Puspa yang kebingungan mencoba menyambut perempuan yang memanggil suaminya dengan sebutan Mas itu. “Hai, Mbak,” sapanya riang. Namun, sapaan riang itu sangat menghancurkan hati Suara. Dia tidak tega menghitung waktu sebelum ibunya tahu kalau beliau sudah disakiti. Walau ia juga tidak tahu, kebenaran macam apa yang nantinya akan terkuak dari mulut ayahnya. “Bu …,” panggil Suara, lalu menyalami dan memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu. “Nak, kamu pulang kok enggak kasih tahu Ibu? Ibu sama Ayah bisa menjemput kamu lho, apalagi kamu tadi naik mobil ibu lihat, pasti merepotkan kalau kamu mabuk, ‘kan?” omel Puspa dengan antusias. “Tapi kamu hirup kulit jeruk, ‘kan?” Suara menggeleng, “Ara enggak mabuk, kok, Ara juga enggak tahu keajaiban apa itu?” jawabnya berusaha seriang mungkin. Mu

