Bab 7

1026 Kata
Bab 7 "Ya sudah, lebih baik sekarang kamu istirahat dulu, mumpung anakmu juga belum bangun. Nanti kalau anakmu bangun, kamu malah tidak bisa beristirahat, yang akhirnya kamu kecapean." Mas Rian menyuruhku untuk beristirahat. Aku pun menurut tanpa menjawab lagi ucapannya. Aku duduk di kursi samping brankar anakku, sambil mengelus muka Annisa yang masih terlelap. Setelah itu, aku menggenggam tangan mungilnya, kemudian ikut terlelap saling capeknya. Mungkin karena aku kecapekan, sehingga tidak terasa aku ketiduran begitu cepat. ***** "Habis keluyuran dari mana kamu, Salma. Jam segini kamu baru pulang, mana Annisa?" Mas Arya bertanya kepadaku, saat aku baru datang ke rumah untuk mengambil bajuku serta perlengkapan Annisa. "Mas, kamu kok malah bertanya kepadaku habis dari mana? Bukannya kamu juga tau, kalau anakmu semalam sakit? Aku habis dari rumah sakit lah, Mas, masa iya aku habis keluyuran. Justru kamu yang kemana, saat Annisa menangis kejer? Kamu malah meninggalkan dia sendirian, sekarang aku pulang karena mau mengambil baju dan perlengkapan Annisa selama dia dirawat di rumah sakit. Aku harap, agar kamu segera mencari uang buat biaya rumah sakit anak kita. Karena biayanya pasti membengkak, soalnya Annisa di rawat di ruang PICU, Mas." Aku, memberitahu suamiku dari mana aku dan mau ngapain aku sekarang datang ke rumah. Aku saat ini sengaja pulang dulu ke rumah, sebab semalam aku tidak membawa baju ganti dan juga perlengkapan Annisa karena terburu-buru. Sedangkan Annisa, aku titipkan kepada suster yang sedang jaga. Karena aku menunggu Mas Arya juga tidak kunjung datang, sebab aku tidak memberi kabar padanya karena handphoneku juga ketinggalan. "Oh ... begitu ya, aku kira kamu habis menjajakan diri, sambil membawa anakmu. Makanya kamu baru pulang sekarang," ucap Mas Arya begitu enteng. "Mas, jaga ucapanmu! Kamu jangan pernah samakan aku, dengan w************n manapun! Karena, aku tidak serendah itu! Aku tidak seperti apa yang kamu ucapkan, justru kamu sebagai seorang suami tidak ada pertanggung jawabannya sama sekali. Sudah tau anaknya sakit, tapi masih saja bersikap tenang. Kamu tau nggak, Mas. Annisa hampir tiada, kalau sampai aku terlambat membawa dia berobat. Pokoknya, aku minta sama kamu segera cari uang, setelah itu bawa ke rumah sakit untuk biaya anak kita." Aku berkata panjang lebar, serta membantah apa yang dia katakan. "Enak saja kamu, main meminta uang buat biaya rumah sakit anakmu kepadaku. Kamu kan. yang membawa anakmu ke rumah sakit? Jadi kamu, yang seharusnya mencari uang untuk biayanya. Kenapa kamu malah meminta kepadaku?" tanya Mas Arya. Ia rupanya tidak mau bertanggung jawab, terhadap pengobatan anaknya tersebut. Mas Arya begitu kejam, kepadaku dan juga Annisa. Ia sama sekali tidak mau peduli terhadap kami berdua, rupanya pengorbananku selama sepuluh tahun bersamanya itu sia-sia. Penderitaanku untuk mempertahankan rumah tanggaku selama ini, hanyalah fatamorgana belaka. "Dasar suami dan Ayah dzolim kamu, Mas," sahutku, sambil berlalu pergi menuju kamarku. "Terserah, mau apapun yang ingin kamu bilang padaku. Tetapi tidak akan membuat aku mengeluarkan uang untuk biaya pengobatan anakmu," balas Mas Arya. Ia juga kemudian pergi, sepertinya ia mau berangkat ke kantor karena memang penampilannya sudah rapi dan juga wangi sekali. Aku pun masuk ke kamarku, kemudian menguncinya. Aku segera memasukan semua pakaianku dan juga pakaian Annisa, yang memang tidak banyak. Aku hanya menyisakan beberapa daster, yang memang sudah tidak layak pakai. Aku membawa semua yang aku butuhkan, termasuk surat-surat berharga seperti sertifikat rumah, serta buku nikah dan lain sebagainya. Tidak lupa aku juga membawa bungkusan kotak dari mendiang Ibuku, yang belum pernah aku buka dan tidak ada siapa pun yang tahu. Sebab Ibu berpesan, kalau aku hanya boleh membukanya, jika aku mendapatkan kesulitan yang benar-benar tidak ada jalan keluarnya. Mungkin, ini adalah saatnya untuk aku mengetahui, apa isi yang ada di dalam kotak tersebut. Kotak yang selama ini aku sembunyikan dari Mas Arya dan kekuarganya, sebab itu adalah pepatah Ibuku. Aku memasukan semuanya ke dalam koper, yang berukuran sedang. Tidak lupa aku mengambil handphone dan juga charger dan memasukan ke dalam tas selempangku. Selesai berkemas, aku segera pergi melewati pintu belakang. Aku melakukan semua ini, biar tidak ada satu orang pun yang tahu dengan kepergianku. Ya, aku akan pergi dari rumah ini, kemungkinan besar aku tidak akan kembali lagi. Tapi masalah hutangku kepada Mbak Rini dan Mas Ali tetap akan aku bayar, meskipun aku sudah tidak tinggal di sana. Aku pun berjalan sekitar lima menit menuju tempat ojek, kemudian memanggil salah satu tukang ojek, yang sedang mengantri menunggu penumpang yang datang. "Mang, ojek," panggilku. "Iya, Mbak," sahutnya. "Ke Rumah Sakit Medika ya, Mang," pintaku. "Siap," katanya. Setelah itu aku pun segera naik, di belakang si tukang ojek tersebut. Sedangkan koperku, aku simpan di depan tukang ojek. Sesampainya di Rumah Sakit, aku segera turun, kemufian membayar ongkos ojeknya dari uang yang dipinjamkan Mbak Rini semalam. Aku kemudian masuk dan menuju ruang perawatan anakku. Tidak lupa aku juga mensterilkan dulu keadaanku, dengan cara mencuci tangan dan sebagainya, setelah itu baru aku menghampiri anakku. Ternyata di ruang PICU, sudah ada Mas Rian. Ia sedang berada di tempat rawat anakku. Ia sedang membelai kepala anakku, yang masih tertidur. Mas Rian menyadari kedatanganku, ia pun duluan bertanya. "Kamu habis dari mana? Tadi anak kamu nangis, mungkin dia nyariin kamu," tanyanya. "Aku habis pulang dulu, Mas. Mengambil perlengkapan kami," sahutku. Salma, kalau punya anak sakit itu jangan ditinggal begitu saja, apalagi tidak ada yang menjaganya." Mas Rian menasehatiku karena aku meninggalkan anakku sendirian. Bahkan katanya Annisa juga sempat menangis, saat aku tinggalkan tadi. "Iya, Dok. Tadinya, aku mau meminta bantuan suamiku untuk mengantarkannya. Namun, aku juga lupa membawa handphonenku," terangku. "Oh, jadi begitu ya. Ya sudah, silahkan kalau kamu mau menemani anakmu. Aku permisi," pamit Mas Rian. "Iya terima kasih, Dokter," ucapku. Setelah itu Mas Rian pergi keluar dari ruangan PICU. Aku pun mendekati Annisa dan mengusap wajahnya yang polos tanpa dosa. 'Dek, mulai sekarang, kita akan memulai kehidupan kita yang baru. Hanya ada Bunda dan kamu, Nak. Biarlah kita terpisah dari Ayahmu, sebab walaupun bersamanya, kamu tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah. Bunda juga tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Suami,' gumamku. Aku bergumam dalam hati, sambil terus mengelus pipi mulus anakku. Saat aku sedang asyik melamun, aku dikejutkan dengan kedatangan Suster. "Bu Salma, maaf ya. Saya mau memberitahukan Ibu tentang biaya ananda Annisa," ujarnya. "Iya, Sus, kira-kita berapa ya Sus?" tanyaku. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN