Gumelar perlahan mendekati tubuh istrinya yang tertelungkup, masih menangis. Ketika rambutnya dirapikan sambil dielus, malah semakin keras tangisannya. Tiada kata-kata yang terucap dari bibirnya. Gumelar bukan perayu ulung yang suka mengumbar kata-kata demi meredakan tangis seorang wanita. Dia lebih suka tindakan yang nyata. Dia juga belum paham betul menghadapi istrinya yang sedang ngambek, hanya mengikuti nalurinya saja sesuai dengan apa yang dirasa. "Aa jahat! Ami di sini kerja keras agar cepet selesaiin semester akhirnya, malah dituduh begitu. Otak Ami sudah penuh dengan pelajaran, gak sempet memikirkan cowok lain. Mikirin satu cowok aja, bikin Ami keder." "Siapa cowok yang bikin keder Ami itu?" Gumelar masih berkata lembut. Sambil mengulum senyumnya. "Aa lah!" cemberutnya. Amirah

