Matahari menyingsing dan Abigail masih tak memiliki keinginan untuk bangun. Perbedaan waktu yang jauh berbeda dengan New York City sangat berpengaruh pada jam tidur gadis itu.
Aaron yang sudah bangun lebih dulu, perlahan melepas pelukannya dan pergi untuk membersihkan diri. Guratan merah di sekujur tubuh lelaki itu membuatnya meringis kesakitan saat lukanya terkena air. Ia bersiap dengan tergesa karena harus menghadiri rapat pukul Sembilan nanti.
‘BRAK!’
Pintu terbuka dengan keras setelah seseorang menendangnya dari luar.
“Berani sekali kau tidur di jam ini. Apa kau sudah lupa tugas mu di rumah ini?”
Wanita dengan nama Chelsea di album foto Emily itu datang membawa setumpuk baju kotor dan melemparnya ke atas wajah Abigail membuat gadis itu terbangun dari tidurnya. Chelsea bergegas berjalan keluar kamar setelah membuat keributan di pagi hari yang cerah itu
Abigail menyipitkan mata dan melirik Aaron penasaran dengan reaksinya. Namun lelaki itu malah memalingkan muka seolah tak melihat apapun. Aaron mengancingkan bajunya dengan tergesa dan bermaksud keluar kamar
Abigail menyeringai, “Kenapa kau hanya diam saat istrimu di perlakukan seperti ini?” tanya gadis itu dengan suara serak khas seseorang yang baru bangun tidur. Terdengar sexy dan menggoda di telinga Aaron
“Ma- maaf. Maafkan aku,” jawab lelaki itu lirih
Abigail beranjak dari tidurnya dan memeluk Aaron. “Its okay Honey. Aku hanya perlu mengembalikan baju kotor itu pada pemiliknya.” Gadis itu menyesap bibir tebal Aaron dan dengan sengaja meninggalkan bekas gigitan di leher pria itu
Abigail mengambil semua baju kotor yang berserak di atas tempat tidur lalu keluar kamar menuju ke ruang makan megah yang di lewatinya semalam. Disana terlihat enam orang wanita dengan empat orang pria tengah menyantap makananan mereka dengan tenang. Begitu hening tak ada seorangpun yang berbicara
Abigail menelik mencari gadis yang tadi masuk ke dalam kamarnya lalu melemparkan tumpukan baju kotor itu ke wajah Chelsea.
“Kau harus mencuci baju kotormu sendiri cantik,” ucapnya dengan sangat lembut
“EMILY! Apa kau sudah gila?” Satu wanita lain yang bernama Jennifer beranjak dan melayangkan tamparan di wajah cantik Abigail
‘PLAK!’
Abigail membalas temparan itu dengan sangat keras menyisakan guratan merah di pipi Jennifer .
“Acchhh…” rintih gadis itu dengan mata memerah menahan tangis
“Aku bukan pelayan di rumah ini ya cantik.” Abigail menarik satu kursi dan duduk di sana seolah tak terjadi apapun. Gadis itu mengambil semangkuk sup yang tersaji di atas meja lalu menyantapnya
“Emm… Delicious! Apa kau tak mau memakannya Honey?”
Abigail mengambil semangkuk sup untuk Aaron. Lelaki itu hanya mengangguk dan duduk di samping Abigail saat gadis itu melambaikan tangan padanya.
‘Jadi kehidupan seperti ini yang kau jalani selama ini Emily? Eoh,… Emily ku yang malang,’ ucap Abigail dalam hati. Api kemarahan kembali bergejolak dalam dadanya
‘Bukan hanya Aaron. Tapi aku akan menghancurkan hidup kalian semua,’ ucapnya lirih
“Apa yang kau ucapkan Emily?” tanya wanita tua renta diatas kursi roda yang duduk di sampingnya
“No Mom. Aku tidak mengatakan apapun. Kau pasti salah dengar,” jawab Abigail dengan senyuman semanis madu
Jennifer pergi meninggalkan meja makan untuk mengompres pipinya. Sedang Chelsea hanya duduk diam tak bergeming di antara tumpukan baju kotor yang berserak di sekitarnya.
Selesai makan, Aaron beranjak dan bergegas berangkat ke kantor bersama ke empat kakak iparnya
“Kenapa kau pergi tanpa menciumku Honey? Kiss me!” Abigail beranjak dari kursinya dan menyesap bibir tebal Aaron. ia lalu mencium leher pria itu di depan semua anggota keluarga yang duduk diam di meja makan. Dan lagi- lagi Aaron hanya diam. Tidak terlihat menikmati ciuman Abigail namun tidak juga menolaknya.
Hanya saja jantungnya berdegup sangat kencang karena perlakuan Abigail padanya. Perasaan yang sama seperti saat ia pertama kali bertemu dengan istrinya itu. Pertemuan tidak sengaja di depan toilet kampusnya
“WANITA TIDAK BERMARTABAT!” geram Camila yang menatap jijik melihat perlakuan Abigail pada adik lelakinya
Cacian itu membuat Abigail tertawa kecil. “YA! Jika aku gadis bermartabat, aku pasti belum menikah sepertimu. Asal kau tau cantik, lelaki tidak menyukai gadis bermartabat sepertimu!” ejek Abigail memulai pertengkaran. “Mau aku ajari cara untuk menarik lelaki agar kau bisa menikah tahun ini?”
Dulu Emily pernah bercerita akan Camilla, satu satunya kakak perempuan Aaron yang belum menikah walau sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun. Bahkan kedua adik perempuannya sudah menikah mendahuluinya.
“KAU…!” Camila tak melanjutkan perkataannya dan berlari masuk ke dalam kamar
Abigail sama sekali tak mempedulikan itu dan mengantar Aaron sampai ke halaman depan. “Hati- hati di jalan ya sayang. Cepat pulang, ayo bermain lagi nanti malam,” ucapnya tanpa peduli kehadiran ke-empat kakak iparnya
Sopir memutar kemudi dan perlahan mobil meninggalkan halaman melewati pagar berlambang singa itu.
“Bye Honey…” teriak gadis itu sembari melambaikan tangannya
‘Apa aku berjalan terlalu cepat? Ah, tidak… tidak…! Jeff hanya memberiku waktu tiga bulan. Aku harus mulai menyerang dari sekarang. Lagi pula mereka tidak tampak curiga’
Abigail kembali ke kamarnya dan menenggak pil penawar racun yang sengaja dibawanya. Gadis itu tak tau kapan dia akan diracun seperti Emily.
Sedang di dalam mobil, Aaron hanya duduk diam dan membaca surat kabar. Namun ke empat kakak iparnya tidak demikian, mereka mulai membahas perubahan sikap gadis yang mereka sangka adalah Emily itu
“Bukankah tadi sangat lucu saat Emily melempar tumpukan baju kotor ke wajah Chelsea?” ucap Robert dengan tawa renyahnya. Lelaki itu adalah suami dari Jennifer . Dia adalah mantan aktor kenamaan Prancis dan tidak terlalu mahir dalam urusan bisnis. Bukan berasal dari keluarga bangsawan namun paras tampannya berhasil membuat Jennifer terpikat.
Daniel yang duduk di samping Robert menanggapi perkataan kakak iparnya. “Tapi bukankah Emily sangat aneh? Dia menjadi seperti orang yang berbeda,” jawab lelaki itu sembari memakai jam tangan mahalnya.
Walau tak memiliki kedudukan tinggi di perusahaan, namun Daniel berhasil menjadi penanggung jawab beberapa proyek besar berkat kepiawaian Letichia dalam membantu bisnisnya.
James menggelengkan kepalanya. Lelaki yang merupakan mantan atlit berkuda Prancis itu turut mengutarakan pedapatnya. “ Apanya yang aneh? Lebih aneh kalau Emily terus diam di perlakukan seperti itu oleh istri- istri kita seperti dulu,” jawabnya singkat
James terlihat membela Emily walau gadis itu baru saja mempermalukan istrinya, Chelsea. Dimasa lalu pun, ia sering kali membantu Emily. Menurutnya, perlakuan Chelsea dan ke empat kakak iparnya itu sangat keterlaluan.
James adalah lelaki yang sangat lembut karena dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga bangsawan Eropa yang hangat dan harmonis. Sayangnya dia harus menikah dengan gadis seperti Chelsea karena sebuah perjodohan.
Perkataan James membuat Daniel mengangguk, “Benar juga. Mungkin kesabarannya habis setelah kematian putrinya…” lelaki itu terdiam tak melanjutkan perkataannya. Matanya melirik Aaron yang duduk di depannya
Tak ada respon. Aaron hanya diam dan bergeming. Lelaki itu hanya membalik surat kabar yang dibacanya dengan keras untuk menunjukkan kekesalannya tapi tetap tidak mengatakan apapun
Disebelahnya, David yang merupakan suami dari Barbara, kakak tertua dan kepala rumah tangga di Mansion itu juga tidak mengatakan apapun. Lelaki itu hanya membolak balikkan majalah yang dibacanya.
“Tapi bukankah Emily terlihat sangat sexy? Baju transparantnya membuatku bisa melihat lipatan pantatnya,” ucap Daniel. Sekali lagi ia melirik lelaki di depannya
Namun kali ini Aaron bereaksi. Lelaki itu menatap nyalang penuh kemarahan menanggapi ucapan Daniel. “Perhatikan ucapanmu b******k! Lebih baik kau diam sebelum ku injak lehermu sampai putus,” gertaknya membuat Daniel terduduk diam tak berani mengatakan sepatah katapun
Suasana menjadi hening, tak ada seorangpun yang berani membuka mulutnya. Bahkan sopir mereka sampai tak berani bernafas karena takut menimbulkan suara.
‘BENAR! Emily memang sangat sexy. Dan Perkataannya juga benar. Lelaki memang tidak menyukai gadis bermartabat,’ ucap David dalam hati sembari membayangkan sosok istrinya yang sangat bermartabat.