Perlombaan Berburu di Malam Hari

2004 Kata
James kembali ke perpustakaan dengan mendorong troli makanan kecil di depannya. “Makanan sudah siap Lady,” candanya sembari menurunkan semua makanan itu ke atas meja di depan Abigail. “Aku juga membawa pie s**u kesukaanmu,” ucapnya dengan antusias. Abigail mengangguk dan memakan sepotong pie s**u itu walau dia tidak menyukainya. Ini kesukaan Emily bukan kesukaanku, batinnya. Perlahan ia mengambil sebotol anggur di depannya dan menengaknya. Lalu kembali membaca setiap lembar buku dalam genggamannya dan kembali menenggak anggur itu Begitu seterusnya. Hingga ia mabuk dan tertidur di atas sofa. Ketika membuka matanya, Abigail sudah berada di atas ranjang mewahnya dan hari sudah gelap. James menggendongnya kembali ke dalam kamar sesaat setelah ia mabuk dan tertidur. Gadis itu tidak terlalu ingat apa saja yang terjadi selama ia mabuk. Tapi ia ingat betul jika James tak melakukan apapun padanya. “Bagaimana ini… Apa aku boleh memanfaatkan lelaki suci itu. Dia terlalu baik untuk di manfaatkan. Bagaimana jika Tuhan marah?” gumamnya sembari memijat kepalanya yang pusing karena mabuk Perlahan ingatan lain dalam kepalanya muncul. Kalimat demi kalimat yang di bacanya dalam buku tebal itu berputar- putar memenuhi ingatannya. Lalu sebuah foto hitam putih muncul dalam benaknya ‘Astaga…’ Abigail berlari keluar kamarnya menuju ke perpustakaan yang berada di bagian belakang Mansion . Cukup jauh dari kamarnya. Ia berlari kencang tanpa memakai alas kaki dan syal untuk menutupi tubuhnya di malam yang dingin itu. Kepalanya yang masih pusing menghambat pergerakannya membuat ia terhuyung dan hampir tersungkur ke lantai saat tiba- tiba sebuah tangan kekar berotot meraih pinggang gadis itu dan menyelamatkannya “David!” ujarnya saat melihat suami Barbara itu “Mau kemana kau di tengah malam begini?” tanyanya sembari melepas syal berbulu yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Abigail yang terlihat kedinginan itu Abigail mencoba berdiri tegak dengan berpegang pada lengan berotot David. “Aku meninggalkan ponselku di perpustakaan” “Mau kutemani kesana?” tanyanya dengan ragu Gadis itu menggeleng dengan cepat. “Tidak. Kau kembali saja ke kamarmu. Nanti Barbara marah,” ucap Abigail lalu ia kembali berlari menuju ke perpustakaan dengan tergesa. Bukan ponsel, tapi gadis itu ingin mengambil buku yang tadi di bacanya BRAK! Abigail membuka pintu dengan tergesa. Dia berlari menuju ke sofa di tengah ruangan namun buku itu sudah tidak ada disana. Ia menjelajahi setiap rak untuk mencari buku itu. Tetap tidak ada!. Karena lelah dan masih pusing akibat mabuk, ia pun merebahkan dirinya keatas sofa. Matanya tepejam sejenak untuk mengembalikan akalnya, lalu ia tidur menyamping sembari memijat kepalanya. Matanya membulat saat mendapati buku itu berada di bawah meja. Dan dengan cepat ia menyaut dan membuka setiap halamannya. “Ini!” serunya. “Kenapa aku ada disini?” tanyanya pada dirinya sendiri. Gadis itu luar biasa terkejut dan mengerutkan kening tak mengerti saat melihat potret dirinya tengah mengenakan gaun besar ala victorian khas gaun- gaun mewah di abad pertengahan. Di foto itu ia berdiri di depan Kastil megah di samping seorang lelaki yang terlihat tiga puluh tahun lebih tua darinya. “Itu Lady Rosalia. Istri Tuan Godwin Anderson. Leluhur keluarga Anderson,” ucap David yang tiba- tiba sudah berdiri di belakangnya. Mendengar itu membuat Abigail mendadak lemas dan ia menyandarkan dirinya ke sandaran sofa. “Si hantu wanita tanpa kepala?” tanyanya sembari memijat kepalanya yang bertambah pusing “Ya!” David berjalan mengitari sofa dan turut merebahkan dirinya tepat disamping Abigail. “Tapi... Kenapa kalian sangat mirip ya?” bisiknya sembari mencoba mencium bibir sexy gadis itu. Tubuh sintal dan aroma vanilla memabukkan saat tadi ia tak sengaja menolong Abigail berhasil membuat David menggila. Hanya dalam hitungan detik, pria itu langsung menginginkan Abigail masuk ke dalam pelukannya Abigail beringsut dan melepaskan diri dari pelukan David lalu berlari kembali ke dalam kamarnya dengan buku tebal itu dalam dekapannya. Jantung Abigail berdetak kencang. Bukan karena perlakuan David padanya. namun karena foto Lady Rosalia yang sangat mirip dengannya “Pantas saja Barbara memiliki kunci pagar Kastil itu,” gumamnya Perlahan ia duduk di meja kerja Aaron dan menuliskan hal- hal penting dari buku tebal itu kedalam buku catatan kecilnya. Disitu di jelaskan jika Tuan Godwin adalah seorang pekerja keras yang berhasil mengeluarkan keluarga Anderson dari jurang kemiskinan. Dari seorang buruh di pabrik pembuatan senjata api, hingga akhirnya berhasil membuat perusahaan senjata api miliknya sendiri yang benama ‘Lockheed Anderson’ dan masih beroperasi sampai sekarang. Perusahaan itu menerima hampir delapan puluh persen penjualannya untuk pemerintah Amerika dan Eropa. Sisanya tersebar keseluruh belahan dunia. ‘Aku tidak tau jika keluarga Anderson sekaya ini. Yang ku tau mereka memiliki perusahaan di bidang real estate,’ gumam Abigail yang terkagum dengan apa yang baru saja dibacanya. Di usia ke empat puluh enam tahun, Tuan Godwin memutuskan untuk menikahi Lady Rosalia yang saat itu masih berumur enam belas tahun. Ia tetap melakukan itu walau tak mendapat persetujuan dari istri pertamanya. Sungguh, Abigail sama sekali tak peduli dengan itu semua. Ia juga tak peduli dengan kekayaan keluarga Anderson yang tidak akan habis walau sampai dua puluh tujuh turunan. Ia hanya ingin tau kenapa Lady Rosalia memiliki wajah yang sangat mirip dengannya. Sayangnya ia tak menemukan informasi apapun tentang Lady Rosalia. Di buku itu hanya di jelaskan jika Lady Rosalia adalah anak seorang petani mawar miskin yang berhasil menjerat pria kaya yang sudah beristri berkat kecantikannya. Tentu saja, siapa yang mau menuliskan kisah hidup seorang wanita yang menyelingkuhi leluhur keluarga Anderson itu dengan seorang penjaga kuda?!. Terlalu memalukan!. Abigail mencoba mencari di laman internet tapi ia juga tak menemukan informasi apapun. Di sana hanya di jelaskan bagaimana akhir tragis dari hidup Lady Rosalia yang di penggal oleh suaminya sendiri. “Tidak mungkin ini semua hanya sebuah kebetulan,” Malam itu Abigail habiskan untuk mempelajari setiap detail informasi yang di dapatnya sampai gadis itu tertidur di atas meja kerja Aaron. Dalam tidurnya ia bermimpi sesuatu yang sangat aneh. Dalam mimpinya itu, ia tengah berlarian di halaman Kastil dengan gaun besar yang membingkai tubuhnya. Lalu tiba- tiba seorang lelaki datang dan menyeretnya ke sebuah ruangan gelap. Lelaki bertudung hitam itu mendorongnya hingga tersungkur ke atas lambang pentagram di atas lantai. Persis seperti yang terjadi pada Emily. *** Burung berkicauan di luar jendela di belakang Abigail membangunkan gadis itu dari tidurnya. Ternyata hari sudah pagi!. “Kenapa aku jadi sering bermimpi aneh semenjak berada disini? Apa karena buku ini?,” gumam Abigail sembari berjalan ke kamar mandi Setelah siap dengan gaun sexynya yang cukup transparan. Abigail bergegas ke meja makan untuk sarapan bersama semua anggota keluarga Anderson yang lain. Ia sengaja membawa syal berbulu milik David dan mengembalikannya di sana “Terimakasih sudah meminjamkan syalmu. Terimakasih juga sudah menemaniku semalam,” Ucapnya sembari menyampirkan syal berbahan bulu itu ke lengan berotot David. Sesungguhnya David tidak setampan James. Namun lelaki itu terlihat sangat panas dengan tubuh tinggi besarnya. Gadis Amerika pasti akan sangat menyukainya. Barbara menatap nanar akan apa yang dilakukan Abigail pada suaminya namun ia tak mengatakan apapun. Begitu juga dengan ke empat adik perempuan gadis itu. Mereka juga sama diamnya. Pasti karena video perundungan itu! “Oh ya David. Aku tak sempat mencuci syal itu. Dan aku memakainya untuk tidur semalam. Mungkin syalmu akan berbau seperti tubuhku,” Abigail menarik kursi dan duduk di samping pria itu. “Tidak usah di pikirkan. Bukan masalah serius.” Ucap David sembari merekatkan syal itu ke tubuhnya James tidak sanggup lagi mendengar percakapan kedua orang itu dan bergegas pergi. Dadanya sesak dan ia menangis di dalam perpustakaan “Padahal kemarin Emily bilang jika dia merindukanku,” keluhnya sedikit kesal *** Setelah menyelesaikan sarapan paginya. Abigail bersiap dan bergegas pergi. “Aku akan ke Paris hari ini. Jangan mencariku,” ucapnya pada Barbara yang tengah membaca sebuah majalah di atas sofa Mendengar itu membuat Barbara melirik sekilas gadis di depannya. “Siapa juga yang mau mencarimu,” jawabnya ketus. “Tapi kau tidak boleh pergi hari ini. Akan ada perlombaan berburu petang nanti. Semua anggota keluarga Anderson wajib mengikutinya,” Abigail melihat sekeliling dan mengerti kenapa semua pelayan terlihat begitu sibuk hari ini. Padahal ia ingin sekali menghamburkan uang Aaron untuk menjernihkan fikirannya. Tiba- tiba Jennifer datang dengan sebuah gaun hitam besar berenda di tangannya. Ia terlihat ingin melemparkan gaun itu kewajah Abigail namun ia urungkan “Pakai untuk nanti malam,” ucapnya dengan sedikit ketus Abigail menaikkan alisnya karena terkejut. Apa mereka sengaja memberikan gaun kuno ini padaku? Ia sangat tidak menyukai gaun hitam besar di tangannya. Menurutnya itu menjijikkan! Barbara sekiranya mengerti tatapan tidak suka Abigail pada gaun itu dan langsung berdecak. “Ck! Jangan memakai yang lain. kita semua juga akan memakai gaun itu petang nanti. Itu tradisi,” “Oh My My My God! Hell! NO!” Abigail kembali ke dalam kamarnya dengan frustasi. Bagaimana mungkin ia harus menunjukkan dirinya di depan banyak orang dengan pakaian kuno seperti itu? Gadis itu beranjak untuk mengambil gunting. Dengan cepat tangannya menggunting beberapa bagian lalu mengeluarkan mesin jahit kecilnya dari dalam koper. Abigail mulai mendesain ulang gaun kuno di depannya Karena terlalu sibuk me-redesain gaunnya. Abigail sampai tidak sadar jika hari sudah mulai petang. Terdengar banyak mobil berdatangan memenuhi halaman depan Mansion . Para tamu undangan telah tiba. Abigail masih tidak mengerti alasan kenapa perlombaan berburu itu di lakukan di malam hari. Namun ia tak ambil pusing dengan itu semua dan bergegas untuk mempersiapkan diri. Tok tok tok…! Evelin mengetuk pintu kamar Abigail. Sudah lebih dari satu jam ia menunggu disana. “Nona Emily. Kita harus bergegas,” panggilnya dari luar pintu dengan cemas “Ya!” Abigail berjalan keluar kamar dan berlari dengan tergesa menuju ke hall tempat semua tamu berkumpul. Ngikkk… Suara derit pintu membuat para tamu undangan menoleh kebelakang. Abigail sedikit menelan ludahnya dan mencoba berjalan masuk dengan percaya diri. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun hitam yang membalut tubuhnya. Gaun dengan potongan d**a yang cukup rendah itu tak membuatnya tampak murahan. Justru memberi kesan elegan dan mahal. Pundaknya terpampang cantik menggiurkan membuat para pria menelan ludahnya. Sedang jari jemarinya tertutupi oleh sarung tangan hitam berenda yang transparant. Menambah ke-eleganannya. Anting dan kalung berlian mahal dari Jeff menyempurnakan penampilannya. Membuat semua pria yang ada di dalam aula menginginkannya. Terutama David!. Lelaki itu tergila- gila pada Abigail sejak sentuhan jari jemarinya pada pinggang ramping Abigail kemarin malam. Semua pria terpukamu melihat kedatangan Abigail sampai melupakan gadis- gadis yang duduk di samping mereka. “Gadis Amerika memang luar biasa,” gumam sebagian besar lelaki di sana tanpa bisa mengalihkan pandangan dari sosok gadis yang tengah menyibakkan rambutnya membuat aroma vanilla menguar keseluruh ruangan Perlahan Abigail menarik kursi di samping Camilla dan duduk di sana bersama kelima kakak perempuan Aaron Begitu kontras!. Penampilan kelima perempuan itu jadi terlihat sangat kuno saat di sandingkan dengan Abigail. Membuat mereka merasa di permalukan secara tidak langsung “Kubilang pakai gaun yang kuberikan tadi pagi karena Itu tradisi!. Kau tuli?” gertak Jennifer lirih Mendengar itu membuat Alis Abigail bertaut kesal, “Ini kan gaun yang kau berikan tadi pagi. Apa kau buta? Aku hanya merubahnya sedikit,” jawabnya lirih sembari merapikan lispstiknya Kelima kakak perempuan Aaron memandang dengan sedikit tidak percaya. "Benarkah?" gumam mereka meragukan perkataan Abigail Tak… Tak… Tak… Seorang pria muda naik ke altar dan membuka acara dengan melemparkan puluhan koin emas membuat gadis- gadis di sana berlarian kedepan untuk mengambil koin- koin itu. Abigail hampir berdiri untuk ikut berebut koin emas bersama mereka saat tangan Camilla menahannya “Jangan mempermalukan keluarga Anderson,” ucapnya dengan kilatan tajam di matanya. Perlahan Abigail melirik kebelakang dan melihat pria- pria kaya di sana memandang kepingan emas itu dengan tidak berselera. Berbeda dengan gadis- gadis di depan sana. Setelah acara taburan kepingan emas itu selesai. Puluhan pelayan masuk ke dalam aula untuk mengantar makanan. Mereka menyajikan hidangan Lobster Frittata dengan segumpal Caviar sebagai hidangan pembuka Lalu dilanjutkan dengan potongan kecil Steak Antelop berlapis mentega dan madu. Daging yang di masak dengan baik itu terasa meleleh dimulut dengan tekstur yang sangat lembut. Dan jamuan makan malam itu diakhiri dengan Luxe Doughnut. Donat yang di lapisi dengan emas 24 karat dengan topping coklat putih yang di bentuk seperti bunga. Makanan mahal itu di sajikan bersama dengan Koktail dan Courvoisier.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN