Memasuki kamar di rumah barunya, membuat hati Gumelar merasa nyaman. Namun, hubungan mereka tetap kaku tidak ada yang berani memulai pada interaksi yang lebih intim lagi. Bila tidur bersama Gumelar, Amirah lebih nyaman dipeluk suaminya, hanya sebatas itu. Kembali ke kost, Amirah lebih sibuk lagi hingga memasuki semester delapan. Ia tidak minta untuk dijemput tiap akhir pekan, kadang sampai tiga minggu berikutnya tidak pulang ke kampung, karena kesibukan jadwal kuliahnya. Gumelar hanya bisa menunggunya, meski komunikasi antara mereka tetap terjalin setiap harinya. Hubungan mereka tampak baik, tetapi di dalamnya terasa dingin. Amirah sering menangis sendirian karena memendam rasa rindu, tetapi apa daya dirinya? Ia tidak bisa mendobrak benteng pertahanan suaminya yang tetap teguh memegan

