Arlan melihat ke arah Gevan yang sepertinya tampak kacau setelah selesai bertelponan ria dengan Araya. Wajah Gevan tampak tertekuk ke bawah sembari menatap ke arah ponselnya. Pertengkaran antar saudara dan seharusnya Gevan tak sedramatis itu, begitulah yang Arlan pikirkan.
Arlan juga sering adu pendapat dengan adiknya walaupun Lili sering berada di pihak yang kalah. Tapi adiknya tak pernah menunjukkan raut wajah frustasi seperti itu. Yang ada malah sebaliknya, adiknya akan mengadu pada mamanya dan berakhir dengan Arlan yang dapat Omelan.
Setelah Ivy lahir, barulah Arlan mengetahui jika Gevan adalah saudara kembar Araya. Selama ini Arlan berpikir kalau Gevan adalah pria posesif yang tak tahu diri yang mengekor keberadaan Araya jika wanita itu tengah kontrol kehamilan. Ternyata segala asumsinya salah di tambah lagi paman Rama tak pernah menceritakan apapun mengenai Gevan. Dan Arlan juga terlalu malas untuk mengorek informasi yang tak berguna bagi pekerjaannya.
"Papa dokter, Ivy lapar." Ivy memegang perutnya yang mulai keroncong.
Arlan pun menatap kedua mata Ivy dan sedikit tersenyum. "Ivy mau makan apa?"
"Makan ayam tepung, boleh papa?" Tanya Ivy sambil menatap Arlan dengan kedua matanya yang penuh harap.
"Boleh, tapi ada syarat yang lain." Arlan mengeluarkan kelingkingnya dan mengarahkan ke Ivy.
"Syaratnya apa papa dokter?" Tanya Ivy polos.
"Janji dulu."
Ivy pun menautkan kelingkingnya pada Arlan. "Janji papa dokter," jawab Ivy sambil tersenyum.
"Nasinya wajib Ivy makan juga ya," pinta Arlan pada Ivy.
Setelah berapa kali kerap melihat Ivy makan siang di kafetaria rumah sakit, Arlan menyadari jika Ivy tak menyukai makan siang dengan nasi. Hanya mengambil ayam tepung kesukaannya.
Wajah Ivy mendadak cemberut. "Ivy gak suka nasi papa dokter."
"Eitss Ivy udah janji loh." Arlan melepaskan tautan kelingkingnya pada kelingking Ivy lalu mencubit dengan gemas kedua pipi gadis mungil itu pelan.
"Nanti papa temani Ivy makan," tambah Arlan pada Ivy. Arlan berharap dengan siasat satu ini, Ivy mau makan nasi.
Walaupun Arlan terlihat sangat cuek, diam-diam dia menanyakan pada Selly bagaimana perkembangan tumbuh kembang Ivy. Apa yang tidak disukai oleh Ivy dan apa yang disukai. Dan akhirnya, Arlan merangkum itu semua dalam sebuah buku kecil. Buku yang sangat berguna sampai sekarang.
Kedua mata Ivy berbinar ketika Arlan mengatakan hal itu.
"Ivy mau papa," sahut Ivy cepat.
Arlan pun mengangkat tubuh Ivy dan menggendongnya. Ivy tampak senang di gendong oleh Arlan. Salah satu papa favoritnya.
Sebelum Arlan benar-benar keluar dari ruangannya, Arlan melihat Gevan yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Biasanya pria itu akan menatapnya dengan aura permusuhan yang kental jika dia menggendong Ivy seperti ini. Sekarang yang di lihat Arlan, pria itu melempem seperti kerupuk yang masuk angin.
"Aku mau makan siang sama Ivy," ucap Arlan memberitahu Gevan. "Silahkan pakai ruangan ku jika kamu butuh waktu untuk merenung." Setelah mengucapkan kalimat itu, Arlan benar-benar meninggalkan Gevan di ruangannya.
Arlan benar-benar meninggalkan Gevan di ruangannya tanpa perlu repot-repot basa-basi menawarkan makan siang bersama. Di sepanjang koridor menuju kafetaria, Arlan berpapasan dengan beberapa perawat dan juga dokter. Arlan menghiraukan tatapan lapar para perawat wanita yang menatap dirinya seakan makanan lezat.
Berbicara mengenai wanita, Arlan sudah lupa kapan terakhir kali dia benar-benar pergi berkencan. Yang dia ingat adalah, di sepanjang hidupnya dia hanya belajar demi mencapai impiannya dan tak memiliki cukup waktu untuk membuang-buang energinya dengan hal yang percuma. Terlebih lagi berurusan dengan wanita dengan segala tingkah ajaibnya. Hanya satu wanita yang pernah mampir dalam hidupnya dan itu sudah sangat lama sekali. Entahlah apakah saat itu bisa di sebut dengan kencan atau tidak, Arlan pun tak mau mengambil pusing.
Setibanya di kafetaria, Arlan melihat dokter Selly tengah menyantap makanannya bersama suaminya si tukang kepo. Arlan benar-benar malas kalau sudah ketemu dengan dokter Damar. Tapi sialnya ketika Arlan hendak keluar dari kafetaria mencari tempat makan siang yang lain, Damar malah memanggilnya. Mau tak mau Arlan terpaksa masuk lagi ke kafetaria.
"Wah kemajuan besar papa dokter ke sini," sapa Damar pada Arlan yang tampak masam.
Dokter Selly menendang kaki suaminya dari bawah meja. "Maaf Arlan, Damar memang tukang rusuh." Malah Selly yang meminta maaf bukannya Damar yang malahan sangat santai.
"Aku mau pesan makanan dulu, silahkan di lanjut makan siang mu Sel," ucap Arlan pada Selly dan Arlan melemparkan tatapan mautnya pada Damar yang hanya tertawa kecil.
Ivy yang sudah kelaparan hanya diam saja. Biasanya Ivy bakalan mengoceh heboh.
"Kamu tuh kalau becanda jangan kayak gitu kenapa sih," protes dokter Selly pada suaminya. "Udah tahu Arlan wataknya kayak gimana, kamu hobi banget isengin dia."
"Arlan mah harus digituin sayang, lempeng amat jadi cowok. Malah aku yang malu lihat Arlan yang lempeng begitu," sahut Damar sambil memperhatikan Arlan yang tengah mengambil lauk untuk Ivy.
"Padahal Ivy udah lengket bangat sama Arlan malah ivy nya terlihat senang kalau jalan sama Arlan. Apalagi yang di tunggu Arlan? Araya masih cantik walaupun dia sudah punya satu anak. Heran deh lihat kunyuk satu itu, entah apa yang dia tunggu. Mau jadi bujang lapuk kali ya." Kebiasaan Damar jika berbicara mengenai Arlan, sahabat mereka sejak zaman kuliah dulu. Damar akan berbicara panjang lebar karena dia khawatir dengan masa depan Arlan yang tampak suram tanpa pasangan hidup.
Dokter Selly mengerjabkan kedua matanya memandang takjub suaminya. Selly memang tahu Damar dan Arlan sangat dekat sejak masa kuliah.
"Sejak kapan kamu jadi bijak begini?" Tanya dokter Selly sambil menyeruput es jeruknya.
"Sejak negara api menyerang," sahut Damar asal. "Tapi sayang, kamu sebagai cewek normal nih ya, lihat Arlan itu gimana sih?" Damar penasaran dengan pendapat istrinya dan dia juga sudah siap jika jawabannya sama dengan perawat-perawat yang pernah ia tanyai.
"Pangeran es yang kaku," ucap dokter Selly. Selly menatap punggung Arlan lalu mengalihkan pandangannya ke arah suaminya. "Hanya tinggal menunggu waktu aja sampai es nya mencair."
Dokter Selly berharap jika wanita yang bisa menaklukkan pangeran es itu adalah Araya. Tak ada alasan khusus sebenarnya, hanya saja jika dokter Selly melihat Ivy yang begitu lengket dengan Arlan, hal yang awalnya tak mungkin bisa menjadi nyata. Termasuk tumbuhnya benih cinta antara Araya dan juga Arlan.
Semoga saja keajaiban itu suatu saat akan datang dan menghampiri rekan mereka yang masih membujang hingga sekarang.