Sesampainya dikantor, Daniel dan Robert bergegas keluar mobil dan berjalan cepat menuju ke ruangan mereka masing- masing. Aaron yang masih di liputi kemarahan turut keluar mobil dengan cepat dan bergegas menuju ke ruangannya yang terletak di lantai paling atas.
“Selamat pagi Bos”
Marie menyambut kedatangan Aaron dengan senyuman semanis madu. Ia mengenakan pakaian yang luar biasa sexy menampilkan lekuk tubuhnya yang indah. Namun lelaki itu hanya berlalu tak menanggapi sapaan sekretaris sexynya
“Kenapa?” Marie mengikuti Aaron masuk ke dalam ruang kerja lelaki itu dan berjalan cepat menghampiri Aaron yang masih belum siap saat tiba- tiba gadis itu menciumnya
“Kenapa sayang?” tanyanya lagi saat mendapati tanggapan dingin dari kekasihnya
“Aku sedang tidak enak badan,” kelit Aaron
“Bohong! Kau tidak demam”
Gadis itu meraba ke dalam kemeja Aaron dan mulai menciumi leher lelaki itu. Matanya membesar saat mendapati tanda merah dan bekas gigitan di ceruk leher Aaron.
“Jalang mana yang bersamamu semalam?” gertak Marie dengan marah
“Sudahlah Marie, aku sedang tidak berselera untuk melakukan apapun sekarang.” Aaron menarik diri dari gadis yang hendak melepas kancing celananya itu
Alis Marie bertaut, “Sejak kapan kau tidak berselera untuk bercinta denganku?” ujar Marie di penuhi kekesalan
“SEJAK SEMALAM!” jawab Aaron dalam hati sembari membayangkan siksaan dan tamparan keras yang Abigail layangkan pada tubuhnya. ‘Ahhh, begitu nikmat,’ lamunnya
“Sebenarnya aku ingin melakukannya, tapi aku sedang banyak fikiran sekarang.” Aaron mendorong tubuh Marie menjauh. “Aku ada rapat sebentar lagi. Persiapkan saja semua berkasnya sekarang!” tambahnya
Aaron tidak bisa berfikir sama sekali. Ia hanya merindukan sentuhan Abigail pada tubuhnya. Lelaki itu bahkan tak lagi berselera melihat tubuh sexy Marie. Pikirannya benar- benar kacau.
Marie duduk di sofa dan melipat kedua tangannya. “Sampai kapan kau akan berjalan mondar mandir seperti itu?” tegur Marie yang sudah bosan diabaikan
“Make up mu bagus hari ini.” komentar Aaron tanpa melihat wajah gadis itu
Benar- benar sesuatu yang sangat tidak penting untuk di katakan. Padahal Aaron memang tidak tau harus mengucapkan apa pada gadis yang selalu menjadi pelampiasan nafsunya selama lima bulan terakhir itu. Pikiran Aaron benar- benar dipenuhi oleh sosok Abigail. Ingin sekali ia kembali ke Mansion dan menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan gadis itu
“Kita bisa melakukannya di sofa ini jika kau mau.” goda Marie yang belum menyerah untuk menggoda Aaron
“Stop! Hentikan Marie! Aku benar- benar tidak bisa berfikir jernih sekarang.” Aaron menghela nafas sejenak untuk menyegarkan otaknya.
“Sepertinya kau datang diwaktu yang tidak tepat,” ucap Aaron sedikit kesal
“Kau mengusirku?” sinis Marie dengan tatapan tajam
“YA!” gertak Aaron dalam hati. “Tidak. Bukan begitu maksudku,” jawab lelaki itu pelan
Bukannya pergi, Marie malah menarik tubuh Aaron dan menghempaskannya ke atas sofa. Lelaki itu meringis kesakitan saat guratan luka di sekujur tubuhnya menghantam sofa dan ia langsung mendorong Marie dengan marah hingga membuat gadis itu tersungkur ke lantai.
Marie meringis kesakitan dan langsung marah. Ia menatap nanar pada Aaron yang berdiri tegak di depannya. “Kenapa kau memperlakukan calon istrimu seperti ini?”
Aaron memicingkan matanya dan memandang jijik pada Marie. “Calon istri? Aku tidak akan menikahi wanita sepertimu!” jawab lelaki itu kemudian duduk di kursinya
Perkataan Aaron membuat Marie langsung bangkit dengan marah. “Apa maksudmu? Kau sudah berjanji untuk menikahiku kan?,”
“Kapan? Kapan aku berkata akan menikahimu? Berhenti hidup dalam sebuah khayalan Marie!”
Gadis itu terbelalak dan menatap Aaron dengan tidak percaya. Marie berlari keluar ruangan dengan tidak tergesa berharap Aaron akan mengejarnya. Namun Sayangnya lelaki itu hanya duduk diam di meja kerjanya tak menghiraukan sekretarisnya itu sama sekali.
Sedang di Mansion Biltmore, Abigail tengah duduk di antara hamparan bunga di taman belakang sembari mendengar pertengkaran Aaron dan Marie dari penyadap suara yang ia pasang di ponsel Aaron. ia menyantap anggur merah dan kacang almond yang di bawakan Evelin dengan nikmat
“Cuaca hari ini sangat indah. Bunga bermekaran, burung berkicau dan langit sangat cerah. Sayang sekali mereka harus bertengkar di hari yang indah ini,” ucap Abigail sembari meneguk segelas watermelon juice favoritnya.
Semakin ia memikirkan pertengkaran Aaron dan Marie, semakin membuatnya tertawa riang. ‘Ah, lucu sekali…’
***
Di dalam ruang rapat, Aaron masih tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan Abigail yang menari erotis dengan pakaian transparant. Bayangan random itu memenuhi kepalanya membuat miliknya mengeras tanpa alasan.
Bahkan ia masih harus pergi ke pinggiran kota Paris pada pukul dua siang untuk meninjau proyek hotel bernilai dua milyar dollar Amerika bersama rekan bisnisnya dari Inggris. Pengecekan itu akan membutuhkan waktu lama dan dilanjutkan dengan makan malam bersama para koleganya sampai tengah malam. Benar- benar menyiksa untuk Aaron yang tengah di landa kerinduan mendalam.
“Aku benar- benar tidak bisa menahannya lagi.” Aaron pamit pada kolega bisnisnya dan kembali ke Mansion dengan menggunakan taxi meninggalkan ke- empat kakak iparnya yang masih berpesta
Marie mencoba ikut masuk ke dalam taxi namun Aaron mendorongnya keluar. “Berhenti menggangguku Marie!” gertaknya.
Gadis itu marah bukan kepalang dan mencari penyebab perubahan sikap Aaron yang begitu tiba tiba dari Robert yang bermulut besar.
“Kenapa Aaron tidak ikut berpesta?”
“Mana ku tau! Mungkin dia merindukan istrinya yang sexy itu,” jawab Robert yang langsung tumbang ke atas meja
Ucapan Robert membuat Marie membelalakkan matanya. “Istri? Maksudmu Emily?” tanya gadis itu lagi. “Hei Bangun! Jawab aku Robert. Apa Emily kembali ke sini?” Marie mengguncang tubuh berotot Robert mencoba membangunkan pria tampan itu
“YA! Emily kembali kemarin malam. Lebih baik kau berhenti mengganggu Aaron,” jawab James dengan nada tidak suka
“OMONG KOSONG!” Marie berjalan keluar hotel dengan marah dan mencoba menelfon Aaron. namun berapa kalipun ia mencobanya, lelaki itu tetap tidak menerima panggilan telfon darinya
Sedang Aaron yang sudah menggila, bergegas berlari masuk ke dalam Mansion tepat saat supir taxi menghentikan mobilnya. Demi Tuhan, Aaron benar- benar tidak bisa memikirkan hal lain kecuali Abigail. Entah kenapa lelaki itu sangat merindukan Abigail dan merasa ingin berada disamping gadis itu. Seperti seseorang yang sedang kasmaran.
Abigail yang saat itu tengah bersantai di atas tempat tidur di kejutkan oleh kedatangan Aaron yang tiba- tiba. Lelaki itu langsung menenggelamkan diri ke dalam pelukan Abigail. Ia memeluk erat dan menghirup lekat aroma vanilla yang menguar dari tubuh istrinya yang memabukkan
“Kenapa Honey?” tanya Abigail keheranan
‘Masak dia sudah jatuh cinta padaku sih? Cepat sekali!' ucap Abigail dalam hati
“Aku merindukanmu,” jawab Aaron tak mau melepas pelukannya. Lelaki itu kembali menghirup lekat aroma vanilla dari leher gadis dalam kungkungannya. Aroma yang semakin menghilangkan akal sehatnya
“Mau melakukannya?” godaAbigail yang langsung mendapat anggukan dari Aaron yang sudah menggila sejak tadi
Gadis itu menyeringai lalu menarik Aaron menuju ke halaman belakang dan masuk ke hamparan bunga matahari yang tengah bermekaran. Ia mendorong tubuh pria itu sampai ambruk membuat Aaron kembali meringis kesakitan saat guratan merah di sekujur tubuhnya menghantam tanah. Namun kali ini ia tidak marah.
Abigail naik ke atas tubuh Aaron dan dengan cepat menarik kemeja yang melilit tubuh Aaron membuat kancing baju lelaki itu terlepas. Jari jemarinya begitu terampil dan cepat. Dalam sekejab kemeja hitam Aaron sudah terlempar ke sembarang tempat
Abigail menjelajahi leher pria itu dengan ciuman. Sedang Aaron hanya bisa diam sembari merasakan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang dan ia menjadi sangat gugup. Padahal ia tidak pernah merasakan ini saat bersama Emily.
Gadis itu duduk diatas perut kotak Aaron dan menyapu d**a bidang lelaki itu dengan jari jemarinya yang ramping. Sama sekali tak ada luka goresan benda tajam tak seperti tubuh kekar Jeff. Abigail mulai mencium lembut bibir tebal lelaki itu dan mereka mulai bergumul dengan sangat panas.
Sesekali Abigail menggigit rahang tegas pria itu saat Aaron mendongakkan kepala menahan kenikmatan. Gadis itu terus bergerak dengan lihai tak memberi kesempatan Aaron untuk beristirahat.
Setelah lelah bercinta. Akhirnya mereka tertidur diantara hamparan bunga matahari yang terlihat indah dibawah terpaan sinar rembulan.
***
Cahaya keemasan dan semilir angin pagi yang menyejukkan akhirnya berhasil membangunkan Abigail yang tertidur lelap dalam pelukan Aaron. Perlahan ia merayap naik ke atas tubuh berotot pria itu dan mengecup lembut bibir Aaron
“Morning Honey,” bisiknya
Aaron yang terbangun karena kecupan lembut Abigail di bibirnya langsung histeris, Cemas dan panik. Tangannya dengan sigap menyaut semua pakaiannya yang tercecer dan memakainya. Ia sangat takut akan ada orang lain yang melihat tubuh polosnya di antara hamparan bunga itu.
Abigail menatap dengan seksama. Kepanikan di wajah Aaron membuat gadis itu tergelitik. ‘Lucu sekali,’
Aaron melirik Abigail yang menyeringai padanya. “Kau menertawakanku?”
Abigail mengangguk dan mengangkat alisnya. Lalu terkekeh. Namun tak mengatakan apapun.
“Aku baru pertama kali seperti ini. Kau benar- benar pengaruh yang buruk untukku,” keluh Aaron dengan wajah kesal.
Kekesalan Aaron membuat Abigail kembali tertawa. “Di Amerika banyak yang melakukannya di pinggir jalan atau di samping danau. Itu hal yang biasa. Dasar bangsawan kuno,” ejeknya
Aaron tak menanggapi ejekan Abigail. Memang benar adanya ia dibesarkan di lingkup keluarga bangsawan Eropa yang menjunjung tinggi kesopanan melebihi apapun. Terlalu kuno memang. Dan semalam, ia melanggar tradisi kesopanan dalam keluarganya karena gadis Amerika yang nakal ini
“Tapi aku suka. Kau berhasil membuatku menyukai apapun yang kau sukai. Bersamamu sangat menyenangkan. Aroma tubuhmu sangat memabukkan. Membuatku gila saja,” gumam Aaron lirih.