Arita menuju meja resepsionis dengan tergesa-gesa. Dihampirinya Pritha, Front Desk Agent, yang sedang berjaga.
"Tha, kita punya kartu ucapan, nggak sih?"
"Mana punya. Kita kalo ngasih ucapan juga pakai surat formal," jawab Pritha yang kemudian langsung disibukkan dengan deringan telepon.
"Buat apa, memangnya?" Tanya Doni yang baru keluar dari office di belakang counter dan mendengar percakapan mereka.
"Mr. Allen minta tolong dicarikan kartu ucapan, butuh dadakan. Gue udah cari di souvenir shop hotel nggak ada."
"Bilang aja nggak ada, repot banget" ucap Doni acuh seraya berjalan ke meja concierge di depan lobby hotel.
Arita mengabaikan ucapan Doni. Sebagai hotelier memang sudah tanggung jawabnya membantu tamu semampunya, apalagi nalurinya sebagai Guest Relation Agent membuatnya tak ingin tamu merasa kecewa bahkan untuk hal kecil sekalipun.
"Coba ke HRD aja, mungkin mereka punya." ucap Pritha setelah menutup sambungan telepon.
Butuh waktu bagi Arita untuk berpikir, hingga akhirnya diraihnya gagang telepon dan menekan nomornya. Tak lama kemudian, telepon tersambung.
"Good afternoon, Human Resources Department. Via's speaking, how may I assist you?"
Suara Via seberang telepon membuat Arita lega, ia bersyukur bukan Fauzan yang menerima panggilan telepon darinya.
"Mbak Via, ini aku, Arita. Di sana ada siapa aja?" Tanya Arita.
"Cuma ada aku. Kenapa, tuh?" jawab Via.
"Serius? Ya udah, aku ke sana sekarang" Arita lekas menutup sambungan telepon dan bergegas menuju back office.
***
Via, admin HRD, mencari sesuatu dari dalam laci meja kerjanya.
"Aku nggak punya gift card, tuh. Adanya pita kado." ucapnya sembari menunjukkan sebuah pita kado yang mungil berwarna merah.
"Wah, nggak ada ya..?" Arita terlihat kebingungan.
"Memangnya untuk apa, sih?"
"Ada tamu yang minta tolong dicarikan gift card untuk tulis ucapan ulang tahun cucunya yang hari ini ulang tahun dan sebentar lagi cucunya mau sampai di hotel."
"Oh, mau kasih surprise gift ya?"
"Begitulah, Mbak."
Arita melihat pita itu sambil berpikir sejenak mencari jalan keluar, kemudian terlintas suatu ide dalam benaknya.
"Pitanya boleh aku minta, Mbak?"
"Boleh, ambil aja." Via memberikan pita itu pada Arita.
"Makasih ya, mbak Via." ucapnya, lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan.
Namun belum ada tiga langkah, Via memanggilnya.
"Ta, besok jangan lupa ya kamu ikut training 'Hospitality Industry'. Pak Yusuf udah kasih tau, kan? Tolong ingetin anak-anak yang lain juga, ya."
"Training?" Seketika wajah Arita pucat mengingat ia memiliki jadwal training. Menghadiri training artinya ia harus bertemu Fauzan yang merupakan Training Officer.
"Iya Mbak." Jawab Arita dengan senyuman getir.
Merasa tak ada waktu untuk memikirkan masalahnya itu, ia segera keluar ruangan. Ia juga enggan jika harus berpapasan dengan Fauzan yang belum kembali ke ruang HRD.
Dengan cepat Arita berjalan menuju office-nya dan segera membuat sebuah design background di komputer kemudian ia print hasilnya. Lalu ditempelnya kertas itu pada kertas concorde yang lebih tebal.
Setelah tertempel dengan sempurna, ia melipat kertas itu menjadi bentuk persegi yang simetris kemudian memasangkan pita yang Via berikan tadi.
"It's a wrap!" Arita tersenyum melihat hasilnya.
***
Ding. Pintu lift terbuka. Arita memasuki lift karyawan dan segera menekan tombol menuju lantai 3.
"Tunggu. Ikut, ikut." Terdengar teriakan yang membuat Arita dengan sigap menekan tombol untuk menahan pintu lift agar kembali terbuka.
Muncul Waya dari balik pintu lift. Segera ia memasukinya dan menekan tombol ke roof top, untuk ke function hall.
"Eh, Arita." Sapanya tersenyum. Arita hanya membalas dengan senyum simpul.
"Itu apa?" Tanya Waya menunjuk kertas yang dibawa Arita.
"Ini untuk tamu kamar 301, minta tolong dicarikan gift card. Karena nggak ada, aku bikin sendiri."
"Wah, hebat ya. Kamu bikin dari apa?"
"Dari kertas concorde sama kertas HVS. Pitanya aku minta dari HRD,"
"Oh gitu. Cantik ya pitanya. Kreatif banget sih kamu." Pujinya sambil tersenyum memandangi kartu ucapan buatan Arita.
Arita hanya membalasnya dengan senyum.
Tak lama, lift berbunyi tanda sudah sampai di lantai tujuan Arita dan pintunya pun terbuka.
"Duluan ya, Mbak." ucap Arita sebelum melangkahkan kaki keluar.
Ia segera keluar dari pantry dan menuju kamar yang terletak paling ujung. Ia berharap tak terlalu terlambat.
Dipencetnya bel kamar 301. Tak menunggu waktu lama, pintu terbuka.
"Good afternoon, Mr. Allen." Sapa Arita pada pria tua yang terlihat sumringah melihatnya kembali.
"Hey, Ms. Arita."
"Thank you for waiting, I'm sorry it took a long time."
"It's okay, my grandchild is not coming yet anyway. She'll be arrived above a couple minutes left."
"Oh, I'm glad it's not too late. By the way, since I couldn't find the gift card in the store, I made it by my self. I hope it's not disappoint you."
"Really? You made it for me? Ow God. Actually I love it more than ordinary card I usually get. I really appreciate it. Thank you so much, Ms. Arita."
"It's my pleasure." jawab Arita. Ia bersyukur Mr. Allen menyukai kartu ucapan buatannya.
Ia kembali melanjutkan,
"Oh ya, this cake for your grandchild. I hope she will like it and have a great birthday."
Mr. Allen menutup mulutnya yang terperangah dengan satu tangannya melihat semua yang Arita berikan padanya sembari meraih kue kecil dengan tangan satunya.
"Oh my God. I don't know what to say. You really made my day." Ucapnya terharu.
"Never mind, Sir. It's a pleasure to me. Have a good day, Mr. Allen."
"Yeah, you too. Once again, thank you so much." Ucap Mr. Allen dengan tersenyum lebar sebelum menutup pintu kamarnya.
Tanpa sadar Arita juga tersenyum. Ia sangat menikmati perasaan setelah berhasil membuat tamu senang setelah ia membantu mereka.
Ia pun berbalik hendak kembali ke lift untuk turun, namun ia terkejut melihat Fauzan yang sudah berada pada jarak yang dekat berjalan ke arahnya, menuju pintu darurat yang tak jauh dari tempatnya berdiri, bersama seorang security. Jantung Arita berdegup kencang saat harus berpapasan dengannya. Namun Fauzan hanya melewatinya tanpa menyapa.
"Di sini Pak, kerusakannya." Ucap security yang menunjukkan bagian pintu darurat pada Fauzan.
Arita yang raganya tanpa sadar ikut mengarah pada Fauzan pun berbalik, lalu berjalan pergi dengan menahan rasa perih di hatinya. Bagaimana mungkin sikap Fauzan bisa begitu berubah padanya.
Sementara setelah Arita melangkah pergi, Fauzan menoleh ke arah Arita, memandanginya yang berjalan menjauh.
***
Diana melihat jam dinding ketika menyadari F&B Office telah sepi. Rupanya sudah masuk jam makan siang. Ini waktunya untuk istirahat, tapi saat ini rekan-rekan kerjanya pasti sedang sibuk di bagian operasional.
Ia segera beranjak dari monitornya menuju ke dispenser air di sebelah pintu masuk, mengambil minum untuk membasahi tenggorokannya yang agak mengering sebelum keluar ruangan. Ia memutuskan untuk makan siang.
Samar-samar terdengar suara obrolan dari depan office yang terletak tak terlalu jauh dari pantry restoran lobby.
"Kalo aku jadi tamunya sih, bakal aku robek di depan mukanya." Ucapan itu membuat yang lain tertawa cekikikan.
Diana menghela nafas. Di jam operasional yang sibuk seperti ini mereka masih saja sempat membuang waktu untuk menggosip. Ia tak ingin keluar bertemu orang-orang itu, tapi lebih tak ingin lagi berada di dalam office sendirian. Perutnya juga sudah terasa lapar.
"Kok PD banget ya bikin sendiri, kenapa nggak beli aja gitu." Ujar Citra, salah seorang Waitress.
"Ya pasti buat caper lah," sambar Bia menanggapi.
Obrolan itu terhenti saat Diana tiba-tiba membuka lebar pintu office.
Diana langsung berjalan pergi meninggalkan rombongan itu tanpa menghiraukannya dengan disusul suara bisik-bisik dari mereka. Lelah dalam hatinya satu pekerjaan dengan mereka.
"Emangnya bagus banget Mbak, sampai harus caper?" Bella, yang juga salah seorang waitress melanjutkan obrolan tadi.
"Bagus apanya, kayak tugas prakarya anak TK, aku ngelihatnya aja pengen ketawa. Yang bagus cuma pitanya, itu juga dia minta-minta ke HRD." Jawab Waya dengan menunjukkan ekspresi jijik.
"Bukannya dia lagi ada masalah sama Pak Fauzan? Beritanya udah nyebar, kok masih berani banget sih dia ke HRD, beneran caper ya?" Sambar Citra, yang satu shift dengan Bella.
"Udah ah, resto udah mulai rame nih, ayo standby di depan." Perintah Bia pada Bella dan Citra, menghindari obrolan mereka agar tak lebih jauh membahas masalah itu.
"Siap, Bu." Jawab mereka dengan cengiran.
"Aku juga mau Sales Call. Sherly nggak istirahat? Ucy chat aku, katanya dia mau makan siang." Sahut Waya.
"Aku mau monitor function hall buat event nanti sore." Jawab Sherly yang sedari tadi hanya menyimak.
"Ya udah, aku ke Ucy dulu sebentar." Ucap Waya.
Mereka pun pergi meninggalkan pantry dengan berjalan beriringan.
Bella berbisik pada Citra,
"Enak kan, deket sama dua supervisor. Kerjaan aman. Dapet banyak gosip pula," mereka kembali tertawa cekikikan.
***
Siang itu, Employee Dining Room masih belum ramai. Hanya ada Diana yang sedang menonton TV ditengah menyantap makan siangnya dan Ucy yang baru masuk EDR duduk agak berjauhan, sibuk dengan ponselnya.
Tak lama kemudian, Waya dan Kevin masuk sambil mengobrol.
"Kok kamu masuk juga? Katanya mau ke smoking area dulu?” Tanya Waya pada Kevin.
"Mau nge-cek menu doang." Jawab Kevin sambil melihat isi meja prasmanan di sudut ruangan.
"Apanya yang di cek? Makanan karyawan hotel kayak makanan warteg aja kok." protes Waya setelah ikut Kevin melihat meja prasmanan yang tak menggugah seleranya, membuat petugas yang berjaga di EDR melirik ke arahnya.
"Emang makanan warteg kenapa, Bu? Warteg di belakang hotel enak kok, yang penting juga higienis." Jawab Kevin, membuat Waya tersentak kemudian terkekeh.
"Bisa aja kamu, Kev" ujarnya sambil menepuk pundak Kevin, lalu duduk di sebelah Ucy yang sudah menunggunya.
"Kevin sini dulu dong, temenin Ucy makan bareng." Panggil Waya.
"Lah, kan ada elu yang nemenin, Bu." Jawab Kevin santai.
"Aku ‘kan sebentar lagi mau keluar, sales call." Alasannya.
"Udah gede, masa makan harus ditemenin. ‘Kan banyak orang juga, Bu Waya." Ucapan Kevin membuat yang mendengar tertawa kecil, kecuali Waya, tentu saja.
"Ih. Dibilangin jangan panggil aku kayak gitu."
Tak menggubris, Kevin berjalan menghampiri Diana yang duduk dekat pintu keluar.
Dengan iseng, tangannya meraih piring Diana yang masih asyik menonton TV, lalu menggesernya.
"Mau makan, apa mau nonton?" Ujarnya sambil lalu.
"Dasar berandal..!" Sungut Diana, meraih kembali piringnya. Sementara Kevin keluar dari EDR dengan terkekeh.
Waya dan Ucy saling berpandangan menyaksikan kejadian itu.
***
"Emangnya Diana sedekat itu ya sama Kevin?" Ucy memasuki ruang loker setelah makan siang diikuti Bia dan Sherly yang baru istirahat.
"Kalau dekat sih nggak tau ya, tapi dia memang sampai bantu potongin rambut Kevin, sih." Jawab Bia, teringat saat ia ikut berkumpul acara makan-makan di kost.
"Hah? Dia yang potong rambut Kevin?" Ucy terbelalak tak percaya.
Bia mengangguk,
"Dia potongin di depan anak-anak kost waktu kita lagi pada ngumpul."
"Kalian ikut ngumpul sama mereka?" Tanya Ucy lebih tak percaya.
"Iya. Tuh, Sherly yang maksa gue ikut ngumpul. Yang gue pernah cerita itu lho." Bia melirik pada Sherly yang ternyata melamun sejak tadi.
"Sherly?" Panggil Bia, menepuk pundak Sherly.
"Iya? Kenapa?" Sherly tersadar dari lamunannya.
Bia melihat Sherly dengan heran.
"Lo akhir-akhir ini sering bengong deh."
"Iya, semenjak kejadian itu. Bukannya harusnya kamu senang, rival kamu udah K.O?" Sahut Ucy.
"Nggak kok." Jawab Sherly dengan senyum getir.
Bia dan Ucy berpandangan.
"Lo kenapa sih? Kalo ada masalah cerita dong, jangan disimpan sendiri." Ucap Bia.
"Iya, mumpung nggak ada siapa-siapa." Sahut Ucy setelah menoleh sekeliling.
Dengan ragu, Sherly membuka mulutnya.
"Gue... Masih takut."
"Takut kenapa lagi?" Bia gemas.
"Gue merasa nggak enak sama Arita."
Kini Bia menghela nafas,
"Kalo lo merasa bersalah sama Arita, ya lo akuin aja semuanya."
"Itu gue juga takut... Gue takut kalo Fauzan tau yang sebenarnya, dia akan marah dan memperlakukan gue seperti dia memperlakukan Arita sekarang. Gue bingung." Mata Sherly mulai berkaca-kaca menahan air matanya agar tak jatuh.
"Lo cuma mikirin hal yang nggak perlu. Yang udah terjadi, ya terjadi. Bahkan gue udah bantuin lo sampe kayak gini." Bia terlihat kesal.
"Makanya kamu harusnya mikir dulu sebelum melakukan sesuatu. Biar nggak kejadian hal kayak kemarin." Ucap Ucy memberi nasehat.
"Suggest gue, mending lo lupain kejadian itu. Toh dengan kejadian itu, lo seharusnya gunain kesempatan ini buat lebih dekat sama Fauzan. Bukannya malah mikir kejadian yang udah lewat." Bia terlihat emosi.
Pintu ruangan terbuka, beberapa karyawan masuk.
"Udah ah. Gue keluar dulu." Ucap Bia.
Ucy mengikuti Bia keluar ruang loker.
"Lho, Mbak Sherly kenapa? Kok hidung sama matanya merah?" Tanya Bella yang baru masuk ruang loker dan melihat Sherly berdiri mematung.
"Mbak Sherly nangis?" Tanya Citra juga.
"Nggak kok, cuma agak pilek." Ucap Sherly, lalu segera keluar.
Sementara di dalam salah satu toilet, Arita terduduk lemas. Tangannya gemetar. Batinnya terguncang. Jadi selama ini bukan Bia? Tapi kenapa harus Sherly, gadis polos itu?
***
Bia memasuki ruang loker dengan terburu-buru.
"Sherly! Lo udah ganti baju?" Tanya Bia sambil berlari kecil ke arah loker Sherly.
"Lo kenapa?" Tanya Sherly yang telah selesai ganti baju untuk pulang, heran melihat temannya berlari mencarinya.
Tiba-tiba Bia menarik tangan Sherly keluar loker sambil berbisik,
"Gue lihat Fauzan juga mau pulang."
Mereka pun berjalan secepat mungkin, hingga sampai di pintu keluar Bia melihat Fauzan yang mengobrol dengan beberapa karyawan di area istirahat tengah bersiap untuk pulang.
"Mas Fauzan!" Panggil Bia.
Bia dan Sherly berlari kecil menghampiri Fauzan yang telah melihat mereka.
"Mau pulang ya?" Tanya Bia berbasa-basi sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Iya. Lo kenapa lari-lari begitu? Terus kenapa juga ke sini?" Tanya Fauzan heran.
"Menghirup... Udara... Segar.... Aku lagi istirahat, Mas. Di dalam pengap, makanya ke sini." Bia berpura-pura menarik nafas panjang dan mengembuskannya.
"Ya udah, gue pulang dulu ya." Ucap Fauzan tanpa basa-basi.
"Bareng Sherly aja, Mas. Sherly juga mau pulang. Ya kan, Sher?" Bia menatap Sherly kesal karena hanya diam saja sedari tadi.
Sherly mengangguk,
"Ya... Iya."
Tiba-tiba Genta yang sedari tadi duduk menyahut,
"Ya udah yuk, pulang bareng-bareng."
Bia kesal,
"Eh Genta ada di sini, toh? Sini, ikut gue. Ada banyak hal yang mau gue omongin. Pasti lama."
Bia menarik Genta untuk menjauh.
"Udah, kalian duluan aja biar nggak kemaleman." Teriak Bia pada Sherly dan Fauzan.
Mereka berdua pun berjalan pulang.
"Ada apaan sih?" Genta kesal karena Bia menghalanginya pulang.
"Tolong ya, biarin mereka pulang berdua dulu. Nggak peka banget sih lo."
"Hah? Ooh... Aah ternyata... Wah.. Wah..." Genta heboh setelah mengerti yang Bia maksud.
"Udah diam, berisik!"
***
"Gue masuk duluan ya." Ucap Fauzan sesampainya di kost.
Sherly yang sedang melepaskan sepatunya di kursi teras tersenyum mengangguk.
Diingatnya kembali saat ia berjalan pulang bersama Fauzan tadi. Meski mereka tak banyak berbincang, Sherly merasa amat senang hingga beban dalam hatinya yang selama ini mengganggunya terasa lenyap begitu saja.
Namun angan-angannya terhenti ketika ia mendengar Arita memanggil namanya,
"Sherly?"
Sherly menoleh kaget, ia lalu memasang sepatunya lagi. Ia ingin menghindari Arita yang baru keluar dari dalam kost.
"Mau kemana? Bukannya lo baru sampe?" Tanya Arita heran.
"Gue mau makan di luar."
"Sendirian?"
"I.. Iya."
"Kalau gitu, gue ikut." Arita segera memakai sandalnya.
Sherly yang kebingungan, akhirnya hanya bisa pasrah. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah warung bakso yang terletak tak jauh dari rumah kost.
"Lo nggak makan?" Tanya Sherly pada Arita setelah semangkuk bakso pesanannya telah datang.
"Nggak. Ada yang harus kita bicarain."
Ucapan Arita tiba-tiba terasa bagai beban berat di hati Sherly. Dari ekspresi wajah Arita serta nada bicaranya, ia merasakan firasat yang tak baik mengenai hal yang akan Arita bicarakan.
"Gue... Dengar apa yang lo dan Bia bilang di loker siang tadi, dari dalam toilet."
Jantungnya berdegup kencang. Firasatnya benar.
"Kenapa lo ngelakuin itu?"
"Gue... Gue cuma bercanda." Sherly beralasan.
"Gimana bisa lo bercanda kayak gitu, apalagi lo juga tau Fauzan nggak minum. Dan lagi, kenapa gue yang harus kena akibatnya? Kenapa jadi gue yang tertuduh?" Arita mengeluarkan uneg-unegnya.
"Gue... Minta maaf. Gue nggak tau masalahnya akan jadi kayak gini." Air mata Sherly mulai menetes.
Arita menghela nafas.
"Tapi seharusnya lo mengakui perbuatan lo. Bukan melemparnya ke gue." Nada bicara Arita melunak melihat Sherly menangis.
Sherly menangis mengakui rasa bersalahnya pada Arita. Ia menyesalinya.
"Kasih gue waktu." Ucapnya setelah ia berusaha meredakan tangisnya.
Ia melanjutkan,
"Gue akan jelasin semua ke Fauzan secara pribadi. Gue mohon jangan sampe ada yang tau. Fauzan pasti akan lebih marah kalo dia tau dari orang lain. Gue takut. Gue butuh waktu buat mengumpulkan keberanian gue."
Arita menghela nafas,
"Gue harap lo benar-benar tepatin janji lo. Gue tunggu."
"Iya, gue janji. Gue pasti akan bilang ke Fauzan." Sherly meyakinkan Arita.
Arita pun berdiri,
"Gue duluan." Ucapnya lalu pergi meninggalkan Sherly.
***
Dengan perlahan, Sherly menyiapkan paper note dan pulpen di dalam ruang meeting yang akan digunakan Fauzan. Ia merasa lemas tak bertenaga. Pikirannya kusut setelah berbicara dengan Arita semalam.
Ia memang mengatakan akan mengakui perbuatannya, namun ia tak tahu harus bagaimana dan bicara apa pada Fauzan. Memikirkan seperti apa ekspresi Fauzan bila Sherly mengatakan yang sebenarnya, membuat tangannya gemetar. Kepalanya terasa berat. Apakah Fauzan akan marah? Atau benci? Atau jijik?
"Persiapannya udah selesai?" Tanya Fauzan yang tiba-tiba muncul di ambang pintu mengagetkan Sherly.
Tiba-tiba Sherly limbung. Pandangannya terasa gelap. Ia pun jatuh pingsan.
Fauzan yang melihatnya segera berlari menghampirinya.
"Sherly! Sherly!" Serunya sambil mengguncang pelan bahu Sherly.
Dua orang petugas banquet yang baru tiba hendak menyiapkan meja untuk coffee break segera memasuki ruangan setelah mendengar suara Fauzan yang panik.
"Ada apa, Pak?" Tanya mereka.
"Tolong buka pintunya." Fauzan akhirnya menggendong Sherly, dan membawanya melalui pintu khusus karyawan.
Beruntung lokasi ruang meeting itu dapat diakses lewat koridor yang langsung menuju back office, sehingga kejadian itu tak mengundang perhatian tamu hotel.
***
Sherly perlahan membuka matanya. Sinar lampu yang terang menyilaukan matanya. Setelah melihat sekitar, ia tahu saat ini ia tak berada di meeting room, melainkan house clinic.
"Udah enakan?" Tanya Via yang baru memasuki house clinic, lalu mengambilkan segelas air putih.
Ia menghampiri Sherly, kemudian membantunya minum.
"Tadi Mas Fauzan yang bawa kamu ke sini."
"Mas Fauzan...?" Sherly masih linglung.
"Dia langsung pergi setelah kamu ditangani tenaga medis karena harus mengisi training."
"Oh..."
"Katanya kamu kecapekan. Nanti setelah Diana selesai buat form izin pulang untuk kamu, kamu bisa pulang untuk istirahat." Ucap Via sambil tersenyum hangat.
***
"Sherly, lo kenapa? Katanya tadi lo pingsan?" Tanya Bia yang baru saja memasuki ruang loker.
Bella dan Citra yang berada di belakang Bia, ikut mengerubungi Sherly.
Sherly tersenyum kecil,
"Nggak apa-apa kok, cuma kecapekan." Jawabnya masih lemah.
"Kak Sherly mau pulang?" Tanya Bella melihat Sherly telah berganti pakaian.
Sherly mengangguk,
"Iya, tapi masih nunggu form dari Diana." jawabnya.
Citra mendekat,
"Aku dengar-dengar, tadi Kak Sherly digendong Kak Fauzan ya?"
"Cieee..." Seru Bella.
"Dikasih nafas buatan, nggak?" Bia menimpali ledekan Citra membuat wajah Sherly memerah.
"Apaan, sih?" Elak Sherly malu-malu.
"Ciee... nafas buatan..." Mereka heboh menggoda Sherly.
Bertepatan dengan Diana yang masuk ke dalam ruang loker, mereka langsung terdiam.
"Lo di sini?" Tanya Diana yang mencari Sherly.
Ia memberikan sebuah amplop berisi form izin pulang.
"Ini udah ditanda tanganin. Tinggal lo kasih ke HRD." Ucapnya, lalu langsung pergi.
Sherly pun keluar dari loker, ditemani Bia yang menggandengnya menuju ruang HRD.
Beruntung mereka melihat Bu Widya sedang berbicara dengan Fauzan di pintu keluar, sehingga Sherly dapat langsung memberikannya tanpa harus masuk ke ruang HRD.
Namun wajah Sherly memerah melihat Fauzan, teringat candaan Bia padanya di loker.
"Hei, Sherly. Mau pulang ya?" Sapa Bu Widya ramah.
"Iya, Bu."
"Muka kamu merah banget, bisa pulang sendiri?" Tanya Bu Widya khawatir.
"Kasihan Bu, kalau pulang sendiri. Kalau dia di jalan pingsan lagi, gimana?" Bia menyela Sherly yang belum sempat menjawab.
"Mas Fauzan lagi istirahat, kan?" Tanya Bia mengejutkan Fauzan.
"... Iya,"
"Ya udah, kalau gitu kamu anterin aja. Kamu satu kost juga kan, sama Sherly?" Ucap Bu Widya yang terpancing pertanyaan Bia.
"Iya, Bu." Fauzan mematuhi Bu Widya.
Fauzan pun akhirnya mengantar Sherly setelah meminjam motor pada Kevin.
Dalam rasa takut dan rasa bersalahnya, Sherly tak memungkiri rasa bahagianya karena kejadian yang ia alami hari itu. Dalam hati, ia meminta maaf pada Arita. Ia ingin menikmati perasaan ini sebentar lagi saja.
***