"Wah, musim dingin." Bude Arina melangkah mendekat jendela. Dari sana benda putih-putih mulai berjatuhan dari langit. Aku melihatnya dengan takjub, berjalan mengikuti Bude di belakangnya. "MaasyaAllah. Ini kah salju pertama?" Melihat pada Bude lalu menengok pada Gus Bed. Barangkali seperti kemarin saat ia bersikap layaknya pemandu wisata yang menjelaskan banyak hal padaku. Gus tampak tak tertarik, fokus makan dan tak peduli pada kami. Bude Arina menangkap hal itu. Ia mengalihkan obrolan dengan memintaku kembali ke kursi melanjutkan sarapan. "Kamu harus banyak makan, Nduk. Sebelum benar-benar ngidam masuk bulan ke dua. Mual kemarin mungkin karena masuk angin." Bude menambahkan kentang rebus ke piringku. "Hem. Ya, Bude." Aku tersenyum miris. Sungguh suasana ini begitu canggung. Aku ta

