7. Tawaran Ernest

1034 Kata
Gadis berusia enam belas tahun itu berusaha menelepon papahnya untuk meminta bantuan karena tidak tahu apapun, namun naasnya papah sama sekali tidak aktif, membuat Bilqis semakin kebingungan saja! TIN! "SIAPA SIH? GAK TAU KALAU ORANG LAGI KEBINGUNGAN AJA!" Bilqis yang sedang kesal langsung membalikkan badannya kepada orang yang baru saja mengklaksonnya. Tidak tahu sopan santun atau bagaimana? Sudah tahu jika Bilqis sedang kebingungan mencari bantuan karena mobilnya mogok, malah dengan enak hati orang itu mengklaksonnya begitu saja. Orang yang baru saja memberikannya klakson langsung turun dari mobilnya. Orang itu ... memakai baju seragam yang sama dengannya? Apakah ia satu sekolah dengan Bilqis? Jika ia Bilqis jauh lebih bersyukur karena bisa meminta bantuan kepada orang itu, bantuan nebeng maksudnya. "Mobil lo mogok?" tanya seseorang yang tadi Bilqis sumpah serapahi. Rupanya seorang pria yang absennya berada di bawah Bilqis. Rupanya pria itu. "Ernest?" beo Bilqis tak mempercayai bahwa dunia akan sesempit ini. Di antara ribuan pengguna jalanan Jakarta, ia harus bertemu dengan Ernest, ah tak apa. Bertemu dengan siapapun tidak masalah, asal tidak bertemu dengan orang gila yang merepotkan. "Hm, mobil lo mogok?" tanya ulang Ernest yang langsung dibalas anggukan oleh Bilqis. "Gue gak tau mobilnya kenapa, gue gak tau harus gimana, gue udah telepon bokap tapi nomernya gak aktif, makanya gue bingung harus berbuat apa," sahut Bilqis yang langsung mengundang iba pria tampan dengan sifat dingin tersebut. Otak Ernest yang pandai langsung ia pakai untuk mencari solusi. Hal apa yang harus ia lakukan untuk membantu Bilqis? Sebenarnya ia bisa saja meninggalkan Bilqis di tengah jalan seperti ini, tapi rasanya seperti tidak manusiawi sekali. Ernest tersenyum puas saat ia mendapatkan solusi dengan otak cerdasnya itu. Dengan langkah cepat ia berjalan mendekati Bilqis. "Gue punya orang bengkel yang mungkin bisa benerin mobil lo, mau gue telepon buat ke sini?" tanya Ernest yang menawarkan bantuan kepada Bilqis. "Boleh deh, tapi gue gak yakin kalau bisa kelar cepet," ujar Bilqis yang mengatakan apa yang ada di pikirannya. Ernest kembali memutar otaknya. Benar apa yang dikatakan Bilqis, ini semua tidak mungkin selesai dengan cepat. Ini semua membutuhkan waktu, apalagi saat Ernest melirik jam tangannya, pukul tujuh lebih lima belas, ia dan Bilqis sudah sangat terlambat. Ia dan Bilqis sudah pasti akan dihukum. "Gue bisa telepon orang bengkel itu supaya dia bisa ke sini cepetan sekarang juga, dan masalah kelar cepet emang gak mungkin, lo bisa nebeng mobil gue, kita bisa berangkat bareng, lagian tujuan kita sama, kita juga satu kelas kok, masalah dihukum masalah gampang, kita berdua, gak sendirian." Ernest benar-benar pandai, pria itu bisa memikirkan solusi cepat, otaknya memang sangat bisa diandalkan. "Lo nawarin cewek cantik supaya berangkat bareng?" Pertanyaan laknat yang terlontar gila dari mulut Bilqis. Memang Bilqis tidak tahu caranya berterima kasih! Sudah dibantu malah ngelunjak. "Gue bisa berangkat sekarang kalau lo terlalu percaya diri, nyesel juga gue nawarin hal yang sama sekali gak penting buat gue, buang-buang waktu." Ernest membalikkan badannya saat sudah merasa cukup membalas ucapan Bilqis. Ia memang tidak suka dengan gadis itu yang kelewat percaya diri. Bukannya memudahkan semuanya dengan memberikan jawaban iya atau tidak, malah dengan percaya dirinya gadis itu membeo dan membuang-buang waktu. Ah sudahlah! Nyesel juga Ernest menawarkan penawaran berharga untuk Bilqis. "Gue ikut lo, gue gak tau harus gimana lagi selain terima penawaran lo." Ernest menghentikan langkahnya saat suara tersebut menginterupsi. "Gue gak tau jalan, gue gak tau bengkel di mana, gue gak tau harus apa." Lagi-lagi suara Bilqis menyadarkan Ernest untuk tetap membantu karena pada dasarnya Bilqis memang tidak bisa apa-apa. Gadis itu memang tidak tahu jalan, tidak tahu di mana bengkel di sekitaran sini, dan tidak mungkin juga mendorong mobil sampai bengkel, kan? Yang benar saja! "Oke, biar gue bantu." Entah keajaiban dari mana sampai Ernest menerima kembali untuk membantu Bilqis. Sebenarnya ini aneh untuk seorang Ernest Psi Lambda karena terlalu percaya pada seseorang apalagi berniat membantu orang tersebut, dan ini adalah seorang cewek, tidak main-main sekali. *** Ernest dan Bilqis sedang berada di mobil berdua saat ini. Mereka sedang berada di jalan menuju sekolah. Seratus persen mereka yakin kalau gerbang sudah ditutup, namun mereka berdua sama sekali tidak ada niatan untuk membolos saja, ataupun berbalik arah ke rumah. Jarak menuju sekolah masih sangat jauh, mungkin sepuluh menit lagi mereka baru akan sampai. Jangan lupakan ada ulangan matematika peminatan yang menanti mereka berdua, dan jangan lupakan juga kalau Bilqis sudah susah-susah membuat contekan. "Kok bisa lo liat gue lagi kesusahan sih?" tanya Bilqis yang dapat dipastikan hanyalah buah bibir karena gadis itu bosan di dalam suasana hening. "Karena gue punya mata," sahut Ernest yang sama sekali tidak suka basa-basi. Menurutnya basa-basi itu hal yang perlu dihindari. Buang-buang waktu, buang-buang tenaga. Jawaban Ernest yang sama sekali tidak ada akhlak itu membuat Bilqis berdecak sebal. "Ye! Gue juga tau kalau lo punya mata, tapi kan kenapa lo bisa liat gue gitu!" decak gadis itu sebal. Ernest membelokkan mobilnya sesuai dengan jalan menuju sekolah. Pria itu masih saja fokus ke jalanan. "Lo gak denger pertanyaan gue, Nest?" tanya ulang Bilqis yang semakin sebal. Satu hal yang sangat Bilqis sebalkan ya ini, dicuekin. Apalagi saat bersama seorang pria, jatuh sudah martabat seorang Bilqis Theta Sarendra. "Denger." Bilqis yang sudah terlanjur kesal dengan Ernest langsung mendengus sebal. Buat apa juga ia menjawab kembali ucapan Ernest, nanti juga dicuekin lagi. Gadis itu menyandarkan kepalanya di jendela mobil, melihat pemandangan ibu kota yang sangat indah membuat Bilqis berdecak kagum. Ya walaupun Bilqis akui ibu kota tidak seindah kota-kota lain karena berpolusi, macet, dan banyak sampah. Namanya juga kota yang menjadi jantung perekonomian negara, namanya juga kota yang padat penduduk. "Lo bangga gak sih jadi warga Jakarta, Nest?" tanya Bilqis yang entah pertanyaan dari mana. Pertanyaan itu hinggap tanpa permisi. Pertanyaan itu datang tanpa diundang. "Bangga, di manapun kita tinggal dan lahir, harus kita syukuri. Bersyukur karena kita masih bisa hidup nyaman di sana, sebesar apapun kotanya, sekecil apapun kotanya, sepolusi maupun sebersih apapun kotanya. Bersyukur aja kalau kota itu masih bisa menerima kita." Gotcha! Bilqis sampai membelalakkan matanya terpukau. Sebentar, ada berapa kata yang Ernest sampaikan tadi? Mari kita hitung, tiga puluh sembilan kata! Yang benar saja! Seorang Ernest Psi Lambda berbicara sepanjang itu. Bisa masuk ke dalam keajaiban dunia kalau seperti ini! "Lo ngomong tiga puluh sembilan kata, mau gue adain syukuran gak?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN