Bab 9

1011 Kata
Bab 9 aku kembali ke luar, setelah aku menyimpan belanjaanku di meja dekat koper. 'Mas Rian mau bicara apa ya? Apa dia mau memberitahu masalah penyakit yang di derita Annisa? Waduh jangan-jangan, ih naudzibillah.' Aku bergumam dalam hati, saat menuju ruangan Mas Rian tersebut. Aku berjalan sambil membayangkan apa yang akan Mas Rian katakan, terkadang terlintas juga ucapan buruk tentang anakku. Sampai aku bergidik ngeri sendiri, sebab aku tidak mampu membayangkan, jika semua itu sampai terjadi terhadap anakku Annisa. Aku juga tidak akan pernah sanggup, jika sampai sesuatu yang buruk terjadi terhadap anakku. Sesampainya di depan ruangan Mas Rian, aku pun segera mengetuk pintu dan mengucapkan salam. "Assalamualaikum," ucapku setelah aku mengetuk pintu terlebih dulu. "Waalaikumsalam, silahkan masuk," sahut seorang pria dari dalam ruangan tersebut. Aku pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, yang menurut Suster, ruangan itu adalah ruang kerja Mas Rian. Ruangan yang aku taksir sekitar, tiga kali empat meter itu begitu rapi. Di sana terdapat rak tinggi, yang berisi buku-buku. Ada juga sofa serta meja tamu di dekat pintu masuk. Meja kerja serta kursi terdapat di pojok kanan ruangan tersebut. Di pojok kiri ada dispenser serta sebuah lemari kaca, yang sepertinya berisi berkas-berkas pasien. "Silahkan duduk," kata Mas Rian. Ia menyuruhku duduk, padahal posisi dia masih fokus menulis, bahkan tidak sedikit pun melihat ke arahku. "Iya, Dok, terima kasih. Tapi maaf Dok, aku lancang mau bertanya. Memangnya Dokter mau bicara apa ya, denganku? Apa ada yang urgent dengan kesehatan anakku," tanyaku. Mas Rian tidak menjawab pertanyaanku, tetapi ia malah terus fokus menulis. Entah sedang mengisi apa di kertas tersebut. Aku pun kembali bertanya, barangkali pertanyaan pertamaku tidak ia dengar. Tapi pertanyaanku agak berbeda dari pertanyaan yang pertama. "Dok, mau bicara apa ya, sehingga menyuruhku datang ke sini?" Aku bertanya untuk yang kedua kalinya. "Salma, sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini dari awal kita bertemu. Tapi aku rasa itu tidak sopan, tetapi setelah aku perhatikan beberapa hari ini. Membuat aku merasa amat sangat penasaran dan ingin mendengarkan langsung dari bibirmu." Mas Rian mengolah kata untuk memulai pembicaraan kami. "Apa maksud Dokter bicara seperti itu? Maaf aku tidak mengerti," ujarku. Aku memang tidak mengerti, dengan apa yang diucapkan oleh Mas Rian. Makanya aku menanyakan maksud dan tujuannya berkata seperti itu. "Maksudku begini, Salma. Sebenarnya sedang ada masalah apa, antara kamu dengan suamimu?" Mas Rian bertanya tentang hal pribadiku, terutama masalah rumah tanggaku. "Maksud Dokter apa? Kenapa Dokter menanyakan hal pribadiku? Aku kira, Dokter menyuruhku untuk menemui Dokter di ruangan ini, Dokter mau membicarakan masalah kesehatan anakku. Maaf ya Dok, kalau Dokter menyuruhku datang ke sini, hanya untuk bertanya hal pribadi, tentang kehidupan keluargaku. Maaf, Dok, aku mau pamit. Permisi," pamitku Aku berkata lantang karena merasa tidak nyaman, jika ditanyakan masalah pribadiku oleh orang lain. Apalagi dengan seorang pria seperti Mas Rian. "Kamu jangan marah dulu, Salma. Aku tidak bermaksud mengusik kehidupan rumah tanggamu, cuma aku merasa kasihan saja sama anakmu Annisa. Dia sedang sakit, tapi kamu selalu meninggalkannya sendirian. Karena tidak ada yang membantumu untuk melakukan segala hal. Makanya aku bertanya kepadamu, kenapa dengan rumah tanggamu? Kenapa suamimu tidak pernah datang untuk membantumu? Aku bukan bermaksud apa-apa, Salma. Hanya saja, ketika aku melihat putrimu, Annisa. Aku merasa telah melihat anakku, yang kini telah tiada bersama dengan Ibunya," terang Mas Rian. "Maaf, Dokter, aku tidak tahu, jika tujuannya seperti itu." Aku juga meminta maaf merasa tidak enak hati. Aku bukannya mau membuat Mas Rian mengenang anak istrinya yang telah tiada. Tapi pertanyaannya itu, membuat aku merasa diingatkan kembali, kepada pria dzolim yang masih berstatus suamiku. Tapi mulai saat ini, aku sedang belajar untuk melupakannya. Mas Arya yang dulu sangat aku cintai, hingga aku rela berkorban untuknya, bahkan mengabaikan larangan kedua orang tuaku. Mulai hari ini akan aku hapus rasa cintaku untuknya. Akan aku buang rasa itu, supaya bisa hilanh ya di hati untuknya "Maaf, Dok, bukan maksud aku mau membuat Dokter sedih. Karena harus mengingat anak istrimu yang telah tiada, aku cuma merasa nggak nyaman aja, kalau ada orang yang menanyakan masalah pribadiku." Aku akhirnya meminta maaf kepada Mas Rian, sebab aku merasa tidak enak hati kepadanya. Karena dengan tidak sengaja, aku telah membuka hatinya terluka. "Iya, Salma, nggak apa kok. Semuanya itu telah lama juga kejadiannya, mereka meninggal sekitar lima tahun yang lalu. Jujur ya Salma, aku tidak tega, jika melihat anak kecil menangis seperti anakmu tadi. Maaf ya, Salma, aku juga tidak bermaksud ikut campur urusanmu. Maaf jika telah membuatku tidak nyaman," ucap Mas Rian, ia juga meminta maaf kepadaku. "Iya, Dok. Kita saling memaafkan saja," ujarku. Aku dan Mas Rian pun akhirnya saling memaafkan satu sama lain. Sebab kami memang tidak sengaja dan secara tidak langsung, telah membuka luka hati orang yang menjadi lawan bicara kami. "Dok, kalau sekiranya sudah tidak ada lagi yang akan dibicarakan. Aku mau pamit ya, Dok. Soalnya kasihan Annisa, kalau harus ditinggalkan lama-lama, nanti dia menangis lagi." Aku pamit kepada Mas Rian, sebab ingin segera kembali ke ruangan Annisa. "Silahkan, Salma. Maaf ya aku telah mengganggu waktumu," ucapnya, terus meminta maaf. "Iya, Dok, nggak apa-apa kok," kataku. Aku pun segera berdiri, kemudian melangkah menuju pintu. Namun, baru dua langkah berjalan, aku diberhentikan lagi oleh Mas Rian. Ia kembali memanggilku. "Salma, tunggu sebentar," pintanya. "Ada apa, Dok?" tanyaku. Aku pun memutar kembali tubuhku, hingga seratus delapan puluh derajat. Kini Mas Rian berdiri dari duduk, lalu menghampiri aku ketempat aku berdiri saat ini. "Salma, jika kamu butuh apa-apa, kamu jangan sungkan untuk meminta bantuanku ya. Aku pasti akan dengan hati membantumu semampuku," pesan Mas Rian. "Iya, Dok, terima kasih ya," ucapku. "Sama-sama, Salma. Aku juga minta sana kamu, jika kita sedang berdua seperti ini, kamu tidak perlu memanggilku dengan sebutan Dokter. Kamu cukup memanggilku dengan sebutan, Kakak, Mas, atau Abang. Kamu paham kan, Salma," tanya Mas Rian. "Tapi itu tidak sopan, Dok," sahutku merasa keberatan dengan permintaan Mas Rian. "Tidak apa, Salma. Jika memang kita sedang berdua, kamu jangan terlalu menjaga jarak denganku. Aku harap kamu bisa menjadi temanku dan juga sahabatku. Jadi kalau kamu butuh teman untuk berbagi cerita, datanglah padaku. Biar aku bisa menjadi teman curhatmu," ujar Mas Rian. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN