**** Kicauan burung pipit yang terdengar begitu nyaring sarat akan keceriaan tatkala sinar matahari bersinar terang, tak mengurangi suasana canggung yang terjadi di ruang makan milik Gama Adiyaksa. Kedua insan beda jenis itu menikmati sarapan mereka tanpa banyak bicara. Kecanggungan semakin menjadi tatkala Adira terus menghindari tatapan Gama yang sesekali melirik ke arahnya. Tak ada tanya jawab, membuat suasana ruang makan nyaris mirip seperti pemakaman. Ponsel Gama berbunyi, sebuah pesan masuk begitu saja saat acara sarapan belum usai. Wajah Adira mendadak tambah murung, ia merasa sangat kecewa tatkala Gama meraih ponselnya dan membuka pesannya. Itu pasti dari Melati, Adira menebak dan yakin sekali pada dugaannya. Adira mengunyah roti bakarnya, ia berusaha bersikap tenang walau dalam

