“Aw!” Axvel meringis sakit kala luka lebam di pipinya sedang diobati oleh Bilqis. Ia juga membuat ekspresi wajah sesakit mungkin guna melihat raut takut dari Bilqis. Tenang saja, itu semua hanyalah untuk menjahili sahabatnya, nyatanya sama sekali tak sakit luka lebam karena ulah dari Ernest ini. Justru Axvel yang sangat yakin jika Ernest lah yang saat ini kesakitan karena pukulannya. “Ah, sorry-sorry. Sakit banget ya?” lirih Bilqis dengan mata menyipit tanda nyilu kala melihat luka di wajah sahabatnya itu. Sungguh, ini bukan Bilqis sekali. Jika biasanya Bilqis sangat bar-bar dan selalu berteriak-teriak, saat ini malah Bilqis banyak diam dan bersuara lembut sekali. Mungkin ini salah satu hal yang sangat Bilqis takuti, ia takut darah dan luka-luka sehingga saat mengobati orang lain, yan

