BAB 8

1215 Kata
Andi benar-benar ingin segera memutuskan hubungannya dengan Sintia. Sialan, kalau orang luar tahu aku masih berstatus suami-istri, pasti bakal jadi bahan tertawaan! Felly mendengar keluhannya dan langsung tertawa kecil, lalu memberikan saran: "Kalau istrimu begitu haus cinta, kenapa tidak kau carikan saja seorang pria untuknya? Syukur-syukur, pria itu mau naik ke pengadilan sebagai saksi." "Aku sudah cukup dipermalukan dengan dipasangkan tanduk, sekarang malah disuruh cari sendiri pria buat dia?" Andi mendelik. "Kalau begitu, nikmatilah perlahan saat istrimu bermain dengan pria lain. Oh iya, soal Felix, kita tidak bisa menunda lebih lama lagi," katanya mengingatkan dengan tulus. --- Keesokan malamnya, di acara perayaan 20 tahun Asosiasi Perhiasan. Felly turun dari mobil di depan hotel bintang tujuh, mengenakan gaun panjang hitam tanpa lengan yang membalut tubuhnya, dipadukan dengan sepatu hak tinggi hitam berhiaskan berlian setinggi delapan sentimeter. "Asosiasi ini menaungi lebih dari seratus konglomerat besar. Kalau kita bisa membangun hubungan baik dengan ketua asosiasi dan mengamankan kerja sama jangka panjang, urusan bisnis kita ke depan pasti lebih lancar," kata Arga sambil berjalan mendekatinya. "Aku tidak suka urusan sosial macam ini. Urusan membujuk ketua asosiasi itu aku serahkan padamu," jawab Felly santai. Sambil berbicara, ia dengan anggun mengibaskan rambut ikalnya yang panjang ke belakang, memperlihatkan wajah cantiknya yang memesona. Make-up bergaya vintage dan gaun hitam itu semakin menonjolkan kulitnya yang putih bersinar. "Baiklah," Arga mengangguk tanpa memaksa. Mereka berdua naik lift ke lantai lima. Begitu tiba di pintu masuk aula, penampilan mereka sebagai pasangan pria tampan dan wanita cantik langsung menarik perhatian banyak orang. Tak jauh dari sana, Felix juga melihat mereka. Felly dan Arga berpisah, bergerak sendiri-sendiri. Ia mengambil segelas anggur merah dari nampan pramusaji dan menyesapnya dengan malas. Tak lama, sekelompok pria mulai mengerubunginya, masing-masing menyerahkan kartu nama. Felly membalas sopan dengan memberikan kartu namanya sendiri. Saat ia berbalik, matanya bertemu dengan tatapan dalam Felix yang terpaku padanya. Setelah basa-basi sebentar dengan para bos itu, Felly berjalan mendekat ke arah Felix dan tersenyum manis, bertanya, "Pengacara Felix, aku cantik sekali malam ini, kan?" "Tak ada lagi orang di firma hukummu? Sampai harus pakai kecantikan untuk cari klien?" Felix melirik para pria yang mengaguminya, lalu berkata dengan suara dingin. "Berarti kamu mengakui aku cantik malam ini?" Felly menggoda sambil iseng menyikutnya. Felix hampir saja menumpahkan anggurnya karena sikutan kecil itu! Felly mendekatkan wajahnya ke telinga Felix, berbisik dengan napas hangat: "Dengar-dengar... hotel ini punya suite khusus pasangan, lengkap dengan lilin, cambuk, dan kostum spesial. Mau coba?" "Felly!" Suara Felix dalam dan berat, seolah-olah ada bara api yang baru saja disulut dalam dadanya. Ia menggertakkan gigi menahan gejolak aneh yang ditimbulkan wanita itu. "Kalau kamu tidak mau, aku cari pria lain saja, ya?" Felly menggodanya lagi, menatap penuh tantangan. "Kalau begitu, jangan lupa pakai pelindung. Jangan sampai kena penyakit kelamin," jawab Felix dingin sambil meneguk anggur, berusaha menenangkan diri. "Baik, terima kasih atas peringatannya, Pengacara Felix," sahut Felly, lalu berbalik pergi dengan marah. Meski dalam hati ia sudah berusaha tidak peduli lagi, ditolak seperti itu tetap terasa seperti belati yang menusuk luka lama. Masih terasa sakit. Pria itu, tetap sekejam dulu. Berdiri di tengah kerumunan, Felly tak butuh waktu lama untuk kembali didekati pria lain. Di sisi lain ruangan, Arga dan Hengky tengah berbincang dengan seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun. Ketiganya saling melempar senyum bisnis yang penuh kepalsuan. Tatapan si pria tua itu tiba-tiba jatuh pada Felly, matanya menyipit penuh nafsu sambil menilai dari atas ke bawah. "Itu... Bukankah itu Pengacara Felly dari Hadara?" tanyanya terkejut. "Benar," jawab Arga sambil mengikuti arah pandangannya dan tersenyum. "Tak kusangka, Pengacara Felly jauh lebih cantik daripada yang terlihat di media. Penampilan dan tubuhnya... bahkan lebih unggul daripada artis-artis wanita, hahaha!" Mata si pria tua itu terus menempel di tubuh Felly, terutama pada lekukan pinggulnya yang sempurna dibalut gaun hitam ketat. Dia sudah pernah meniduri banyak artis, tapi belum pernah mencicipi seorang pengacara cerdas! "Pengacara Felly di firma kami bukan hanya cantik, tapi juga luar biasa dalam bidang profesional," Arga menambahkan, memanfaatkan kesempatan itu. Hengky terdiam. Dasar tua bangka hidung belang, jelas-jelas pria itu punya niat kotor! "Aku pernah membaca laporan tentang Pengacara Felly di media, aku sangat percaya pada kemampuannya," kata ketua asosiasi itu dengan wajah licik. "Bagaimana kalau begini, Direktur Arga? Suruh saja Pengacara Felly datang ke kamarku nanti. Aku ingin bicara lebih serius soal kerja sama," lanjutnya, tersenyum penuh arti. "Tentu saja, tak masalah. Nanti aku pastikan Pengacara Felly akan menemui Ketua Septian," jawab Arga tanpa ragu, percaya Felly bisa mengatasi situasi seperti ini. "Suite 2020. Aku tunggu di sana." Ketua Septian berkata santai, lalu berjalan pergi dengan puas. Segera setelah itu, Arga bergerak cepat mendekati Felly. Hengky hanya bisa memandang dengan ekspresi jijik pada Arga. Bukankah ini sama saja dengan mendorong Felly untuk menjual dirinya? Ia berpikir dalam hati: Felly tidak mungkin menuruti permintaan itu, kan? Namun, dari jauh, ia melihat Arga berbicara kepada Felly, yang menunjukkan ekspresi tak sabar, tapi tetap melangkah keluar ruangan. "Felly... ternyata dia wanita seperti itu?!" Selama ini Hengky mengira Felly adalah gadis setia dan penuh cinta. Berapa banyak orang di dunia ini yang mau bertahan mengejar satu pria selama sepuluh tahun? Karena itulah, ia diam-diam selalu menaruh rasa hormat dan kekaguman terhadap Felly. Tapi sekarang, melihat dia bersedia "melayani" seorang ketua asosiasi demi kerja sama, Hengky merasa hancur dan jijik sekaligus. Ia mendekati Felix, meliriknya, dan dengan nada sinis berkomentar: "Zaman sekarang, wanita lebih ahli mengurus urusan bisnis ketimbang pria. Cukup tiduran, buka kaki, semua masalah beres, huh." Felix menyelipkan satu tangan ke dalam saku celana, menatapnya sekilas dengan dingin, "Kau lagi menyindir siapa?" "Menurutmu?" Hengky menantang balik. Felix berbalik, malas menanggapi. Ia terlalu malas untuk menebak sindiran kekanak-kanakan seperti itu. Hengky menatapnya lagi, lalu menambahkan dengan suara sinis, "Yang baru saja tidur denganmu... lalu mencampakkanmu, si Felly itu." Felix, yang tadinya tidak peduli, langsung berhenti. Ia berbalik dan menatap serius, "Felly... ke mana dia?" "Ke kamar Ketua Asosiasi untuk... ya, kau tahulah. Aku benar-benar mengira dia wanita setia, siapa sangka dia ternyata..." Hengky mengangkat bahu, ekspresinya penuh kekecewaan. "Oh iya," katanya sambil menyikut Felix sambil bergurau, "Ngomong-ngomong, waktu kau tidur dengannya, dia masih perawan, kan?" Felix diam sejenak. Ia tahu dengan sangat pasti, malam itu Felly memang menyerahkan dirinya untuk pertama kalinya. "Dia benar-benar masuk ke kamar Ketua Septian?" tanyanya, nada suaranya menurun, berat. "Aku lihat dengan mata kepala sendiri. Mau bagaimana lagi? Kalau kau pintar, lebih baik jauhi dia. Dia cuma mempermainkanmu, lalu pamer ke teman-temannya untuk menaikkan pamornya," kata Hengky, setengah mengejek, setengah mengingatkan. Felix mengabaikan komentar itu. "Ayolah, kau belum jawab, dia itu pertama kali kan waktu sama kau?" "Itu urusan pribadi, pikirkan saja urusanmu sendiri," jawab Felix dingin. Saat itu, beberapa bos besar lain menghampiri, berbasa-basi dan menjilat Felix, berharap bisa menjalin koneksi dengan pengacara top itu. Setelah basa-basi sejenak, Felix berkata, "Maaf, aku perlu ke toilet. Kalau ada pertanyaan, kalian bisa konsultasikan ke Pengacara Hengky." Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik menuju toilet. Tak lama setelah itu, Hengky menerima pesan singkat, hanya dua kata: [Nomor kamar?] Hengky hanya bisa mendengus. Sudah kuduga, dia tidak akan bisa diam saja! --- Di dalam Suite 2020. "Plak!" Suara cambuk kecil memecah keheningan ruangan. Felly, dengan tangan yang cekatan, kembali mengayunkan cambuk ke arah lelaki tua gemuk yang tengah berlutut di lantai. Ketua Septian mengerang kesakitan. Felly membungkuk, senyumannya manis namun penuh ejekan, "Ketua Septian... bagaimana rasanya? Menyenangkan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN