BAB 9

1208 Kata
"Sakit... Sakit sudah... tolong, jangan pukul lagi. Aku janji takkan berani macam-macam padamu lagi..." Ketua Septian, yang hanya mengenakan celana, memeluk kedua lengannya, mulutnya meringis kesakitan hingga nyaris robek ke telinga. Tubuh gemuknya dipenuhi bekas cambukan merah. "Kamu kan katanya suka permainan seperti ini? Aku harus pastikan kamu puas sepenuhnya." Begitu Felly masuk ke kamar, si gendut itu langsung menyambutnya dengan cambuk kecil di tangan dan melemparkan kostum suster seksi, memintanya untuk berganti pakaian. Dia bahkan berjanji, selama malam ini dia puas, seluruh urusan hukum asosiasi dagang ke depannya akan menjadi milik Felly. "Cukup, cukup! Aku sudah puas! Tolong... jangan pukul lagi..." Ketua Septian menggeliat ketakutan, tubuhnya menggulung seperti bola. "Kalau begitu, untuk urusan hukum nanti, kau mau pakai firma Hadara atau Adil Jaya?" Felly bertanya sambil menyilangkan tangan di d**a, ekspresinya tenang. "Tentu saja... tentu saja pakai Hadara..." Ketua Septian mendongak, menatapnya dengan ekspresi penuh ketakutan — meski dalam hatinya, dia hampir saja ingin mencabik-cabik wanita itu. Kalau saja Felly tidak langsung merekam semua kejadian sejak awal, dia mana mungkin bersikap sepenurut ini? "Baiklah, karena kesadaranmu cukup tinggi, kita cukupkan sampai di sini." Felly melemparkan cambuk kecil itu, mengambil clutch hitamnya, lalu melangkah keluar dengan gaya sombong dan percaya diri. Baru saja berbelok di koridor, beberapa pria berseragam polisi tiba-tiba berjalan cepat melewati Felly. Mereka berhenti di depan kamar 2020 dan mulai menggedor pintu keras-keras: "Tok! Tok! Tok tok tok!" "Buka pintu! Pemeriksaan kamar! Cepat buka!" Felly menoleh, mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Tak disangka, suatu hari dia sendiri akan kena razia kamar. Sial, siapa yang melaporkan? Tanpa buang waktu, dia bergegas ke arah lift. Baru saja tiba, matanya menangkap sosok tinggi tegap yang sangat dikenalnya... Felix?! Felix pun tampak terkejut melihat Felly, tak menyangka mereka akan bertemu di situ. Saat itu juga, Felly sadar siapa dalang di balik laporan tadi. Dia menyeringai tipis dan bersuara sinis: "Pengacara Felix, Anda ternyata cukup santai, ya? Sampai sempat-sempatnya main lapor?" Felix hanya melirik dingin ke arahnya, lalu tiba-tiba berteriak ke arah polisi: "Pak polisi! Wanita di kamar 2020 itu—" Belum sempat selesai, Felly dengan geram membungkam mulutnya dengan tangan, cepat-cepat membela diri: "Mata mana yang melihat aku tidur dengan si gendut itu? Aku cuma menghajarnya, bukan apa-apa. Kalau tak percaya, aku punya rekamannya!" "Mana buktinya?" Felix menyingkirkan tangannya dan bertanya datar. Felly buru-buru membuka clutch-nya dan mengeluarkan alat perekam kecil. Tapi sebelum sempat melakukan apa-apa, Felix sudah lebih dulu menyambar alat itu. "Aku harus dengar dulu untuk membuktikannya," katanya. Setelah itu, dia menekan tombol lift, masuk dengan langkah panjang, dan memencet tombol lantai bawah tanah. Felly mengikutinya, dan begitu pintu lift menutup, ia tiba-tiba membanting Felix ke dinding lift! Satu tangannya bertumpu di dinding dekat kepala pria itu, sementara tangan lain menarik-narik dasinya, bermain-main sambil tersenyum menggoda: "Pengacara Felix, bukankah sebelumnya Anda mengingatkan aku untuk pakai pengaman? Lalu kenapa sekarang malah melaporkan? Jangan-jangan... Anda cemburu?" Felix menunduk memandangnya dengan tatapan dingin. "Kamu terlalu percaya diri. Adil Jaya dan Hadara itu saingan. Aku takkan membiarkanmu menjinakkan ketua asosiasi," balasnya datar. "Kalau begitu," Felly membalas dengan senyum penuh kemenangan, "bukan cuma si gendut itu yang bisa aku taklukkan. Kamu juga." Belum sempat Felix merespons, Felly sudah menarik lehernya turun dan menciumnya dengan paksa. Sambil satu tangan mengelus perut bagian bawah pria itu, gerakannya semakin berani. Wajah Felix mengernyit, lalu dia sekilas melirik kamera pengawas di sudut lift. Dengan cepat, ia membalikkan keadaan — tubuh Felly kini yang terjepit di dinding. Sekali sentakan, gaun Felly tersingkap, memperlihatkan dadanya yang terbungkus tipis. Tangan besar pria itu mendarat keras, meremas tanpa ampun. "Ugh..." Felly mendesah pelan, setengah kesakitan setengah geli, tubuhnya refleks melemas dalam pelukan pria itu. Lidah dan bibir Felix menguasainya, menciumnya dalam-dalam, menuntut setiap inci rasa hingga Felly hampir terbakar dalam pusaran gairah. Tubuhnya nyaris meluruh seluruhnya, lunglai bersandar padanya. Namun, saat Felly mengira dia sudah menguasai pria itu, Felix tiba-tiba melepaskannya. Wajahnya dingin, tangan merapikan jas hitam dengan santai, lalu tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah keluar dari lift. Sejak awal sampai akhir, dia tidak mengucapkan satu kata pun lagi. Sikap Felix itu benar-benar seperti seorang b******k yang habis puas langsung menarik celana dan pura-pura tidak kenal! "Felix!" Felly, sambil menutup dadanya, marah bukan main. "Dasar laki-laki b******n! Tunggu saja, aku sumpah bakal seratus kali menendangmu pergi!" Ia menarik kembali gaunnya, lalu dengan marah berteriak ke arahnya. "Brengsek..." gumamnya, sembari mengepalkan tinju dan menghantam dinding lift. Lift sempat berguncang ringan. Felly cepat-cepat keluar dan mencari tempat parkir mobilnya. Baru saja hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba dari kegelapan, seorang pria berlari ke arahnya sambil menggenggam sebilah pisau pendek! "Dasar perempuan sialan! Karena kamu, aku tidak dapat uang! Mati saja kamu!" teriak pria itu. "Kau?!" Felly langsung mengenalinya. Pria itu adalah bos pabrik pakaian yang beberapa hari lalu kalah dalam kasus hukum — si pembakar gudang demi menipu asuransi. "Mau masuk penjara lagi, hah?" Felly berkata dingin. "Meski harus masuk penjara, aku akan menyeretmu mati bersamaku!" Mata pria itu merah padam karena amarah. Seluruh rencana liciknya hancur di tangan Felly, membuatnya kehilangan segalanya. Karena jaraknya terlalu dekat, saat Felly berusaha menghindar ke samping, pisau itu tetap sempat menyerempet punggungnya, mencabik gaun dan meninggalkan luka menganga. Rasa sakit tajam langsung menyerang. Felly menghirup napas dingin. Darah segar cepat mengalir, mewarnai gaunnya merah menyala. "Sekarang ada dua pilihan untukmu!" pria itu menggeram sambil mengayunkan pisau lagi secara liar. "Bayar aku satu miliar, atau mati di sini!" "Kalau begitu, kita lihat saja siapa yang lebih hebat." Felly sambil terus mundur, menghindari tebasan liar pria itu. Begitu melihat celah, dia secepat kilat berputar, mencengkeram pergelangan tangan pria itu, lalu memuntir dengan keras! "Argh!" Pria itu berteriak kesakitan, pisaunya pun terlepas dan jatuh ke tanah. Saat pria itu hendak melayangkan pukulan, Felly lebih cepat — dengan cekatan, ia menghantam belakang leher pria itu dengan tangan pisau. Bugh! Pria itu langsung terkapar tak sadarkan diri. "Ssshh..." Felly mengerang pelan. Gerakan tadi memperparah luka di punggungnya, membuat keringat dingin membasahi dahinya. Dengan satu tangan berpegangan pada mobil, dan satu tangan lagi meraba punggungnya, ia mendapati seluruh telapak tangannya berlumuran darah. Dengan susah payah, Felly mengambil clutch dari tanah, mengeluarkan ponsel, dan langsung menekan nomor Felix. Namun, baru sekali dering, panggilannya langsung ditolak. "Heh... sungguh lelaki paling keparat." Felly tersenyum pahit, wajahnya pucat pasi. "Aku ini, jatuh cinta pada apa sih?" gumamnya. Tak punya pilihan lain, dia menghubungi Arga. --- Dua jam kemudian, di rumah sakit pusat kota. "Aduh, dokter... pelan-pelan... kulitku ini bukan kulit babi..." Felly meringis kesakitan, berbaring tengkurap di ranjang rumah sakit. Satu tangan mencengkeram erat bantal, sementara tangan lainnya erat menggenggam tangan Arga. Luka panjang lebih dari sepuluh sentimeter membelah punggung putih mulusnya — pemandangan itu membuat siapa pun merinding. "Sudah pelan kok, jangan banyak teriak. Sedikit lagi selesai," kata dokter dengan pasrah, tetap fokus menjahit lukanya. Arga, yang sejak tadi mendampingi, menahan perasaannya. Ia hanya bisa menggenggam tangan Felly erat, berusaha menenangkannya: "Sedikit lagi, tahan ya." "Sialan!" Felly mendesis kesal. "Aku bahkan sempat bantu biaya operasi anaknya lima juta! Ini balasan yang kudapat? Benar-benar manusia tak tahu terima kasih!" Ini adalah pertama kalinya Felly benar-benar merasakan sakit fisik seperti ini. Sejak kecil, dia selalu menjadi putri kecil yang dimanja keluarganya. Sambil menggertakkan gigi menahan rasa sakit, Felly bertanya: "Si b******k itu sekarang sudah di kantor polisi, kan? Aku harus pastikan dia benar-benar dipenjara!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN