21. Mengalahkan Ernest

1054 Kata
Sebenarnya orang yang pintar dan menjadi juara kelas itu sama seperti murid-murid biasa, mereka tak terlalu ambisius. Mereka hanya sudah beruntung saja karena memiliki gen keturunan kecerdasan, ya walaupun juga mereka pasti ada masanya belajar, namun tak selamanya belajar. Memangnya kalau belajar selamanya, mereka akan semakin pintar? Yang ada mereka semakin stress saja dibuatnya. Dalam circle pertemanan Bilqis, ia memiliki dua pentolan kelas, dua juara kelas, dua anak emas dari masing-masing guru yang selalu dibangga-banggakan. Tahu kan kalian siapa dua orang tersebut? Yap, benar sekali! Dua orang tersebut adalah Azila dan juga Abela. Mereka berdua memang memiliki otak di atas rata-rata sehingga mereka bisa menjadi juara kelas, meskipun tak bisa menyaingi sang juara satu yakni Ernest.   Berbeda halnya dengan kedua nama yang Bilqis sebut di atas, Bilqis, Pelita, dan juga Axvel pun sebenarnya cerdas, hanya saja mereka bertiga jauh lebih senang bermain-main dan kurang belajar, pun selain itu mereka juga senang sekali jika berpikiran lola. Oleh sebab itulah mereka sering dikatakan hanya memiliki otak setengah, yang setengahnya lagi sedang digadaikan. Memang ya sembarangan sekali orang tersebut. Kali ini mereka berlima yang terdiri dari empat orang wanita dan satu orang pria sedang duduk di meja kantin dengan makanan yang tersedia di atas meja. Mereka berlima memang sengaja pergi ke kantin di saat jam kosong untuk mengisi perut mereka semua yang lapar. Padahal jelas-jelas hal tersebut sebenarnya dilarang, tapi biarlah. Lapar itu manusiawi, kan?   “Sumpah ya gue tuh gedek banget deh sama temen lo yang satu itu deh, Vel! Lo gak gedek apa duduk sama dia dua tahun? Kalau gue jadi lo, udah gue bejek-bejek aja deh kepalanya, gue ambil otaknya supaya bisa nyantel ke otak gue,” gerutu Pelita sembari menghentakkan kakinya berulang kali kesal. Ia tak habis pikir saja, bisa memiliki teman yang sangat tidak berperikemanusiaan. Ia tak habis juga memiliki teman yang sangat tidak menjunjung tinggi kesolidaritasan. Padahal dengan jelas sekali semuanya tahu jika XI MIPA 4 sangat dikenal sebagai kelas yang solidaritas tanpa batas sekali.   “Kenapa, sih? Lo masih mikirin yang tadi? Udahlah, tenang aja, Ta. Namanya juga Ernest, kalau enggak ambisius bukan dia namanya. Lo juga pastinya tau kan seberapa banyak dia nyumbangin piala ke sekolah kita? Mungkin dia emang ngerasa hebat banget. Mungkin dia emang selalu merasa terganggu kalau gue sama Iqis berisik di kelas. Biarin aja, dia kan emang gitu orangnya. Mau sampai lo benci setengah mati ke dia pun percuma banget, dia enggak bakalan bisa berubah.” Axvel menjawab dengan sangat lugas. Dua tahun duduk satu bangku bersama dengan es batu berotak cerdas memang membuatnya tahu segalanya. Ia tahu jika sifat dari Ernest memang seperti itu. Ia tahu jika Ernest memang paling benci dengan kebisingan karena di saat bising itu hadir, Ernest tak bisa fokus belajar.   “Ya tapi gue masih kesel banget sama dia tau! Kayak gimana ya, gue enggak tau lagi deh otak dia itu gimana. Masa enggak ada rasa respect sama perasaan orang lain, apalagi ini temen sekelasnya sendiri. Masa enggak ada gitu rasa gimana selagi kalian berdua diem-dieman, padahal yang lainnya udah notice itu. Gila aja ya dia! Otaknya terlalu banyak rumus kayaknya deh,” gerutu Pelita masih dalam hal yang sama. “Eh kalian gak ada yang mau gantiin Ernest gitu? Siapa tau Ernest bosen ranking satu mulu, Bel, Zil. Kalian maju lah yang yang pertama,” lanjut Pelita memengaruhi Azila dan Abela untuk membuat posisi Ernest menjadi lengser.   Abela dan Azila langsung melotot dengan tajam, mereka berdua sama-sama mengangkat kedua bahunya dengan tawa yang riang. “Huh ... astaga! Enggak dulu deh kayaknya. Lo tau kan kita berdua udah tiap hari pengen ngalahin Ernest, berjuang mati-matian buat jadi yang pertama tapi ternyata enggak berhasil juga. Nilai Ernest jauh melambung tinggi daripada kita. Gue jadi kepikiran kalau Ernest itu blender tiap buku pelajaran deh, makanya dia selalu tau apa yang menjadi pertanyaan,” ujar Azila dengan menggebu-gebu.   “Bener banget! Kayak gimana ya, gue aja udah sampai nyerah kalau misalnya berurusan sama Ernest. Udah berusaha positive thinking tapi ujungnya juga tetep kalah lagi aja. Jadinya ya mau gimana lagi? Kayaknya emang udah pasti Ernest yang selalu lebih unggul daripada kita. Kita kayaknya enggak mungkin bisa ngalahin dia deh.” Kini Abela mulai mendukung ucapan Azila, memberikan beberapa bukti yang memang valid karena sudah dibuktikan berkali-kali. Bersaingan dengan Ernest memang suatu hal yang sangat melelahkan karena mau seberapa seringnya kita belajar dan berjuang, yang menang memang tetap Ernest.   “Kalian ini apaan banget deh!” Bilqis yang sedari tadi hanya diam saja pun akhirnya turut nimbrung juga. Ia hanya bisa tertawa terbahak-bahak mendengar semua perkataan dari sahabatnya. “Gue yakin kalau semester kali ini kalian berdua bisa buat Ernest lengser dari kursi kedudukannya. Antara Abel atau Zila pasti bisa. Gue yakin banget soalnya,” lanjutnya meyakinkan. Bagi Bilqis kecerdasan dari kedua sahabatnya itu tak perlu lagi diragukan, mereka hanya perlu mengejar beberapa point saja supaya jauh lebih unggul daripada Ernest. Mereka berdua pasti bisa, tidak ada yang tidak mungkin. Lain cerita jika Bilqis, Pelita, dan Axvel yang harus menyaingi Ernest, jelas saja mereka bertiga tidak bisa. Menjadi setengah dari ranking kelas saja tidak bisa.   “Lo ngedukun di mana, dah? Perasaan kayaknya yakin banget kalau kita berdua bisa ngalahin Ernest?” tanya Azila dengan tatapan penuh selidik. “Tapi semoga aja bener sih, siapa tau gue atau Abel emang beneran bisa ngalahin es batu itu, supaya dia sedikit lebih introspeksi diri dan supaya dia enggak seenaknya aja rendahin orang lain. Lebih solidaritas juga kali ya? Menurut lo gimana nih, Vel? Yakin apa enggak nih kalau di antara gue sama Abel bakalan bisa ngalahin Ernest?”   Axvel hanya tersenyum sembari mengulurkan tangannya untuk melakukan tos dengan Azila dan juga Abel, mereka berdua pun menerima tos dari Axvel dengan senang hati. “Wush, pasti yakin banget lah!” jawabnya dengan penuh semangat yang membara. “Dua sahabat gue yang cantik sama pinter gini mana mungkin enggak bisa ngalahin Ernest? Pasti bisa banget. Jangankan kalahin Ernest, ngalahin Einstein juga bisa. Kalau Iqis yang ngalahin Ernest nah baru gue enggak percaya, ngerasa mustahil banget,” lanjutnya bersifat jahil.   “Anjir ya lo, Vel!” umpat kesal Bilqis dengan menabok tangan sang sahabat. “Awas aja, nanti enggak boleh liat anak lo lagi! Kesel banget sama lo. Liat ya nak, jangan mau ketemu sama papah kamu lagi, jangan mau liat papah kamu lagi, ngeselin banget soalnya!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN