Kejadian seperti ini yang Bilqis sama sekali tidak suka, kejadian seperti ini yang sama sekali Bilqis hindari. Berdua dengan Ernest di ruang guru dengan mengikuti ulangan harian matematika peminatan. Berada tepat di hadapan guru galak yang dari tadi memarahinya habis-habisan, tak bisa berkutik sama sekali, bahkan bernapas pun Bilqis takut.
Bilqis melirik ke arah soalnya, gadis itu keringat dingin, merasakan air conditioner yang sama sekali tidak berfungsi untuk menghilangkan gerahnya.
Sia-sia sudah Bilqis membuat contekan kemarin, sia-sia sudah Bilqis menghabiskan waktu untuk satu lembar contekan saat jam kosong. Sia-sia sudah Bilqis meninggalkan istirahatnya demi contekan.
Bilqis sama sekali tidak paham ini semua, Tuhan. Bilqis sama sekali tidak mengerti tentang soal yang tertera di sini, gadis itu melirik ke arah kanan, tampak Ernest dengan posisi tampannya yang masih terfokus ke soal dan tengah menghitung jawaban.
Ernest mungkin sudah menyelesaikan sebagian soal, atau setidaknya sudah mengisi beberapa soal, daripada Bilqis yang baru saja mengisi nama lengkap, nomor absen, dan kelas.
"Ekhem, sudah selesai melihat ke arah Ernest, Bilqis?" tanya Pak Toyib yang merupakan guru matematika peminatan.
Bilqis yang disindir seperti itu langsung menepuk keningnya malu, bodoh sekali Bilqis ini! Bisa-bisanya ia tertangkap basah sedang menatap ke arah Ernest. Bisa-bisanya ia tertangkap basah sedang melihat keindahan yang Tuhan berikan melalui wajah Ernest.
"Emm maaf, Pak." Bilqis langsung menegakkan tubuhnya, gadis itu mengambil pulpen yang sedari tadi ia kacangi, setelah itu menatap ke arah soal, pura-pura mengerti dan pura-pura memahami, padahal di dalam hati Bilqis hanya mampu merutuki nasibnya.
Sial sekali Bilqis hari ini! Sial sekali Bilqis saat ini!
Bilqis masih mencoba fokus untuk mencerna soal dan jawaban, ia harap sesuatu yang ia tulis di contekan ada yang masuk ke otak, ya walaupun cuma beberapa, tak masalah, asalkan ia masih bisa mengharapkan ada nilai, daripada nilai nol besar.
1. Himpunan penyelesaian dari sin 80°, untuk 0°≤x≤360 adalah ...
2. √3 tan x+1=0 untuk 0°≤x≤360°
3. sin 3x=½, untuk -30≤x≤300°
4. cos(3x+15°)=-½, untuk -60°≤x≤360°
5. sin(2x-10°)=-½√3, untuk 0°≤x≤360°
6. cos 3x + ½√2=0, untuk 0°≤x≤2π
7. cos(x-20°)=½√3, untuk 0°≤x≤360°
8. tan(3x-⅙π)=⅓√3, untuk 0°≤x≤360°
ARGH!!!
Dan masih banyak lagi soal yang bahkan sama sekali tidak Bilqis ketahui cara bacanya, apalagi cara mengerjakannya. Tuhan tolong berikan pertolongan untuk Bilqis, Bilqis sangat-sangat membutuhkan jawaban saat ini juga.
Gadis dengan manik mata coklat kayu itu sama sekali tidak memahami matematika, apalagi selama ini ia hanya mencontek. Saat ia mencontek pun ia sama sekali tidak memperhatikan, apalagi mengingat.
Ah iya, jangan lupakan kalau ini adalah soal isian, bukan soal pilihan ganda yang bisa asal, bisa cap cip cup, apalagi bisa silang indah.
"Sudah selesai, Bilqis?" tanya Pak Toyib yang lagi-lagi mengingatkan Bilqis karena dari tadi melamun terus-menerus.
"Eh, belum, Pak. Sebentar, saya lupa caranya." Bilqis jujur saja kalau seperti itu, ya walaupun sebenarnya ia tidak lupa, ia bahkan sama sekali tidak tahu caranya seperti apa.
"Itu soal sangat mudah, selesaikan dengan cepat, ya. Waktu kalian tinggal lima belas menit lagi."
Mati, Bilqis! Gadis dengan rambut coklat yang dikucir itu belum menjawab apapun, kecuali nama, nomor absen, dan kelas. Dan apa yang barusan ia dengar? Waktu mengerjakan tinggal lima belas menit lagi?
Dengan cepat gadis ayu itu mengerjakan soal dari nomor satu sampai akhir, ya walaupun hanya menjawab satu tambah satu sama dengan dua, tak masalah bukan? Yang terpenting ia menyelesaikannya dengan cepat. Yang terpenting nilainya masih aman.
"Sudah selesai?" tanya Pak Toyib ketika lima belas menit sudah dilalui.
"Sudah, Pak."
"Bagus, bawa sini jawaban kalian."
Bilqis dan Ernest membawa jawaban mereka ke depan, mereka takut jika mendapatkan hukuman atau apapun itu. Mereka takut jika nilai mereka terpaksa turun.
"Oke saya tidak akan memberikan hukuman apapun kepada kalian, yang paling penting hari ini adalah kalian menyelesaikan ulangan dengan baik. Silakan kalian kembali ke kelas untuk istirahat. Oh iya, tolong sampaikan ke teman-teman kalian kalau nilai mereka akan dibagikan minggu depan."
"Baik, Pak."
***
"Iqis! Kok lo bisa telat sama Ernest, sih? Jangan-jangan dugaan gue bener nih!" Sambutan Azila dengan teriakan membuat Bilqis menutup telinganya rapat-rapat, gadis itu sedang badmood sekarang, mengapa harus disuguhkan seperti ini?
"Tuduhan apa, Anjir?" tanya Bilqis tak bersahabat. Anak dara itu malah melempar tas ranselnya dan duduk dengan lemas di kursi.
"Lo pasti nabrak Ernest, kan? Terus mobil lo mana? Tadi gue liat di parkiran gak ada mobil lo, lo pasti semobil sama Ernest, kan?" Azila sangat yakin seratus persen jika Bilqis menabrak sesuatu pagi tadi, sehingga Bilqis telat. Azila juga sangat yakin jika Bilqis dan Ernest satu mobil karena mereka telat bersama.
"Gue gak nabrak siapapun tadi pagi," elak Bilqis dengan raut wajah datar, tangan gadis itu ia letakkan sebagai bantalan kepalanya.
"Halah, bohong kan lo! Gue tau semuanya. Lo pasti nabrak Ernest. Nest, lo ditabrak sama mobilnya Bilqis, kan? Udah gue bilangin, Qis, kalau lo itu gak bisa bawa mobil, jadi jangan bawa mobil dulu." Azila langsung memulai ceramah pagi harinya, gadis itu memang tidak suka jika Bilqis membawa mobil, baginya Bilqis adalah seseorang yang sangat diharuskan menjauhi stir kemudi untuk menghindari kecelakaan.
Azila sudah sangat sering sekali nebeng dengan Bilqis, dan baginya pengalaman tersebut adalah pengalaman paling menegangkan. Pengalaman paling horor sepanjang masa.
"Dia gak nabrak gue."
Semua mata anak kelas XI MIPA 4 membelalak kaget, jadi?
"Terus kenapa kalian telat bareng? Kenapa kalian bisa masuk ke kelas bareng? Kenapa kalian bisa dihukum bareng? Gue yakin kalian pasti satu mobil, gue juga tadi dengar-dengar Kak Prames ngomongin kalian berdua abis pacaran." Pelita yang memang berteman dekat dengan semua OSIS langsung menyebarkan berita yang ia dengar.
Gadis itu mendengar dari anak OSIS yang lain kalau Bilqis dan Ernest memang berangkat bersama, satu mobil. Masalahnya, selain Bilqis yang menabrak mobil Ernest dan mobil Bilqis rusak, maka mereka bisa berangkat bareng, kan? Jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka?
"Nah iya, Nest. Lo abis ngapain sama Bilqis sampai telat dan dihukum bareng? Sumpah sih ini menggemparkan dunia banget. Anak kelas kita terkejut terheran-heran," ujar Axvel dengan alaynya.
"Omongan siapapun gak penting buat apapun, mau gosip ataupun mau fakta. Masalahnya cuma dihukum dan satu mobil bareng, memang apa salahnya sih?"