Begitu menyelesaikan santapan malam yang begitu lezat itu para bangsawan berbondong-bondong pergi ke taman belakang. Pesta kembang api telah dimulai
Duar…
Duar…
Duar…
Letupan kembang api di langit malam membuat semua orang menengadahkan kepala mereka untuk melihat ke sumber suara. Begitu indah. Langit malam menjadi sangat berwarna warni menyegarkan setiap pasang mata yang melihatnya.
Tepat saat letupan terakhir kembang api dilangit malam itu berhenti. Suara tembakan terdengar, membuat Para bangsawan pria yang telah bersiap dengan busur panah ditangan kanan mereka itu berlari masuk ke dalam hutan bersama satu pengawal pria disisi mereka untuk membawakan obor
Terdengar suara riuh derap kaki yang saling berkejaran antara para pemburu dan rusa-rusa yang sengaja dilepas untuk bahan perburuan
Khoeemmm….
Suara lenguhan rusa yang tertusuk anak panah terdengar dari dalam hutan membuat burung gagak yang bertengger diatas pohon beterbangan ke angkasa.
“Sangat kejam!” Abigail yang terkesiap mendengar lenguhan itu segera merebahkan diri ke salah satu sofa yang di atur apik di halaman belakang untuk para tamu
Perlahan ia mengelus pundaknya yang sedingin es karena semilir angin malam yang sangat kencang.
“Pakai ini,” James melekatkan syal hitam tebal ketubuh Abigail. Begitu hangat
“Thanks James. Kau tak ikut berburu?” tanya Abigail tanpa mempedulikan pasang mata yang memandangnya sinis
James menggelengkan kepalanya. “Aku tidak menyukai tradisi ini. Terlalu kejam!” menurutnya
Abigail mengangguk setuju dan memberikan segelas wine untuk lelaki itu. “Kita minum saja,” lirihnya diiringi tawa
Samar-samar terdengar bisikan dari gadis – gadis bangsawan yang duduk di belakang Abigail.
“Bukankah gadis Amerika itu adalah istri Aaron? Lalu kenapa dia menggoda James?” ucap mereka dari balik kipas - kipas mewah mereka
“Gadis Amerika memang murahan,” sahut yang lainnya sembari menatap nanar pada Abigail
Mendengar semua komentar buruk itu membuat kelima kakak perempuan Aaron menyeringai senang.
Abigail beranjak dan berniat pergi saat tiba-tiba David berlari dari dalam hutan menuju ke arahnya. Dibelakang lelaki itu Abigail bisa melihat pelayan muda yang waktu itu membukakan gerbang di hari kedatangannya. Pemuda itu terseok sembari menyeret seekor rusa yang tingginya hampir sama dengannya menuju ke sebuah paviliun kecil.
Ia menukarkan rusa itu dengan sebuah batu rubi besar berwarna hijau mengkilap. Lalu berlari untuk menyerahkan batu itu ke David.
“Lihatlah Emily. Aku berhasil menangkapnya untukmu!” ucap pria itu
Orang pertama yang berhasil menangkap rusa akan memenangkan turnamen dan mendapat sebuah batu rubi besar senilai ratusan milyar. Dan David memberikan batu itu untuk Abigail membuat wajah Barbara memerah saking marahnya
Bukan hanya marah, gadis itu juga sangat malu sebenarnya. Sekarang gadis-gadis bangsawan yang tadi menggunjing Abigail beralih menggunjingnya
Mereka tidak lagi memanggil Abigail sebagai gadis penggoda. Tapi kini mereka memanggilnya sebagai gadis yang menarik. Saking menariknya sampai membuat David memberikan batu rubi itu sebagai hadiah
Kini tawa mengejek itu beralih ke Barbara.
Abigail melirik sekeliling dan menyeringai. “Terimakasih David. Tapi kau berikan saja pada Barbara. Sepertinya dia sangat menginginkan batu itu,” ucapnya sembari melihat Barbara dengan tatapan mengejek
David yang mendengar penolakan Abigail akhirnya menyerahkan batu itu kepada Barbara dengan tidak berselera.
“Untukmu,” ucap lelaki itu
Para gadis bangsawan itu kembali mengangkat kipas mewahnya untuk menutupi separuh wajah mereka. Namun malah sengaja berbicara dengan cukup keras
“Lihatlah. Bahkan dia butuh belas kasihan wanita lain untuk mendapatkan batu itu,” bisik mereka dengan keras
“Apa Barbara belum bisa mendapatkan hati David bahkan sampai sekarang? Kasihan sekali,” sahut yang lain
Wajah Barbara memerah saking malunya. Ia beranjak dan pergi tanpa mengambil batu itu dari tangan David.
Abigail menyeringai dan turut membuka kipas mewahnya untuk menyembunyikan senyumnya. “Ini sangat aneh!. Kenapa semua wanita di keluarga ini bermasalah dengan suami-suami mereka?” tanyanya dalam hati
Lenguhan rusa kembali terdengar saling bersautan menandakan jika mereka tengah mencoba bertahan hidup dari kejaran para bangsawan gila yang tengah memburu mereka untuk bersenang-senang
Lalu satu persatu pria-pria kaya itu keluar dari hutan dengan rusa-rusa besar digendongan pelayan lelaki mereka. Wajah para pria kaya itu terlihat begitu puas dengan tawa sumringahnya.
Setelah acara perburuan berakhir. Dilanjutkan dengan pesta wine. Semua orang menggila dan bermabuk-mabukkan disana. Halaman belakang Mansion Biltmore kini dipenuhi oleh para pemuda yang tengah memuntahkan isi perut mereka dipelukan gundik-gundiknya
Para gadis bangsawan juga turut bermabukan dan berpesta dengan lelaki bayaran yang mereka bawa.
Abigail memandang semua tamu undangan itu dan menaikkan alisnya. “Apa mereka yang tadi menyebutku murahan? Lihatlah, siapa yang lebih murahan sekarang,” keluhnya sedikit kesal
Ia juga memandang para gadis bayaran yang tengah sibuk mengelap bekas muntahan para lelaki kaya itu. Kini ia paham kenapa Camilla melarangnya ikut berebut kepingan emas bersama mereka
Abigail memandang sebotol wine di depannya dengan tidak berselera. Sebenarnya ia sangat menyukai wine. Ia juga suka bermabuk- mabukkan. Namun entah kenapa ia menjadi tidak berselera saat melihat tumpukan mayat rusa disamping paviliun.
Perlahan ia beranjak dari duduknya bermaksud meninggalkan kerumunan orang yang tengah berpesta itu.
David yang melihat kepergian Abigail ikut beranjak mencoba mengikuti kemana gadis itu pergi. namun dengan cepat James menahannya
“Mau kemana kau?” lelaki itu mencengkram kuat pundak David menghentikan langkah pria itu
David menatap tajam cengkraman tangan James di pundaknya. “Kenapa? Apa urusannya denganmu?” jawabnya dengan nada tidak suka
James yang biasanya sangat sopan itu tiba-tiba memukul David dengan keras
Bugh!
“Jangan mengusiknya,” ucapnya sembari berjalan pergi meninggalkan para tamu yang menatapnya dengan penuh tanya
Namun David tak tinggal diam diperlakukan seperti itu oleh adik iparnya. Ia berjalan cepat ke arah James. Mencengkram pundak lelaki itu dengan kuat dan,..
Bugh!
Ia turut melayangkan tinjunya ke wajah tampan James.
“Bahkan Aaron pun tidak bisa menghentikanku!” bisiknya lirih ke telinga James membuat suami Chelsea itu kembali bangkit dan mereka saling beradu tinju
Perkelahian sengit tak terhindarkan. Kini wajah tampan kedua orang itu penuh dengan luka lebam dan darah mengucur di sudut bibir mereka.
Semua tamu undangan mengerubungi kedua orang itu. Mereka ingin melihat perkelahian antara dua menantu kebanggaan keluarga Anderson itu. Karena hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Mereka sangat menikmatinya namun tidak berani untuk bersorak.
Robert dan Daniel, dua menantu keluarga Anderson yang tidak membanggakan itu melompat masuk ke dalam kerumunan mencoba melerai perkelahian James dan David. Namun Gagal!.
Menghentikan kedua orang yang tengah kehilangan kewarasan itu sama dengan menghentikan singa dan harimau yang tengah berebut mangsa.
Ya, Abigail lah mangsa yang mereka perebutkan itu
Sedang Abigail. Gadis yang membuat mereka tergila-gila itu tengah berdiri memandang dengan tidak berselera diantara kerumunan tamu undangan yang saling berdesakan
‘Mereka kenapa sih?!. Kacau sekali!” gumamnya sembari berjalan meninggalkan kerumunan. Ia terlihat sangat tidak peduli
Abigail berjalan menuju ke sisi lain Mansion dan suara kebisingan itu perlahan mereda. Begitu tenang disini.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya ke dinding Mansion dan menyalakan rokoknya
‘Huhhh….’
Asap mengepul keluar dari mulutnya yang menghisap cerutu. Ia terlihat begitu menikmati setiap hisapan sembari memandang langit lepas diatas sana. Ia benar-benar merindukan riuhnya jalanan New York dimalam hari.
Tak…
Tak…
Tak…
Derap langkah kaki seseorang yang berjalan semakin mendekat ke arah Abigail. Membuat gadis itu mematikan rokoknya dengan tergesa
“Abigail…?!” panggilnya lirih. Terbersit sedikit keraguan dalam suaranya
Deg!
Darah mengalir cepat ke ujung kepala gadis itu dan perlahan ia menoleh. Matanya membesar saat mendapati Jackob berdiri menunggu di belakangnya. Dalam sekejab, ia benar-benar berharap Jeff ada di sampingnya sekarang
Namun dengan cepat gadis itu mengatasi keterkejutannya dengan tersenyum
“Sepertinya anda salah mengenali saya,” ucap Abigail dengan sangat lembut. Bahkan lebih lembut dari suara Emily
Jackob menunduk dan menyampaikan permintaan maafnya. “Maaf. Anda benar-benar mirip dengan orang yang saya kenal,”
Abigail mengangguk menerima permintaan maaf Jackob lalu pamit undur diri dengan mengatakan jika ia harus kembali ke pesta dan bergegas pergi
Gadis itu berjalan cepat kembali ke tempat pesta. Namun ia menyelinap diantara kerumunan dan kembali ke dalam Mansion melewati pintu belakang. Abigail berjalan tergesa dan kembali ke dalam kamarnya
Bruk!
Abigail ambruk ke lantai setelah menutup rapat pintu kamarnya. Kakinya gemetar hebat dan jantungnya berdetak sangat kencang. Perlahan ia memijat tangannya yang sedingin es.
“Kenapa Jackob bisa ada disini?” ucapnya gemetar
Sedang Jackob masih berdiri mematung di tempat ia bertemu dengan gadis itu. Lelaki itu sangat yakin jika gadis yang tadi di temuinya adalah Abigail. Ia bahkan bisa mengenali Abigail hanya dari aroma vanilla yang menguar dari tubuh gadis itu.
Saat masih menjadi tangan kanan Jeff. Jackob selalu mendapat tugas untuk menjaga Abigail kapanpun dan dimanapun selama Jeff sedang tidak bisa menemani kekasihnya itu. Kecantikan dan semua hal yang ada pada diri Abigail tanpa sadar membuat Jackob menyukai gadis itu. Dari rasa kagum menjadi rasa ingin memiliki.
Dulu Jackob selalu memimpikan untuk bisa menjamah tubuh sexi Abigail. Namun keberadaan Jeff selalu menghentikan keinginannya itu.
Perlahan ia menyandarkan tubuhnya ke dinding tempat Abigail bersandar. Bahkan ia masih bisa mencium aroma vanilla memabukkan yang tertinggal disana
Ia hampir pergi saat tangannya tak sengaja menyenggol sesuatu dibalik pot besar disampingnya. Sebuah putung rokok jatuh dan ia segera mengambilnya. Disana tertulis ‘Gold Flake’.
Jackob menyeringai. “Kau pikir bisa membodohiku? Asal kau tau Abigail, aku jauh lebih mengenalmu dibanding Jeff,” gumamnya. Ia masih ingat betul jika 'Gold Flake' adalah satu-satunya merk rokok yang dihisap Abigail.
Lelaki itu berjalan dengan sedikit bersiul menuju ke dalam mobilnya. Ia harus kembali menunggu tuannya yang tengah berpesta. Perlahan ia menyalakan musik jazz kesukaannya dan mulai bersenandung riang.
Pilihannya untuk kabur ke Paris setelah penghianatan yang ia lakukan pada Jeff adalah pilihan yang paling tepat dalam hidupnya. Seperti mendapat sebuah jackpot.
Ia terkekeh sembari membayangkan p****t sintal Abigail tengah duduk diatas pangkuannya sembari mengerang nikmat.
Dari kejauhan, Barbara terus memandang Jackob dengan tajam. Ia bertanya- tanya apa yang dikatakan lelaki itu pada Abigail hingga membuat gadis keras kepala itu gemetar ketakutan. Ini adalah kali pertama Barbara melihat sorot ketakutan dimata Abigail. Ia bahkan tidak melihat itu saat merundungnya tempo hari.