Siang ini jam pelajaran Bahasa Indonesia mengharuskan semua siswa untuk pergi ke perpustakaan, membaca buku, lalu diminta untuk mereview satu buku tersebut bersama dengan pasangannya. Kebetulan saja Bilqis mendapatkan teman pasangan Ernest, karena itu semua berdasarkan dengan nomor absen. Absen mereka memang atas bawah, oleh karena itulah mereka satu kelompok.
"Gue bagian sini, lo bagian sana!" perintah Ernest saat sudah sampai di perpustakaan, ia langsung saja memerintahkan Bilqis karena ia yakin gadis tersebut akan mau-mau saja menerima apa yang ia perintahkan. Bilqis pastinya bergantung padanya.
Memangnya apa yang bisa dibanggakan oleh Bilqis? Bilqis hanyalah sosok wanita yang hanya bisa berbicara saja tanpa memiliki otak. Di saat mata pelajaran seperti ini pastinya Bilqis tak mengerti apa-apa, Bilqis ingin nilainya aman jika ia menurut dengan yang dikatakan Ernest. Ernest tak perlu diragukan lagi, bukan? Ia sangat cerdas. Tentunya Bilqis tak perlu susah-susah memikirkan tugas jika ia kebagian pasangan seperti Ernest ini.
"Kenapa harus gue yang di sana? Kenapa bukan lo aja yang di sana? Lo aja lah yang di sana! Buku di sana tuh tebel-tebel sedangkan buku di sini tuh enggak setebel yang di sana. Puyeng gue kalau liat buku yang tebel, lo kan udah terbiasa dengan buku yang tebel, jadi lo aja lah!" sahut Bilqis yang nyatanya jauh dari prediksi Ernest. Rupanya gadis tersebut menolak apa yang Ernest katakan. Rupanya gadis itu tak mau dengan apa yang Ernest perintahkan.
"Lo tuh gak ngerti apa gimana sih? Buku di sini bagus-bagus. Gue yakin banget kalau lo yang ada di sini, lo enggak bakalan bisa tau mana yang bagus sama mana yang bukan. Lo bakalan skip yang bener-bener bagus. Harusnya tuh lo bersyukur dapet temen sekelompok sama gue! Lo beban tau gak sih? Gue bisa bikin nilai lo jauh lebih baik, jauh lebih tinggi, malah lo ngelunjak!"
Alasan terjelas mengapa Ernest marah dengan Bilqis tentunya karena wanita tersebut tak mau menuruti apa yang ia perintahkan, padahal sejauh ini tak ada yang berani dengan Ernest. Justru semua orang akan merasa beruntung sekali jika satu kelompok dengannya karena nilai mereka akan jauh lebih terbantu. Siapa guru yang tidak menjadikan Ernest anak emas? Siapa guru yang tidak tahu seorang Ernest Psi Lambda? Tidak ada. Semua guru tahu Ernest, bahkan kepala sekolah sangat dekat dengan pria es batu namun berotak encer tersebut.
"Heh, b**o! Lo ngapain sih pakai rendahin Iqis kayak gitu? Kalau misalnya menurut lo di space ini banyak buku-buku bagus dan lo enggak mau skip itu, ya mendingan lo sama Iqis fokus di sini! Lo enggak usah ke space sana yang sama sekali gak lo yakini. Gue tau kalau seorang Ernest Psi Lambda emang anak emas, semua orang pasti beruntung banget kalau satu kelompok sama lo. Tapi buat gue enggak. Justru kalau satu kelompok sama lo itu beban! Lo yang nyusahin mereka, lo egois! Lo emang pinter, tapi gak punya hati nurani."
Azila yang semula berada di space sebelah Ernest dan Bilqis langsung maju dan turun tangan. Ia tentu saja merasa sangat sakit hati di saat sahabatnya direndahkan seperti ini. Memang Ernest itu tipikal pria yang sangat kurang ajar sekali! Tipikal pria yang seolah-olah merasa dirinya paling hebat. Memang sih dia sosok yang cerdas, namun sepertinya hati pria tersebut sangat busuk sekali. Dengan sangat mudahnya ia merendahkan orang lain karena merasa dirinya yang paling berkuasa.
"Loh, gue emang bener, kan? Bilqis ini emang dari sananya bodoh! Otaknya setengah doang, otomatis kalau dia sama gue kerja kelompok, gue yang ngerjain dong? Daripada dia enggak ngelakuin apa-apa, mendingan ya gue suruh dia supaya kerja. Gue suruh dia supaya nyari buku lain, siapa tau emang ada yang jauh lebih cocok. Tapi ya emang dia beban, tetep jadi beban selamanya lah. Disuruh gitu aja enggak mau. Emang susah kalau dari sananya udah beb—"
PLAK!!!
"g****k! NGOMONG SEKALI LAGI DEPAN GUE SINI! LO NGATAIN IQIS BEBAN? IQIS BUKAN BEBAN ANJING! IQIS CEWEK YANG BAIK HATI BANGET. IQIS SAHABAT GUE. DIA BUKAN BEBAN! KALAU LO ENGGAK MAU SEKELOMPOK SAMA DIA, LO ENGGAK USAH LAH RENDAHIN DIA. BILANG SAMA GUE, BIAR GUE AJA YANG SEKELOMPOK SAMA DIA. BIAR GUE YANG BILANG KE GURU KALAU IQIS SEKELOMPOK SAMA GUE. LO SENDIRIAN AJA. LO TUH EGOIS YA, NEST! b******k LO JADI COWOK! IQIS BUKAN BEBAN"
Bilqis yang pada saat itu melihat di depan matanya sendiri di mana Axvel tiba-tiba saja datang dengan berlari lalu langsung menampar Ernest membuatnya shock berat. Ia bahkan sampai menganga kaget dan langsung menutupnya dengan kuat. Ia memang sudah terbiasa dikatakan sebagai beban, bodoh, otak setengah atau apa pun itu. Oleh karena itulah ia tak merespon lebih, nyatanya sahabatnya malah sakit hati dengan omongan tersebut. Padahal kalau dipikir-pikir, benar apa yang dikatakan oleh Ernest. Ia beban, ia bodoh, ia berotak setengah.
"Udah-udah!" lerai Bilqis langsung saat Axvel mulai mengangkat dan menarik kerah seragam Ernest. "Axvel please, jangan diperpanjang. Jangan ribut," bisiknya dengan sangat lembut.
"Dia udah kurang ajar banget sama lo, Qis! Gimana gue enggak ribut kalau misalnya dia rendahin lo kayak gini? Gue sakit hati di saat sahabat gue dikatain," bela Axvel dengan nada berapi-api. Axvel memang tetaplah Axvel. Solidaritasnya yang tinggi, rasa sayangnya kepada sahabat, akan selalu tumbuh di dalam hati pria tersebut. Ia paling tak mau dan tak suka jika sahabatnya diperlakukan dengan buruk.
"Apa yang gue omongin itu bener ya! Sahabat lo itu emang beban! Disuruh sedikit aja enggak mau, padahal tugas kelompok. Gue bisa ngerjain tugas gue sendiri tanpa bantuan siapa pun. Coba liat aja sahabat lo, dia enggak bakalan bisa sendiri. Otak setengah kayak gitu mana bisa sendiri?" decih Ernest yang masih tetap merendahkan Bilqis.
"b*****t! Dia sama gue! Dia satu kelompok sama gue! Gue masih ada sampai di sini buat dia, gue yang selalu ada buat nemenin dia! Dia enggak butuh lo, anjing!"
"Axvel udah!" Tubuh Axvel yang semula sudah mulai memberontak di pelukan Bilqis dan dengan berapi-apinya mendekati Ernest untuk melayangkan pukulan berkali-kali kembali terhenti di saat sahabatnya semakin mengeratkan pelukannya dan kembali berbisik lirih. "Jangan ribut, Vel. Lo enggak boleh ribut. Tahan emosi lo. Gue enggak apa-apa kok. Lo tenang aja. Citra lo enggak boleh buruk cuman gara-gara gue. Lo lagi ngedeketin adik kelas, kan? Lo enggak mau dia kabur karena dia tau lo pemarah, kan? Jangan ribut, please."
"AXVEL, ERNEST, ADA APA INI?"