Pagi yang cerah dengan langit biru yang terlihat begitu cantik. Semerbak harum mawar menelisik masuk melewati celah jendela yang tertutup rapat mambangunkan Abigail yang tengah bertengger dalam pelukan Jeff.
Matanya menyipit melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Gadis itu beringsut dan semakin menenggelamkan diri ke dalam pelukan kekasihnya
“Hangat,” gumamnya lirih
Abigail beranjak dan mencium bibir tebal Jeff. “Selamat pagi Honey,” bisiknya
Aroma lezat makanan menelisik masuk ke dalam kamar membuat dua orang itu bergegas ke ruang makan. Ternyata Susan telah menyiapkan berbagai makanan lezat di atas meja. Siap untuk disantap
“OMG Mom… ini sangat banyak. Apa kita bisa menghabiskannya?”
Mata Abigail mendelik menyapu semua makanan yang terlihat lezat itu. Pandangannya terhenti pada nampan besar yang menyajikan ayam goreng pedas manis favoritnya. Satu ayam utuh.
“Dulu aku tidak memiliki uang untuk membeli ayam sebesar ini. Uangku hanya cukup untuk membeli beberapa iris daging membuatmu selalu berebut dengan Emily,” ucap Susan dengan sedih membuat Jeff mengelus pelan pundak wanita tua disampingnya
“No Mom. Its okay. Aku dan Emily jadi tau cara berbagi karena hal itu.” Abigail mengiris paha ayam goreng pedas manis itu dan memakannya. “Enak sekali Mom,” ucapnya
Susan diam memandang Abigail dan Jeff yang tengah sibuk menyantap makanan mereka. Ia mencoba merelakan kepergian Emily, namun hati kecilnya menolak. Bayangan akan Aaron dan kelima kakak perempuan lelaki itu terus berputar di kepalanya. Bahkan Susan merasa jijik mengingat pelukan hangatnya untuk Aaron di hari pernikahan Emily.
“Apa kau bisa membawa kepala Aaron kesini, Abigail? Lelaki itu tidak pantas untuk hidup dia bahkan lebih b******k dari ayahmu,” ucap Susan tiba- tiba
Mata Abigail membulat mendengar perkataan ibunya namun ia mengangguk meng-iyakan. “Ya. Akan kubawa kepalanya kesini,” jawabnya
Setelah percakapan panas pagi itu, akhirnya mereka bergegas pergi ke rumah sakit untuk mengambil Emily.
Dari rumah sakit mereka langsung menuju ke area pemakaman di samping sungai tak jauh dari taman kota. Area pemakaman yang indah. Sangat jauh dari kesan horror. Pohon ek dan azalea merah berjajar rapi seolah membingkai tempat peristirahatan terakhir para penduduk kota. Semerbak wangi mawar menyeruak menyegarkan indra penciuman
“Beristirahat dalam damai Emily. Aku akan menjaga Susan dan Abigail untukmu.” Jeff meletakkan setangkai lili putih diatas pusara gadis itu
“Tempat yang indah untuk peristirahatan terakhir kan Emily. Sengaja kupilihkan disini, agar kau bisa melihat kemerlap lampu kota di malam hari.” Abigail mengusap lemut batu nisan adiknya. Potret cantik Emily ia tempatkan di atas pusara yang penuh dengan lili putih itu. Begitu cantik
“Ibu sudah membeli tanah di samping makammu untuk menguburkan kepala Aaron. Tunggu sampai saat itu tiba ya sayang, Abigail akan membawa kepala suamimu kesini,” ucap Susan sembari mencium batu nisan Emily
“Berhenti mengatakan itu Mom. Orang lain akan salah paham jika mendengarnya,” ucap Abigail sembari melirik beberapa peziarah di sekitarnya
“Kenapa? Apa kau tidak bisa melakukan itu untuk Emily? Ibu saja yang melakukannya kalau begitu”
“MOM…!” Abigail mengejar ibunya yang berlari masuk ke dalam mobil dan mencoba mengambil alih kemudi
“No Mom! Biar aku saja. Aku akan berangkat ke Prancis dan kembali dengan kepala Aaron,” ucap Abigail menenangkan
Gadis itu memeluk Susan dengan erat dan mereka kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Abigail mengantar Susan ke dalam kamarnya. Wanita itu membaringkan dirinya ke atas tempat tidur dan berbisik lirih, “Kau harus berjanji untuk membawa kepala Aaron kesini,”
Dan Abigail mengangguk, “Aku berjanji, Mom.” Gadis itu mengecup kening ibunya dan kembali turun ke lantai satu.
“Aku harus pergi ke Prancis Jeff, atau ibuku benar- benar akan menjadi gila.” Abigail mengemas pakaiannya dan membuka ponsel untuk memesan tiket.
“Jangan pergi,” ucap Jeff lirih. “Aku yang akan gila jika kamu pergi,”
“Lalu apa yang harus ku lakukan? Apa kau mau aku juga kehilangan ibuku? Hari dimana aku kehilangan ibuku, adalah hari dimana kau juga akan kehilanganku Jeff,” gertak Abigail keras. Gadis itu berjalan keluar kamar untuk meredam emosinya.
Jeff mengikutinya di belakang lalu memeluk kekasihnya dengan erat. “Terus bagaimana denganku?” ucapnya terisak.
Lelaki itu bahkan tidak menangis saat tulang kakinya menyembur keluar ketika di pukuli musuhnya, namun kini ia menangis tersedu hanya karena Abigail berkata akan pergi ke Prancis. “Wanita memang membuatmu lemah!” ucapnya dalam hati
Gadis itu membalikkan badan dan menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan Jeff. “Enam bulan. Beri aku waktu enam bulan untuk memotong kepalanya. Aku akan kembali ke New York setelah itu,”
“Enam bulan? Itu terlalu lama. Aku akan memberimu waktu tiga bulan!” ucap Jeff dengan rahang mengeras. Dan Tangisannya perlahan berhenti
Mata Abigail membulat. “Deal! Tiga bulan! dan aku akan membawa kepala Aaron kesini. Jika aku tidak bisa membawa kepalanya kesini maka aku akan membuat seluruh surat kabar di Eropa menulis tentang kematiannya yang tragis,” ucapnya bersemangat
Namun Jeff tidak terlihat senang. “Bagaimana jika terjadi hal buruk padamu?”
“No Honey. Kemampuanku dalam menggunakan belati bahkan jauh lebih baik darimu. Aku juga pandai menggunakan pistol.” Perlahan ia menarik leher tebal Jeff membuat lelaki itu menunduk menyesuaikan diri dengan tinggi Abigail. Kini jarak mereka begitu dekat, menampilkan sosok dengan raut wajah tegas setampan Dewa Ares.
“Kau sangat tampan Honey,” bisik Abigail di daun telinga Jeff membuat bulu roma pria itu berdiri. Lalu ia menyesap bibir tebal Jeff dan Malam itu mereka akhiri dengan ciuman panas yang menderu.
***
Keesokan paginya, mereka kembali ke New York. Abigail harus mempersiapkan banyak hal sebelum berangkat ke Prancis.
Gadis itu akan memakai identitas Emily untuk melakukan penerbangan. Bukan hanya memakai identitas Emily, Abigail juga akan menjadi Emily dan membalas dendam pada Aaron. Toh lelaki itu sama sekali tak mengetahui kematian Emily
Dan Sekarang Abigail tengah mengunjungi seorang dokter bedah plastik untuk membuat sayatan bekas luka di belakang telinganya agar tampak seperti Emily. Adiknya itu mendapat luka tusuk dibelakang telinganya saat menyelamatkan Abigail dari seorang penculik c***l.
Hanya dengan sayatan luka dibelakang telinganya itu, ia telah sepenuhnya menjadi Emily. Tak lupa ia juga mengganti warna rambutnya menjadi hitam mengkilap.
Mata Jeff membulat saat melihat Abigail berjalan keluar dari salon mahal itu. “Cantik. Sangat cantik sekali!” pujinya sembari mengecup lembut pipi kekasihnya
Abigail tak kalah terkejut melihat penampilan barunya. “Emily, its that you?” ucap gadis itu saat melihat gambar dirinya di cermin.
Setelah semua persiapan selesai mereka bergegas ke bandara. Jeff tak mengatakan apapun selama di perjalanan. Lelaki itu hanya memutar kemudi dengan wajah serius.
“Kau harus benar- benar kembali dalam tiga bulan. Atau aku akan menyeretmu kembali ke sini.” Jeff memeluk erat dan menghirup lekat aroma tubuh kekasihnya. Lelaki itu segera memakai kacamata hitamnya untuk menyembunyikan tangisnya
“Yes Honey. Tunggu aku kembali.” Tak ada raut kesedihan dalam wajah Abigail. Gadis itu justru terlihat begitu bersemangat
Jeff mengeluarkan sebuah liontin dengan batu berlian besar di tengahnya lalu memasangnya di leher jenjang Abigail. “Jangan sampai terluka!”
Abigail mengangguk. “Bye Honey. Jaga anak- anak kita sampai aku kembali. Rawat mereka dengan baik.” Gadis itu mencium lembut bibir kekasihnya dan perlahan menghilang dari pandangan Jeff.
Sebenarnya ia merasa sedikit kesal saat Jeff melarangnya membawa koleksi tas mewah kesayangannya
Bukan tanpa alasan, Jeff melakukan itu karena suatu alasan. Lelaki itu luar biasa uring- uringan setelah melihat gambar diri Aaron. Lelaki yang masih berstatus sebagai suami Emily itu memiliki paras yang luar biasa tampan tanpa satupun goresan ditubuhnya tak seperti Jeff. Tubuh berotot dengan perut six pack Aaron jelas akan bisa membuat Abigail berpaling dengan cepat.
Apalagi lelaki itu dapat memberikan apa yang tak bisa Jeff berikan untuk Abigail. Yaitu Sebuah Kehormatan!
Walau bergelimang harta namun Jeff tak akan pernah dihormati orang lain karena pekerjaannya. Jauh berbeda dengan Aaron. Dari profil yang di dapat Jeff, Aaron Blade Anderson adalah putra bungsu dari keluarga bangsawan Eropa. Lelaki itu adalah seorang CEO muda, tampan, bertubuh atletis dan brengs*k tentunya. Perpaduan yang sangat pas untuk membuat Abigail jatuh hati.
***
Langit malam terlihat begitu indah dengan kemerlap bintang di atas sana. Abigail memijat lehernya yang kaku sembari berjalan keluar bandara. Akhinya ia sampai di Paris setelah melewati tujuh setengah jam penerbangan. Tak ada sambutan yang meriah dari Aaron. Gadis itu memesan taksi untuk menuju ke Mansion Biltmore tempat Emily tinggal dulu.
Taksi kuning itu membawanya ke sebuah kota bernama Orleans yang berjarak satu jam perjalanan dari Paris. Hanya berjarak satu jam dari Paris namun Abigail seolah dibawa ke sebuah kota mati yang cukup menyeramkan.
Dipusat kota Orleans terdapat taman bunga dengan sebuah katedral besar disana. Dari sebuah artikel yang dibaca Abigail, Orang- orang disana memiliki cara hidup serta kebiasaan tradisional mereka sendiri yang tetap mereka pegang teguh dan jalankan sampai sekarang
Sopir tua itu menghentikan mobilnya di depan sebuah Mansion mewah dengan pagar besar yang menjulang tinggi ke angkasa.
Penjaga gerbang yang masih tampak sangat muda itu terlihat sedikit terkejut melihat kedatangan Abigail namun dia bergegas membukakan pintu gerbang dan terlihat memencet sesuatu di dalam sakunya.
Abigail berjalan masuk dengan perlahan, “OMG… Ini sangat besar. Kau tinggal di rumah sebesar ini Emily?” gumam Abigail. dan detik berikutnya, raut wajah kekaguman berganti menjadi kemarahan saat bayangan adiknya yang terbujur kaku di dalam peti mati masuk ke dalam ingatannya
Dari dalam Mansion, terlihat seorang gadis muda yang berlari ke arahnya
“Saya kira Nona tidak akan kembali ke sini,” ucapnya lirih sembari mengambil koper di tangan Abigail
“Kenapa kau berfikir aku tidak akan kembali ke sini?” tanya Abigail menyelidik
Ia ingat pernah melihat potret gadis itu bersama Emily dalam album foto yang dibawa adiknya saat kecelakaan. Disana tertulis ‘With Evelin’
Walau gadis muda itu terlihat begitu manis, namun Abigail memutuskan untuk tak mempercayai siapapun untuk saat ini.
Diambang pintu tampak seorang wanita yang terlihat lima tahun lebih tua darinya berdiri tegap menatapnya dengan tidak suka. Wanita itu tak mengatakan apapun. Hanya berlalu dan pergi
‘Camilla!’ gumam Abigail mengingat nama semua orang dari album foto Emily
Mereka masuk ke dalam Mansion mewah itu dan Abigail kembali terkagum dengan kemegahannya. Semua barang yang ada di sana terlihat begitu mahal. Setelah melewati ruang makan besar yang mampu menampung empat puluh orang, Evelin berhenti di depan sebuah kamar dengan pintu kayu besar yang menjulang tinggi
“Saya antar sampai sini saja Nona. Tuan Aaron akan marah jika saya masuk ke dalam kamarnya tanpa izin.” Evelin menurunkan koper dalam gendongannya
“Ya. Terimakasih Evelin. Good night,” ucap Abigail di ikuti raut keterkejutan gadis di depannya
Perlahan Abigail masuk ke dalam kamar yang tak terkunci itu, “Seharusnya dia mengunci pintu jika tak suka orang lain memasuki kamarnya,” ucapnya lirih
Matanya membulat menelisik setiap detail kamar megah yang seluas rumahnya di Magnolia Spring, Alabama. Kertas dinding berwarna hitam keemasan melapisi setiap sisi dinding. Semua barang terlihat jauh lebih mahal dari barang- barang yang tadi dilihatnya. Dan diatas tempat tidur king size itu seorang lelaki terlentang dan bertelanjang d**a dengan dasi yang masih menggantung di lehernya.
“Aaron,…?” panggilnya dengan ragu
Mata lelaki itu menyipit dan perlahan terbuka. Dia terlihat begitu terkejut melihat kedatangan Abigail
Lelaki itu beranjak dan berjalan terhuyung lalu memeluknya erat. “Kupikir kau tidak akan kembali ke sini. Apa kau tau betapa aku merindukanmu Emily?” bisiknya.
Lelaki itu mencium kasar bibir Abigail dan Bau alkohol menguar. Sepertinya dia sudah sangat mabuk
“Apa ini? Ku kira dia tidak mencintai Emily,” ucap Abigail dalam hati
Aaron semakin kehilangan kendali. Bukan hanya menyesap bibir Abigail, lelaki itu mulai menciumi leher dan meninggalkan bekas di ceruk leher gadis itu. dan Tangan besarnya berusaha mengoyak pakaian Abigail
‘PLAK!’
Abigail menampar lelaki itu dan menariknya keatas tempat tidur. Ia naik keatas tubuh Aaron yang terlentang lalu menarik dasi yang tergantung di leher lelaki itu hingga membuatnya tercekik kehabisan nafas
“MATI KAU!” geram Abigail dengan kemarahan memuncak
“Arkkkhhhh….” Dagu Aaron terangkat mencoba menghirup oksigen melalui mulutnya
Perlahan Abigail melepas jeratan di leher Aaron dan bergumam lirih, “Ini tidak adil. Aku harus menyiksa lelaki b******k ini sebelum membunuhnya”
Ia menyesap bibir tebal Aaron dan jarinya mengusap lembut d**a berotot Aaron membuat lelaki itu mendengus kecil
‘Aku akan menjadi Morfin. Membuatmu kecanduan, lalu menghancurkan hidupmu sampai kau berharap untuk mati,’ ucap Abigail lirih
Gadis itu beringsut turun dan menggigit perut kotak Aaron
“Ahh,” Desah Aaron membuat Abigail menyumpal mulut lelaki itu dengan dasi. Abigail terus turun kebawah dan melucuti celana Aaron. Gadis itu berhenti saat tangan Aaron menahan membuatnya geram dan bergegas mengambil tali dalam kopernya lalu mengikat tangan dan kaki Aaron pada setiap sisi tempat tidur
“Apa yang kau lakukan?” tanya Aaron yang semakin tersadar dari mabuknya
“Bermain!” Sekali lagi Abigail mencium pipi Aaron yang terlihat kebingungan itu
“EMILY! Jangan bermain main denganku. Cepat lepaskan!” gertak Aaron keras. Lelaki itu kini telah sepenuhnya tersadar dari mabuk
Sayangnya Abigail sama sekali tak mengindahkan kemarahan Aaron. Ia malah mengambil cambuk merah yang biasa digunakan Jeff lalu mulai mencambuki tubuh polos Aaron.
Abigail merangkak naik keatas tubuh berotot Aaron dan jemari rampingnya mengusap lembut rambut lelaki itu lalu menariknya keras. Aaron mendongak dan meringis kesakitan karena tarikan kasar itu. Namun anehnya ia tidak mencoba melepaskan diri
Setelah puas melayangkan cambukan di tubuh lelaki itu. Akhirnya Abigail dengan cepat melepas ikatan tali yang terikat di tangan dan kaki Aaron begitupun dasi yang tersumpal di mulut lelaki itu lalu berbaring di samping Aaron
“Kita lanjutkan besok. Aku sangat lelah hari ini. kenapa penerbangan dari Amerika memakan waktu yang sangat lama?” gerutunya
Abigail menarik Aaron hingga membuat lelaki itu tidur menyamping menghadapnya lalu menenggelamkan diri dalam pelukan pria itu
“Selamat malam sayang,” bisiknya sembari mengecup lembut bibir pria yang baru saja di siksanya
Abigail langsung terlelap sedang Aaron masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Istrinya yang kabur selama satu minggu tiba- tiba kembali ke rumah dan hal pertama yang dilakukan gadis itu adalah menyiksanya.
Aaron terkejut akan perasaan menyanyitkan namun juga nikmat yang baru pertama kali dirasakannya. Perlahan ia mengelus guratan luka disekujur tubuhnya akibat perlakuan sadis gadis yang tengah tertidur dalam pelukannya itu
Karena kelelahan dengan permainan singkat itu, Aaron turut tertidur pulas sembari memeluk Abigail yang ia sangka adalah Emily. Lelaki itu bahkan tak bisa mengenali jika gadis dalam pelukannya itu bukanlah istri yang ia nikahi enam bulan lalu.
Apakah ini yang disebut cinta?