Saat waktunya Amirah pulang, ternyata ia dijemput suaminya kembali. "Hey, apa kabar istriku?" sapa Gumelar setelah di dalam rumah. Menyentuh wajahnya, kemudian mencium kening Amirah dengan lembut Amirah menengadah, tetapi Gumelar hanya tersenyum, kemudian melepaskan pegangan tangan pada wajahnya, lalu duduk di sofa. Amirah ingin protes, masa hanya cium kening doang, tapi apa alasan untuk menuntutnya lebih? "Aa mau minum apa?" Akhirnya Amirah hanya menawarkan minuman padanya. "Kopi aja, Mi. Aa sangat sibuk hari ini, banyak kerjaan di sawah juga di ladang." Merebahkan punggung di sandaran kursi. Tidak bohong, dia memang sangat lelah. "Kenapa juga Aa memaksakan untuk menjemput Ami." "Menjemput Ami itu salah satu kewajiban Aa sebagai suami." "Kewajiban." cebik Amirah. Gumelar ha

