“Kau seharusnya lebih berhati- hati Emy…” ucapnya lirih. Air matanya kembali jatuh saat jemarinya mengelus pelan guratan luka di sekujur tubuh adiknya. Lalu ia kembali memeluk erat tubuh Emily yang sudah kaku.
Jeff perlahan mendekati Abigail dan mengelus pelan pundak kekasihnya. Lelaki itu turut memasukkan setangkai lili putih ke dalam peti mati Emily. Ia terkesiap melihat kemiripan paras gadis yang terbujur kaku itu dengan Abigail. Terbersit rasa syukur karena bukan kekasihnya yang terbaring di sana.
Kedua gadis itu memang begitu mirip bahkan tinggi mereka pun sama. Hanya warna rambutnya yang berbeda, Emily memiliki rambut hitam mengkilap yang sangat cantik sedang Abigail mengecat rambutnya menjadi merah terang membuatnya tampak seperti pelac*r mahal di Las Vegas.
Perhatian lelaki itu tertuju pada jari jemari ramping Emily yang terpasang cincin berlian besar di sana. Perlahan Jeff memegang tangan Emily dan mengelusnya pelan. “Apa ini?” ucapnya
Abigail terkesiap dalam tangisnya dan menatap dengan tidak suka. “Apa kau akan mengambil cincin berlian adikku bahkan di hari kematiannya? Pria b******k!”
Gadis itu menyaut kembali tangan Emily dan mengembalikannya ke posisi semula dengan sangat berhati- hati. Lalu menyisipkan setangkai lili putih disana.
“Tekan d**a Emily dan cium bau yang keluar dari mulutnya,” ucap Jeff lirih
Walau merasa aneh dengan permintaan Jeff namun Abigail tetap melakukan apa yang dikatakan kekasihnya itu. Perlahan ia menekan d**a Emily, “Manis. Baunya sangat manis. Apa yang dia makan semalam?” Abigail mengerutkan keningnya
“Itu bau racun bukan bau makanan. Adikmu pasti sudah di racun sebelum mengalami kecelakaan.” Jeff mengusap lembut bibir Abigail dengan jari tangannya. Takut jika sisa racun itu masuk ke dalam mulut kekasihnya. Terbersit rasa takut saat melihat seseorang dengan wajah kekasihnya terbujur kaku di dalam sebuah peti mati.
Mata Abigail membesar mendengar perkataan Jeff. Entah bagaimana kemarahan memenuhi rongga d**a gadis itu.
Tak pernah satu haripun di lewatkan Abigail tanpa melontarkan pujian untuk adiknya yang pintar dan membanggakan itu.
Emily menikah dengan Aaron Blade Anderson, seorang lelaki berdarah Prancis yang berasal dari keluarga bangsawan terhormat disana. Mereka bertemu saat masih sama- sama menjadi mahasiswa di Harvard University. Lelaki itu membawa Emily ke Prancis enam bulan lalu tepat setelah pernikahan mereka.
‘Emily sangat beruntung. Dia bahkan tinggal di Mansion mewah dengan puluhan pelayan yang melayaninya,’ begitulah Abigail memujinya
Jeff masih ingat betul bagaimana Abigail membandingkan dirinya dengan pria bernama Aaron itu. Walau lebih suka tinggal di sebuah apartemen namun akhirnya Jeff membeli satu Mansion mewah di Beverly Hills untuk Abigail demi menyenangkan kekasihnya itu. Ia bahkan mempekerjakan puluhan pelayan untuk melayani gadis itu.
Dan kini, adik yang selalu Abigail banggakan terbujur kaku tak bernyawa di depannya membuatnya berfikir jika ternyata Emily tidak seberuntung itu,
“Siapa yang melakukan ini padamu sweetie? Apa laki- laki bernama Aaron itu yang melakukannya?” bisik Abigail sembari mengelus paras cantik Emily
Susan yang tidak sengaja mendengar percakapan Abigail dengan Jeff menjadi histeris. Wanita tua itu mengambil pisau dan bergegas menuju ke mobil. “Aku akan membunuh Aaron!”
“MOM! NO! Biar aku dan Jeff yang mengurusnya. Kita bawa dulu Emily ke rumah sakit untuk di otopsi.” Abigail mengambil pisau di tangan Susan dan membuangnya lalu mereka bergegas ke rumah sakit.
Benar saja, kurang dari dua puluh empat jam dokter forensik berhasil menemukan adanya kandungan arsenik dalam jumlah yang tinggi didalam tubuh Emily
Dokter tua itu mengatakan jika Emily tidak mendapat racun itu dalam sekali tegukan. Seseorang memberikan racun itu sedikit demi sedikit hingga membuat organ dalam tubuh Emily rusak dan tidak berfungsi lagi. “Dia pasti sudah sangat menderita sebelum kematiannya,” ucap dokter Fredly
Lelaki tua itu juga menunjukkan hasil CT Scan tubuh Emily. “Seseorang pasti telah memukulinya dengan keras sampai membuat tulang ekornya patah. Emily bisa saja lumpuh karena itu,” jelasnya
Abigail menggemeretakkan gigi menahan amarah sedang Susan tidak sanggup lagi mendengar kondisi sang putri dan jatuh pingsan.
“b******k kau Aaron! Ku kira kau bahagia di Mansion mewahmu Emy,”
“Seharusnya aku datang di hari pernikahanmu dan melihat seperti apa suamimu. Oh, Emily ku yang malang.” ucap Abigail tak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri
Jeff mengelus lembut tangan Abigail untuk menenangkannya. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri sayang. Emily akan sedih jika melihatmu seperti ini,”
Setelah dua puluh menit perjalanan akhirnya mereka kembali sampai di rumah. Jeff memarkirkan mobilnya dan bergegas membawa Susan ke kamar tidur sedang Abigail pergi ke dapur untuk membuat makanan.
Jeff menghentikan langkahnya saat Susan terbangun dan meraih tangannya lalu menggenggamnya erat.
“Maafkan aku Jeff. Dulu aku tidak menyukaimu karena kau seorang Bos Mafia. Ternyata kau jauh lebih baik dari Aaron yang selalu ku banggakan itu.” Wanita tua itu terisak dalam pelukan Jeff
“Its okay Mom,” jawab Jeff sembari mengelus pelan pundak Susan
Sedang Abigail menangis di luar pintu kamar. “Ternyata aku seberuntung itu. Thanks Jeff,” gumamnya lirih
Abigail masuk dengan membawa segelas air dan semangkuk bubur hangat di atas nampan kecil. “Mom harus makan. Biar aku yang membalas Aaron.” perkataaan Abigail berhasil membuat guratan senyuman di wajah ibunya.
Perlahan wanita itu membuka mulutnya dan menyantap bubur di atas nampan kayu itu. “Ya, aku harus hidup. Jadi aku bisa melihat kematian Aaron nanti,” jawabnya
“Bagaimana kau tau kalau Emily di racun Jeff?” tanya Susan disela-sela makannya
“Kukunya menghitam dan muncul bintik- bintik hitam di wajah Emily. Mungkin orang biasa tidak akan bisa mengenalinya. Tapi dalam bisnis gelap hal itu biasa terjadi. Jadi aku bisa langsung tau.” Jeff menundukkan kepala malu
“Tegakkan kepalamu. Kau tidak harus malu dengan pekerjaanmu Jeff. Kau hanya menjual ganja, bukan menyeret seorang gadis menuju ke kematiannya.” Mata wanita tua itu nyalang merah menahan amarah kala teringat putrinya yang terbujur kaku di dalam peti mati.
Setelah selesai menyantap makan malamnya, Susan beranjak untuk tidur
Abigail mencium lembut pipi ibunya lalu turun ke lantai satu bersama Jeff dan membuka box besar di atas meja berisi barang- barang Emily yang dibawa adiknya itu saat kecelakaan. Ponsel berwarna putih di bawah tumpukan album foto itu yang pertama Abigail ambil
Hanya ada tiga kontak di dalamnya, kontak Abigail, Susan dan Aaron suaminya. Kotak pesan dan daftar panggilannya kosong seolah ada seseorang yang sengaja menghapusnya. Namun ada satu nomor asing yang menghubunginya kemarin malam.
Dengan ragu Abigail melakukan panggilan ke nomor tersebut.
‘Tuttt… Tutt… Tutt….’
Tidak ada jawaban
Saat Abigail hendak menutup telfonnya terdengar suara serak seorang wanita seolah baru bangun dari tidurnya. “Kenapa Emily? Apa kau mencari Aaron? Dia tengah tertidur pulas di sampingku setelah lelah bercinta,” ucap gadis itu dengan enteng
Mendengar itu membuat rahang Abigail mengeras menahan amarah, “KAU!” Gertaknya
“Kenapa? Apa kau masih tidak mau meninggalkan Aaron bahkan setelah kehilangan anakmu? Gadis bodoh, Kenapa kau terus bertahan di samping lelaki yang tidak mencintaimu?!” ucapnya lagi tanpa rasa bersalah. Samar- samar terdengar suara tawanya yang serak
Tangan Abigail gemetar membayangkan kehidupan mengerikan macam apa yang selama ini di lalui adiknya selama di Prancis. Lelaki bernama Aaron itu membawa Emily jauh ke Prancis hanya untuk di perlakukan seperti sampah.
“b******k!” gertak Abigail.
“KAU! Aku akan…” Jeff menyaut ponsel dan mematikan panggilan sebelum Abigail menyelesaikan kalimatnya
“Apa yang kau lakukan Jeff? Aku belum selesai berbicara dengan jalang sialan itu.” Matanya nyalang menatap lelaki di depannya
“Menyumpahinya tidak akan kembali menghidupkan Emily,” ucap Jeff menenangkan
Abigail mengangguk, beranjak ke dapur dan mengambil sebilah pisau. Ujung tajam pisau itu hampir menusuk bagian belakang telinga Abigail saat Jeff datang dan merampas pisau itu dari tangannya
“Apa kau gila?”
“Iya! Aku memang sudah gila Jeff. Aku gila saat membayangkan seberapa banyak siksaan yang di terima Emily selama ini.” Abigail kembali merampas pisau itu dari tangan Jeff dan berusaha menusuk bagian belakang telinganya lagi.
Dan Jeff menghalangi tusukan di telinga Abigail dengan tangannya. Darah menetes membasahi baju Abigail membuat gadis itu menjerit histeris, “Arkhhhh,…. Apa yang kau lakukan Jeff?”
“Jangan pernah berfikir untuk menyakiti dirimu lagi. Hanya membayangkan kau terbujur kaku di peti mati seperti Emily saja sudah membuatku gila. Ingin mati rasanya.” Jeff memeluk erat kekasihnya. Air matanya mengalir deras
Gadis itu menarik Jeff keatas sofa dan mengobati luka di tangan kekasihnya. “Kau sangat mencintaiku ya sayang? Padahal aku tak terlalu mencintaimu,” goda Abigail yang mulai melupakan kemarahannya
Jeff mengangguk mengiyakan. Walau lelaki itu adalah seorang Bos Mafia besar di Amerika dan memiliki banyak uang untuk membeli gadis manapun yang ia mau, namun ia tak pernah melakukan itu. Jeff tak pernah menyentuh gadis lain selain Abigail sepanjang hidupnya. Lelaki itu telah sepenuhnya menjadi bud*k cinta dan memuja Abigail seperti dia memuja Tuhannya.
Dalam sekejab Abigail telah selesai membalut luka di tangan Jeff dengan begitu terampil. Lalu ia mencium lembut bibir kekasihnya itu dan memeluknya dengan hangat
“Sepertinya aku harus sering menangis. Kau menjadi sangat manis saat aku menangis,” ucap Jeff dengan tawa mengejek
Abigail menyeringai dan menarik Jeff lalu menyeret lelaki itu keluar rumah melewati taman menuju ke sebuah paviliun kecil di halaman belakang.
“Apa kau ingin bermain disini sayang?” bisik Abigail di daun telinga Jeff membuat lelaki itu bergidik ngeri.
“YA!” jawab Jeff cepat. Rasa sakit di tangannya hilang tergantikan dengan kenikmatan. Jeff menarik dan mendorong tubuh Abigail ke dinding tak memberi celah gadis itu untuk kabur. Ia kembali mencium Abigail namun gadis itu malah menggigit bibir Jeff dengan keras membuat lelaki itu berteriak kencang
“AHHHH!!!” teriak Jeff membuat jendela di lantai dua terbuka. Teriakan itu membangunkan Susan dari tidurnya
“Are you okay Jeff?” tanyanya dengan panik
“Okay mom… Jeff hanya jatuh terpeleset saat melihat ular,” jawab Abigail sembari merapikan gaunnya yang terkoyak di beberapa bagian
“Masuk ke dalam rumah Jeff. Memang banyak ular nakal disana,” teriak Susan sembari menyeringai pada putrinya. “Gadis nakal itu,” gumamnya. Wanita tua itu terkekeh dan kembali ke atas tempat tidur.
Abigail memandang nanar pada Jeff yang tengah meringis di depannya. “Kenapa kau berteriak Jeff?. Orang- orang akan mengira aku tengah menyiksamu!” gertak gadis itu dengan kesal
“Ta- Tapi kau kan menggigitku sayang. Itu juga termasuk penyiksaan. Lihatlah! Bibirku sampai berdarah nih,” jawab Jeff terbata setelah melihat kemarahan di wajah kekasihnya
Abigail terus mengerutkan alisnya dan mengerucutkan bibirnya kesal. “Sudahlah. Kita kembali saja ke dalam dan tidur. Kita harus memakamkan Emily besok,” gumam Abigail dengan kesal. Raut kesedihan kembali bersarang di wajah cantik gadis itu kala mengenang adik kesayangannya.
***