Perlahan Barbara berjalan mendatangi mobil Jackob. Dari kejauhan ia bisa melihat pria itu tengah bernyanyi santai di dalam mobil.
Tok… tok… tok…
Gadis itu mengetuk kaca mobil membuat Jackob menoleh memandangnya. Pria itu mengerutkan keningnya seolah terganggu dengan kehadirannya. Namun ia bergegas mematikan musiknya dan menurunkan kaca mobil.
Mungkin karena Barbara terlihat kaya dengan kalung permata besar yang menggantung di lehernya. Jackob pasti mengira gadis itu tengah mencari tuannya yang sedang berpesta
“Ya?” ia mengengok keluar jendela mobil
“Apa kau mengenal Emily?” tanya Barbara tanpa berbasa basi
Lelaki itu mengerutkan keningnya. “Emily?”
“Ya! Gadis yang baru saja kau temui. Emilyku!” jawabnya
Raut ke-ramahan menghilang dari wajah Jackob dan pria itu kembali duduk di kursinya sembari tertawa lirih.
“Jadi dia berpura-pura menjadi Emily? Konyol sekali,” gumam Jackob sembari mengingat sosok Emily yang lembut. Sangat jauh berbeda dengan Abigail.
Dulu ia pernah beberapa kali mengantar Abigail menemui saudara kembar gadis itu. Dihari pertama mereka bertemu, Emily memberikan segelas ice Americano pada Jackob di tengah cuaca yang sangat panas bahkan saat Abigail sama sekali tak peduli padanya.
Barbara menjentikkan jarinya. “Kau mengenalnya kan?” tanyanya sekali lagi
“Kenapa memangnya?”
“Ku kira kalian saling mengenal. Aku hanya bertanya-tanya, kenapa adik iparku itu terlihat sangat takut setelah bertemu denganmu,” jawab Barbara dengan sengaja sembari memperhatikan ekspresi Jackob.
Pria itu terlihat sedikit terkejut saat Barbara menyebut Abigail sebagai adik iparnya. Lalu dengan cepat ia kembali menutup kaca mobilnya
‘Abigail sudah menikah? Dan bukan dengan Jeff ? Padahal mereka masih saling bermesraan dua minggu yang lalu. Ada apa ini?’ semua pertanyaan itu memenuhi kepala Jackob membuatnya tanpa sadar menggigit- gigit kuku jarinya
Pikirannya sangat penuh dan kehadiran Barbara yang terus menggedor-gedor kaca mobil membuatnya sangat terganggu
“Kau mengenalnya kan? Hei! Buka kaca mobilmu!” gertak Barbara sembari terus menggedor kaca mobilnya
Jackob sedikit memijat kepalanya dan dengan marah ia membuka pintu mobil. Lalu mengeluarkan pistolnya dari balik tuxedo dan menempelkannya ke ujung leher gadis itu.
“Kau tau titik vital yang bisa membuat orang terbunuh dengan cepat? Disini salah satunya,” bisik Jackob di daur telinga Barbara membuat gadis itu gemetar ketakutan.
“Aa-Aku… Aku benar-benar membutuhkan informasi tentang gadis itu. Hubungi aku jika kau berubah fikiran. Aku akan memberi berapapun yang kau mau,” Barbara memberikan kartu namanya pada Jackob
“Berisik! Berhenti menggangguku b******k!” Dengan marah pria itu mendorong tubuh Barbara hingga tersungkur ke tanah dan bersiap menarik pelatuknya
Namun gadis itu dengan cepat beranjak dan berlari dengan tergesa meninggalkan Jackob yang hampir menembaknya. ‘Kenapa dia sangat marah?’ pikirnya
Pria itu kembali ke dalam mobil dan meremas kartu nama itu lalu membuangnya. Jackob melihat jam ditangannya dan sedikit mendengus kesal.
Pesta masih akan berlangsung sekitar tiga sampai empat jam lagi. Masih sangat lama!
Namun tiba-tiba ia menyeringai dan beranjak dari duduknya. Dengan cepat ia menyelinap masuk ke dalam Mansion dengan menggunakan pakaian berwarna hitam-putih yang ia dapat setelah memukul pelayan pria yang baru saja berpapasan dengannya
“Kupinjam sebentar!” lirihnya pada pelayan pria yang tergeletak tak sadarkan diri itu
Ia menyelinap ke hampir semua ruangan di Mansion itu namun tak menemukan Abigail dimanapun. Untung saja semua orang sedang berpesta dihalaman belakang sekarang. Jadi tidak ada yang mengganggu aksinya
Setelah melewati ruang makan, perlahan ia mulai mencium aroma vanilla memabukkan yang sangat dikenalnya. Dan aroma itu membawanya ke sebuah ruangan dengan pintu yang menjulang tinggi.
Pria itu menyeringai, “Disini kau rupanya,”
Jackob berusaha untuk masuk namun pintunya terkunci rapat. Ia bisa saja membobol pintu itu, namun terlalu beresiko untuknya jika ia membuat kerusakan yang terlalu kentara
Akhirnya ia berlari keluar Mansion dan menyelinap masuk ke dalam kamar Abigail melalui jendela. Tentu saja, ini adalah hal yang sangat enteng untuknya. Hanya dengan uang koin, ia bisa membuka jendela itu tanpa suatu kesulitan
Pria itu masuk dengan perlahan dan melihat Abigail tengah tertidur diatas meja kerja Aaron. Dibawah jari jemari gadis itu terdapat sebuah buku catatan kecil. Perlahan ia mengambil buku itu dan membacanya
“Kenapa dia mencari tau sejarah keluarga ini?” gumamnya sangat lirih
Sebenarnya apa yang tengah kau lakukan? Kenapa kau pergi dari sisi Jeff ? Membuatku ingin memilikimu saja!
Jackob menyibakkan rambut Abigail kebelakang dan mengelus pelan kepala gadis itu. Ternyata begitu besar rasa sayangnya pada gadis yang tengah terlelap itu.
Ingatannya melayang ke hari pertama mereka bertemu. Malam itu hujan begitu lebat dan Abigail berdiri sendirian di depan sebuah toko untuk berteduh. Gadis itu terlihat kedinginan dan Jackob menawarinya sebatang rokok
Abigail menerima pemberiannya dengan senang hati dan akhirnya mereka merokok bersama.
“Seharusnya aku tak mengenalkanmu pada Jeff ,” lirihnya sembari mengingat hari dimana Abigail bertemu dengan Jeff setelah gadis itu menerima tawarannya untuk menjadi seorang pengedar narkoba.
Hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh Jackob. Hari dimana ia kehilangan teman merokok sekaligus cinta pertamanya. Hari dimana Jeff jatuh cinta pada Abigail
“Taukah kau. Setiap aku melihatmu bersama Jeff . Rasanya seperti di neraka,”
Abigail menyeringai mendengar perkataan Jackob dan perlahan bangun dari tidurnya. “Itukah yang membuatmu menghianati Jeff ?”
Alis Jackob bertaut. “Bukan aku. Jeff yang menghianatiku lebih dulu dengan mengambilmu dariku,”
Abigail menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak! Kau tidak mencintaiku. Kau menginginkanku karena Jeff . Kau kan selalu menginginkan apapun yang dimiliki Jeff . Entah itu kedudukannya ataupun aku,”
“Tidak!. Aku benar-benar menyukaimu. Lagi pula kenapa kalau aku menghianainya? Toh dia juga tak pernah menganggapku teman. Nyatanya Jeff tak pernah memberiku tugas besar. Dia hanya menyuruhku untuk menjagamu. Itu karena dia ingin aku terus menjadi bayangannya,” Jackob memukul kaca disampingnya dengan marah
Abigail berjalan dengan perlahan menuju kesamping tempat tidur untuk mengambil pistol yang ia sembunyikan di bawah ranjang dengan terus mengoceh untuk mengalihkan perhatian Jackob.
“Dia melakukan itu karena tak mau menempatkanmu dalam bahaya. Jeff tidak ingin kau terluka bodoh,” gertak Abigail mencoba membela kekasihnya.
“Apa menurutmu Jeff benar-benar tak tau saat kau menjebaknya? Jangan naïf, kau pasti tau jika Jeff sudah mengetahui penghianatanmu sejak lama. Dia diam karena masih menganggapmu teman!” tambahnya
Sekarang Abigail sudah berada di dekat ranjang dan dengan cepat ia mengambil pistol itu.
Bugh!
Jackob dengan cepat menendang tangan Abigail hingga pistol dalam genggaman gadis itu jatuh dan terlempar ke lantai. Pria itu mendorong Abigail hingga tersungkur dan mengungkung gadis itu ke dalam pelukannya
“Hampir saja aku mempercayai perkataanmu. Kau memang sangat pandai berbohong. Karena itulah sekarang kau tengah berpura-pura menjadi Emily,” bisiknya di daun telinga gadis itu lalu mencoba menciumnya
Mata Abigail membesar saat tau jika Jackob telah mengetahui sandiwaranya. Ia mencoba melepaskan diri namun cengkraman pria itu terlalu kuat
Bahkan sekarang tangan kekar pria itu mulai menggerayangi tubuh Abigail dan dengan keras menarik gaun hitamnya kebawah. Hingga menampakkan d**a sintal Abigail yang padat bulat berisi
“Inilah perbedaan antara kau dan Jeff. Kau hanya menginginkan tubuhku sedang Jeff menginginkan hatiku,”
Gadis itu menatap nanar pada Jackob, namun lelaki itu sama sekali tak peduli. Ia malah mulai menciumi leher jenjang Abigail dan meninggalkan tanda merah di d**a gadis itu.
Saat ia sudah siap untuk mencicipi milik Abigail, tiba-tiba terdengar suara dari luar kamar
“Emily you there?” panggil James dari luar pintu
Abigail yang merasa memiliki sebuah kesempatan langsung berteriak keras. “Help me James,”
Jackob yang sangat terkejut langsung menampar wajah gadis itu dengan keras lalu mencekik leher Abigail dengan kedua tangannya membuat gadis itu kesulitan bernafas. Ia bahkan menghajar tubuh Abigail dengan tinjunya
“Jika aku tak bisa memilikimu. Lebih baik kau mati saja,”
Ditengah kesadarannya yang hampir menghilang, tangan Abigail sedikit demi sedikit berhasil meraih pistol yang tergeletak tak jauh darinya.
Sedang James masih mencoba membuka pintu dari kunci cadangan yang ia ambil dari meja rias Chelsea
Dorr…!
Sebuah tembakan dilayangkan Abigail dan berhasil mengenai lengan Jackob. Dan tepat disaat itu…
Brak!
Pintu terbuka dan James berlari masuk ke dalam kamar. Jackob yang panik melihat kedatangan James bergegas keluar kamar melalui jendela
Pria itu berjalan dengan memegangi lengannya yang terkena tembakan. Ia bergegas kembali ke dalam mobil dan keluar dari Mansion Biltmore meninggalkan tuannya yang masih berpesta
James membeku setelah melihat apa yang baru saja terjadi. Lelaki itu dengan cepat melepaskan blazernya untuk menutupi tubuh bagian atas Abigail yang terpampang menggiurkan
Deg!
Darah mengalir cepat ke satu titik di tubuh lelaki itu dan ia mencoba menampik perasaan aneh itu.
“Are you okay?” tanyanya dengan lembut sembari mengelus pelan pundak Abigail untuk menenangkannya. Gadis itu terlihat sedikit cemas
“Siapa dia?” tanyanya sekali lagi
Abigail menggelengkan kepalanya. “Entahlah. Dia tiba-tiba masuk melalui jendela dan melakukan itu padaku,” kelitnya
Mata James melihat sekeliling dan membulat setelah melihat sesuatu di sampingnya. “Itu pistol?”
“Milik pria tadi!” jawab Abigail cepat sembari menutupi kepanikan di wajahnya
“Astaga Emily… ini sangat berbahaya. Kau bisa saja mati jika aku terlambat datang,” James mengambil pistol itu dan membungkusnya dengan sebuah kain. “Akan kusimpan,”
“Oke!” jawab Abigail yang sebenarnya ingin meminta pistol itu kembali. Namun ia urungkan karena takut James akan curiga. Toh ia masih memiliki simpanan senjata lain di kopernya.
James tidak banyak bicara. Ia beberapa kali memeluk Abigail untuk menenangkan gadis itu, walau tampaknya dia sendirilah yang harus ditenangkan. Lelaki itu benar-benar terlihat panik, bingung dan ketakutan.
“Ayo kita buat teh hangat,” ucap James setelah sedikit tenang. Ia tidak bisa meninggalkan Abigail sendirian dikamar itu dan ia juga tidak bisa menyuruh para pelayan untuk membuatkan mereka teh hangat. Semua pelayan berada di halaman belakang sekarang
Mereka berjalan ke dapur dan perlahan kepanikan di wajah James semakin memudar. Sedang Abigail sudah melupakan kecemasannya sedari tadi.
Gadis itu duduk diatas counter table sedang James yang berdiri disampingnya tengah sibuk membuatkan secangkir teh hangat untuknya.Pria itu juga membuatkan semangkuk sup karena tau jika Abigail tak banyak makan saat jamuan makan malam tadi
Gadis itu menatap lekat lelaki yang tengah serius membuatkan makanan untuknya lalu bergumam lirih. “Seharusnya kau menikahi lelaki seperti dia Emily,”
“Apa?” tanya James sembari menaikkan alisnya pada Abigail.
Gadis itu memutar matanya dan melihat langit-langit ruangan. “Kenapa kau tadi bertengkar dengan David? Kacau sekali!” Abigail memang pandai mengubah topik
“Itu karena dia ingin mengganggumu.” James membalik tubuhnya memandang keluar jendela, melihat kerumunan orang yang masih sibuk berpesta dan bermabuk-mabukan di luar sana
Abigail mengerucutkan bibirnya. “Memangnya kenapa kalau David menggangguku? Kau benar-benar menyukaiku ya?”
Dan untuk kesekian kalinya, James mengusap bagian belakang lehernya. “Ti-Tidak! Kata siapa aku menyukaimu? Kau kan istri Aaron. Dan Aaron adalah teman baikku. Tentu saja aku harus menjagamu saat Aaron tidak ada,” ucapnya dengan suara yang sengaja ia besarkan untuk menutupi kegugupannya
Mata Abigail membulat. “Kau dan Aaron berteman?”
“Ya! Dia sahabatku,” jawabnya dengan antusias
“Dan kau menikahi kakak perempuan sahabatmu,” goda Abigail sembari menyeringai
“Karena terpaksa!” tandasnya
Mulut gadis itu ternganga dan alisnya terangkat setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan lelaki di depannya. “HAH?!”
James memiringkan kepalanya dan turut menyeringai, “Lupakan! Anggap saja kau tak pernah mendengarnya,” kekehnya
Abigail mengangguk dan seolah mencabut sesuatu dari kepalanya lalu membuangnya ke luar jendela. “Aku sudah melupakan itu,” ia turut terkekeh
“Jadi kau dan Aaron bersahabat? Pantas saja selera kalian sama!” gumam Abigail
James melirik sekilas. “Selera apa?”
“Selera gadis yang disukai!” godanya sembari memainkan kakinya di paha berotot James. Lalu mencubitnya.
James yang tengah mencicipi sup langsung tersedak. “Kan sudah kubilang kalau aku tidak menyukaimu Emily!” ucapnya dengan wajah semerah cherry sampai ke telinga. Lalu ia kembali mengusap leher belakangnya.