Aku tidak bisa menolak kenikmatan anggur merah itu. Jika Du Qing mencicipinya, aku yakin dia juga pasti akan merasakan hal serupa. Aku tidak menjelaskan terlalu banyak mengenai acara minumku dengan Jiaxin kepadanya karena selama minum tadi aku hanya mendengarkan curahan hati Lin Jiaxin yang terus menerus dilontarkan seperti senapan yang siap menembakkan pelurunya tanpa henti. “Kamu seorang wanita, tapi sedikit pun kamu tidak tahu cara menjaga diri. Bagaimana mungkin kamu bisa minum dengan seorang pria yang bahkan belum akrab denganmu?” “Kita juga kenal baru-baru ini, tapi apa kamu mau langsung minum bersamaku begitu saja? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? Apa kamu tahu betapa berbahayanya di luar sana?” “Sepertinya kamu tidak tahu apa itu rasa takut. Jika kamu nekat

