Bab I - Pre Opening Hotel

3398 Kata
Di pagi yang cerah, di dalam gedung Hotel O beberapa hari sebelum soft opening. Riuh ramai karyawan yang sedang mengikuti training pre-opening hotel yang telah mereka jalani sejak sebulan lalu perlahan mereda tatkala seorang wanita maju ke depan untuk memimpin briefing. Wanita itu adalah Bu Widya, HRD Manager. Ditengah-tengah itu, beberapa calon karyawan mengobrol dengan berbisik-bisik. "Sher, cowok kamu juga kerja di sini, ya?" Tanya Waya pada Sherly. Bia yang duduk ditengah-tengah antara mereka terkejut, "Bener, Sher?" "Aku nggak punya cowok, Mbak. Kok mbak ngira aku punya cowok kerja di sini?" Jawab Sherly yang heran dengan pertanyaan Waya. "Tadi pagi di depan ruang HRD, aku lihat ada cowok, mirip sama foto di casing handphone-mu. Tapi aku juga baru pertama kali lihat dia di sini sih." Sherly segera melihat casing ponselnya. Terpampang foto aktor Korea, Hwang In Yeop. Tanpa aba-aba, ia dan Bia menutup mulut mereka untuk menahan tawa karena mendengar ucapan Waya yang terdengar tak masuk akal. Merekapun kembali menyimak ucapan Bu Widya sambil sesekali bercanda. "Hari ini kita juga kedatangan partner baru untuk bagian Training Officer di Human Resources. Kita langsung perkenalkan saja, ya. Mas Fauzan, silakan memperkenalkan diri." Ucap Bu Widya mempersilakan. Seorang pria yang sedari tadi duduk di deretan kursi paling depan bangkit dari tempat duduknya. Ia maju ke depan, kemudian berdiri di samping Bu Widya. Terdengar suara bisik-bisik karyawan lain melihat pria muda yang mempunyai proporsi tubuh layaknya model, serta wajah yang rupawan dengan kulit yang putih bersih. "Eh, eh, gila. Itu anak baru, lihat." Ucy yang duduk di samping Waya memekik dengan berbisik mengganggu Waya, Bia, dan Sherly yang masih asyik bergosip. Ia terlihat histeris menunjuk pria tadi. "Itu lho, maksud aku." Ujar Waya, sementara Sherly dan Bia hanya ternganga tak mempercayai pandangan mereka. "Selamat pagi, semuanya." Sapaan pria itu membuat suasana tiba-tiba hening. "Perkenalkan, Saya Fauzan - Training Officer dari departemen Human Resources. Salam kenal, semoga ke depannya kita bisa bekerja sama dengan baik." Ucapnya. Suara berbisik-bisik mulai menyeruak di seluruh bagian ruangan itu hingga Bu Widya mengambil alih, "Ada pertanyaan, nggak? Kalau ada yang mau ditanya ke Mas Fauzan, langsung aja. Jangan bisik-bisik." Ucapannya mengundang tawa kecil. Karyawan lain masih bergeming hingga Pak David, Executive Housekeeper, angkat bicara, "Kalau lihat ekspresi cewek-cewek, Saya yakin mereka ada satu pertanyaan, Bu." "Apa itu, Pak?" Tanya Widya penasaran. "Relationship statusnya gimana, Mas?" Lanjut Pak David memecahkan tawa seisi ruangan. Fauzan ikut tertawa kecil sebelum menjawab, "Lowong." Seisi ruangan pecah dengan suara tawa dan sorakan kegirangan karyawan-karyawan wanita. *** Diana memasuki Employee Dining Room (ruang makan karyawan) yang ramai karena jam makan siang. Baru saja masuk ruangan, sejenak suasana menjadi hening. Tatapan mata terpaku ke arahnya, terutama para karyawan pria. Diana memang memiliki paras yang cantik, namun tak ada laki-laki yang cukup berani mendekati Diana terutama untuk masalah asmara, karena karakternya yang dingin dan terlihat jutek dan hanya segelintir orang saja yang bisa akrab dengannya. Diana duduk di samping Arita setelah mengambil jatah makan siangnya. "Tadi pagi kenapa lo nggak ikut briefing?" Tanya Diana pada Arita sambil menyendok lauk di depannya. "Ngerjain tugas dadakan di office Front Desk. Pak Yusuf minta tugasnya selesai sebelum training departemen. Ngejar waktu karena sebentar lagi soft opening." Jawab Arita. "Permisi, di sini kosong?" Tanya seorang cewek pada mereka, menunjuk kursi di sebelah Arita. "Iya. Sini, makan bareng. Lo Winda dari departemen Laundry, kan?" Sapa Arita. "Lho, lo yang kemarin baru masuk kost, kan?" Tanya Diana setelah Winda menjawab Arita dengan anggukan. "Oh ya?" Arita yang menyewa kost di tempat yang sama pun terkejut. Winda melihat name tag yang dikenakan Diana sebelum akhirnya menjawab, "Iya, semalam baru pindahin barang ke kost. Mbak Diana lihat?" "Eeey, nggak usah panggil 'Mbak'. Semalam gue lihat dari jendela, karena udah malem banget jadi gue lanjut tidur, nggak sempat keluar buat nyapa." jawab Diana. "Ooh. Ngomong-ngomong, kalian dari departemen yang sama?" Diana menggeleng, "Nggak. Gue admin di departemen Food & Beverage. Kalo dia Guest Relation Agent di Front Office." Winda mengangguk, ia terlihat mengamati Arita sebelum akhirnya bertanya, "Hmm... Mbak, namanya siapa ya? Sorry, lupa." "Oh. Gue Arita, nggak usah pakai 'Mbak'." Jawab Arita. Ia akhirnya menyadari Winda mengamatinya untuk mencari name tag agar mengetahui namanya. Ia melanjutkan, "Name tag gue hilang. Padahal gue ingat tadi pagi udah bawa name tag. Mungkin jatuh di jalanan." "Makanya liver-liver." Sahut Diana. "Hah? Apa tuh?" "Hati-hati." Jawab Diana. Candaan garingnya membuat Arita dan Winda tertawa kecil. Di satu sisi, dekat pintu masuk EDR, Fauzan yang sedang melewati EDR tiba-tiba terhenti dan melihat ke dalam ruangan. Ia pun melangkahkan kakinya memasuki EDR membuat suasana seketika berubah. Terdengar bisikan-bisikan dan pandangan yang terarah padanya. Langkahnya lurus menuju ke salah satu meja di sana. Sesekali ia tersenyum menjawab sapaan karyawan padanya. Arita yang menyadari perubahan suasana itu menoleh ke arah dimana pandangan mata orang-orang tertuju dan melihat Fauzan yang ternyata menjadi pusat perhatian. Arita segera mengalihkan pandangan kembali ke makanannya ketika pandangan mata mereka bertemu. "Tadi pagi gue ketemu dia di HRD. Siapa sih? Karyawan baru? Atau dari kantor pusat?" Tanya Arita yang teringat kejadian pagi tadi yang membuatnya malu. "Fauzan. Karyawan baru, HRD." Jawab Diana. "Mbak, Mbak. Dia ke sini." Bisik Ucy histeris pada Waya yang sedari tadi duduk di seberang mereka. "Arita?" Fauzan tiba-tiba menyapa dari belakang, membuat Arita menoleh kaget. Tak hanya Arita, karyawan-karyawan lain nampaknya juga ikut tertegun sehingga suasana EDR sejenak menjadi hening. "Ya?" Arita menjawab heran, bagaimana Fauzan mengetahui namanya, padahal mereka belum berkenalan. Suara bisik-bisik kembali terdengar. Fauzan tersenyum. "Name tag kamu ketinggalan di HRD. Nanti diambil, ya." Ujarnya. "Name tag? Oh, ternyata di HRD ya." Ia teringat name tag miliknya yang ia kira hilang. "Kalau gitu, Saya pergi dulu ya. Silakan lanjut makannya." Ucap Fauzan masih dengan senyum. Kemudian ia berbalik pergi keluar. Meninggalkan suara bisik-bisik yang semakin memenuhi EDR. "Dia ke sini cuma buat itu?" Ucy heran. "Jago juga ya kamu modusnya." Ucap Waya dengan senyum, memandangi Arita yang bingung, sebelum akhirnya ia berdiri setelah menyelesaikan makan siangnya dan pergi diikuti Ucy. *** Hari sudah sore ketika Bia dan Sherly berjalan di koridor karyawan, menuju pintu keluar. Sudah lewat jam pulang. Karyawan yang lain telah membubarkan diri sejak setengah jam yang lalu. Saking asyiknya mereka bercanda hingga tak melihat di depan mereka ada Fauzan yang baru saja keluar ruangan HRD, hingga Sherly menabrak punggungnya membuat Fauzan sontak berbalik ke arahnya. Sherly yang terkejut mengetahui yang ia tabrak adalah Fauzan, tercengang hingga tak sadar ia menjatuhkan kertas-kertas materi training dari tangannya. Fauzan yang kaget melihat kertas-kertas berjatuhan sontak membantu mengumpulkannya, kemudian memberikannya pada Sherly yang masih terpaku. Ia tersenyum, "Maaf, ya." Ucapnya. "Ng... Nggak. Saya yang salah." Jawab Sherly gugup. Fauzan berbalik, hendak berjalan ke pintu keluar. Namun tiba-tiba Sherly memanggilnya. "Mas!" Fauzan menoleh, "Ya?" "M... 'Makasih, ya." Fauzan hanya menjawab dengan senyum simpul lalu berbalik kembali menuju pintu keluar, membuat jantung Sherly makin berdebar. Sherly meraih lengan Bia dan mencengkeramnya erat. "Biii... Biiiii... Deg-degan Biiii... Senyumnyaaa." Gumamnya gemas. "Ih, sakit." Bia berusaha melepas cengkeraman Sherly. Setelah sampai luar, Fauzan melihat sekeliling. Loading dock tepat berada di depan pintu masuk dan keluar karyawan. Diseberangnya terdapat smoking area khusus karyawan yang bersanding dengan area istirahat karyawan yang diletakkan tiga buah bean bag, dipisahkan oleh meja di tengah ruang yang tak terlalu besar itu, dengan beralaskan rumput sintetis. Berseberangan dengan area parkir karyawan. Pandangan Fauzan terhenti ke area istirahat. Ia melihat Arita sedang duduk di sana bersama karyawan lain. Fauzan pun menghampirinya. Sherly menarik Bia untuk mengikuti Fauzan dengan tetap menjaga jarak. Akhirnya mereka ikut masuk ke area istirahat. "Hei, Bia!" Sapa Diana pada Bia yang juga satu kost dengannya. Arita ikut menoleh, namun ia salah fokus pada Fauzan yang menghampirinya. Arita menatapnya dengan tatapan menyelidik. Menyadari tatapan itu, Fauzan tersenyum. Ia merogoh saku celananya, lalu mengulurkan sesuatu, memberikannya pada Arita. "Oh iya, name tag gue. Ya ampun, gue sampe lupa." Arita kegirangan mendapatkan name tag-nya kembali. Diana menyikut lengan Arita, membuatnya tersadar akan sikapnya. "Terima kasih, Pak." Ucapnya formal membuat Fauzan tertawa. "Nggak apa-apa, santai aja. Lagi pula udah di luar jam kerja." Jawabnya. Joseph yang sedari tadi berada di area merokok, mematikan batang rokoknya pada standing ashtray yang terletak di depannya, kemudian menyapa ke seberangnya. "Pulang ke mana, Mas? Jauh?" "Lumayan lah, naik bus 3 jam." Jawab Fauzan membuat yang lainnya tercengang. "Kenapa nggak nge-kost deket sini aja, Mas?" Tanya Joseph lagi. "Nggak usah panggil 'Mas', kita seumuran. Paling cuma beda 1 sampai 3 tahun." Jawabnya seraya mengambil tempat duduk. Ia melanjutkan, "Ini lagi nyari-nyari juga, sih. Kalau ada info, kabarin ya." "Di kost yang Saya tempatin aja. Lokasinya dekat sini, jalan kaki nggak terlalu jauh. Bagus kok. Kamar-kamarnya ada di dalam satu rumah, tapi kamar mandi dalam semua. Model asrama gitu, lah. Campur cewek-cowok." Joseph memberikan saran. Fauzan terlihat segan setelah mendengar kost itu campuran. Diana ikut angkat bicara, "Tapi aman, kok. Kost-nya ada CCTV di luar rumah sama di lorong kamar. Peraturannya juga satu kamar untuk satu orang, dan nggak boleh ngumpul di dalam kamar. Makanya kita pilih nge-kost di sana." "'Kita'? Emang siapa aja yang nge-kost di sana?" Tanya Fauzan membuat Diana, Arita, Winda, dan Bia mengangkat tangan secara serempak. Joseph berdiri dan mengenakan hoodie-nya, "Lihat-lihat aja dulu, nanti baru diputusin mau nge-kost di sana atau nggak." Ujarnya bagai sales kost. *** Hari soft opening Hotel O telah tiba. Bia dan Sherly berjalan beriringan menuju gerbang hotel. "Gue deg-degan, Bi." Ujar Sherly pada Bia. "Deg-degan kepikiran soft opening, atau kepikiran Mas Fauzan?" Ledek Bia dengan tawa kecil. "Iiih... Lo bikin gue inget aja, jadi tambah deg-degan." Sherly ikut tertawa membalas candaan Bia. Setelah memasuki gerbang khusus karyawan Sherly melanjutkan, "Gue jadi keinget lagi, waktu tabrakan sama Mas Fauzan itu kayak di film-film romantis gitu. Apa emang bener Mas Fauzan itu jodoh gue, ya?" Sherly tersenyum-senyum membayangkan Fauzan. Namun Bia menyikut lengan Sherly, menghentikan angan-angannya. Mata Bia mengarahkan pandangan ke area istirahat karyawan. Ada Fauzan yang sedang duduk di sana dihampiri Waya dan Ucy yang mengambil duduk didekatnya. Bia dan Sherly pun berpandangan dan segera menghampiri mereka. Terdengar Waya dan Ucy yang sedang memulai percakapan, "Aku Waya, Sales Executive dari departemen Sales & Marketing." "Aku Ucy, departemen Accounting." Mereka kemudian berjabat tangan dengan Fauzan. Melihatnya, Sherly juga mengulurkan tangannya untuk berjabat. "Kita juga belum kenalan ya, Mas. Aku Sherly dari departemen Food & Beverage." Ucapnya tak dapat menahan senyumannya yang mengembang karena Fauzan membalas jabatan tangannya, kemudian bergantian dengan Bia. "Aku juga dari Food & Beverage. Bia." "Oh, kalian satu departemen, ya." Jawab Fauzan. "Iya, aku Supervisor Banquet. Kalau Bia, Supervisor Resto." Fauzan mengangguk. Bia dan Sherly lalu mengambil tempat duduk. "Kalian barengan?" Tanya Waya kemudian. "Iya tadi aku samperin Bia di kost-nya, sekalian sarapan bareng." Jawab Sherly. "Oh iya, Mas Fauzan nggak jadi ngekost di sana ya? Emang lingkungannya nggak nyaman, sih. Aku juga niatnya mau pindah." Sahut Bia. "Jadi, kok. Tapi karena gue ikut room trial, jadi baru pindahnya nanti setelah check-out." Jawab Fauzan. "Oh berarti kamu nginep di sini juga kayak Department Head yang lain? Ehem, ngajak nginep siapa nih?" Ledek Waya. "Ya sendiri lah, Mbak. Masa iya ngajak nginep se-RT." Jawab Fauzan seadanya. "Hehehe... Kirain ngajak pacarnya." Goda Waya lagi. Ucy mencolek pelan lengan Waya, "Mas Fauzan kan belum punya pacar, Mbak." "Kalaupun punya juga bukan berarti bebas dibawa check-in. Nanti malah kena pelanggaran asusila, bisa dipecat lah gue. Lagipula ini kan untuk trial soft opening hotel, bukan untuk liburan." Jelas Fauzan, lalu berdiri. "Duluan, ya. Kalian juga siap-siap yuk buat acara soft opening." mengakhiri obrolan, Fauzan kemudian berjalan ke pintu masuk. "Iya, duluan aja." Jawab Waya. Sherly memandangi Fauzan hingga ia menghilang di balik pintu masuk, kemudian mengguncang-guncang bahu Bia. "Bi, apa gue juga nge-kost di sana ya?" Candanya pada Bia. "Lo yakin? Ya udah lanjutin kamar gue aja sana, 'kan gue juga mau pindah." Jawab Bia acuh tak acuh. "Yah, nggak jadi deh kalo lo pindah." "Lagian nggak enak di sana, orang-orangnya pada nggak seru." "Sayang banget, padahal ada Mas Fauzan." keluh Sherly. "Emang kenapa kalo ada Fauzan? Kamu naksir dia, ya...?" Waya tersenyum menggoda Sherly yang malu-malu. Ucy ikut menggoda, "Serius Sher? Wah, kamu harus nge-kost di sana tuh. Nanti keburu direbut orang, loh." Sherly terlihat murung dan menghela nafas, "Iya, ya? Yah... Orang seganteng itu pasti banyak yang deketin lah, ya." "Iya, Sher. Kemarin aja Arita udah modusin dia. Sampe dilihatin satu EDR." Ujar Ucy semakin asyik menggoda Sherly. "Yang bener, Cy? Arita kan juga nge-kost di sana. Oh iya, Diana juga kan, Bi?" Sherly yang terlihat galau membuat Waya dan Ucy menahan tawa mereka. "Emang kenapa kalau ada Diana? Dia cantik doang, tapi sombongnya minta ampun. Mana ada cowok yang mau sama cewek jutek begitu." Sahut Ucy. Waya kemudian berdiri dan mengambil tas di sampingnya masih terus menggoda Sherly, "Mana tau kan seleranya Fauzan kayak gimana. Hayo, keburu diembat lho nanti. Udah ah, aku masuk duluan. Yuk, Cy." "Duluan ya... Semangat, Sherly!" Ucap Ucy mengikuti langkah Waya. Mereka kemudian melangkah ke pintu masuk dengan tertawa-tawa kecil, sementara Sherly masih dengan kegalauannya. "Bi, gue mau nge-kost di sana ah. Lo jangan pindah ya, Bi. Temenin gue di sana ya, please...?" Rengek Sherly membuat Bia tercengang. *** Sabtu pagi di kost, beberapa hari setelah soft opening Hotel O. Arita berjalan melewati ruang tengah menuju teras dengan membawa secangkir teh manis yang baru ia seduh di dapur. Baru setengah jalan, ia terhenti karena melihat Fauzan yang berjalan di lorong kamar. "Loh? Jadi nge-kost di sini, Pak? Sejak kapan?" Tanya Arita heran. Fauzan tertawa, "Dibilangin jangan panggil 'Pak'." Ia berjalan menuju teras diikuti Arita sebelum melanjutkan, "Kemarin malam baru masuk, setelah pulang kerja." "Ooh." Pantas saja Arita tak tahu Fauzan sudah pindah ke kost, karena kemarin ia masuk shift sore. Arita lalu duduk di kursi sesampainya di teras, lalu menyeruput tehnya. "Mau teh?" Tawarnya pada Fauzan. "Nggak, 'makasih. Gue mau cari sarapan dulu. Mau ikut?" Arita menggeleng, "Nanti aja lah. Masih mager." Fauzan tertawa kecil. Ia lalu segera pergi setelah menyadari Arita yang terlihat sedang memandangi wajahnya. Arita kembali menikmati paginya dengan secangkir teh setelah akhirnya hari ini mendapat jadwal libur. Beberapa waktu kemudian, di tengah lamunannya, ia melihat Fauzan yang baru kembali dari membeli sarapan. Fauzan mengeluarkan dua bungkus nasi uduk dari dalam tasnya dan memberikan satu untuk Arita. "Dimakan, nih." Arita terkesan, "Lo beliin buat gue juga?" "Nggak kok. Nasi uduk di depan lagi promo buy 1 get 1 free." Jawabnya asal sembari membuka bungkusan nasi miliknya, membuat Arita tertawa. "'Makasih, ya" Lantas ia membuka bungkusan itu dan makan bersama Fauzan. Tanpa sadar, ia kembali memandangi Fauzan hingga Fauzan menyadarinya dan menegurnya. "Ada satu hal yang pengen gue tanya," ucapnya membuat Arita terkesima. Ia melanjutkan, "Kenapa sih lo sering ngelihatin gue dengan ekspresi mengamati begitu?" Dengan lugu Arita menjawab, "Karena lo mirip Hwang In Yeop." Fauzan tertawa menyeringai. Akhir-akhir ini ia memang cukup sering mendengar para karyawati memanggilnya dengan julukan itu, padahal ia juga tak tahu siapa dan bagaimana rupa aktor Korea yang mereka maksud itu. Arita melihat Fauzan, "Kenapa? Lo pikir gue naksir?" "Entah ya... Gue orangnya pemilih sih." Canda Arita lagi. "Gitu, ya? Tapi gue rasa, gue lebih ganteng." Ujar Fauzan iseng membuat Arita kembali mengamatinya, membuat Fauzan salah tingkah dan menyesali pernyataan isengnya tadi. "Emang sih, kalo lo ketawa lebih manis." Perkataan Arita yang datar dan serius sontak membuatnya tersedak. Arita membantu mengambilkan air putih untuk Fauzan. "Lo ngegombalin gue?" Tanya Fauzan takjub melihat Arita yang bisa mengatakan hal semacam itu dengan wajah datar. "Ngegombalin lo? Gue udah bilang, gue orangnya pemilih." Arita lanjut menikmati nasi uduknya tanpa rasa berdosa. Fauzan terdiam menatapnya. "Sebentar," Ucapnya tiba-tiba. Ia mendekat, mengulurkan tangan kanannya pada wajah Arita membuat Arita terkejut hingga menjauhkan wajahnya. "Ada nasi nempel," ucap Fauzan sambil mengambil sebutir nasi dari wajah Arita. Arita masih terdiam keheranan mengapa ia sekaget itu hingga debaran jantungnya masih terasa kencang, sementara Fauzan kembali melanjutkan makannya dengan santai. Menyadari Arita yang terdiam, Fauzan tersenyum padanya. "Nggak dimakan?" Tanyanya membuat Arita kembali tersentak. Akhirnya Arita kembali menyendok nasi uduknya dengan kikuk membuat Fauzan menahan tawanya. *** Hari sudah siang ketika Ibu kost datang bersama Bia dan Sherly. Mereka masuk ke dalam rumah kost. "Ini ruang tengahnya, Dek. Di sana dapur. Ada CCTV-nya juga ke arah lorong kamar. Untuk peraturannya sudah Ibu jelaskan tadi, ya. Nanti tanya-tanya Mbak Bia aja kalo kurang jelas." Jelas wanita paruh baya itu pada Sherly. "Sherly?" Panggil Arita yang sedang duduk di ruang tengah, di depan layar laptop berdempetan bersama Diana. "Oh. Hai, Ta. Di sini kost khusus karyawan Hotel O ya, Bu?" Sherly heran. "Nggak kok. Kebetulan aja yang nge-kost di sini karyawan Hotel O semua. Memang lokasinya paling dekat Hotel O, sih." Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terbuka, suara langkah kaki dari lorong kamar terdengar semakin mendekat. Jantung Sherly berdebar kencang. Ia berharap itu Fauzan, namun ia terlalu gugup untuk melihat siapa yang berjalan keluar di lorong kamar. Wajahnya menunduk dan memerah ketika sosok itu sudah berada tepat di sebelahnya. Dengan malu-malu, Sherly menengok perlahan pada sosok itu. "Lho, lho, lho, lho. Mbak Shierly nge-kost di sini juga, tho?" Sapa sosok itu pada Sherly yang ternyata adalah Genta, karyawan departemen Engineering yang menghancurkan ekspektasinya dalam sekejap. "Eh, Genta nge-kost di sini juga, ya?" Sapa Sherly dengan senyum yang dipaksakan. "Iya, dong. Aku berangkat kerja dulu ya Mbak Shierly. Mari Bu, Bi." Pamit Genta yang kemudian melenggang pergi dengan riang. "Sherly, bukan Shierly." gumam Sherly. Ibu kost bernama Astuti itu merogoh saku dasternya, kemudian memberikan sebuah kunci kamar pada Sherly. "Ini kunci kamar kamu, no. 6. yang paling pojok. Tenang aja, Ibu pastikan kamarnya bersih dan wangi. Ibu pergi dulu ya. Kebelet, udah nggak tahan." Ucapnya seraya bergegas keluar. Namun ia berbalik sebentar, "Bayar kost-nya di transfer ya, Nak. Nanti Ibu chat nomer rekeningnya." Kemudian Ibu Astuti kembali berlari keluar dengan tergopoh-gopoh. "Gue juga jalan dulu ya, udah hampir telat." Ucap Bia berpamitan pada Sherly, lalu segera berangkat kerja shift siang. "Welcome, Sher. Kalo butuh bantuan bilang aja, ya. Mau dibantu bawain tasnya?" Tanya Arita pada Sherly. "Ah, nggak apa-apa. Bisa sendiri kok. Ngomong-ngomong kalian lagi ngapain?" Tanya Bia menghampiri Arita dan Diana. "Streaming drama Korea, Sher." Jawab Arita. "Hah? Kalian nonton itu juga? Aku juga ngikutin. Udah update ya subtitle Indonesianya?" Sherly sumringah begitu melihat layar laptop di atas meja menayangkan drama Korea favoritnya. "Sini, nonton bareng." Ajak Arita. Sherly ragu, "Tapi gue belum beresin barang-barang." Diana dengan jengkel segera menyahut, "Udah masukin dulu aja tas lo ke kamar, terus langsung ke sini lagi. Beresinnya kan bisa nanti." "Oh, oke." Jawab Sherly yang langsung menerima saran Diana dan segera membawa tas-tasnya ke kamar. *** "Ya ampun, nggak berasa udah jam setengah 5 aja. Mana gue belum sholat ashar, Astaghfirullah." Pekik Arita yang lalai karena marathon streaming. "Ya udah sholat aja, gue lagi nggak sholat." Ucap Sherly sambil mengusap air matanya karena adegan sedih yang ia tonton tadi. "Gue juga mau mandi, ah." Ujar Diana, ia lantas berdiri dan bergegas ke kamarnya. "Kalo lo masih mau nonton, lanjut nonton aja Sher. Kalo laptop-nya udah selesai, chat gue aja ya. Nanti gue ambil." Ucap Arita sebelum pergi ke kamar. "Boleh nih? Oke Ta." Jawab Sherly riang. Sherly pun melanjutkan menonton streaming, menonton film Korea bertema mellow lagi. Ia sangat fokus menonton hingga tak terasa hampir satu jam telah berlalu. Perasaannya terbawa hingga ia mengeluarkan air mata ketika melihat adegan sedih. Tiba-tiba seseorang menyodorkan tissue dari samping kirinya. Sherly menengok, ia terkejut orang itu adalah Fauzan. "Nonton apa sih, dihayati banget?" Tanya Fauzan penasaran, ia mengintip layar laptop di hadapan Sherly. "E.. Eh.. Ini.. Drakor" jawab Sherly salah tingkah. "Makasih ya, tissue-nya." Ucap Sherly. Wajahnya menunduk, tak berani melihat Fauzan. Fauzan tak mendengar yang Sherly ucapkan padanya karena teralihkan oleh foto di casing ponsel Sherly yang berada di sampingnya. "Itu siapa?" Tanya Fauzan menunjuk ponsel Sherly. Sherly segera mengambilnya dengan salah tingkah. "Ini aktor Korea. Namanya Hwang In Yeop." Jawabnya pelan. Ia merasakan wajahnya memanas. Rasanya sama seperti tertangkap basah memasang foto Fauzan di casing ponselnya. "Oh, itu yang namanya Hwang In Yeop." Gumam Fauzan tersenyum. Ia tertawa kecil, lantas pergi sambil bersenandung. Sementara Sherly menutupi wajahnya dengan bantal. Tak lagi dapat fokus pada drama yang ia tonton. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN