**** Membanting tasnya dengan wajah menyeramkan, Arman tidak memperhatikan sapaan ibunya yang tengah menyirami beberapa pot bunga kamboja warna kuning dan merah di taman depan rumah. Pemuda itu terus melenggang masuk ke kamar dan berakhir dengan empasan kuat bokongnya di sisi ranjang. Ia sangat lelah, semakin lelah tatkala melihat pria asing itu memanggil Adira dengan sebutan sayang. Arman mengerti posisinya saat ini, ia bukan siapa-siapa bagi Adira selain sebatas teman dekat, teman main kesana maupun kemari. Arman menggigit ibu jarinya dengan wajah frustrasi, ia menjambat rambut pendeknya cukup kencang berharap apa yang tengah menyiksa pikirannya saat ini kabur dan tidak menyiksanya terlalu dalam. Bu Ratih, ibunda Arman yang mencium bau tak beres pada putranya segera mematikan kran air

