"Gue udah gila ya, Bi?" Sherly menggumam dengan tatapan kosong ketika telah berjalan hingga depan gerbang.
Bia tak menjawab, tak tahu harus berkata apa.
"Menyedihkan banget sih gue." Sherly berbalik, hendak masuk kembali.
Namun Bia menarik tangannya,
"Lo mau ngapain? Minumannya udah kecampur."
"Mau gue buang."
"Terus lo mau jawab apa kalau anak-anak lihat lo terus nanya?"
Dari pintu kost yang terbuka, mereka melihat Arita yang baru saja keluar dari dapur dan menyapa Fauzan yang baru kembali ke ruang tengah.
Melihat hal itu, Sherly menyadari bahwa hal itu pun sudah terlambat untuk dilakukan.
Bia melanjutkan,
"Udah lah. Cuma sekaleng bir aja, dia nggak akan kenapa-kenapa."
Ia pun segera menarik Sherly pergi.
***
Fauzan memegangi kepalanya ditengah kumpul-kumpul bersama teman-temannya.
"Kenapa lo, Jan? Pusing?" Tanya Kevin melihat Fauzan yang sayu.
"Nggak tau nih. Mungkin karena gue nggak biasa tidur kemalaman. Perut gue juga nggak enak rasanya."
"Oalah Mas Fauzan. Nggak bisa begadang, tho." Sahut Genta.
"Lo nggak apa-apa?" Joseph khawatir.
"Ya udah, nggak usah dipaksain. Istirahat aja." Saran Kevin.
"Iya. Gue masuk dulu ya, all."
Fauzan pun berjalan pergi ke kamarnya, bertepatan dengan Bia dan Sherly yang baru kembali.
"Kenapa Fauzan?" Tanya Bia pada cowok-cowok yang berkumpul di ruang tengah.
"Nggak tau, tiba-tiba nggak enak badan." Jawab Kevin yang juga heran.
"Padahal tadi masih segar-segar aja." Sahut Genta.
"Wah, kenapa tuh? Jangan-jangan ada yang masukin alkohol ke gelasnya?"
Sherly yang kaget mendengar ucapan Bia, menepuk pelan lengannya.
"Nggak mungkin, lah! Emangnya ini cerita novel?" Elak Joseph.
Namun Kevin segera meraih gelas Fauzan, mencicipi sisa minumannya. Setelah ia rasa-rasakan, ia mengambil botol cola dan membaui ujung lubangnya.
"Gila ya, kalian?!" Pekiknya kemudian pada Joseph dan Genta yang kaget dan bingung.
"Kalian masukin bir ke dalam sini?" Kevin meminta penjelasan mereka.
Sherly tersentak menahan tangis, Bia mencoba menenangkan dengan menggenggam erat-erat tangannya.
"Gila, kali! Lo kan juga tau tadi botolnya masih di segel." Elak Joseph, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu yang janggal.
"Kalo dipikir-pikir, waktu Fauzan buka botolnya tadi emang kayak udah terbuka. Dan isinya terlalu penuh juga, nggak seperti waktu kita tinggal sebelumnya."
"Iya bener! Waktu kita ke ruang tengah lagi juga udah ada kaleng yang kebuka, padahal kita belum minum sama sekali! Pantesan tuh aneh banget." Genta menambahkan.
Kevin tak terlalu memerhatikannya sejak tadi, namun ia merasa Joseph ada benarnya.
"Kalian yakin nggak terlibat?" Kevin memastikan.
"Ya nggak, lah! Gue kalo ngisengin orang juga, isenginnya yang masih bermoral." Tegas Kevin.
"Lagian kan lo juga tau, kita bareng-bareng jalan kamar tadi. Baru keluar kamar lagi juga bareng-bareng setelah Fauzan chat tadi." Genta juga tak merasa bersalah.
"Terus apa dong? Masa iya Fauzan sendiri yang oplos?" Joseph bingung.
"Nggak mungkin, lah. Dari awal kan dia yang nolak minum alkohol." Jawab Kevin.
Mereka terdiam. Pikiran Kevin semrawut. Ia lantas menengok pada Bia dan Sherly yang terlihat tak nyaman.
"Terus, kalian berdua bukannya tadi udah masuk ke kamar?" Tanya Kevin dengan tatapan menyelidik.
Sherly menghindari tatapan mata Kevin. Namun Bia dengan sigap menjawab pertanyaan Kevin.
"Kita memang keluar lagi buat cari angin. Tapi tadi di sini kita berpapasan sama Arita dan Fauzan. Dan Arita adalah orang yang paling akhir di sini setelah kita keluar."
"Berarti pelakunya Arita?" Genta kaget.
"Ya nggak bisa langsung disimpulkan begitu, belum ada buktinya juga." jawab Kevin bimbang.
"Terus gimana, nih? Kita kasih tau Fauzan?" Tanya Joseph.
"Jangan dulu, biarin dia istirahat dulu. Besok pagi, kita jelasin pelan-pelan. Gue juga mau istirahat."
Kevin mengakhiri pembicaraannya. Ia pergi menuju kamarnya diikuti yang lain.
"Bi, perasaan gue nggak enak. Gue takut." Bisik Sherly.
"Udah lo tenang aja. Biar gue yang urus sisanya." Bia menenangkan Sherly.
"Gara-gara gue, lo jadi terlibat." Sherly menyesal.
"Nggak lah. Gue juga lama-lama nggak suka Arita. Kecentilan. Nggak peka. Udah yuk, masuk."
Mereka pun masuk ke kamar masing-masing.
***
Dengan pakaian rapi Fauzan keluar dari kamar, siap untuk berangkat kerja. Di ruang tengah, ia melihat Kevin, Joseph, dan Genta yang duduk di sofa ruang tengah menunggunya.
"Tumben pagi-pagi kalian ngumpul di sini?" Sapa Fauzan pada mereka.
"Gimana? Udah enakan?" Tanya Kevin.
"Alhamdulillah udah."
"Minuman lo kemarin dicampur alkohol Pak." Ucap Genta tiba-tiba, mengagetkan mereka semua.
"Hah? Serius?" Fauzan menengok pada Kevin.
Kevin hanya menghela nafas. Seketika emosi Fauzan tersulut.
"b******k! Kalian kan tau gue nggak minum alkohol! Kalian kira itu bisa jadi bahan bercandaan?!"
Bentakan Fauzan membuat Bia dan Sherly yang baru saja keluar kamar tersentak. Bia menarik Sherly namun Sherly menolak ikut. Ia mematung di depan kamarnya, antara penasaran akan seperti apa, namun juga ia sangat takut.
Akhirnya Bia memberanikan diri melangkah menuju ruang tengah.
"Bukan kita, Jan! Kita juga baru tau setelah Kevin semalem nyicipin minuman di gelas lo. Dan saat itu kita juga baru sadar botol colanya terlalu penuh nggak kayak biasanya dan ada kaleng bir yang terbuka sebelum kita mulai minum-minum." Jelas Joseph.
"Terus siapa yang campurin? Nggak mungkin kecampur sendiri kan?"
"Ada apa ini?" Bu Astuti datang karena mendengar keributan dari rumahnya yang terletak di sebelah kost.
"Ah! Bu Tuti, bisa nggak kita lihat rekaman CCTV semalam?" Tanya Kevin to the point.
Seketika air muka Bia berubah, namun ia mencoba tetap tenang. Sementara Sherly yang mendengar di lorong kamar mulai mengeluarkan air mata.
"A.. Anu... CCTV-nya rusak dari dua hari yang lalu. Saya mau benerin belum sempat-sempat." Jawab Bu Tuti merasa tak enak hati.
Bia menunduk tersenyum kecil.
"Nggak perlu CCTV. Arita pelakunya. Aku dan Sherly saksinya."
"Nggak mungkin Arita. Apa buktinya?" Fauzan tak percaya dengan ucapan Bia.
"Kenapa nggak mungkin? Karena kalian dekat? Bukannya orang yang paling dekat justru yang bisa bercanda kelewatan? Emang kalian udah kenal berapa lama sampe Mas Fauzan yakin dia nggak akan kayak gitu?"
Arita keluar kamarnya karena mendengar sayup-sayup suara keributan yang ia yakini berasal dari ruang tengah.
Baru saja membuka pintu kamar, Arita dikejutkan oleh Sherly yang berjongkok di pojok lorong kamar. Tangannya terlihat gemetar, ia menangis dan terlihat ketakutan.
Lantas Arita menghampiri Sherly terlebih dahulu, ikut berjongkok di depannya.
"Ada apa..?" Tanya Arita khawatir.
"...Fauzan.. Fauzan marah..." Jawab Sherly dengan menunduk, wajahnya pias.
Arita merasa kasihan pada Sherly. Ia mengetahui bahwa Sherly orang yang sensitif setelah melihatnya menangis tersedu-sedu saat melihat adegan sedih dalam drama Korea.
Diusap-usapnya pelan pundak Sherly, lantas berdiri dan menuju ruang tengah untuk mencari tahu mengapa Fauzan marah hingga bisa membuat orang yang melihatnya setakut itu.
"Kamu ingat kan Mas, semalam kita papasan di sini? Kamu, Arita, aku, dan Sherly." Bia memulai penjelasannya.
"Kamu masuk duluan ke kamar, setelah itu aku sama Sherly keluar. Aku dan Sherly adalah saksi yang lihat Arita orang terakhir yang ada di ruangan ini."
Bia terkesiap dan langsung terdiam ketika menyadari Arita sudah berada di belakangnya. Arita yang bingung mendengar namanya disebut, terdiam berusaha membaca situasi. Kini pandangan semua orang tertuju padanya.
"Bener, Ta?" Tanya Fauzan pelan. Setelah mengingat, saat ia kembali ke ruang tengah semalam memang hanya ada Arita. Namun Fauzan meragukannya melakukan hal itu saat mengingat sapaan Arita dengan senyum polosnya.
Arita terdiam melihat tatapan teman-teman di sekitarnya. Ia masih belum menangkap permasalahannya, masih mencerna hal yang Bia katakan. Memang apa masalahnya kalau dia orang terakhir di ruangan ini?
Baru saja Kevin hendak menjelaskan, Bia sudah mencecar Arita.
"Kenapa malah diam aja? Jawab aja bener atau nggak." Ucap Bia sinis.
Namun hatinya gundah karena membuat gambling pada dirinya sendiri, sejauh mana Arita mendengar ucapannya tadi.
Sementara Arita tersentak dengan ucapan Bia, merasa dihakimi. Emosinya pun tersulut.
"Terus emang harus dibesar-besarkan? Emangnya selesain masalah harus dengan menghakimi gini? Nggak ada cara yang lebih dewasa?"
Bia terdiam menahan senyumnya. Ia tak menyangka Arita justru memberikan jackpot.
"Hah." Fauzan tertawa getir, tak percaya dengan yang baru saja Arita katakan.
"Terus menurut lo, masukin alkohol diam-diam ke minuman orang yang nggak mau minum alkohol itu cara yang dewasa?" Fauzan menatap Arita tajam.
Arita terdiam. Alkohol? Ia tak salah dengar? Kenapa tiba-tiba alkohol?
"Ini udah kelewatan untuk sekedar jadi bahan bercandaan. Lo kan juga muslim, harusnya lo sadar apa yang lo lakuin!" Bentak Fauzan sebelum sempat Arita memahami permasalahannya.
Ia lantas pergi keluar dari kost. Sementara Arita hanya terpaku.
Kevin segera menyusul Fauzan, diikuti dengan Joseph. Sementara Genta kembali ke kamarnya. Bu Astuti mengusap-usap pelan punggung Arita sebelum pergi keluar.
Bia pergi menghampiri Sherly, setelah itu mereka juga masuk ke kamar masing-masing.
Sementara Diana yang baru keluar dari kamarnya menghampiri Arita yang belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"Ada apa sih, Ta? Kok berisik banget tadi?"
"Gue bahkan nggak tahu sebenarnya ada apa?" Jawab Arita lemas.
Ia melanjutkan,
"Gue tiba-tiba dituduh campurin minuman Fauzan pakai alkohol."
"Hah? Kok bisa? Kalo bukan lo yang lakuin, ya bilang ke Fauzan lah."
"Nggak, jangan dulu. Fauzan nggak akan mau dengar, dia lagi emosi. Gue juga nggak punya bukti. Yang ada nanti dikira gue cuma beralasan." jawab Arita pasrah.
Diana tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, namun ia percaya Arita tak akan melakukan hal seperti itu. Ia menyesal tak tahu harus melakukan apa untuk membantu temannya.
"Udah yuk, nanti aja dipikirin lagi. Kita bisa telat masuk kerja" jawab Arita yang bingung dan masih shock.
***
"Sejujurnya gue nggak yakin Arita pelakunya." Ujar Kevin yang duduk di sebelah Fauzan bersama Joseph di smoking area karyawan sebelum memulai pekerjaan mereka.
"Tapi tadi dia sendiri udah ngaku." Sahut Joseph.
Fauzan hanya terdiam.
"Terus lo nggak ngomong lagi sama Arita, Jan?" Tanya Kevin.
"Gue takut cuma akan tambah marah."
"Terus lo mau diemin dia? Musuhan kayak anak kecil?" Kali ini Joseph yang bertanya.
"Entahlah. Gue nggak mau mikirin itu dulu."
"Eh, ada bang ganteng, Hwang In Yeob dengan kearifan lokal," sela Waya di tengah percakapan.
Ia yang baru datang dari arah area parkir segera menghampiri Fauzan dan duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa, katanya tadi pagi kamu marah-marah di kost ya?" Tanya Waya pada Fauzan.
"Gue masuk duluan ya" ujar Fauzan sembari berdiri, kemudian menuju pintu masuk karyawan, tak mengacuhkan pertanyaan Waya.
"Bareng dong, Hwang In Yeop. Duluan ya, Kev, Jo." Ujar Waya sambil menyusul Fauzan.
"Iya, Bu Waya." Jawab Kevin dan Joseph berbarengan.
***
Di EDR siang itu Winda yang baru selesai menyantap makan siangnya, kembali teringat saat tadi pagi ia hendak berangkat kerja. Ia melihat Kevin, Genta, dan Joseph dengan wajah kusut berkumpul di ruang tengah sejak matahari baru terbit.
"Ooh, karena itu mereka kumpul di sana pagi tadi." Gumamnya setelah mendengar cerita versi Arita yang tiba-tiba saja dituduh sebagai pelaku yang mencampur minuman Fauzan.
"Tapi masa sih Fauzan langsung percaya begitu aja?" Tanya Winda tak percaya setelah meletakkan air minumnya di meja makan.
"Yah emang begitu kenyataannya, gimana dong?" Arita mengaduk-aduk nasi di piringnya sedari ia mulai menceritakan kejadian tadi.
"Heh! Dimakan nasinya, jangan dimainin doang." Diana mengingatkan Arita.
"Terus lo mau gimana, Ta?" Winda penasaran.
"Nggak tau ah, pusing. Kayaknya gue harus tenangin diri dulu deh. Gue rasa Fauzan juga butuh waktu redain emosinya. Gue nggak mau malah jadi tambah ribut."
Diana yang sudah menyelesaikan makannya memijat-mijat pelan kepala Arita.
"Kok bisa lo tiba-tiba dituduh gitu? Nggak ada yang lo curigain, Ta?" Tanya Diana yang kini memijat pundaknya.
Arita berpikir sejenak, berusaha mengingat-ingat kembali sebuah petunjuk. Dari sorot matanya, nampak ia menyadari sedikit kejanggalan.
***
Arita yang hendak kembali bekerja setelah selesai istirahat, berpapasan dengan Bia yang baru keluar dari lift karyawan. Ia kemudian menghadang Bia.
"Bukannya lo pelakunya?" Tanya Arita tanpa basa-basi.
"Apa, sih? Tiba-tiba ngomong begitu. Lagi main detektif-detektifan?" Bia menyeringai.
"Cara lo nuduh gue tadi pagi itu benar-benar mencurigakan, seakan lo mau nutupin kesalahan lo dan melimpahkan ke gue." Arita menekan Bia.
Bia tertawa sinis,
"Lo punya bukti apa?"
"Gue tau lo nggak suka sama gue. Tapi apa lo harus ngelakuin hal sejauh itu?" Arita emosi.
"Kalo lo tau gue nggak suka sama lo, harusnya lo menjaga jarak sama gue."
Namun raut wajah Bia yang sinis tiba-tiba melunak,
"Lo mau playing victim? Nggak mengakui kesalahan lo dan malah nyalahin gue yang ngasih kesaksian apa adanya?" Ucapnya pada Arita dengan wajah sendu.
"Kalau mau ribut masalah pribadi, silakan dilakukan di luar jam kerja." Sahut Fauzan yang muncul dari belakang Arita.
"Eh, Mas Fauzan. Mau ke lobby, ya? Bareng dong." Bia mengejar Fauzan yang terus berjalan lurus.
Arita menghela nafas. Tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Bia.
***
Arita berusaha fokus dengan pekerjaannya di counter. Ia tak ingin melakukan kesalahan, juga agar ia dapat menekan sedikit saja rasa kecewanya.
Seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan senyum lebar.
"Hai, Arita!" Sapanya riang.
"Hai, Bu Dewi. Apa kabar?" Arita menjawab dengan penuh senyum menyambut tamunya yang sudah beberapa kali check in di Hotel O.
"Baik dong. Aku udah booking kamar, ini nomor reservasinya." Ucap Bu Dewi sembari menunjukkan layar ponselnya.
"Baik, ditunggu sebentar ya, Bu."
Arita menuju office untuk mengambilkan welcome drink bertepatan dengan Waya yang datang ke counter.
"Arita," Sapanya yang hanya dibalas senyum oleh Arita.
"Kamu berantem ya sama Fauzan? Kenapa? Padahal kemarin aku lihat kamu dijemput waktu pulang kerja." Bisiknya pada Arita yang sedang membawa welcome drink.
Arita tersenyum kikuk. Ia heran mengapa hal itu cepat menyebar meski masalah itu tak berkaitan dengan hotel maupun pekerjaannya. Namun, ia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Di depannya seorang tamu tengah menunggu.
"Nanti dulu ya, Mbak. Aku mau check in-in tamu dulu." Ucapnya berusaha tersenyum.
Ia kembali pada Bu Dewi, memberikan segelas welcome drink pada Ibu Dewi, kemudian berfokus pada layar komputer.
Sementara Waya memandanginya sebentar, lalu berjalan pergi ke pintu karyawan untuk menuju ke ruang loker.
***
Sesampainya di ruang loker, Waya bertemu Bia yang baru keluar dari toilet.
"Hei, Bi. Gimana ceritanya sampe Fauzan percaya?" Tanya Waya setengah berbisik.
"Ah, gampang kok. Arita itu kelihatannya aja pintar, tapi ternyata gampang banget dibodoh-bodohin." Bia tertawa sinis.
"Hebat banget sih kamu, Bi. Arita sampe nggak bisa ngomong apa-apa waktu aku tanya tadi. Wah, progress Sherly sama Fauzan bisa jadi lancar nih. Kita harus minta traktir nih sama Sherly," Ucap Waya.
Mereka tertawa puas.
***
"Hoi, Mbak Jutek!" Panggil Kevin dari smoking area pada Diana yang baru absen pulang di pintu keluar karyawan.
"Mau pulang?" Tanya Kevin setelah Diana menengok padanya.
"Nggak. Mau tamasya." Jawab Diana asal, membuat Kevin terkekeh.
"Bareng dong." Kevin berdiri mengenakan jaketnya.
"Kalian jadian?" Tanya Doni, concierge, yang sedang istirahat.
"Emang kalo mau pulang bareng harus jadian? Gue cuma males jalan kaki sendirian. Lagian kita ngekost di tempat yang sama. Duluan, ya."
Kevin setengah berlari menghampiri Diana yang terus berjalan tanpa menunggunya.
"Tungguin 'napa. Jutek amat sih lo. Kalo takut hantu, nggak usah sok jutek." Goda Kevin yang langsung mendapat jambakan.
"Aa.. Aaw.. Ampun, ampun." Teriaknya cengengesan.
"Tumben lo nggak bawa motor." Ucap Diana sembari memeperkan tangannya ke jaket Kevin karena telah menjambak rambut Kevin yang lengket karena pomade.
"Tadi pagi gue berangkat sama Ojan, sama Jo. Kalo berangkat sendiri atau cuma berdua, baru deh gue pake motor."
"Oh iya, Fauzan nggak pulang bareng?"
"Nggak, mau lembur katanya."
"Tumben Fauzan lembur, biasanya on time. Apa karena masalah tadi pagi?"
"Entah. Dia juga nggak mau bahas masalah itu."
Diana terdiam. Ia ingin membela Arita. Namun ia juga tak tahu kejadian pastinya seperti apa. Ia juga tak berada di tempat kejadian saat kesalah pahaman itu terjadi. Diana takut ucapannya hanya akan terdengar seperti omong kosong.
"Jadi males ke kost nih. Jalan dulu yuk, refreshing." Ajak Kevin yang perasaannya jadi tak nyaman setelah mengingat kejadian tadi pagi di kost.
"Nggak ah. Winda sendirian di kost, kasihan."
"Ya emang kenapa? Winda kan nggak penakut kayak lo." Kevin tertawa lepas.
"Berisik."
"Lo jutek banget sih, pantesan jomblo."
"Lo tau darimana gue jomblo?" Diana heran, karena selama ini tak pernah ada yang menanyakan mengenai hubungan asmaranya walau beberapa karyawan pria pernah berusaha mendekatinya namun tak ia hiraukan hingga akhirnya mereka lelah sendiri.
"Di muka lo tuh ada tulisannya 'AWAS JOMBLO GALAK'." Kevin tertawa terbahak-bahak.
"Guk! Guk! Guk!" Diana membalas dengan menirukan suara anjing, membuat tawa Kevin makin lepas. Diana ikut tertawa bersama Kevin.
"Padahal lo sendiri juga jomblo." Protes Diana setelahnya.
"Itu karena gue yang pemilih. Kalo lo, emang nggak ada yang mau."
Diana melepas sepatu flat sebelah kiri yang ia kenakan, sebelah kakinya yang tak beralas pun dipijakkan pada kaki kanannya agar tak kotor.
"Awas lo ya kalo nembak gue, bakal langsung gue tolak!" Serunya sambil memukul-mukul lengan Kevin dengan sepatunya.
Kevin tertawa menghindari sepatu Diana.
Tiba-tiba keseimbangan Diana hilang. Hampir saja ia terjatuh bila Kevin tak menangkap dan mendekapnya.
Diana segera menjauh dari Kevin dan memasang kembali sepatunya.
"Makanya hati-hati, jangan ngadi-ngadi."
Ucap Kevin sambil mendorong pelan kepala Diana dengan ujung telunjuknya, membuat Diana seketika terpaku.
"Ayo!" Seruan Kevin menyadarkannya.
"Ah... Efek hampir jatuh jadi deg-degan." Gumam Diana pelan, menepuk-nepuk dadanya.
***
Hari sudah senja ketika Arita absen pulang dan keluar dari pintu karyawan. Ia melihat Fauzan yang duduk di area istirahat karyawan yang sepi.
Arita memberanikan diri menghampirinya. Ia berniat menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi pagi tadi. Ia berharap Fauzan akan mengerti dan bersama-sama mencari pelaku yang sebenarnya mencampur minuman Fauzan.
Namun baru saja Arita tiba, Fauzan segera berdiri dan berjalan pergi seolah menghindarinya.
Arita yang tak ingin kehilangan kesempatan pun memanggilnya,
"Fauzan. Masalah tadi pagi..."
"Gue mau masuk." Fauzan memotong ucapan Arita dengan dingin hingga Arita tersentak.
"Bukan gue pelakunya." Ucap Arita segera sebelum Fauzan benar-benar pergi.
Fauzan terdiam sesaat.
"Gue ingat setelah balik ke ruang tengah semalam, memang cuma ada lo. Sekalipun lo minta gue percaya itu, harus ya lo sepelein masalah ini?"
"Sepelein?"
"Masalah ini benar-benar besar buat gue. Bukan cuma gue besar-besarin seperti yang tadi pagi lo bilang."
Arita menghela nafas.
"Ini salah paham..."
"Udah lah. Gue lagi nggak mood bahas masalah itu." Potong Fauzan sebelum sempat Arita menjelaskan padanya.
Fauzan lantas segera pergi meninggalkan Arita yang terdiam menahan pedih di hatinya. Tak menyangka hubungannya dengan Fauzan menjadi seperti ini karena sebuah kesalahan yang bahkan tak dilakukannya.
Arita terdiam, memandang punggung Fauzan yang semakin menjauh dengan sedih, melihat sisi Fauzan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Setelah melihat Fauzan hari itu, yang kini telah berubah menjadi sosok yang dingin dan seakan tak bisa lagi ia dekati, ia merasa tak akan mampu menahan tangisnya bila ia melihat Fauzan lagi.
Arita pun melangkahkan kakinya yang terasa lemah. Ia hanya ingin pulang dan tertidur. Berharap yang ia lewati hari ini hanyalah mimpi begitu ia terbangun esok pagi.