Istirahat kali ini Bilqis, Pelita, Abela, Azila, dan Axvel seperti biasanya. Mereka berlima duduk di meja kantin dengan sangat ramai, bercanda mereka bahkan terkadang mengusik ketenangan orang lain. Oleh sebab itulah, orang lain yang terkadang merasa terusik menatap mereka dengan tatapan sinis jika mungkin tawanya seketika berlebihan. Sebenarnya tak bisa disalahkan juga sih. Lagian juga seseorang saat sudah bertemu dengan sahabatnya, akan merasa tidak tahu tempat. Mereka bisa langsung tertawa ramai di tengah keramaian yang memang seharusnya.
"Gila aja temen gue ini masih mau satu meja sama kita! Gue kira lo mau satu meja sama adik kelas yang lagi lo deketin, Vel. Lagian lo juga deketin adik kelas gak bilang-bilang gue banget. Gue kan juga pengen tau seberapa menariknya tipe cewek lo gitu." Seketika kala mengingat kejadian tadi pagi, di mana Abela dan Azila menjelaskan secara rinci nan detail jika sahabatnya itu sedang berusaha mendekati sang adik kelas. Gadis cantik dengan bandana putihnya seketika langsung meledek Axvel, membuat Axvel langsung melotot tajam.
"Zila sama Abel emang kalau ngomong gak pernah dijaga ya! Udah gue bilangin berkali-kali juga, jangan pernah bilangin ini ke siapa-siapa dulu, nanti malah kejadian gue gak jadi sama dia!" umpat Axvel secara kesal. Terkadang memang seperti itu, bukan? Di saat kita sudah pamer hubungan ke mana-mana, di saat semua orang sudah tahu bahwa kita sudah punya someone, ujungnya malah kita yang dighosting. Bercerita ke teman terkadang membuat sang incaran hati menjauh sendiri.
Oleh sejak itulah, mulai tadi pagi Axvel memutuskan untuk mendekati adik kelas tanpa bercerita kepada siapa pun terlebih dahulu. Ia tidak mau hatinya kesepian, ia tidak mau jomblo setiap saat. Ia masih mau menikmati masa muda. Tapi lihatlah bagaimana perlakuan kedua sahabatnya yang sangat laknat, mereka malah seolah tak merestui hubungan Axvel dengan sang incaran hati.
"Oh gitu ya Axvel ceritanya! Gue sama Bilqis enggak boleh tau kalau lo lagi mode buaya! Emang jahat banget lo! Bagus!" Seketika Pelita turut menimbrung, sedikit kesal karena seolah tak diperhatikan oleh Axvel. Jiwa persahabatannya merasa ada yang tak beres kala sang sahabat tak mau bercerita apa pun dengannya. Pastinya ada sakit sedikit yang terasa di hatinya.
"Tau tuh! Axvel emang suka gitu ya, gue kecewa banget sih sama lo, Vel. Padahal gue udah anggap kita temen banget loh, malah lo kayak gini. Malah lo seolah-olah anggap kalau gue ini seseorang yang gak penting sampai lo enggak mau cerita masalah cewek ke gue. Gila, parah banget lo, Vel!" tuding Bilqis semakin menjadi-jadi. Tujuannya tentu saja hanya untuk membuat Axvel panik dan merasa terpojokkan.
Benar saja, Axvel langsung mengacak rambutnya frustrasi. Tak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana, di satu sisi ia takut akan salah bicara, namun di sisi lain juga ia seolah-olah ingin mengeluarkan unek-unek semuanya.
"Bukan gitu maksudnya, Ta, Qis. Ih kalian mah salty banget deh sama gue. Gue enggak maksud kayak gitu tau!" balas Axvel dengan suara gemetar. "Gue pasti bakalan cerita kalau nantinya gue sama adik kelas ini udah jadian. Takutnya gue dighosting kalau cerita lebih dulu. Kalian tau banget kan kalau sekarang ghosting itu udah jadi salah satu hal biasa. Kadang kalau kita cerita ke teman, malah kita dighosting duluan," lanjutnya membela.
"Tapi kan kita butuh buat cari tau dia gimana, cocok apa enggak buat kita. Lo enggak boleh mikirin dari satu sisi dong!" tuding Bilqis lagi terus-menerus. Masih merasa tak terima karena Axvel berbuat hal seperti ini. Ia merasa sedikit terkhianati.
"Udah-udah!" Abela yang merasa bersalah karena sudah menjadi tali pusat dari permasalahan ini langsung melerai di saat situasi mulai tidak kondusif. "Mungkin emang Axvel belum mau serius sama adik kelas itu kali. Iya apa enggak, Vel?" tanyanya dengan tujuan membela Axvel.
Axvel menggeleng dengan cepat. "Gue mau serius kok sama dia," balasnya.
Axvel bodoh! Dikasih isyarat malah sama sekali tidak digunakan dengan baik. Padahal maksud dari Abela di sini ingin membantu Axvel, malah lelaki tersebut yang seolah tak mau dibantu. Ia malah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam gudang masalah.
"Axvel g****k! Niatnya mau gue bantuin malah lo gak mau," umpat Abela kesal. "Dah lah, gue udak ada itikad baik buat bantu loh ya, tapi lo aja yang enggak menggunakan otak lo dengan baik sampai-sampai lo menjerumuskan diri lo sendiri ke jurang. Bye, Axvel! Gue enggak mau ribet ikut campur urusan lo!"
Astaga! Seperti ini malah salah lagi Axvel. Lagian juga kenapa sih otaknya harus dangkal! Kenapa sih otaknya tak bisa berpikiran dengan cerdas sedikit saja, malah harus berpikiran dangkal sekali, ia berniat mau membela diri tapi ternyata mengabaikan bantuan orang lain.
"Ya maksud gue bukan gitu! Salah mulu dah gue perasaan. Gue emang kali ini mau serius sama adik kelas yang lagi mau gue deketin. Tapi untuk urusan deket atau sefrekuensi sama kalian kan emang bisa dibahas nanti. Yang penting gue ada dulu gitu."
"Emangnya kalau enggak satu frekuensi sama kita dan kita enggak suka sama dia, lo mau mutusin dia?" todong Pelita dengan pertanyaan yang sungguh luar biasa kerennya.
Bodoh! Axvel harus terjebak lagi ternyata dengan ucapannya sendiri. Sebenarnya bagaimana caranya menjawab pertanyaan dari keempat sahabat wanitanya ini, sih? Amat sulit bagi Axvel yang memang hanya bisanya bercanda saja.
"Ya enggak gitu juga kali! Lagian kalian juga kejam banget sama gue, malah nyuruh gue putus. Gue yakin kalau kalian pasti suka lah sama dia, enggak mungkin enggak suka." Mungkin jawaban aman seperti ini kali ya? Jawaban yang tak akan membuatnya pusing. Jawaban yang tak akan membuat dirinya merasa terjebak lagi. Entahlah, sudah tak bisa berkata-kata lagi Axvel ini. Ia sudah merasa kebingungan menjawab pertanyaan gila dari para sahabatnya yang tidak berperikesahabatan.
"Ya kan enggak mungkin semua orang suka sama orang lain, contohnya gue yang enggak suka sama lo. Gue yang gondok banget setiap di deket lo. Bisa aja gue emang enggak suka sama cewek yang lagi lo incar karena bad attitude, atau apa gitu. Enggak suudzon atau gimana sih, tapi lo harusnya tau kalau semua kemungkinan itu bisa aja terjadi." Azila yang sedari tadi diam malah di saat bersuara hanya memperkeruh suasana saja. Ia malah membuat seolah-olah Axvel menjadi terpojokkan sekali, walaupun Axvel tahu yang dibicarakannya ini adalah suatu kebenaran, tetapi bisakah diam terlebih dahulu? Jangan semakin membuatnya pusing tujuh keliling.
"Gue yakin kalau lo bakalan suka." Entahlah, Axvel asal jawab saja. Otaknya sudah benar-benar pusing dengan semuanya. Lagian juga ia suka dengan adik kelas incarannya, ia yakin jika keempat sahabatnya pun suka dengan adik kelas ini.
"Gue enggak suka."