"Tadi kok lo bisa bareng sama Ernest, Qis? Gimana ceritanya?" tanya Axvel sambil menggigit roti sandwichnya. Pria itu memang sedang duduk berdua dengan Bilqis di kantin, menemani Bilqis yang sedang istirahat makan siang.
"Mobil gue mogok, dan dia bantuin gue," jawab Bilqis yang tengah asik memakan mie ayamnya. Gadis itu sangat lapar sekali, pasalnya istirahat pertama tadi ia habiskan di ruang guru dengan soal matematika peminatan yang sungguh sialan.
Axvel mengernyitkan keningnya pertanda bingung. "Bantuin gimana maksudnya?" tanya pria yang memiliki manik coklat itu.
Bilqis harus meluruskan ini semua, gadis itu tidak mau terus-terusan mendapatkan teror hanya karena satu mobil dan telat bersama dengan Ernest. Mereka semua terlalu alay, padahal kan kenyataannya tidak seperti itu. Kenyataannya hanya Ernest yang membantu Bilqis.
"Kan lo tau sendiri kalau gue gak tau apapun tentang mobil, dan tadi mobil gue mogok, gue udah coba hubungi bokap tapi gak aktif. Kebetulan dia juga liat gue lagi kesusahan makanya dia bantuin gue telepon bengkel langganannya, terus gue diajak berangkat bareng deh." Bilqis menceritakan semuanya dengan jujur, lagian buat apa Bilqis berbohong?
"Oh gitu, gue kira lo nabrak mobil dia, lo kan gak bisa sehari aja gak nabrak orang," kekeh Axvel dengan senyuman manisnya. Entah mengapa Bilqis menyukai senyuman Axvel, pria itu sangat manis dengan lesung pipi yang menghiasi.
"Enak aja! Gue gak pernah mau nabrak mobilnya Ernest, ya! Ogah ada masalah sama dia, dia bantuin gue aja udah banyak yang alay bilang gue caper, apalagi nabrak mobilnya dia, yang ada gue dibilang caper juga." Bilqis memang tidak suka jika ada masalah dengan siapapun, ya walaupun Bilqis rada b****k, tapi ia tidak mau terlibat dalam suatu masalah yang menyusahkan, ribet soalnya.
"Eh Vel, beliin gue cireng dong. Lo kan baik, gue pengen banget nih, nanti anak lo ileran loh kalau lo gak nurutin kemauannya." Mulai lagi, Bilqis benar-benar membuat Axvel menggelengkan kepalanya sambil mengusap dadanya sabar.
Axvel yang melihat kentang goreng langsung melempar makanan tersebut ke wajah Bilqis. "Enak aja kalau ngomong! Gue bukan orang gila yang mau sama lo, ya! Gue masih waras buat ngelakuin kaya gitu sama lo!" sinisnya.
"Kok lo gitu sih, Beb? Lo lupa sama orang yang lo sayang?" ledek Bilqis semakin menjadi-jadi. Semenjak dulu sampai sekarang memang hobi Bilqis mengganggu Axvel, Bilqis suka melihat Axvel bergidik ngeri dengan tingkah absurdnya.
"Najis, Iqis! Lo lama-lama gue ruqyah nih yang ada! Gue ngeri, gue merinding sama tingkah gila lo!" pekik Axvel sambil bergidik ngeri.
Bilqis tertawa terpingkal-pingkal melihat perlakuan Axvel, gadis itu senang sekali berhasil melihat Axvel seperti ini, ini adalah tayangan gratis yang paling Bilqis nikmati.
Bilqis memang mengenal Axvel sejak lama, sejak berada di sekolah menengah pertama. Axvel merupakan orang pertama yang menjabatkan tangannya untuk berkenalan. Axvel satu-satunya orang yang mengenal seluk beluk tentang Bilqis. Axvel satu-satunya teman yang tidak meninggalkan Bilqis saat sudah mengetahui segalanya, segala hal yang membuat Bilqis down.
Axvel selalu sebisa mungkin membantu Bilqis, Bilqis sangat beruntung mempunyai Axvel sebagai sahabat. Mungkin Axvel adalah orang pertama yang menjadi sahabatnya, pasalnya sebelum Axvel tidak ada yang menjadi sahabat gadis itu.
Kadang Bilqis senang melihat video yang isinya tentang friendzone, Bilqis senang mendengar banyak asumsi orang. Kata banyak orang tidak ada sahabat cewek cowok yang benar-benar murni, pasti selalu ada perasaan senang di dalamnya.
Kadang Bilqis juga bertanya-tanya dalam hati, apakah selama ini Axvel bersamanya karena menyukai dirinya? Kadang juga Bilqis menerka-nerka sendiri, apakah hubungannya dengan Axvel akan seperti yang lain, friendzone? Akankah Bilqis terlibat hubungan menyakitkan itu?
"Vel, kok lo mau sih sahabatan sama gue?" tanya Bilqis yang mulai serius, ia hanya ingin mendengar jawaban jujur keluar dari mulut Axvel.
"Karena lo pantas untuk gue jadiin sahabat. Lo pernah dengar gak kalau kita itu gak boleh pilih-pilih temen, gue rasa pemikiran itu salah, deh. Justru kita harus memilih teman yang baik, karena apa? Karena lingkungan kita mencerminkan sikap kita, karena perkembangan kita mencerminkan orang-orang sekitar juga." Axvel menjeda ucapannya, ia memikirkan kata-kata apa yang pantas untuk disampaikan supaya Bilqis paham, soalnya kapasitas otak Bilqis itu sangat rendah untuk memahami suatu perkataan.
"Kita seharusnya bisa memfilter orang-orang yang pantas untuk dijadiin temen, supaya kita bisa mendapatkan jati diri yang baik, supaya kita bisa mendapatkan lingkungan yang tepat untuk bertumbuh. Kita harus pandai menjaga jarak dengan orang yang bisanya cuma toxic, kita harus pandai untuk memilih teman yang satu tujuan dan satu frekuensi. Seharusnya bukan kata-kata, jangan memilah-milih teman, tetapi jangan memilih untuk membantu siapapun karena siapapun berhak kita bantu, orang yang toxic sekalipun, orang yang tidak pantas menjadi teman kita sekalipun."
Bilqis mengangguk paham, perkataan Axvel memang ada benarnya, seharusnya kata-kata jangan memilih teman itu diganti dengan yang paling tepat. Seharusnya kita memilih teman yang berpeluang baik untuk masa depan kita.
"Gue paham, thanks udah mau jawab pertanyaan absurd gue, Vel."
***
Bilqis melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan, gadis itu membawa kamera beserta lensanya sebagai barang yang sangat penting untuk digunakan nantinya. Ruang fotografi, nama yang tertulis indah dan rapi di depan ruangan dengan cat putih yang terkesan sangat minimalis.
Bilqis memang notabenenya seorang wakil ketua di ekstrakurikuler ini. Gadis itu menjabat dengan masa jabatan tiga tahun lamanya, dan kabar yang paling menggemparkan lainnya adalah sang ketua dari ekstrakurikuler ini.
Ketua ekskul ini adalah seorang Ernest Psi Lambda. Sosok dingin seperti es lah yang menjadi ketua ekskul.
"Iqis!" panggil seseorang dari belakang, sontak membuat Bilqis membalikkan badannya.
"Kenapa, Nest?" tanya Bilqis kepada Ernest. Pria yang memanggilnya itu adalah Ernest.
Tangan Ernest memberikan sebuah selebaran kepada tangan Bilqis, membuat Bilqis membacanya dengan teliti. "Lomba lagi?" tanya Bilqis tak percaya. Selain di bidang akademik, Ernest memang sangat pandai di bidang fotografi dan olahraga lainnya. Piala yang berada di ruang kepala sekolah sebagian adalah piala dari Ernest.
"Gue mau lomba, tolong lo persiapkan tim yang pantas untuk ikut lomba juga, karena ini adalah lomba tim. Oh iya satu lagi, gue minta sama lo supaya mengurus ekskul selama gue lomba nanti. Gue mau ekskul kita maju di saat demonstrasi ekskul tahun depan. Gue juga mau ekskul kita berkembang menjadi ekskul yang paling bagus." Tujuan Ernest memang perlu diakui jempol, Bilqis sangat salut dengan pemikiran pria itu. Pria itu memiliki pemikiran yang luar biasa.
"Okey sip, lo tenang aja. Selama gue wakilnya, semua yang lo inginkan bakalan gue kabulkan dan laksanakan." Bilqis tersenyum manis dengan kekehan kecil, membuat Ernest diabetes saja!
"Lo cantik."