Langit cemberut, “Saya juga enggak minta pembenaran dari kamu, tuh!” balasnya. Dia mengalihkan atensinya dari Nada sesegera mungkin. Tidak sanggup menerima pesona sekaligus kecerewetan gadis itu. Kenapa juga penulis yang dikaguminya harus berwujud gadis serandom Nada, sih? Nada mendengus, “Kamu enggak bakal dapat tanda tangan sama foto bareng aku, kalau kamu masih marah sama ayahmu begitu,” ancamnya. Dia mengulum senyum demi melihat Langit yang salah tingkah karenanya. Sungguh, inilah adegan yang paling ia sukai di novel-novelnya, maupun di novel penulis lainnya. Adegan saat si wanita menjadi penuh keberanian menggoda lawan karakternya. Astaga, Nada Malam Hari! “Memangnya kamu pikir kamu itu sepenting itu, ya, untuk saya?” tanya Langit yang masih enggan menatap Nada. Nada mengangguk, “J

