**** Sore dengan langit yang masih biru akhirnya menjemput. Aroma udara yang sudah bercampur dengan aroma bensin dan knalpot, menyeruak indera pembau Adira. Gadis itu keluar dari butik yang ia bangga-banggakan sebelum akhirnya peristiwa tak mengenakkan itu terjadi. Adira menggendong tas kecilnya, berjalan tak tentu arah setelah keluar dari tempat kerja pertamanya. Jujur saja pikirannya saat ini kosong, ia hanya tidak habis pikir kenapa Tuhan mempertemukan mereka dalam kondisi seperti ini. Tatapan Adira tertuju pada kursi taman yang berada tak jauh dari butik tempat ia bekerja. Ia mengempaskan bokongnya disana, melepaskan segala resahnya dengan cara mengembuskan napasnya melalui mulut dengan kuat-kuat. Adira melepas tas punggung yang ia pakai, memangkunya dengan pikiran yang bercabang en

