Jari-jariku bergerak mengusap kaca yang basah akibat uap salju, sembari memegang ponsel di sisi tangan lain. Aku tersenyum ketika sebuah nama terukir di sana. 'Ubaidillah' Bahkan hanya membaca namanya saja dadaku berdebar. "Ya, Bu?" Kusapa lagi orang di ujung telepon. Ibu tak pernah lupa bertanya bagaimana kabar anaknya yang berjauhan dari keluarga. Setidaknya dalam seminggu bisa dua kali kami saling sapa lewat seluler. "Ndak ada yang terjadi kan?" "Ndak, Bu. Bude Arina sangat baik, Bu. Dia berbeda dengan ...." Ucapanku menggantung, enggan menyebut pria jahat yang notabene adalah darah daging Bude Arina. "Hari ini kami akan berkeliling Amsterdam," sambungku diikuti tawa kecil bahagia. "Alhamdulillah, ibu senang. Kamu berhak bahagia, Li. Sebenarnya ibu mau menyampaikan apa yang Om k

