Bab II - Pesta Penyambutan

3652 Kata
Ucy duduk di halte sambil menatap ponselnya menunggu balasan chat dari kekasihnya yang belum datang menjemput. Sesekali ia mencoba menelepon, namun tak ada jawaban. Ia sedikit panik karena tak ingin terlambat masuk kerja. Sambil menunggu, ia melihat sekeliling. Berharap kekasihnya segera tiba. Namun pandangannya terarah pada seorang pria dengan tampilan sangat sederhana yang menaiki motor matic. Ia berhenti di dekat pedagang asongan yang berada di sebelah bangku halte untuk membeli minum. Dilepasnya helm dari kepalanya, rambutnya terlihat berantakan. Bunyi telepon dari ponselnya mengalihkan pandangannya. Ia lekas menjawab panggilan telepon dari kekasihnya. "Kamu udah di mana sih? Bisa-bisa aku telat masuk kerja, nih. Mana jemputnya di halte gini, bukan di rumah." Ucy berbicara dengan nada marah. Dan semakin marah setelah mendengar jawaban dari seberang telepon, "HAH? BARU BANGUN? Yang bener aja kamu?! Bisa telat aku, mana hari ini Grand Opening hotel. Udahlah, aku naik taksi aja." Seketika ia menutup panggilan teleponnya. Ia segera beranjak, menoleh ke jalanan yang mulai macet, mencari jika ada taksi yang lewat. Namun bukannya taksi, justru pria berwajah kusam yang ia amati tadi menepi di depannya dan menyapanya. "Mbak kerja di hotel itu, ya?" Tanyanya sambil menunjuk goodie bag berlogo 'O Hotel' yang Ucy pegang sedari tadi. "Nggak." Jawab Ucy jutek. Ia ingin pria itu segera menjauh. Dalam benaknya berpikir, tak ada waktu untuk berbasa-basi, apalagi jika hanya untuk menggodanya. Pikirannya sudah kalut karena kelakuan kekasihnya tadi. Pria itu terkekeh, "Bukan mau nguping, tapi suara Mbak tadi gede banget sampai si abang kaget." Ia menunjuk pedagang asongan yang tersenyum mendengar ia disebut. Melihat Ucy yang mengacuhkannya, ia langsung menjelaskan intinya. "Saya juga kerja di hotel itu mulai hari ini. Nama Saya Kevin." Ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat yang dibalas Ucy dengan enggan. "Kamu keterima kerja di sana? Jadi karyawan?" Ucy menatap heran. "Iya lah, Mbak. Emang ada lowongan kerja jadi tamu?" Jawab Kevin dengan canda. "Kamu keterima kerja dibagian apa?" "Front Desk Agent, Front Office." Ucy menatapnya tak percaya dari kepala hingga kaki. "Makanya bareng aja, kebetulan Saya juga lupa jalannya. Maklum, dari luar kota." Ia mengambil helm dari dalam bagasi, dan menyodorkannya pada Ucy. Ucy ingin menolak, namun ia juga berpacu dengan waktu. Sementara sedari tadi belum ada taksi yang lewat, kecuali yang sudah terisi penumpang. Dengan terpaksa, Ucy meraih helm itu dan ikut naik ke atas motor. "Kalau ada info kost-kostan, kasih tahu ya, Mbak." Kevin memulai percakapan di tengah perjalanan. "Mas jangan ngajak ngomong dulu ya, Saya lagi pakai earphone." Jawab Ucy segera memasang earphone pada telinganya. "Shiyap, Bos." Jawab Kevin yang segera menarik gas. *** Fauzan memasuki Front Desk Office yang berada di belakang counter, setelah makan siang. Dilihatnya Arita bersama Kevin di depan layar monitor. Mereka tak menyadari kedatangan Fauzan dan nampak sedang berbincang. "Jadi lagi cari kost? Terus lo sekarang tinggal dimana? Nggak mungkin pulang ke luar kota, kan?" Tanya Arita antusias. "Dari kemarin sih gue nginep di rumah temen yang kebetulan tinggal di daerah sini juga, tapi jaraknya lumayan jauh. Nggak enak juga kan kalo numpang nginep terus." Jawan Kevin. "Ehm." Fauzan menghentikan obrolan mereka yang segera menoleh pada Fauzan. "Hei. Lagi keliling?" Sapa Arita. Fauzan menjawabnya dengan senyum, "Kalian berdua ngapain?" Tanyanya. "Saya lagi menjelaskan tentang basic system ke Kevin." "Lho, memang di system ada info kost-kostan?" Fauzan mengernyitkan dahinya. "Ah... Hahaha, nggak sih." "Kalo gitu ngobrolnya nanti aja ya di luar jam kerja." Ucap Fauzan membuat Arita dan Kevin terdiam dan saling melirik heran. Fauzan kemudian melanjutkan, "Oh iya, sorry ya belum sempat kasih pengenalan Hotel O karena masih hectic acara grand opening. Kalau nggak keberatan, nanti sore Saya minta waktunya untuk pengenalan hotel, bisa?" "Bisa kok, Pak." Jawab Kevin tanpa pikir panjang. "Oke, kalau begitu Saya pergi dulu." Pamit Fauzan sebelum keluar dari ruangan. "Dia kaku banget ya? Kelihatannya seumuran sama kita?" Kevin mengernyitkan dahinya heran, apakah Hotel di kota besar memang seformal itu? "Biasanya dia nggak gitu kok. Efek grand opening, mungkin?" Arita juga heran, namun ia tak ambil pusing dan kembali melanjutkan penjelasannya pada Kevin. *** Matahari telah terbenam saat Diana memasuki teras kost. Dia melewati Joseph dan Genta dengan cuek, lalu berpapasan dengan Fauzan dan Kevin di depan pintu. "Di, ini Kevin. Tadi udah pengenalan di hotel, kan? Dia mulai hari ini juga join di kost ini." Jelas Fauzan. "Hai." Ucap Diana singkat sambil melambaikan tangannya tanpa ekspresi, lalu kembali melenggang melewati mereka, membuat Kevin tercengang. Fauzan tertawa kecil, "Orang-orang di sini unik, kan?" Joseph tiba-tiba berteriak, "Malem ini kita minum yok. Sebagai perayaan sesama penghuni kost yang isinya anak hotel semua." "Oke! Perayaan satu kost sama cewek-cewek cantik!" Imbuh Genta. "Sekarang kost ini telah kita kuasai..!!! Hahahahahahaha" Joseph kembali berteriak, kali ini ia berdiri di atas kursi. "Apa sih, orang gila." Gumam Kevin. "Sorry, gue nggak minum." Jawab Fauzan. "Kenapa emangnya? Minum, tinggal minum." Joseph kecewa. "Selain karena dalam agama gue dilarang, itu juga prinsip gue." Kevin menengahkan, "Yaudah, nanti gue siapin wedang jahe buat lo." Ucapnya membuat teman-temannya tertawa. *** Arita dan Diana yang sudah janjian lewat chat untuk mencari makan malam terheran-heran melihat Joseph dan Genta yang sibuk mempersiapkan sesuatu dan beberapa botol dan kaleng minuman yang berada di atas meja ruang tengah. "Apaan nih? Gila, kalian mau pesta miras di sini? Gue laporin kalian ke polisi." Ujar Diana usai rasa terkejutnya hilang, ia mengambil ponselnya dari kantong celana. Dengan gesit Joseph menghampiri Diana dan menarik tangannya yang memegang ponsel, "Nggak, nggak, nggak. Bukan gitu. Kita cuma mau ngadain pesta penyambutan buat Kevin, kok." Jelas Joseph panik. "Terus kenapa harus minum bir? Banyak banget pula. Gila ya, kalian?" "Ada apa, Di? Kalian mau ikutan juga? Yuk." Sapa Fauzan yang baru kembali bersama Kevin dari membeli makanan kecil. "Ikutan? Kita? Ngapain juga kita ikutan pesta miras." Tolak Diana mentah-mentah. "Pesta miras?" Fauzan heran. Arita menunjuk ke meja makan agar Fauzan mengerti maksud Diana. "Gila! Kalian mau minum sebanyak itu??" Pekik Fauzan kaget. "Ya nggak semuanya sih. Ini display aja, display." Elak Joseph. "Bawa balik minumannya, Jo." Tegas Fauzan. "Kalian juga join, yuk?" Ajak Kevin. "Sorry, Kita nggak minum alkohol." Jawab Diana tegas. "Gue juga nggak kok. Makan-makan aja." Sahut Fauzan. "Mana ada yang tau minuman kita nanti dicampurin atau nggak." Jawab Diana lagi. Joseph menghela nafas. "Oke, oke. Gue singkirin, gue beresin minumannya." Ucapnya seraya mengambil minuman-minuman yang berada di atas meja dan memasukkannya ke dapur. "Eh, serius Jo? Terus kita minum apa?" Tanya Genta kecewa. "Es teler." Jawab Joseph asal. "Oke, gue setuju kita minum es teler. Anak baru yang beliin!" Seru Diana tiba-tiba dengan senyum lebar sembari menunjuk Kevin, membuat Kevin terkejut dan bingung. Sementara teman-teman yang lain bersorak gembira. "Kok gue?" Protes Kevin. "Ini kan pesta penyambutan lo," jawab Diana santai. "Siapa yang bilang?" Diana menjawab Kevin dengan menunjuk Joseph yang segera memalingkan wajahnya dari Kevin dan pura-pura tak melihatnya. "Rame banget, ada apa sih?" Tanya Sherly yang baru pulang kerja bersama Bia di tengah keriuhan ruang tengah. "Kevin mau traktir es teler. Kalian juga mau ikutan, nggak?" Jawab Arita menawarkan Sherly dan Bia. Baru saja Bia hendak menolak, Sherly langsung menjawab dengan semangat. "Mau, mau!" "Oke kalau gitu, kalian yang berangkaaat." Joseph mendorong Kevin dan Diana. "Kok gue jadi di-bully gini, sih?" Kevin heran. "Kan lo ada motor, jadi lebih cepat kan." Joseph beralasan. "Terus gue ngapain?" Diana lebih heran. "Ya lo bawain es nya, lah. Mana bisa gue bawa banyak sambil nyetir motor. Ayo cepet!" Jawab Kevin yang pergi dengan wajah masam. "Kita ngapain ikutan, sih?" Bisik Bia tak senang pada Sherly. "Nggak apa-apa lah, kayaknya seru. Kita juga nggak ngapa-ngapain kan? Lagi pula ada Fauzan." Jawab Sherly sumringah dengan berbisik. Ia lantas mengarahkannya pada Fauzan yang sedang membawa bungkusan makanan ke dapur dan menghampirinya. "Mas Fauzan ngapain? Sini, aku bantuin." *** Suasana ruang tengah kost saat itu ramai dan hangat. Mereka berbincang ringan sambil menikmati makanan dan es teler sambil sesekali bercanda. "Lo dadakan pindah ke sini hari ini?" Tanya Arita di tengah percakapan. "Ya, bisa dibilang begitu. Tapi gue udah info ke temen gue kok, biar dia nggak nyariin." "Jadi barang-barang lo masih di rumah temen lo?" Kali ini Joseph yang bertanya. "Nggak, barang-barang gue semua ada di tas itu." Kevin menunjuk ke pojok ruangan pada sebuah ransel hitam yang besar namun tampak terisi tak terlalu penuh. "Segitu doang? Lo dari luar kota, kan?" Diana heran. "Dari tadi belum lo masukin ke kamar itu tas?" Fauzan juga heran. "Badas! Santuy sekali hidup lo, bro! Gue suka gaya lo!" Joseph takjub dengan karakter Kevin. "Apa lo nggak terlalu santai? Gue perhatiin rambut lo juga agak panjang buat grooming hotelier. Lo pangkas lah sedikit." Ucap Fauzan. "Gue ada gunting, kok. Mau gue cukurin?" Diana menawarkan jasa pangkas rambut dengan santai. "Emang lo bisa?" "Seumur hidup gue belum pernah ke salon cuma buat potong rambut." Jawab Diana dengan percaya diri. "Lo potong sendiri?" "Nyokap gue yang potongin." "Nggak usah, 'makasih." tolak Kevin tanpa pikir panjang, lalu melanjutkan makan martabaknya. "First trial, gratis." Tawar Diana yang sejak dulu penasaran ingin mencoba mencukur rambut orang lain. "Oke!" Jawaban Kevin yang langsung setuju karena mendengar kata 'gratis' membuat yang lain terkejut namun juga penasaran dengan hasilnya. Sontak mereka segera menyiapkan kursi dan kain untuk menutupi badan Kevin agar tak terkena potongan rambut yang dicukur. Diana yang telah mengambil gunting kertas miliknya, bersiap menerjang rambut Kevin yang telah sedikit dibasahi. "Lo serius pake gunting itu?" Kevin kembali ragu. "Kenapa? Lo mau gue pakai gunting khusus daging? Nggak usah banyak protes, lihat ke depan!" Dengan sigap Diana memangkas rambut Kevin sedikit demi sedikit dengan disaksikan teman-temannya. Kini acara penyambutan Kevin telah berubah menjadi acara pemangkasan Kevin. Hingga selang beberapa waktu berlalu, Diana akhirnya telah menyelesaikan pekerjaan memangkas rambutnya dengan bangga. Teman-temannya pun takjub dengan hasilnya yang cukup rapi. "Nah, gitu kan lebih enak dilihatnya, rapi." Ucap Fauzan. "Wah, boleh tuh. Gue juga mau lah, gratis kan?" Genta semangat. "Gratis cuma untuk percobaan pertama. Sekarang tarifnya 100k." Jawab Diana dengan menyeringai. "Nggak jadi." *** Malam semakin larut, acara makan-makan pun telah usai. Para penghuni kost merapikan ruang tengah. Beberapa telah kembali ke kamar setelah membersihkan ruang tengah. Sherly pun berjalan membawa tumpukan piring kotor terakhir dari atas meja, namun Fauzan menghampirinya. "Sini, biar gue aja." Ucapnya, langsung mengambil tumpukan piring kotor dari tangan Sherly. Sherly yang sumringah segera menghampiri Bia yang menunggunya di dekat lorong. "Bi, lo lihat kan? Fauzan bantuin gue, Fauzan bantuin gue." Pekiknya pelan dengan ekspresi bahagia. Bia menyeringai, "Lo yakin maksudnya begitu?" Bia mengarahkan matanya ke dapur yang pintunya terbuka lebar, memberikan isyarat dengan wajahnya agar Sherly melihat ke sana. Di dapur, mereka melihat Fauzan yang sedang membantu Arita mencuci piring sambil berbincang dan tertawa. Membuat Sherly seketika kehilangan ekspresinya yang tadi begitu gembira. Ia hampir saja menghampiri ke dapur, namun dihalangi oleh Bia. "Lo mau ngapain lagi? Udah cukup lo ngejatuhin harga diri. Udah ayo, masuk." Bia menarik tangan Sherly. Sementara Diana masih duduk memainkan ponselnya di ruang tengah. Menyadari Kevin ikut duduk di seberangnya, Diana teringat sesuatu. Diana membuka tas kecilnya, lalu mengambil pembersih wajah khusus pria serta beberapa produk perawatan wajah, lalu meletakkannya di meja. "Ambil." Ucapnya pada Kevin, lalu kembali sibuk pada ponselnya. "Apa ini? Bonus potong rambut?" Tanya Kevin. "Anggap aja begitu, dan juga traktirannya." "Padahal gue cuma traktir es teler." Diana menghela nafas, berhenti memainkan ponsel. "Gue beli ini sekalian beli cemilan tadi waktu nungguin lo beli es teler." Namun Kevin diam tertegun. "Nggak usah mikir aneh-aneh. Gue geregetan aja lihat orang yang nggak ngejaga penampilannya." Jelas Diana agar Kevin tak salah paham. Ia melanjutkan, "Ah, nggak usah dipikirin. Gue dikasih diskon 80% kok karena udah mau kadaluarsa. Jadi pakai yang banyak dan cepat dihabisin, ya. Kalo udah habis, beli sendiri." Diana tersenyum lebar. "Lo sebenarnya mau berbuat baik atau berbuat jahat ke gue, sih?" Gumam Kevin heran. Setelah Arita dan Fauzan selesai mencuci piring dan kembali ke kamar mereka masing-masing, ruang tengah kost semakin sepi. Kini hanya tinggal Diana dan Kevin yang ada di sana. Kevin berdiri, "Gue duluan ya," ucapnya hendak melewati Diana untuk menuju ke kamar. Dengan cepat Diana menarik pergelangan tangan Kevin, menghalanginya pergi. "Jangan pergi. Temenin gue dulu." "Ngapain?" "Gue belum ngantuk." "Terus kenapa lo di sini, nggak ke kamar aja?" "Nanti gue ke kamar kalo udah ngantuk, supaya bisa langsung tidur." "Hah?" Kevin tak mengerti. "Dia nggak mau sendirian, takut hantu. Udah tinggalin aja," Sahut Winda yang baru saja pulang kerja dari shift siang. Diana langsung menoleh ke arah Winda di pintu depan dan mengejarnya. "Winda temenin gue, Winda!" "Ogah! Gue capek, mau tidur." Winda acuh, berjalan ke arah kamarnya. Tak memedulikan Diana yang membuntuti di belakangnya. "Please dong, temenin. Besok gue beliin sarapan." "Gue lagi diet. Udah ah, gue ngantuk." "Ayo dong, Winda." Diana menyeret-nyeret lengan Winda untuk kembali ke ruang tengah. "Apa sih, ngeselin lu!" "Gue cuciin deh baju lo, daleman lo juga." Kevin tertawa geli melihat kejadian itu. *** Beberapa karyawan asyik berbincang sambil menikmati makan siang di Employee Dining Room (EDR). "Gimana Sher, sama Fauzan? Kamu sampe ngekost di sana pasti banyak kemajuannya dong?" Tanya Waya di tengah obrolannya setelah selesai makan siang. Pertanyaan Waya seketika membuat Sherly terlihat murung teringat kejadian beberapa hari yang lalu. "Boro-boro lancar, malah ditusuk dari belakang." Bia menggantikan Sherly menjawab pertanyaan dari Waya. "Hah? Maksudnya?" Ucy penasaran. "Gue tuh udah heran sama lo Sher, kenapa lo jadi akrab sampe ikut ngumpul-ngumpul sama mereka dan maksa gue ikutan. Sekarang lo rasain tuh ditusuk dari belakang sama Arita." Bia mengeluarkan uneg-unegnya. "Hah? Serius? Kan, udah dibilangin Arita modusin Fauzan. Terus gimana Sher? Lo mau pindah?" Ucy makin penasaran. "Kalau gue pindah, nanti mereka malah makin deket, dong." Sherly makin murung. Obrolan mereka terhenti kala seorang pria memasuki EDR. Dia mengenakan seragam Front Desk Agent dengan setelan jas slim fit berwarna hitam yang dipadukan dasi slim dengan warna yang senada. Rambut di-pomade dan sepatu pantofel menambah pesonanya. Ditambah wajahnya yang kini bersinar, tak lagi kusam. Hingga tak sadar Ucy berdiri, "Kevin?!" Pekiknya membuat Kevin menoleh ke arahnya. Namun tak hanya Kevin, suara Ucy membuat orang-orang yang berada di EDR ikut menoleh. "Hei, Mbak Ucy." Jawab Kevin setelah membaca name tag yang dikenakan Ucy. Bukan tak ingat, justru Kevin belum tahu namanya. Karena saat Kevin memboncengnya beberapa hari lalu, mereka sama sekali tak berbincang sepanjang perjalanan. Ucy pun tak memperkenalkan dirinya. "Kamu masih nyari tempat kost?" Tanya Ucy setelah secepat kilat mencari alasannya memanggil Kevin karena tak ingin salah tingkah. "Nggak, Mbak. Udah dapet kok." Jawabnya. "Oh, oke." Ucy mengakhiri pembicaraan dan kembali ke tempat duduknya. "Lha, dia kan satu kost sama aku, Cy." Sahut Sherly dengan mengecilkan volume suaranya. "Serius?" Ucy kaget. "Iya. Kita tuh ngumpul-ngumpul di kost karena itu acara penyambutan dia." Kali ini Bia yang menyahut. "Wah, ada apa nih Cy?" Waya tersenyum curiga. Ucy mengulum senyumnya. "Jangan ngomongin di sini. Eh kita bikin grup chat, yuk." Usulnya. "Boleh, boleh. Biar makin puas kalau mau ngegosip," jawab Bia mengundang tawa teman-temannya. "Kamu yang bikin aja Cy, nanti invite aku." Ucap Waya. "Isi chat aku udah penuh grup nih. Grup departemen juga." Keluh Sherly. "Aah tambah satu lagi grup chat isi kita berempat aja nggak apa-apa, kali. Nanti ketinggalan info terkini, lho." Ujar Waya membuat teman-temannya kembali tertawa. *** "Jadi kamu nggak bisa jemput lagi?" Tanya Ucy pada kekasihnya melalui percakapan di telepon. Ucy menghela nafas mendengar penjelasan kekasihnya, "Iya ini aku udah di loker, udah mau keluar. Yaudah lah kalau nggak bisa jemput. Kamu juga hati-hati, ya." Ucapnya mengakhiri percakapannya. "Kamu nggak dijemput lagi sama cowokmu?" Tanya Waya yang sedari tadi mendengarkan Ucy. Mereka berjalan keluar ruang loker sebelum Ucy menjawab, "Nggak, Mbak. Dia ada urusan mendadak. Biarin lah, aku naik taksi aja." Jawab Ucy pasrah. "Bareng aja sama Kevin." Seru Waya tiba-tiba membesarkan volume suaranya begitu melihat Kevin yang hendak masuk ruang loker pria. Ucy terkejut melihatnya hingga tak mampu berkata-kata. Kevin langsung menghentikan langkahnya tepat sebelum ia memasuki ruangan. "Hah?" Ia bingung Waya tiba-tiba menyebut namanya. Waya tersenyum padanya, "Kevin udah mau pulang juga, kan?" Tanya Waya. "Iya sih." "Anterin Ucy tuh. Kasihan dia pulang sendiri, rumahnya jauh. Kamu bawa motor, kan?" "Iya. Ayo aja kalau mau dianterin. Tapi tunggu gue ganti baju dulu." Jawab Kevin santai. *** Ucy duduk di jok belakang motor Kevin dengan gugup. Kesannya pada Kevin berbeda dengan saat awal pertemuan mereka. Setelah Ucy melihat Kevin dengan setelan jas saat itu dan ditambah potongan rambutnya yang sudah rapi, sekarang Kevin terlihat lebih keren. "Kamu nge-kost di mana?" Tanya Ucy walau sudah tahu, untuk memulai percakapan di atas motor. "Deket hotel, tempat Fauzan nge-kost juga." Jawab Kevin. "Lho, kamu jadi bolak-balik karena nganterin aku dong?” "Nggak masalah," jawabnya singkat. "Sorry ya, jadi ngerepotin." "Jangan sungkan, Mbak." Kevin kemudian beralih ke percakapan lain, "Nggak dijemput lagi, Mbak?" Ucy tercekat dengan pertanyaan Kevin, "Udah putus." Jawabnya cepat. Ucy pun kaget dengan jawabannya yang tiba-tiba dan tanpa pikir panjang. Entah mengapa ia berbohong seperti itu. "Oh." Ucap Kevin singkat. Mereka kembali terdiam. "Eh, kamu oke lho kalau pake jas." Ucy mengalihkan percakapan. "Kalo nggak pake jas, nggak oke Mbak?" Ucy tertawa kecil, "Kasih tahu nggak, ya..?" Candanya. Kevin membalas dengan tawa ringan. Beberapa lama kemudian mereka sampai di gerbang rumah Ucy. "Makasih ya, udah dianterin." Ucap Ucy dengan senyum sambil mengembalikan helm Kevin setelah turun dari motor. "Iya Mbak. Saya langsung balik, ya." Izin Kevin, lantas memutar balik motornya. Kevin berlalu bertepatan dengan panggilan telepon masuk dari kekasih Ucy. Tak langsung menjawab, Ucy berjalan ke gerbang rumahnya dengan perlahan. Sambil memasuki gerbang, Ucy akhirnya menjawab panggilan yang tak kunjung berhenti itu. "Halo? Halo?" Sapa suara di seberang telepon yang tak dibalas oleh Ucy. Ia tak mengucapkan sepatah katapun, hingga akhirnya kekasihnya yang berbicara lebih dulu. "Babe, maaf ya nggak jadi jemput lagi. Kamu dimana? Udah sampai rumah? Chat aku kok nggak dibales?" Tanya suara di seberang telepon. "Kita putus." Jawab Ucy tiba-tiba, ia langsung menutup sambungan telepon dan mematikan daya ponselnya. Perasaannya terombang-ambing pada senja itu. *** Sudah sekitar pukul delapan malam saat Fauzan keluar kost dengan mengendarai motor Kevin untuk membeli makanan titipan teman-temannya yang akan kumpul-kumpul lagi di ruang tengah. Di jalan sekitar hotel, ia menepi setelah melihat Arita yang berjalan di trotoar, baru saja pulang dari middle shift. "Arita!" Panggilnya. Arita menoleh dan sedikit terkejut. "Hei! Lagi keluar?" Tanya Arita melihat Fauzan. "Iya. Mau bareng, nggak? Tapi temenin beli makanan dulu." "Oke!" Jawab Arita tanpa pikir panjang. Fauzan mengambil helm yang selalu disiapkan Kevin di bagasi motornya, dan memberikannya pada Arita. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan. *** Sherly dan Bia memasuki kost. Joseph dan genta sedang mengobrol, sedangkan Kevin memejamkan matanya dan bersandar pada sofa. Melihat beberapa kaleng minuman, yang tak sebanyak kemarin, dan sebotol cola berukuran 1 liter di atas meja, membuat Sherly bertanya. "Kalian mau bikin acara lagi?" "Iya dong, melanjutkan acara khusus cowok-cowok yang tertunda." Jawab Joseph. "Hah? Acara apa lagi?" "Pesta bujang." Jawab Genta asal. "Hah? Emang siapa yang mau nikah?" Tanya Bia yang baru saja mengambil piring dari dapur dan memberikannya satu untuk Sherly. "Berisik lu ah." Genta mulai kesal merasa diinterogasi. "Kalian minum bir pakai cola?" Bia menunjuk botol cola yang terselip di antara minuman. "Buat Fauzan. Dia nggak bisa minum alkohol." Jawab Joseph. "Udah ya, ladies. Kalian masuk kamar aja sana." Usir Genta. "Kita kan mau makan dulu." Tolak Sherly. "Makannya di kamar masing-masing aja, ya." Genta mendorong Bia dan Sherly membuat mereka terpaksa berjalan masuk. "Biarin aja mereka makan di sini dulu kali, Gen." Ujar Joseph. "Berisik Jo, banyak tanya." Genta kesal. Kevin yang terpejam sejak pulang tadi, berdiri. Ia berjalan ke lorong kamar. "Mau ke mana, Kev?" Tanya Joseph. "Rebahan dulu 'bentar." "Gue juga mau boker dulu, ah." Genta mengikuti Kevin. "Yaaah. Yaudahlah gue juga mau pacaran online dulu." Joseph juga berjalan ke kamarnya sambil menekan tombol video call pada kontak kekasihnya. Sementara itu, di kamar Sherly yang sedang menikmati makan malamnya. Tring. Masuk sebuah notifikasi chat grup yang dibuat oleh Ucy. "Tumben Mbak Waya ngirim gambar." Ia pun membukanya. Namun nafsu makannya seketika hilang setelah melihat gambar kiriman dari Waya: foto Fauzan yang sedang memberikan helm pada Arita di jalan sekitar hotel. "Fauzan jemput Arita?" Tulis waya pada caption foto itu. Hati Sherly terasa panas, hingga ia merasa pengap berada di kamarnya. Rasa kesal memenuhi pikirannya. Ia segera keluar dari kamar, menuju pintu kamar Bia dan mengetuknya. "Biiii." Panggilnya pelan. Pintu segera terbuka. "Biii..." Wajah Sherly memelas. Bia mengerti apa yang dirasakan temannya yang sudah ia kenal sejak masih sekolah menegah itu. Ia mengambil ponselnya dan kembali keluar kamar. "Ayo kita cari angin." Ajaknya. Sherly mengangguk. Baru saja mengunci pintu, terdengar suara motor berhenti di gerbang kost. Bia dan Sherly berpandangan. Mereka berjalan keluar. Benar saja, tepat di ujung lorong kamar, mereka berpapasan dengan Arita dan Fauzan yang baru saja memasuki kost, mereka pulang bersama. "Loh, cowok-cowok pada kemana?" Tanya Fauzan heran melihat ruang tengah yang sepi. "Pada masuk ke kamar." Jawab Bia. "Oh, okelah. Gue juga masuk dulu, ya." Fauzan pun berjalan melewati mereka. "Ke kamar juga, Mas Fauzan?" Tanya Bia. "Iya, mau mandi dulu." Jawab Fauzan yang berjalan masuk. "Kalian mau keluar?" Tanya Arita pada Bia dan Sherly. "Iya, mau makan di luar. Lo mau ikut? Eh, udah makan di luar sama Fauzan, ya." Sindir Bia. "Nggak kok, ini gue beli buat makan di kost. Gue mau ambil piring dulu, ya." Jawab Arita yang tak menangkap sindiran Bia. Mereka saling melewati. Arita berjalan ke dapur. Sementara Sherly dan Bia berjalan keluar. "Ya ampun, piring kotornya pada numpuk. Cuciin dulu, deh." Arita langsung membuka keran untuk mencuci piring. Saat sampai teras, tiba-tiba Sherly menghentikan langkahnya. Ia kembali masuk ke dalam ruang tengah. Diambilnya sekaleng bir, membukanya, lalu mencampurkannya ke dalam botol cola hingga terisi penuh. Ia meletakkan kembali kaleng bir itu ke atas meja, lalu dengan cepat ia berjalan kembali keluar menghampiri Bia yang tercengang melihat apa yang dilakukan oleh temannya itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN