22. Daya Pikat Tersendiri

1054 Kata
Quality time itu suatu hal yang sangat penting bagi seorang sahabat, bukan? Sama halnya seperti sahabat dari kalian semua, sahabat dari Bilqis pun terkadang selalu mengajak untuk quality time bersama. Mereka semua selalu menyempatkan waktu di sela-sela kesibukan masing-masing. Abela dan Azila yang selalu sibuk untuk mengikuti les tambahan setiap harinya, Pelita yang selalu sibuk membantu usaha dari orang tuanya, Axvel yang selalu sibuk dalam membantu keluarganya, dan Bilqis yang sibuk dalam urusan tidur saja. Huh, jangan terlalu berpikiran positif terhadap Bilqis, karena sesungguhnya Bilqis tidaklah demikian. Memangnya apa yang bisa dibanggakan daripada Bilqis? Tidak ada. Bilqis tidak bisa melakukan apa-apa. By the way, kembali lagi saja ke topik pembicaraan. Tadi pagi tentunya kalian tahu jika Azila mengajak Bilqis untuk menonton film, bukan? Sesudah Axvel dan Bilqis baikan, lelaki tersebut melarang Bilqis untuk terlalu kecapekan, namun Bilqis tetaplah Bilqis. Keras kepala adalah salah satu hal yang menjadi tameng utama dari gadis berusia enam belas tahun tersebut. Ia tidak mau mengikuti apa yang Axvel katakan sampai akhirnya Axvel memutuskan untuk ikut. Ia turut menonton film romansa bersama dengan keempat sahabat wanitanya, ada Bilqis, Azila, Abela, dan juga Pelita. Terlihat sedikit playboy, bukan? Pastinya iya. Pastinya semua orang yang menatap Axvel mengira jika ia adalah playboy kelas kakap, padahal aslinya hanyalah seorang sadboy saja. "Sumpah ya gue malu banget nonton ginian sama kalian semua!" gerutu Axvel dengan nada bergidik ngeri. Tak pernah terbayangkan betapa malunya ia saat ini, harus menjadi sosok pria sendiri di tengah-tengah keempat wanita yang sangat rempong itu. Bayangkan saja, Axvel hanya beberapa kali menonton film romansa, itupun karena ia dulu sempat memiliki pacar dan sang pacar lah yang meminta. Namun saat ini dunia benar-benar sungguh terbalik. Axvel yang malah memaksa untuk ikut demi bisa melindungi Bilqis. Memang Axvel itu sangat bertanggung jawab sekali mengenai Bilqis. Apa pun yang sudah Axvel janjikan kepada orang, itulah yang ia ingat sampai kapan pun juga. Axvel sudah berjanji dengan kedua orang tua Bilqis, dan ia mengingatnya setiap saat. "Di sini kita enggak ada yang maksa lo ikut loh kalau lo lupa atau pikun atau amnesia sekalian juga gapapa deh," kecam kejam Pelita dengan ledekan di akhirnya. "Salah siapa bucin banget tuh sama bini lo yang satu itu, bucin t***l malah." Azila dan Abela yang mendengarkan roastingan dari Pelita hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa puas sekali melihat wajah Axvel yang sedang sengsara. Axvel yang malang, Axvel yang menderita. "Gue juga kagak maksa lo buat jagain gue loh, Vel!" Merasa tak mau disalahkan, akhirnya Bilqis mencoba untuk memberitahu sebuah fakta terlebih dahulu. "Lo sendiri kan yang mau jagain gue, mau ikut sampai katanya mau bayarin gue," lanjutnya dilebih-lebihkan. Memangnya mana ada Axvel mau membayari Bilqis? Sangat mustahil sekali. Axvel tidak akan pernah mau mengeluarkan uang sepeser pun untuk Bilqis. "Dih, ogah! Kata siapa gue mau bayarin lo? Enggak ya!" elak Axvel kilat. Membayari Bilqis itu sama saja pengurasan dompet tanpa akhlak. Belum ada satu jam, Axvel jamin uang cash dalam dompetnya sudah habis entah ke mana. Bilqis itu tak bisa dipercaya. Bilqis itu bisa membeli apa saja tanpa memikirkan ke depannya bagaimana, boros sebutannya. Bilqis hanya bisa mendecak kesal, harusnya di situasi seperti ini Axvel bisa jauh lebih peka jika ia membutuhkan uang Axvel untuk berfoya-foya, ia tak membutuhkan tubuh Axvel hanya untuk menjaganya saja karena ia pun bisa menjaga diri sendiri. Jika seperti ini sama saja bohong, kan? Ada Axvel di sampingnya, tetapi uang yang ada di dompetnya ludes, sama saja. "Ish! Lo tuh ya jadi cowok malah enggak peka sama sekali!" gerutu Bilqis sembari melipat kedua tangannya di d**a. "Seenggaknya beliin gue boba sama popcorn atau apa gitu," lanjutnya menjelaskan secara detail. Memang ya Axvel ini tipikal orang yang sama sekali tidak bisa dipercaya, jika saja bukan sahabat dari Bilqis, pasti ia sama sekali tidak memiliki teman sedari sekolah menengah pertama. Sudah seperti itu Axvel juga jomblo lagi, sangat mengenaskan sekali, bukan? "Tau nih, gak peka banget sama bininya juga!" Azila turut meledek. "Seenggaknya nafkah sekarang tuh enggak perlu uang bulanan dulu, yang penting kalau lagi keluar bareng dibayarin gitu," lanjutnya memanas-manasi. Memang Azila sangat mendukung sekali kapal di antara Axvel dan juga Bilqis. Ia akan menjadi orang yang paling utama untuk mendukung jika kedua sahabatnya memang benar-benar jadian atau mungkin menikah nantinya. Bukankah Bilqis dan Axvel sangat cocok sekali jika dilihat-lihat? Keduanya sama-sama memiliki chemistry yang tak tertandingi. "Jijik banget deh lo mah bahasnya bini-bini mulu! Gue enggak mau punya bini kayak Iqis gini, otak setengah." Axvel menghina Bilqis, namun ia sangat yakin seratus persen jika Bilqis sama sekali tidak marah atau pun tidak ngambek karena Bilqis adalah tipikal orang yang bodo amat. "Dih! Gak ngaca ya lo! Lo aja otaknya setengah, Axvel. Mau berharap dapet cewek yang spek kayak gimana emangnya? Otak lo kan setengah, wajah juga ya lumayan doang gitu." Abela turut meroasting Axvel. Jika dilihat-lihat semua anggota dalam grup ini baik itu Bilqis, Axvel, Azila, Abela, maupun Pelita memang memiliki kelebihan meroasting satu sama lain. Toh di antara kelimanya sama sekali tidak ada yang membawa omongan sampai ke hati. Mereka tahu apa tujuan dari roastingan tersebut. "Sial!" umpat Axvel dengan dengusan kecil. "Gue ini punya pacar tau, kalian aja yang belum gue kenalin. Soalnya apa? Soalnya gue yakin banget kalau gue kenalin pacar gue ini, kalian yang nantinya insecure. Pacar gue ini maha sempurna banget deh pokoknya. Dia itu cantik, pinter, lemah lembut, kaya, manis, baik, argh sempurna banget! Kalau gue kenalin kalian sama dia, nanti dia ikut-ikutan kebawa energi yang negatif sama kayak kalian. Kan ogah banget kalau pacar gue modelan kayak kalian." Apakah kalian percaya dengan apa yang Axvel katakan? Oh ayolah, bagaimana bisa kalian percaya dengan semua haluan dari lelaki tersebut? Mana ada Axvel berpacaran dengan wanita lain, tidak ada. Selain tidak ada waktu, seperti sebelum-sebelumnya, semua wanita yang Axvel dekati pun akan membuat Axvel menjauhi Bilqis dan sahabat-sahabatnya yang lain. Oleh sebab itulah Axvel berniat untuk tidak mempunyai pacar terlebih dahulu. Ia masih ingin fokus terhadap sahabatnya saja. Ia masih ingin bersenang-senang dengan sahabatnya saja. Pacar menurut Axvel saat ini ada di opsi yang kesekian. "Halah! Pacar lo enggak akan mungkin bertahan lama, dia pasti bakalan cemburu ke gue. Gue itu selalu punya daya pikat tersendiri untuk bikin semua cewek yang ada di sebelah lo insecure dan merasa lo menjadikan gue titik pusat," kata Bilqis dengan benar. Memang sedari dulu seperti itu saja siklusnya, tak pernah berubah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN