23. Axvel PDKT-in Adik Kelas

1059 Kata
CIT!!!   Decitan suara ban mobil dengan parkiran membuat semua pasang mata langsung mengarah kepada mobil putih yang baru saja memasuki halaman sekolah tersebut. Mereka semua langsung menatap dengan sinis bercampur dengan penasaran tentang siapa orang yang menjadi pemilik mobil putih itu. Seperkian detik berlalu, akhirnya rasa penasaran mereka semua terjawab saat gadis cantik yang mengenakan bandana putih dan hoodie putih itu turun sembari menenteng tasnya di satu pundak saja. Dengan sangat buru-buru gadis berbandana itu langsung memasuki lapangan dan turut bergabung dengan siswa-siswi terlambat lainnya.   “Kenapa lo terlambat? Jangan bilang kalau lo abis nabrak orang lagi pagi ini? Udah gue bilang berulang kali kalau belum bisa bawa mobil itu mending naik angkot dulu atau naik kendaraan dulu, Iqis. Bandel banget dibilangin.” Azila yang memang hari ini bertugas untuk mencatat siswa-siswi yang telat langsung mengatakan hal tersebut kepada sahabatnya, ia mendumel secara tak jelas akibat sang sahabat tak mau mendengar apa yang ia katakan.   Jika tak diam, pastinya Bilqis akan menjawab naik ojek atau taksi sangat mahal, mana jarak antara rumah Bilqis dan sekolah cukup jauh. Namun masih ada opsi lain, kan? Masih ada opsi bus, angkot, atau kendaraan umum lainnya. Masalahnya Bilqis saja yang tak bisa bangun lebih awal untuk bersabar menaiki kendaraan umum seperti itu.   Bilqis yang diomelin oleh Azila hanya bisa terkekeh sembari tersenyum manis. Kelewat hapal dengan ceramah saban hari yang selalu Azila katakan. “Besok gue enggak telat lagi, deh.”   “Halah! Enggak percaya banget gue kalau lo bilang kayak gitu!” Tiba-tiba saja Abela yang semula mengurus murid lain langsung menghampiri bangku Azila. Ia turut membantu Azila dalam memarahi Bilqis yang terlambat. “Lo tau berapa kemungkinan lo enggak telat? Mustahil. Gue enggak percaya sih kalau misalnya seorang Bilqis Theta Sarendra enggak telat, kayak bukan dirinya sendiri aja gitu,” lanjutnya menjelaskan.   Mendengar apa yang diucapkan oleh Abela, Bilqis langsung mengacunginya jempol. “Itu lo tau kalau berangkat jauh lebih awal itu bukan gue banget. Gue tuh sebenernya enggak telat, cuman emang terlalu mepet aja. Lo liat selisih bel masuk sama gue berangkat? Cuman satu menit, jadi ya wajar aja lah,” alibinya saja.   Abela hanya bisa berdecak kesal mendengarkan bantahan dari sang sahabat. “Iya sih cuman satu menit, tapi itu terjadinya berkali-kali dan diulang-ulang terus. Namanya emang udah bukan telat lagi, tapi kebiasaan.”   “Betul!” Azila menyetujui apa yang dikatakan oleh Abela. Sebagai seorang teman yang baik mereka memang menginginkan sebuah perubahan yang nyata dari Bilqis. Mereka tak mau jikalau nantinya poin Bilqis akan terus berkurang dan kedua orang tuanya akan dipanggil menghadap ke kepala sekolah hanya karena masalah sepele saja. Hanya karena masalah terlambat setiap hari.   “Kasian nyokap sama bokap lo kalau harus dipanggil ke sekolah karena lo telat, Iqis. Mending kurangin deh kebiasaan lo begadang. Lo tau gak sih, dengan begadang itu lo bisa kena banyak banget dampak buruknya. Begadang bisa buat lo jauh lebih lola dalam mikir, begadang juga bisa buat lo merasa terus capek pas pagi hari, lo enggak bisa produktif intinya lah. Lo juga jadi bisa telat kayak gini kan. Mending lo hindarin mulai dari sekarang aja ya?” saran Abela sembari memberikan beberapa data yang ia ketahui.   Bilqis hanya bisa mengangguk paham. Ia pun tahu itu semua, tahu jika begadang memang suatu hal yang sangat buruk. Tahu jika begadang membuatnya lola dalam berpikir dan juga lain sebagainya, bahkan memiliki niatan untuk tidak begadang pun sudah dari lama. Namun apa? Itu semua sangat sulit sekali dilakukan. Keinginannya hanyalah keinginan semata saja, semuanya hanya dusta. Ia tak bisa berbuat apa-apa di saat matanya sama sekali tak mengantuk di malam hari.   “Eh by the way Axvel mana? Kok gue enggak liat dia, sih? Berasa tumben banget gitu loh, biasanya apa-apa kalian bertiga kalau lagi jaga murid-murid telat gitu. Sekarang kenapa Axvel gak keliatan?” Bilqis mengalihkan topik pembicaraan. Sebenarnya ia sama sekali tak sakit hati dengan apa yang dibahas oleh Abela ataupun Azila, mereka semua benar dengan omongannya masing-masing. Pun Bilqis dapat menerima semuanya dengan lapang d**a. Ia menerima masukan yang diberikan oleh kedua sahabatnya itu. Alasannya mengalihkan pembicaraan tentu saja pure karena tak melihat Axvel yang biasanya pagi-pagi sudah mengganggunya.   “Lagi di pojok lapangan sana!” tunjuk Abela. “Dia kebagian nyatet adik kelas sambil godain adik kelas yang ada. Sumpah ya makin hari makin meresahkan banget tuh suami lo, Iqis! Dia ada niatan mau deketin adik kelas coba! Lo bayangin aja, modelan Axvel mau ngedeketin adik kelas, padahal anak lo sama dia belum lahir sampai sekarang, kurang ajar banget, kan? Kalau lo butuh jasa tampol, gue siap bantuin kok.”   Memang sudah menjadi rahasia umum jika Bilqis senang menggoda Axvel dan mengatakan jikalau pria tersebut adalah suaminya, lalu ia juga mengatakan jika saat ini ia sedang mengandung. Namun, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tentu saja itu hanyalah jokes semata. Tentu saja itu tak akan menjadi sebuah fakta. Selamanya akan menjadi candaan saja.   “Emang kurang ajar banget tuh bocah satu ya! Sahabat gue ditinggalin pas lagi hamil, sukanya pas enak-enak doang! Lo tenang aja, Qis. Gue pasti forever dukung lo.” Kini Azila yang mulai membela Bilqis.   Gadis berbandana tersebut hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal menghadapi sifat kedua sahabatnya. Sungguh, ini menjadi moodboster di pagi hari yang tersendiri. “Emang ya! Kurang ajar banget tuh cowok! Awas aja kalau nanti siang dia gak bayar pajak, gak bakalan gue restuin.”   Mendengar Bilqis berkata demikian, seketika langsung membuat Abela dan Azila melotot. Mereka tak paham dengan apa yang Bilqis katakan. “Hah? Pajak apa? Restu apa?” tanyanya serempak. Memang ya kapasitas orang cerdas bisa seirama dan selaras seperti itu. Sungguh luar biasa sekali, sampai-sampai apa yang dipikirkan dan diucapkan bisa sama.   “Pajak selingkuh lah, sebagai bininya Axvel yang sangat sah, gue tentu aja berhak dapetin pajak selingkuh, dong? Apalagi sekarang posisinya gue lagi hamil anaknya Axvel. Jadi kalau Axvel mau selingkuh dan mau dapet restu dari gue, dia harus kasih gue pajak selingkuh sebesar lima bungkus cireng, dua porsi batagor, satu gelas boba, doa porsi mie ayam, dua porsi siomay, segala macam gorengan dan lain sebagainya.”   Buru-buru Azila langsung menggunakan tangannya guna mengukur suhu badan Bilqis, ia menempelkan tangannya di dahi dengan kerutan yang sama sekali tak pudar. Punya dosa apa Azila selama ini sampai mempunyai teman yang not have akhlak dan juga not have brain. Sungguh meresahkan sekali ternyata.   “Gak panas padahal, fiks lo gila! Stress!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN