manja, "Jangan-jangan… kau cemburu lihat aku jalan bareng Arga?" Felix langsung mendorongnya menjauh, tertawa dingin. "Aku? Cemburu karena kamu?" "Kalau begitu, kenapa tiba-tiba kelihatan kesal?" Dengan gerakan cepat, Felly membalikkan badan, duduk mengangkang di pangkuannya, kedua tangan melingkari lehernya. "Matamu yang mana yang lihat aku kesal?" dia balik bertanya dingin. "Kedua mataku melihat jelas. Tak ada yang lebih paham kamu selain aku…" Felly menatapnya dalam-dalam. "Jangan terlalu percaya diri, Felly," Felix menarik tangan Felly dengan wajah gelap, hendak melemparkannya ke samping. Tapi Felly dengan sigap menarik dasinya, lalu tanpa ragu menggigit bibirnya, cukup keras hingga terasa, tapi cepat-cepat melepaskan. Tangannya yang halus kemudian bergerak ke bawah perutnya, mengusik dengan gerakan ringan sambil mengangkat alis, tersenyum menggoda, "Kalau aku bukan 'seleramu', kenapa masih mau main-main denganku?" Karena godaannya, tubuh Felix bereaksi cepat. Di dalam mobil yang sempit ini, suasana jadi semakin panas dan menggoda. Sopir yang mengemudi pun cepat tanggap, menurunkan sekat pembatas. "Singkirkan tanganmu!" Felix mencengkeram tangan nakal itu dan melemparkannya ke samping, mendengus, Huh, habis pegang-pegang pria lain, sekarang mau pegang dia? "Ugh…" Tubuh Felly terhuyung, hampir terjatuh, untung sempat menarik dasinya untuk bertahan. Dia menggertakkan gigi, perasaan tertantang membuncah. Dengan tiba-tiba, dia menarik dasinya dan mencium bibirnya sekali lagi. Satu tangan memeluk lehernya erat, dadanya menekan d**a bidang pria itu, tangan lain menyusup ke balik kemeja putih, merayap ke atas. Sentuhan tangan halus itu seperti membawa aliran listrik, ke mana pun bergerak, membuat Felix merasa kesemutan. Gawat, perempuan ini berbahaya! Tubuhnya mulai panas, desakan di bawah perut makin menggila, membangkitkan sisi buasnya. Felix menggenggam pinggang ramping Felly, lalu dengan kasar meremas dadanya sebagai balasan! "Ahh…" Felly tanpa sadar mengeluarkan suara menggoda, yang langsung mengguncang naluri terdalam pria itu. Felix menunduk, menatap perempuan nakal ini, lalu dengan paksa mendorongnya menjauh. Hampir saja dia menyerah di mobil ini... Felly masih duduk di pangkuannya, satu tangan bertumpu di dadanya, napasnya memburu. Bibirnya merah membengkak karena ciuman panas barusan, membuat pria di depannya sulit mengalihkan pandangan. Dia mengangkat tangan, ujung jarinya perlahan mengusap bibir seksi Felix, tersenyum dengan rasa percaya diri yang lebih besar, "Beri aku beberapa hari lagi. Kalau aku masih belum bisa membereskan kasus suap itu, kita bertemu di pengadilan." Felix menepis tangannya, menurunkan kaca jendela, mengambil sebungkus rokok. Dia menggigit sebatang, lalu menyalakannya dengan pemantik kuno berwarna perunggu. Menyandarkan diri di kursi, dia menghisap dalam-dalam, berusaha menenangkan gejolak tubuhnya. "Kenapa aku harus memberimu waktu?" tanyanya sambil terkekeh. Felly melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, memandangnya serius, "Kalau kau tidak mau, aku akan segera menikah. Setelah itu, aku janji tak akan pernah mengganggumu lagi." Tangan Felix yang memegang rokok bersandar di jendela. Dia melirik sekilas ke arahnya, tanpa berkata apa-apa. Dring—dring Tiba-tiba ponsel Felly berbunyi. Dia meraih tas selempangnya, mengeluarkan ponsel dan melihat nama penelepon: Andi. Jam segini menelepon, pasti soal kasus. Felly melirik ke arah Felix, tidak mengangkatnya. Dia memilih menolak panggilan dan mengirim pesan, 【Ada apa?】 Andi membalas cepat, 【Sintia baru saja masuk hotel dengan seorang pria. Mau langsung gerebek di tempat?】 Akhirnya, kesempatan itu datang juga! Sudut bibir Felly terangkat. Jemarinya dengan cekatan mengetik, 【Tidak usah gerebek. Langsung laporkan ke polisi, tuduh saja mereka terlibat prostitusi.】 【Kenapa harus seribet itu? Aku langsung masuk, rekam mereka, bukankah itu sudah cukup jadi bukti?】 Felix mengisap rokok dalam-dalam, matanya melirik ke arah Felly yang tampak puas 【Bukti yang diajukan ke pengadilan harus sah secara hukum. Jangan banyak omong, lakukan saja seperti yang aku suruh!】 Felly membalas dengan nada jengkel. 【Baik.】 Andi hanya membalas singkat, lalu langsung menelepon 110. Felly menyimpan ponselnya, melirik Felix sambil menjelaskan, "Itu rekan kerjaku, urusan pekerjaan." "Urusan pekerjaanmu tidak perlu dijelaskan padaku," jawab Felix dengan suara dingin. Ia juga mengeluarkan ponselnya, membuka w******p, dan dengan satu tangan, ibu jarinya mengetik empat kata lalu mengirimkan pesan itu... "Selarut ini, kamu kirim pesan ke siapa?" Felly bertanya dengan nada menggoda. Felix hanya tersenyum tipis, "Kamu bertanya pakai status apa?" "Kalau begitu, status apa yang kau inginkan dariku?" Felly membalas sambil mencondongkan tubuh, tubuhnya yang lembut mendekat, matanya mengintip ke arah ponselnya. Saat dia mendekat, Felix menggeser layar ponselnya dengan satu jentikan jari, menampilkan wallpaper berupa permukaan danau bergelombang. Felly menarik kembali tatapannya. Ia tiba-tiba mendekat ke telinga pria itu, suaranya mendesir menggoda, "Malam ini, mau ke hotel atau ke rumahmu?" "Balik ke rumahmu sendiri," jawab Felix dingin sambil mendorongnya sedikit menjauh. "Wah, sok keras. Mau pulang dan memuaskan diri sendiri, ya?" Felly menggodanya sambil menggesekkan jarinya nakal di bagian bawah perutnya. "Hmph, puaskan diri sendiri pun lebih baik daripada kamu pamer di grup," Felix menepis tangannya dan melemparkannya ke samping. Felly, yang masih duduk di pangkuannya, menggeliat nakal, lalu menepuk ringan dadanya, "Pamer sedikit juga tak akan bikin kamu rugi, kan? Apa harga dirimu setinggi itu? Kalau perlu, aku traktir makan malam mewah sekalian, anggap saja kompensasi." Sepuluh tahun ini dia sudah cukup sering ditolak olehnya. Wajahnya juga punya harga diri, kan? Sekarang dia hanya ingin membalas dendam kecil, membuat Felix dan semua orang di grup itu bungkam karena kagum! "Agus, ke komplek Vila Permata Hijau," Felix hanya menanggapi perintah pada sopir, menyebutkan alamat rumah Felly. "Siap, Tuan Felix," sopir di depan segera menjawab. "Kalau kebanyakan main sendiri, hati-hati malah impoten!" Felly menyentil dadanya sebelum turun dari pangkuannya, mendengus dalam hati: Tunggu saja, aku pasti tidur denganmu lagi, lalu aku yang akan meninggalkanmu, puas! --- Begitu Felly turun dari mobil, ponselnya langsung berdering. Itu telepon dari Andi. Begitu disambungkan, Andi berbicara dengan suara agak cemas, "Aku dan detektif tadi jelas-jelas lihat perempuan itu masuk kamar hotel sama pria itu, tapi begitu polisi datang, laki-lakinya sudah hilang..." Felly terdiam sejenak. Pikiran pertamanya langsung tertuju pada Felix—pasti dia yang membocorkan! "Sepertinya mereka sudah kabur lewat balkon," katanya. "Apa mungkin Sintia sadar kita mengikutinya? Kalau begitu, ke depannya dia pasti bakal lebih waspada," Andi terdengar kesal. Felly tidak menjelaskan siapa yang membocorkan, hanya bertanya, "Laki-laki yang masuk hotel dengannya itu siapa?" "Direktur Grup Konstruksi dan Properti Jahara, Charles Santora. Keluarga Santora itu salah satu keluarga besar paling berpengaruh di negeri ini. Sial, aku baru tahu istriku selingkuh dengan orang sekelas itu!" "Brengsek... habis ini bagaimana aku bisa bertahan di Misara?" Andi mengutuk dengan getir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN