bab 10

745 Kata
Tanpa mengetuk pintu ruang, Araya langsung masuk ke dalam ruang praktek dokter Arlan. Araya menemukan Gevan masih duduk di sana. Araya dapat merasakan jika Gevan tengah bersedih sama seperti dirinya saat ini. "Papa Gevan lagi galau?" Tanya Araya pada Gevan. Araya mencoba mencairkan suasana. Gevan mengangkat kepalanya dan melihat kehadiran Araya. "Ray, kamu becanda kan tentang yang tadi?" Gevan mengepalkan kedua tangannya dan matanya yang teduh tampak menyiratkan luka. Araya duduk di sebelah Gevan. Kedua matanya menatap setumpuk mainan anak-anak yang berada di ruang praktek ini. "Gev, pernahkah kamu kepikiran tentang aku yang menikah lagi?" Tanya Araya balik pada Gevan. Gevan hanya terdiam. "Gev, kamu tahu bagaimana aku sejak dulu. Bagaimana aku di saat remaja, siapa aja teman laki-laki yang pernah dekat sama aku." Araya menarik nafasnya dalam-dalam. "Gev, saat menikah dengan Rion, aku sadar cepat atau lambat aku akan bercerai dari dia. Entah karena perjanjian yang pernah kami buat sebelumnya atau karena hal lainnya. Tapi jauh di dalam lubuk hati ku, aku ingin memiliki rumah tangga yang utuh. Rumah tangga yang sebenarnya." Gevan tak memiliki cukup keberanian untuk meraih tangan saudarinya dan menggenggam seperti biasanya. "Saat Ivy hadir di rahim ku, aku berusaha meyakinkan diri ku jika aku bisa mempertahankan rumah tangga ku. Apalagi sikap Rion sangat perhatian saat itu." Araya merasakan sesak saat mengingat momen-momen penuh cinta itu. Araya yang minim mendapatkan kasih sayang, tentu saja tak menampik saat Rion menunjukan rasa sayangnya pada Araya. "Aku melupakan perjanjian itu dan aku terlena dengan segala ucapan manisnya." Araya memukul dadanya pelan dan berharap rasa sakit itu bisa sedikit berkurang. Yang ada, rasa sakit itu semakin cepat menjalar dan menyerangnya lagi. "Saat aku mendengar pengakuan Evelyn, langit seakan runtuh tepat di atas kepala ku." Suara Araya mulai terdengar bergetar. "Aku berharap saat itu aku mati saja Gev, tak ada seorang pun yang menginginkan diriku saat itu. Aku tak tahu caranya menghadapi hari esok." "Gev, aku tahu kamu dan ayah Rama punya niat yang baik agar aku bisa memiliki pendamping hidup lagi." Araya mencoba mengatur ritme nafasnya karena dadanya sangat berat bahkan ia berusaha mati-matian menghalau agar air matanya tak ikut jatuh ke pipinya. "Gevan, aku sangat sadar diri dengan kenyataan yang ada di depan mata ku saat ini. Kamu tahu status ku apa saat ini, egois sekali jika aku menikah dengan dokter Arlan dan menjadikannya sebagai ayah Ivy. Apa kata orang-orang tentang hal ini, Gev?" Gevan menarik nafasnya dalam-dalam. Topik pembicaraan seperti ini adalah salah satu hal yang paling Gevan tak sukai. "Ray, kamu jangan pernah memandang rendah diri mu sendiri." Gevan bersuara dengan nada lirih. "Kamu masih muda, cantik, pintar terlepas jika kamu adalah janda dengan seorang anak. Tolong Ray, jangan pikirkan ucapan orang-orang. Kamu berhak bahagia." Araya memandang Gevan sembari mengusap kasar air matanya. "Kamu bilang jangan pikirkan ucapan orang-orang?" Kedua mata Araya memerah menatap Gevan. Rasa sakit di masa lalu memenuhi dadanya. "Kamu gak pernah merasakan di lihat dengan tatapan dikasihi oleh orang lain. Aku tahu, di belakang ku mereka menceritakan aku. Walaupun aku berbuat baik sekalipun, tetap saja status janda selalu buruk di mata masyarakat." Araya meluapkan segala isi hatinya yang telah ia pendam semenjak bercerai dari Rion. Walaupun terlihat biasa saja di luar, tetap saja Araya menyimpan banyak beban di hatinya. "Gak semua orangtua setuju jika anak lajang nya menikah dengan janda," ucap Araya terisak. "Aku gak siap untuk mendapatkan penolakan, aku gak mau Ivy semakin terluka kedepannya. Aku akan bahagia kan Ivy walaupun tanpa ada sosok ayah." Gevan meraih bahu Araya dan menggenggamnya. "Ray, lihat aku." Suara Gevan terdengar sangat tegas. "Kamu janda baik-baik, beda dengan janda di luaran sana yang suka mengumbar tubuh mereka demi mendapatkan perhatian pria. Kamu masih menjaga pandangan mu dari pria-pria di luar sana. Jangan merendahkan diri mu terus Ray. Jangan egois, Ivy butuh sosok ayah yang akan mendampinginya hingga dewasa nanti." Gevan tersenyum sendu. "Suatu saat nanti, aku yakin akan ada pria dan juga kedua orangtuanya yang akan menyukai tanpa melihat status mu." Ucapan Gevan menampar Araya dengan telak. Air mata Araya jatuh semakin deras. Lalu Gevan membawa tubuh Araya dan mendekapnya. "Maafin aku Ray. Aku sayang sama kamu dan Ivy." Suara Gevan terdengar sangat sedih. "Aku gak bisa menjaga kalian terus-menerus, suatu saat aku juga akan menikah dan ivy butuh sosok ayah panutannya." Gevan menepuk bahu Araya pelan. "Maaf aku udah memaksakan kehendak ku yang egois ini." Tanpa mereka sadari, Arlan mendengar semua pembicaraan kedua saudara kembar itu. Entah kenapa Arlan merasa hatinya sedikit terusik apalagi pembicaraan mereka membawa nama Arlan didalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN