Bab 8

1013 Kata
Bab 8 "Jadi begini, Bu. Sampai saat ini total biayanya sekitar dua jutaan, itu pun belum biaya rawat inap di ruang PICU, serta obat selama perawatan ya, Bu. Tapi kami harapkan untuk biaya yang dua juta ini, supaya Ibu segera melunasinya sekarang juga. Ibu bisa langsung bayar di kasir dan ini persyaratannya yang harus di bawa, ya Bu," terang Suster. Ia memberitahu, jika biaya Annisa harus segera dibayarkan. "Bu Salma, maaf saya mau memberitahukan Ibu tentang biaya ananda Annisa. Sampai saat ini total biayanya sekitar dua juta, itu belum biaya ruang PICU serta obat selama perawatan ya, Bu. Diharapkan untuk biaya, yang dua juta ini ibu segera melunasinya sekarang juga. Ibu bisa langsung bayar di kasir dan ini perinciannya harus di bawa ya, Bu." Suster memberitahu, jika biaya Annisa harus segera dibayarkan. Degh! Aku kaget saat mendengar, jika pembayaran perawatan Annisa harus segera dibayarkan. Sedangkan uang yang ada di dompetku pinjaman dari Mbak Rini, telah berkurang dipakai ongkos serta keperluan yang lainnya. "Iya, Sus," kataku saat mendengar penuturan suster tentang rentetan biaya rumah sakit. "Ya sudah, saya permisi ya, Bu." Suster pamit pergi, sambil berlalu dari hadapanku. "Silahkan, Sus," jawabku lirih. Aku pun kini kembali melamun, mencari cara untuk membayar biaya rumah sakit. Aku pun teringat akan bungkusan kotak, yang diberikan Ibuku waktu itu. Aku membuka koperku dan mengambil bungkusan tersebut. 'Kira-kira isi bungkusan dari Ibu itu apa? Kok dirahasiakan, bahkan memintaku membukanya hanya pada saat aku kepepet saja. Apa memang sekarang sudah waktunya? Soalnya aku saat ini benar-benar kepepet,' gumamku. Aku pun mencoba membuka bungkusan sambil mengucap kata bismillah. Saat aku membuka kotak tersebut, aku langsung menganga karena tidak percaya, dengan apa yang aku lihat di dalam kotak tersebut. Di dalam kotak terdapat tiga kotak perhiasan, yang paling atas terdapat satu set perhiasan berlian mewah. Sedangkan yang kedua terdapat satu set perhiasan emas putih, di dalam kotak yang ketiga terdapat perhiasan emas yang kukira mencapai puluhan gram. Semuanya lengkap, dengan surat serta sertifikatnya. Rupanya Ibu memberikan wasiat m saat itu, bukan hanya sekedar ucapan dan kotak belaka, tetapi ia memberikan hartanya untukku. Sepertinya Ibuku tahu, dengan apa yang akan terjadi padaku. Ibu seolah dapat membaca apa yang akan terjadi padaku, setelah aku menikah dengan Mas Arya, pria yang memang tidak direstuinya. Semua perhiasan yang aku punya, aku hitung mencapai ratusan juta rupiah, bahkan bisa lebih jika menurut pasaran saat ini. "Alhamdulillah, akhirnya ada jalanku dan juga Annisa untuk memulai hidupku yang baru, dengan apa yang aku miliki saat ini," lirihku. Aku mengambil satu buah cincin emas yang bermata berlian, di dalam suratnya tertera harga tiga puluh juta. Kemudian yang lainnya aku kembalikan ke dalam kotaknya lagi dan aku simpan kembali ke dalam koperku. Untung koperku menggunakan pin, jadi tidak akan ada yang bisa membukanya. Aku akan menjual cincin ini untuk biaya pengobatan, serta untuk biaya hidup setelah keluar dari Rumah Sakit ini. Tidak berapa lama Annisa bangun, kemudian aku memberi dia asi. Annisa menyusu dengan begitu lahapnya, seperti yang sudah beberapa hari tidak meminum asi saja. ***** "Sus, aku mau nitip Annisa lagi ya? Ada yang ingin aku urus dulu," pintaku, setelah Annisaku kembali terlelap. "Iya silahkan, Bu," sahut Suster tersebut. Aku pun segera pergi dari rumah sakit, menuju toko perhiasan untuk menjual cincin tersebut. Aku pergi menaiki taksi untuk mempersingkat waktu karena aku takut, jika Annisa kembali bangun, seperti saat aku pulang mengambil pakaian tadi. Sesampainya di toko perhiasan terbesar, yang ada di kota tempat tinggalku sekarang. Aku segera menjual cincin tersebut dan alhamdulillah, dari penjualan cincin ini aku mendapat uang tiga puluh lima juta. Naik lima juta dari saat Ibuku membelinya. Itu pun dengan menggunakan berbagai macam tes terlebih dulu. Setelah selesai menjualnya, aku tidak langsung pergi ke Rumah Sakit lagi. Tapi aku berbelanja makanan serta buah-buahan untuk bekal di Rumah Sakit, supaya aku tidak perlu mencari makanan lagi nantinya. Aku membelinya tidak jauh tidak jauh dari toko perhiasan tersebut. Saat aku telah selesai membeli keperluan perut dan yang lainnya, aku menunggu taksi. Namun, dari depan toko perhiasan yang ada di seberangku berdiri saat ini. Aku melihat seorang pria yang tidak asing lagi, ia sedang merangkul seorang wanita kemudian mereka masuk ke dalam toko perhiasan tersebut. Aku pun langsung menyebrang, sebab aku ingin memastikan kebenaran yang aku lihat. Rupanya memang benar, kalau dia itu adalah orang yang aku maksud, siap lagi kalau bukan Mas Arya suamiku. Ia saat ini sedang memasang cincin di jari manis perempuan yang ada di sampingnya tersebut. "Mas, siapa wanita ini?" tanyaku dengan penuh emosi. "Kamu ini benar-benar ya, katanya tadi kamu tidak ada uang, saat aku minta untuk pengobatan Annisa. Tetapi sekarang kamu datang ke toko perhiasan bersama perempuan ini? Nggak mungkin kan, kalau cuma mau lihat, lihat doang?" tanyaku to the point. "Salma, sedang apa kamu di sini? Katanya anak kamu sakit? Tapi kenapa kamu malah keluyuran? Kamu belanja-belanja lagi, dapat uang dari mana kamu?" Mas Arya malah balik bertanya kepadaku. Ia bukannya menjawab pertanyaanku, malah ia yang balik bertanya kepadaku. Terasa perih hati ini mendapati kenyataan ini, disaat aku sedang berjuang untuk kesembuhan anakku. Ternyata suamiku, malah sedang asyik-asyik berbelanja perhiasan dengan wanita lain. Aku pun tidak menghiraukan pertanyaannya, aku juga tidak menjawab sepatah katapun ucapannya itu. Aku langsung pergi menjauh dari toko perhiasan tersebut, kemudian menaiki taksi yang kebetulan melintas. Kini tekadku sudah sangat bulat untuk berpisah dari Mas Arya, penjajahan yang menikahiku beberapa tahun lalu. Rasanya sudah cukup semua penderitaan hidup yang aku alami, pada saat bersama dengannya. Tidak berapa lama, kini aku telah sampai di depan Rumah Sakit. Aku segera turun dari mobil, kemudian menuju kafir untuk membayarkan administrasi yang harus aku bayarkan saat ini. Kemudian aku segera pergi mebuju ruang perawatan anakku. "Bu Salma, anda di tunggu oleh Dokter Rian di ruangannya. Ruangannya ada di sebelah kanan dari Ruang PICU ini. Silahkan temuin beluay, sebab ada yang ingin Pak Dokter sampaikan kepada Ibu Salma. Dedenya biar saya yang jaga, Bu," ungkap Suster yang menjaga Annisa. "Oh ... begitu ya, Sus. Oke, Sus, aku akan ke ruangan Dokter Rian dulu ya. Maaf, ya Sus, aku merepotkan terus." Aku meminta maaf kepadanya. "Iya, Bu, nggak apa-apa," sahut Suster tersebut. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN