Araya menatap layar ponselnya. Sebagai wanita, ego Araya terluka karena ucapan Gevan. Walaupun Araya tahu maksud Gevan baik tapi sekarang yang ada di dalam pikiran Araya adalah bagaimana caranya agar Ivy tetap aman bersama dengannya. Hidup tanpa sosok ayah.
Tanpa pikir panjang, Araya mendial nomor ponsel sekretarisnya. Araya harus memberitahukan jika dia akan keluar.
"San, saya akan balik tepat sebelum rapat berikutnya mulai. Kabari saya jika terjadi hal yang mendesak." Setelah meninggalkan pesan pada Sandra, Araya segera bergegas menuju rumah sakit. Waktu nya sangat terbatas.
Sesi rapat berikutnya akan di mulai sekitar jam dua siang dan Araya masih memiliki cukup banyak waktu. Sehingga Araya memutuskan untuk pergi menjemput Ivy ke rumah sakit. Katakan lah jika sikap Araya saat ini adalah sikap kekanakan. Dirinya hanya cukup lelah dengan segala persoalan dan memikirkan untuk menikah lagi dalam waktu dekat, tak pernah terbersit sedikit pun dalam benaknya. Fokus Araya saat ini adalah membesarkan dan memberi Ivy kebahagiaan.
Setelah keluar dari gedung tempat rapat diadakan, Araya melangkah menuju mobilnya dan segera menuju rumah sakit. Ivy pasti tengah makan siang saat ini dan Araya ingin memberikan sedikit kejutan untuk putri kecilnya itu.
Mama akan menjaga mu dengan seluruh jiwa mama, nak.
***
"Buka mulutnya Ivy," perintah Arlan dengan lembut sembari menyuapkan gumpalan kecil nasi serta ayam tepung yang disukai Ivy.
Siapapun tak akan percaya jika dokter Arlan si pangeran es akan mengatakan hal semanis itu. Pasalnya dokter Arlan itu jarang tersenyum bahkan berkata manis selain kepada pasien-pasiennya. Makanya pemandangan langka ini jelas tak boleh dilewatkan.
Ivy membuka mulutnya dan menyambut makanan itu dengan riang gembira. Arlan hanya tertawa kecil saat pipi chubby Ivy mengunyah makanan itu.
Arlan melirik ke arah pintu masuk kafetaria dan sepertinya tanda-tanda kehadiran Gevan tak terdeteksi. Walaupun keberadaan Gevan tak terdeteksi tapi dia malah mendapatkan tatapan lapar dari para perawat dan juga dokter wanita. Arlan mengabaikan tahapan-tahapan itu dan lebih memilih menyuapkan kembali makanan pada Ivy.
Tumben paman posesif itu gak nyusul biasanya suka merusuh, gumam Arlan dalam hati.
"Papa, Ivy mau lagi."
Ucapan Ivy membuat Arlan mengalihkan fokusnya. Pria itu kembali menyuapkan makanan ke Ivy.
"Andai papa kamu gak buat ulah, pasti kamu jadi anak yang paling bahagia," ucap Arlan pelan sambil mengelus kepala Ivy dengan lembut. "moga kamu jadi anak yang kuat Ivy, sekuat ibu kamu yang kadang bebal itu."
Arlan adalah salah satu orang yang tahu bagaimana kisah Ivy sebelum lahir. Sejak dalam kandungan, keberadaan ivy telah diabaikan oleh ayah kandungnya. Setelah semuanya terbongkar, barulah pria itu sadar jika darah selalu memiliki ikatan yang paling kuat.
"Mama," pekik Ivy senang saat melihat kehadiran mamanya.
Arlan dapat menangkap jika kedua mata Ivy terlihat sangat senang dan juga menatap penuh rindu pada Araya saat ini. Sekilas Arlan melihat pasangan suami istri yang tampaknya menatap ke arah Arlan dengan penuh minat, siapa lagi kalau bukan Damar dan juga Selly.
"Ivy makan apa?" Tanya Araya ketika sudah tiba di samping ivy.
Udah tahu anaknya makan dengan lauk ayam, masih juga di tanya. Arlan sedikit kesal dengan pertanyaan yang terkesan basa-basi itu.
"Ivy makan ayam, mama." Ivy mengangkat ayam yang ada di piringnya. "Mama mau?"
Araya menggelengkan kepalanya pelan. "Mama udah makan, sayang," sahut Araya sambil mengelus kepala Ivy dengan sayang.
Araya pun menatap ke arah dokter Arlan dengan perasaan sungkan. "Maaf jika Ivy merepotkan dokter." Araya menatap dokter Arlan dengan rasa segan.
"Saya gak tahu kamu ada masalah apa dengan Gevan. Jika kamu cari Gevan, dia ada di ruangan saya. Silahkan gunakan ruangan saya sampai masalah kalian menemukan titik terang." Omongan Arlan mungkin terdengar tak sopan tapi Arlan tahu jika Araya jauh-jauh datang ke rumah sakit ini pasti untuk menemui Gevan.
Araya tersenyum tipis. "Terimakasih dokter, saya titip Ivy sedikit lebih lama lagi," kata Araya benar-benar sangat sungkan. Dokter Arlan seperti cenayang yang bisa menebak jalan pikiran dirinya saat ini. "Ivy, mama mau ketemu papa Gevan dulu ya. Ivy sama dokter Arlan dulu, gak apa-apa kan?"
"Oke mama," sahut Ivy.
Araya tersenyum tipis lalu ia pun meninggalkan kafetaria dan menuju ruang praktik dokter Arlan yang terletak di lantai dua.
"Ehem, gak nyangka teman gue bisa ngomong panjang lebar," goda Damar sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya seolah sedang berpose malu-malu. "Emaknya Ivy cantik ya."
Arlan hanya mendengus kesal dan malas menanggapi ucapan Damar.